Selasa, 30 September 2014

Ogah Punya Bapak Tiri

Seorang kawan kami (kami di sini maksudnya, saya dan suami saya) – sebut saja namanya Pak Aju telah menikah sebanyak 4 kali. Dengan istri pertama saat berada di Malaysia, ia dianugerahi satu anak, dengan istri kedua ia dianugerahi 5 anak. Setelah bercerai dengan istri ketiganya, ia kini hidup bahagia dengan istri keempatnya. Dua istri terakhirnya tidak/belum memberinya anak.

Dengan istri kedua, ia bercerai dan istrinya meninggalkan anak-anaknya begitu saja dan melanjutkan petualangannya dengan beberapa lelaki lain. Pak Aju dengan sabar merawat kelima anak-anaknya dengan mengandalkan pekerjaannya sebagai sopir pribadi.

Mantan istri keduanya – sebut saja namanya Tinni, meninggalkan anak-anaknya dengan suami barunya di rumah ibunya. Ia kemudian menikah lagi dan pindah ke pulau lain. Ibunda Tinni terkena stroke, otomatis ia tak bisa lagi merawat cucu-cucunya dan pindah ke panti jompo. Anak-anak pak Aju membawa adik-adiknya yang semula dirawat neneknya ke rumah Pak Aju.

Anak-Anak Tukang Bully Makin Banyak Saja

Diamanahi 3 anak dengan karakter berbeda-beda itu menakjubkan. Semuanya unik. Dari yang punya kemiripan sedikit dengan saya, dengan papanya, dengan neneknya, dengan kakeknya, dan om/tantenya, menjadi pribadi utuh dengan karakter unik.

Si tengah Athifah sudah punya banyak pengalaman dengan karakter-karakter unik lain di lingkungan sekolahnya. Mulai dari yang baik sampai yang tukang bully. Kalau dibandingkan dengan masa saya sekolah dulu, rasanya di zaman ini makin banyak saja anak tukang bully. Mulai dari yang suka memukul sampai yang mulutnya culasnya minta ampun (bayangkan, yang culas itu ada sejak Athifah kelas 1 SD, sampai sekarang kelas 2. Kalau keterusan culasnya sampai besar, betapa profesionalnya mereka nanti di usia dewasa!).

Yang culas itu ada yang tiada angin tiada hujan, seenaknya mengejek sembari menyombongkan dirinya yang paling cantiklah, yang orang kayalah. Nah, ada juga yang aneh, tanpa tedeng aling-aling (ini anak sekolah lain yang gedungnya bersebelahan, tapi dalam satu kompleks) mengejek dalaman di balik jilbab Athifah itu jelek.

Senin, 29 September 2014

Memperjuangkan Perubahan Melalui Humor dan Musik

Tulisan ini lanjutan dari tulisan berjudul


Keberadaan Arie Kriting di event peringatan ulang tahun BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia) yang ke-10 membawa suasana berbeda. Belum apa-apa, rasanya sudah excited saja. Bagaimana caranya ya “lulusan “ Stand Up Comedy Indonesia – sebuah acara humor cerdas di Kompas TV ini tampil di antara para nara sumber serius itu?

Waktu ia naik panggung, mimik jenakanya memancing tawa beberapa hadirin. Sembari berjalan menuju tengah panggung, Arie berkata, “Semua orang diperkenalkan, Saya tidak. Kan enak juga kalau diperkenalkan.”

Kak Luna – MC yang super unik (karena hanya ada MC seperti ini di acara ulang tahun BaKTI J) meresponnya dengan cepat, “Mau jaki’ diperkenalkan. Mundur-mundur mi dulu.”

Sabtu, 27 September 2014

Dengan Dracoola, Pindah Rumah Bisa Whoosh

Pindah rumah ternyata bisa secepat angin!
Whooosh. Dan saya sudah pindah ke rumah baru. Dot com, yeaay! 

Sebenarnya proses menimbang-nimbangnya sudah lama tapi mulai yakinnya baru akhir-akhir ini. Pasalnya karena saya memang mau jadi blogger profesional. Dan tidak bisa dipungkiri, setelah mengamati jagad blog selama 3 tahun lebih, membeli domain sendiri menjadi salah satu poin penting untuk menjadi blogger profesional.

Tentunya ada banyak pilihan untuk jasa jual domain. Seorang sahabat blogger – Idah Ceris namanya (nama aslinya Siti Wakhidah, ding), merekomendasikan www.dracoola.com kepada saya. Saya percaya, karena Idah orang IT.

Ketika Peneliti dan Pemerintah Tampil Beda untuk Melakukan Perubahan

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan berjudul Antara Sekolah Politik Perempuan dan Geng Motor iMuT

Agussalim, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin ini adalah peneliti yang juga menjadi Focal Point Jaringan Peneliti Kawasan Indonesia Timur (JiKTI) untuk wilayah Sulawesi Selatan.

Ia memulai presentasinya dengan kata-kata yang menggelitik:
Peneliti dan pengambil kebijakan bagaikan hidup dalam dunia berbeda. Peneliti merasa puas dan bangga bila hasil penelitiannya diterbitkan. Sementara pemerintah kerap membuat program yang salah sasaran atau mengadakan kegiatan yang mubazir.

Jumat, 26 September 2014

Mencari Ikhlas Menjemput Cinta

Resensi ini pada mulanya saya kirim ke media Koran Jakarta. Alhamdulillah dimuat di rubrik Perada pada tanggal 26 September 2014 dengan judul Wanita yang Menolak Dilangkahi (klik di sini untuk membaca), tapi sudah diedit sana-sini sehingga  ada hal-hal yang ingin saya sampaikan, tak masuk di dalamnya. Nah, di posting-an ini, saya tampilkan versi lengkapnya. Walaupun demikian, saya bersyukur karena dimuat di media tertentu adalah sebuah tantangan menarik yang kerap ingin saya penuhi.

***

Judul               : Lukisan Hati
Penulis             : Ade Anita
ISBN               : 978-602-02-3653-7
Penerbit          : Elex Media Komputindo
Tahun terbit    : 2014
Ketebalan        : 390 halaman

Kamis, 25 September 2014

Antara Sekolah Politik Perempuan dan Geng Motor iMuT

 Lanjutan dari tulisan berjudul

Kalau bukan menghadiri acara perayaan ulang tahun BaKTI pada tanggal 23 September lalu, saya belum mengetahui tentang Sekolah Politik Perempuan Maupe yang didirikan oleh Lembaga Maupe dan Lembaga Pemberdayaan perempuan di Maros.

Sungguh keren. Seperti inilah yang saya harapkan, ada pemberdayaan perempuan, jangan hanya terkesan memaksa kuantitas anggota parlemen perempuan mencapai 30% tapi asal comot saja. Bukan rahasia lagi kalau banyak partai, untuk mencukupkan kuota 30% itu jadinya asal-asalan saja memilih calon legislator perempuan.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...