Tampilkan posting dengan label Memaknai peran IBU. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Memaknai peran IBU. Tampilkan semua posting

Ngobrol Cantik dengan IWITA

“Perempuan harus mengenal potensi dirinya dan berani tampil untuk saling menginspirasi” – quote inspiratif ini tertera di bawah nama dan foto Mbak Martha Simanjuntak, founder dan chairlady IWITA (Indonesia Women IT Awareness) di website IWITA. Saya bertemu dengan Mbak Martha pertama kali saat sosialisasi Serempak.id (website Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) yang diselenggarakan pada bulan Agustus 2016 di Hotel Four Points Makassar. Beruntung sekali saat Mbak Martha bersama IWITA datang ke Makassar pada tanggal 10 Mei lalu, saya kembali bisa bertemu dengannya.
Baca selengkapnya

Agar Bayi Cepat Tidur, Ini Tips Memilih Ayunan Bayi


Bayi butuh banyak waktu tidur dibandingkan orang dewasa agar bisa berkembang maksimal. Bayi yang usianya 0-2 bulan membutuhkan tidur 16 jam per hari. Waktu tidur ini terus berkurang seiring bertambahnya usia bayi. Pada usia 12 bulan, waktu tidur yang dibutuhkan bayi adalah 13 jam.
Baca selengkapnya

Sosialisasi Peduli Sahabat: Atasi Kecanduan Pornografi dengan Menjadi Sahabat Anak

Lanjutan dari tulisan berjudul:Sosialisasi Peduli Sahabat: Ujian Atas Kesungguhan dan Keyakinan

Masjid Bani Haji Adam Taba’, di dekat rumah saya menjadi tempat pertama diselenggarakannya roadshow Peduli Sahabat di Makassar. Mas Sinyo Egie (nama pena dari Agung Sugiarto) hanya sempat beristirahat beberapa jenak di asrama boarding school SMP-SMA Bosowa, tempat menginapnya selama di kota ini. Tiba menjelang sore di Makassar, sudah harus membawakan materi di masjid.
Baca selengkapnya

Keterampilan Sosial dan Emosional Anak, Bagaimana Membekalinya?

Mbak Astrid Prasetyo, Senior Brand Manager SGM Eksplor memperlihatkan video mengenai harapan-harapan para bunda terhadap anak-anak mereka. Kesimpulannya, semua bunda mengharapkan anak mereka punya keterampilan emosional dan sosial yang bagus, seperti bisa bergaul dengan baik. Menarik. Mereka tidak menyebutkan ingin anaknya juara Matematika atau meraih ranking 1 di kelasnya.
Baca selengkapnya

Alasan Mengapa Anak-Anak Belum Boleh Punya Akun Facebook

“Teman-temanku punya akun Facebook, Ma. Teman-temanku tanya, apa saya juga punya,” Athifah menceritakan kisah dengan teman-teman sekolahnya tadi malam.

“Saya bilang, tidak ada. Mamaku larang ka’ punya akun Facebook kalau belum tiga belas tahun,” lanjut Athifah lagi.
Baca selengkapnya

Angan Keibuan dan Bahagia yang Sederhana

Saat menonton sebuah tayangan hiburan bertema Hari Ibu, putri mungil saya Athifah meneteskan air mata. Athifah tiba-tiba mendatangi saya yang sedang berada di ruang makan. Dia menangis dan langsung memeluk saya.
Baca selengkapnya

Mengurai Empat Hal Perjuangan Kartini 

Tulisan ini dimuat di rubrik Opini Harian Fajar pada 22 April 2016. By the way, mohon maaf buat teman-teman blogger, saya tidak bisa maksimal BW karena laptop sedang rusak. Alhamdulillah hari ini dapat pinjaman komputer buat upload.

Sekali penetapan namanya sebagai hari istimewa bagi perempuan Indonesia, abadi dan harumlah namanya. R. A. Kartini, namanya sudah merasuki rakyat Indonesia sebagai pejuang untuk kaumnya. Baik yang mengerti sejarah hidupnya ataupun tidak, semuanya sudah sama tahu kalau 21 April - tanggal kelahirannya telah lama ditetapkan sebagai hari istimewa. Hari di mana kita kembali menggali bagaimana seharusnya menjadi perempuan Indonesia.
Baca selengkapnya

Merkuri Makin Meyakinkanku Bahwa Menjadi Ibu Haruslah Cerdas

Saya mengamati soal nomor 25 di paket soal 01 Simulasi Ujian Nasional SMP/MTs Tahun Pelajaran 2015/2016 Bidang Studi Ilmu Pengetahuan Alam yang diberikan si sulung Affiq kepada saya. Si kakak ini sedang dalam persiapan menghadapi ujian nasional SMP. Begini bunyi soal nomor 25 itu:
Baca selengkapnya

