Tampilkan postingan dengan label Memaknai peran IBU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memaknai peran IBU. Tampilkan semua postingan

Belajar Berlapang Hati untuk Kata MAAF

Bukankah lebih banyak kesalahan yang tak benar-benar SALAH dan kebenaran yang tak benar-benar BENAR karena hanya dipandang dari satu sisi saja?

Hati saya sempat kebat-kebit saat lewat di selasar pendek yang menghubungkan halaman depan dengan lapangan di dalam kompleks sekolah. Masa di tempat sempit itu saja ada dua anak lelaki bermain bola sepak. Sudah kebayang saja rasa sakitnya kalau terkena bola keras itu.
Baca selengkapnya

Eksplorasi? IYA, BOLEH!

Saya tahu persis rasanya kebanyakan dilarang saat ingin bereksplorasi di waktu kecil. Ibu saya sangat penakut. Selalu saja membayangkan hal-hal buruk akan terjadi kalau saya dan adik-adik saya bereksplorasi. Begitu pun terhadap anak-anak saya, terlalu banyak larangan yang dikeluarkan oleh beliau.
Baca selengkapnya

Ambigu Kanak-Kanak: Sebuah Kekhawatiran

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. QS. Al-Tahrim: 6
Baca selengkapnya

Catatan Kasih di Hari Kemerdekaan

Sumber www.stockunlimited.com
Ikut Lomba 17 Agustusan Lalu Kalah?

Tidak apa-apa, Nak.
Kemenangan bukan yang utama.
Kamu berlomba bukan untuk menang.
Melainkan untuk belajar.
Tidak apa-apa kalah dalam berlomba.
Sebab kamu akan belajar sesuatu.
Pada proses yang kamu lalui.

#Merdekalah dari kedangkalan wawasan.
Hidup bukan soal menang-kalah semata.



Anak-anakku Berlomba

Tak apalah sampai malam hari.
“Athifah tak serius berlomba,” makanya dia kalah, begitu pendapat sang oma.
Padahal tak mengapalah kalah.
Kekalahan itu toh bagian kehidupan. Santai saja, Nak.

“Mana kelihatan serius atau tidak kalau dilihat dari belakang?” saya membela sang putri.
Berlombalah, Nak. Nikmati lomba sebagai kegiatan yang mengasyikkan.
Salah satu cara asyik mempelajari kehidupan adalah melalui berlomba.
Nothing to loose. Pasti akan ada sisi positifnya.
Semangat!

 
Salah satu lomba di lingkungan kami

Kalah pada Semua Lomba Hari Ini, Nak?

Tak mengapa. Kalian pasti belajar jauh lebih banyak daripada sekadar kata kalah. Kalian belajar sabar menunggu giliran meski tadi mentari sempat garang teriknya. Kalian belajar bahwa kekalahan adalah hal yang biasa dalam hidup, bukanlah sesuatu yang berhak menjagal harga dirimu. Masih banyak lagi pelajaran yang kita dapatkan hari ini, kalau kalian mau tahu. Mama bisa rincikan untuk kalian.

Orientasi kita memang PROSES, Nak, bukan hasil. Seperti pun kelak di akhirat, yang diaudit adalah PROSES kehidupan yang kita jalani, bukan semata hasil yang tampak di depan mata.

Tidur yang Nyenyak, ya Nak.
Besok kita mulai "perang" yang baru lagi.

*Catatan di Hari Kemerdekaan*


Makassar, 18 Agustus 2017
Baca selengkapnya

Bergembira di Happy Wonderland dan 5 Bahasa Kasih

Kebahagiaan dan kesehatan itu ada hubungan timbal-baliknya. Talkshow pada press conference #LactogrowHappyWonderland di Boncafe pada tanggal 5 Agustus lalu memaparkan hubungan antara keduanya.
Baca selengkapnya

Bincang-bincang Tentang Islamic Parenting di Harian Amanah

Tanggal 22 Juli lalu ada artikel di Harian Amanah yang menuliskan nama saya. Bukan sebagai penulis, saya sebelumnya diwawancarai oleh Bu Neni. Pertanyaan dan jawabannya sebenarnya yang saya tuliskan di sini tetapi yang dimuat di rubrik Islamic Parenting itu sudah di-edit. Ada sedikit kesalahan (misalnya usia saya ditulis lebih tua 6 tahun dari informasi yang saya berikan, hehe) dan ada poin yang tidak masuk tetapi tidak mengurangi esensi jawaban saya.  
Baca selengkapnya

Ngobrol Cantik dengan IWITA

“Perempuan harus mengenal potensi dirinya dan berani tampil untuk saling menginspirasi” – quote inspiratif ini tertera di bawah nama dan foto Mbak Martha Simanjuntak, founder dan chairlady IWITA (Indonesia Women IT Awareness) di website IWITA. Saya bertemu dengan Mbak Martha pertama kali saat sosialisasi Serempak.id (website Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) yang diselenggarakan pada bulan Agustus 2016 di Hotel Four Points Makassar. Beruntung sekali saat Mbak Martha bersama IWITA datang ke Makassar pada tanggal 10 Mei lalu, saya kembali bisa bertemu dengannya.
Baca selengkapnya

Agar Bayi Cepat Tidur, Ini Tips Memilih Ayunan Bayi


Bayi butuh banyak waktu tidur dibandingkan orang dewasa agar bisa berkembang maksimal. Bayi yang usianya 0-2 bulan membutuhkan tidur 16 jam per hari. Waktu tidur ini terus berkurang seiring bertambahnya usia bayi. Pada usia 12 bulan, waktu tidur yang dibutuhkan bayi adalah 13 jam.
Baca selengkapnya

Sosialisasi Peduli Sahabat: Atasi Kecanduan Pornografi dengan Menjadi Sahabat Anak

Lanjutan dari tulisan berjudul:Sosialisasi Peduli Sahabat: Ujian Atas Kesungguhan dan Keyakinan

Masjid Bani Haji Adam Taba’, di dekat rumah saya menjadi tempat pertama diselenggarakannya roadshow Peduli Sahabat di Makassar. Mas Sinyo Egie (nama pena dari Agung Sugiarto) hanya sempat beristirahat beberapa jenak di asrama boarding school SMP-SMA Bosowa, tempat menginapnya selama di kota ini. Tiba menjelang sore di Makassar, sudah harus membawakan materi di masjid.
Baca selengkapnya

Keterampilan Sosial dan Emosional Anak, Bagaimana Membekalinya?

Mbak Astrid Prasetyo, Senior Brand Manager SGM Eksplor memperlihatkan video mengenai harapan-harapan para bunda terhadap anak-anak mereka. Kesimpulannya, semua bunda mengharapkan anak mereka punya keterampilan emosional dan sosial yang bagus, seperti bisa bergaul dengan baik. Menarik. Mereka tidak menyebutkan ingin anaknya juara Matematika atau meraih ranking 1 di kelasnya.
Baca selengkapnya

Alasan Mengapa Anak-Anak Belum Boleh Punya Akun Facebook

“Teman-temanku punya akun Facebook, Ma. Teman-temanku tanya, apa saya juga punya,” Athifah menceritakan kisah dengan teman-teman sekolahnya tadi malam.

“Saya bilang, tidak ada. Mamaku larang ka’ punya akun Facebook kalau belum tiga belas tahun,” lanjut Athifah lagi.
Baca selengkapnya

Angan Keibuan dan Bahagia yang Sederhana

Saat menonton sebuah tayangan hiburan bertema Hari Ibu, putri mungil saya Athifah meneteskan air mata. Athifah tiba-tiba mendatangi saya yang sedang berada di ruang makan. Dia menangis dan langsung memeluk saya.
Baca selengkapnya

Mengurai Empat Hal Perjuangan Kartini 

Tulisan ini dimuat di rubrik Opini Harian Fajar pada 22 April 2016. By the way, mohon maaf buat teman-teman blogger, saya tidak bisa maksimal BW karena laptop sedang rusak. Alhamdulillah hari ini dapat pinjaman komputer buat upload.