Larangan Keras ke Rumah Teman pun Jatuh

Memang belum terlalu banyak saya mengajari Athifah perihal keliling persegi panjang. Lagi pula saat menanyakannya, dia sedang mondar-mandir. Saya lupa dia hendak ke mana namun situasi saat dia bertanya itu tak memungkinkan untuk kami sama-sama duduk tenang dan membahas mengenai keliling persegi panjang.
Baca selengkapnya

Begini Caranya Agar Perkembangan Emosional Anak Bagus

Lanjutan dari tulisan berjudul Pengasuhan Anak ala Warteg? Oh, No!

Pada tulisan ini, masih akan ada bahasan tentang pengasuhan anak ala “warteg” (warung Tegal). Istilah yang menonjok namun benar adanya. Tapi sebelumnya, saya cerita dulu mengenai apa yang di-sharing oleh salah seorang kawan, ya. Kawan itu menceritakan mengenai harapannya agar kelak putranya menjadi hafidz. Oleh Mbak Fitria, dikatakan bahwa keinginannya itu karena sudah mengerti mengenai keutamaan menjadi hafidz namun bagaimana dengan putranya sendiri?
Baca selengkapnya

Pengasuhan Anak ala Warteg? Oh, No!

Pengasuhan Anak ala Warteg? Oh, No! - Kopdar IIDN Makassar kali ini berbeda daripada biasanya. Seorang anggota yang bermukim di Cileungsi, Bogor, datang ke Makassar. Namanya Mbak Fitria Laurent, akrab disapa Mbak Pipit. Mbak Pipit ini datang ke Makassar sebagai fasilitator dari Sahabat Edukasi untuk memberikan pelatihan di sebuah lembaga sosial – LeMina (Lembaga Mitra Ibu dan Anak) selama 2 hari. Sahabat Edukasi bergerak dalam pendampingan kepada masyarakat melalui hal-hal berbasis nilai (values).

Di hari terakhir keberadaannya di Makassar, Mbak Pipit berkenan memberikan materi dalam sebuah bincang-bincang santai yang bertempat di kantor redaksi Harian Amanah, tanggal 18 Februari lalu. Berikut ini catatan dari bincang-bincang tersebut:
Baca selengkapnya

Keunikan yang Takkan Bisa Diukur dengan Angka

Selama masih ada sistem ranking di sekolah, maka kasihanlah anak-anak yang tak mendapatkan urutan istimewa di kelasnya. Kerabat dekatnya, atau bahkan ayah dan ibunya akan menanyakan, “Kenapa kamu tidak bisa ranking?” dengan nada menyalahkan.

Untungnya, saya dan suami tidak pernah meributkan masalah ranking. Kami mengevaluasi cara anak-anak belajar saja. Kalau dapat posisi istimewa ya alhamdulillah. Kalau tidak, mari belajar dengan lebih giat lagi. Cuma kadang-kadang suka sebal juga kalau masih saja ada yang bertanya langsung ke anak-anak, “Kenapa tidak ranking satu?” *haha sekalian curhat, nih ceritanya. Kasihan, kan .. pertanyaan seperti itu bisa mengancam kepercayaan diri anak*
Baca selengkapnya

Karena Setiap Ibu Berhak Bahagia

Lagi-lagi membahas kontroversi antara ibu bekerja dan tidak? Mau sampai kapan? Well, barangkali ada yang bertanya seperti itu ya waktu membaca tulisan saya yang dimuat di rubrik Mimbar Kita, Harian Amanah pada Hari Ibu lalu.

Saya hanya bermaksud menuliskan hal-hal yang berkembang dalam pemikiran saya. Siapa tahu ada yang mau diajak untuk berhenti memperdebatkan masalah kontroversi itu. Sebab pada kenyataannya setiap orang punya alasan berbeda untuk pilihannya dan tak ada yang berhak menghakimi. Tak ada orang yang berhak mengklaim dirinya yang paling benar lantas kemudian saling mengolok-olok satu sama lain. Karena alasan:
Baca selengkapnya

Catatan dari Seminar Islamic Parenting

Beruntung sekali saya bisa menghadiri seminar Islamic Parenting – Pengasuhan Anak Berbasis Keluarga yang diadakan oleh SD Dunia Anak Islam (DAI) pada tanggal 14 Oktober lalu. Seminar yang diselenggarakan bertepatan dengan tanggal 1 Muharram ini, dibawakan oleh DR. H. M. Asrorun Ni’am Sholeh, MA (ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia/KPAI) sebagai nara sumber tunggal.

Kebetulan sekali seminar Islamic Parenting ini diadakan pada tahun baru Hijriyyah. Dengan momentum hijrah, orang tua yang hadir diingatkan kembali tentang makna hijrah, yaitu: berpindah dari keadaan yang tidak baik kepada keadaan yang lebh baik. Sebagai orang tua, kita tentu perlu selalu memperbaiki diri agar menjadi orang tua yang terbaik untuk anak-anak kita di setiap saat .
Baca selengkapnya

Ranch Adventure dan Tentang 1000 Hari Pertama

“Kalau mau bangun rumah, apa yang paling dulu dibuat, Bunda?” tanya Shahnaz Haque – presenter senior kepada audiens.

“Pondasi!” serempak hadirin menjawab, termasuk saya.

“Bukan, kata Dokter Ali, yang harus dibuat pertama kali adalah blue print-nya. Bagaimana mau bikin pondasi kalau gambarnya tidak ada?” tanggap Shahnaz.
Baca selengkapnya

Anggaplah Ini Sate, Ya Nak

Dari dulu saya tak pernah masak daging karena saya dan suami tak suka memakan daging-dagingan. Terlebih lagi sekarang, kami tak makan daging-dagingan lagi kecuali ikan. Anak-anak pun biasanya tak suka makan daging. Kalau ada daging mentah, biasanya saya berikan kepada orang lain. Hingga tiba-tiba suatu hari si sulung Affiq menyatakan pintanya, “Ma, mau makan sate!”

Daging sapi mentah yang tadinya hendak diberikan kepada orang lain, urung berpindah tangan. Dipikir-pikir, kasihan juga kalau Affiq lagi pengen sekali makan sate tapi saya tidak mengusahakannya. Kalau beli, mesti beli banyak kalau mau puas menikmatinya. Kali ini, ada bahan mentahnya, tinggal diolah. Masak harus beli lagi? Tapi kalau masak sendiri, ‘kan ribet? Harus membuat bumbu sate, harus mencari daun pepaya atau buah nanas untuk mengempukkan daging, dan mengolah daging dalam waktu yang lama. Di mana mencari daun pepaya? Kalau mau beli nanas, harus ke pasar Terong dulu. Beuh, sungguh sebuah perjuangan.
Baca selengkapnya

"Gunung Es" Berupa Kasus-Kasus Kekerasan Seksual pada Anak

Bagaimana perasaan kita jika mengetahui ada data yang menyebutkan bahwa di Sulawesi Selatan, sepanjang tahun 2014 diketahui ada 41 kasus kekerasan seksual pada anak. Sementara pada tahun 2015, dalam periode Januari – April saja sudah ada 34 kasus?

Saya bergidik. Mengerikan sekali. Hal ini terungkap pada acara Focus Discussion Group bertema Pencegahan Kekerasan Seksual pada Anak yang terselenggara berkat kerja sama IIDN Makassar dan LeMina (Lembaga Mitra Ibu dan Anak) pada tanggal 30 Agustus lalu. Ini kedua kalinya kami mengadakan kegiatan bersama. Sasarannya adalah ibu-ibu yang berasal dari latar belakang menengah ke bawah.
Baca selengkapnya
Bagi-Bagi E-Book Gratis Mengenal dan Menangani POST PARTUM DEPRESSION

Bagi-Bagi E-Book Gratis Mengenal dan Menangani POST PARTUM DEPRESSION

Mungkin banyak orang yang sudah familiar dengan istilah “baby blues syndrome” (BBS). BBS ini dialamai oleh 50 – 80% setelah melahirkan, terutama setelah melahirkan bayi pertama[1]. Saya termasuk salah satunya. Saya merasakannya usai melahirakan si sulung Affiq (lahir Juli 2001). Syukurnya, baby blues syndrome yang saya rasakan ringan-ringan saja. Perasaan mengharu-biru itu secara tak saya sadari berhenti begitu saja, seiring berjalannya waktu.

Namun ada orang-orang yang merasakan yang lebih parah dari itu. BBS-nya meningkat menjadi Post Partum Depression (PPD). Rasa mengharu biru yang dirasakannya terus menguat, berkembang menjadi depresi berlebihan yang sama sekali tak beralasan. Halusinasi menghantui, juga ketakutan yang berlebihan. Dibunuh atau membunuh!
Baca selengkapnya