Sekali penetapan namanya sebagai hari istimewa bagi perempuan Indonesia, abadi dan harumlah namanya. R. A. Kartini, namanya sudah merasuki rakyat Indonesia sebagai pejuang untuk kaumnya. Baik yang mengerti sejarah hidupnya ataupun tidak, semuanya sudah sama tahu kalau 21 April - tanggal kelahirannya telah lama ditetapkan sebagai hari istimewa. Hari di mana kita kembali menggali bagaimana seharusnya menjadi perempuan Indonesia.
Baca selengkapnya

Merkuri Makin Meyakinkanku Bahwa Menjadi Ibu Haruslah Cerdas

Saya mengamati soal nomor 25 di paket soal 01 Simulasi Ujian Nasional SMP/MTs Tahun Pelajaran 2015/2016 Bidang Studi Ilmu Pengetahuan Alam yang diberikan si sulung Affiq kepada saya. Si kakak ini sedang dalam persiapan menghadapi ujian nasional SMP. Begini bunyi soal nomor 25 itu:
Baca selengkapnya

Larangan Keras ke Rumah Teman pun Jatuh

Memang belum terlalu banyak saya mengajari Athifah perihal keliling persegi panjang. Lagi pula saat menanyakannya, dia sedang mondar-mandir. Saya lupa dia hendak ke mana namun situasi saat dia bertanya itu tak memungkinkan untuk kami sama-sama duduk tenang dan membahas mengenai keliling persegi panjang.
Baca selengkapnya

Begini Caranya Agar Perkembangan Emosional Anak Bagus

Lanjutan dari tulisan berjudul Pengasuhan Anak ala Warteg? Oh, No!

Pada tulisan ini, masih akan ada bahasan tentang pengasuhan anak ala “warteg” (warung Tegal). Istilah yang menonjok namun benar adanya. Tapi sebelumnya, saya cerita dulu mengenai apa yang di-sharing oleh salah seorang kawan, ya. Kawan itu menceritakan mengenai harapannya agar kelak putranya menjadi hafidz. Oleh Mbak Fitria, dikatakan bahwa keinginannya itu karena sudah mengerti mengenai keutamaan menjadi hafidz namun bagaimana dengan putranya sendiri?
Baca selengkapnya

Pengasuhan Anak ala Warteg? Oh, No!

Pengasuhan Anak ala Warteg? Oh, No! - Kopdar IIDN Makassar kali ini berbeda daripada biasanya. Seorang anggota yang bermukim di Cileungsi, Bogor, datang ke Makassar. Namanya Mbak Fitria Laurent, akrab disapa Mbak Pipit. Mbak Pipit ini datang ke Makassar sebagai fasilitator dari Sahabat Edukasi untuk memberikan pelatihan di sebuah lembaga sosial – LeMina (Lembaga Mitra Ibu dan Anak) selama 2 hari. Sahabat Edukasi bergerak dalam pendampingan kepada masyarakat melalui hal-hal berbasis nilai (values).

Di hari terakhir keberadaannya di Makassar, Mbak Pipit berkenan memberikan materi dalam sebuah bincang-bincang santai yang bertempat di kantor redaksi Harian Amanah, tanggal 18 Februari lalu. Berikut ini catatan dari bincang-bincang tersebut:
Baca selengkapnya

Keunikan yang Takkan Bisa Diukur dengan Angka

Selama masih ada sistem ranking di sekolah, maka kasihanlah anak-anak yang tak mendapatkan urutan istimewa di kelasnya. Kerabat dekatnya, atau bahkan ayah dan ibunya akan menanyakan, “Kenapa kamu tidak bisa ranking?” dengan nada menyalahkan.

Untungnya, saya dan suami tidak pernah meributkan masalah ranking. Kami mengevaluasi cara anak-anak belajar saja. Kalau dapat posisi istimewa ya alhamdulillah. Kalau tidak, mari belajar dengan lebih giat lagi. Cuma kadang-kadang suka sebal juga kalau masih saja ada yang bertanya langsung ke anak-anak, “Kenapa tidak ranking satu?” *haha sekalian curhat, nih ceritanya. Kasihan, kan .. pertanyaan seperti itu bisa mengancam kepercayaan diri anak*
Baca selengkapnya