Senin, 02 Maret 2015

Stifin: dari Karakter Diri Hingga Karakter Bangsa dan Hubungan Suami istri

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari 2 tulisan sebelumnya (baca di sini dan di sana)

Sesi ketiga WSL 1 dibawakan oleh Pak Alif ‘Abata’ Kaharuddin. Pada sesi ini, Alif banyak memberi penjelasan mengenai hal-hal yang sudah disampaikan di sesi pertama dan kedua. Ada beberapa istilah yang bisa lebih saya mengerti di sesi ketiga ini.

Pada sesi ini saya mencoba mengingat-ingat semua materi yang sudah diberikan. Sulit sekali bagi saya yang intuiting ini untuk menghafal sementara saya harus bisa menyerap sebanyak mungkin informasi mengingat akan ada ujian WSL 1 yang harus kami kerjakan nanti.

Untungnya ada gambar dan pola yang bisa saya pelajari. Alif pun memulai materinya dengan memberikan pola: menggerakkan tangan kanan ke atas seolah-olah gerakan mencakar di udara. Seperti yang telah dipelajari, informasi dari kelima (sidik) jari menggambarkan keadaan kecerdasan kita. Jari-jari tangan kanan juga berasosiasi dengan gambar “perbedaan dan dan persamaan mesin kecerdasan” pada materi yang diberikan. Dengan mengamati pola ini, menjadi lebih mudah bagi saya mengingat-ingat sebagian materi.

Stifin: Saya Memang Tong

Lanjutan dari tulisan sebelumnya (baca di sini)

Sesi 2 Stifin WSL 1 akan segera dimulai. Saat kami memasuki ruangan, kursi-kursi sudah diatur berdasarkan mesin kecerdasan yang lima itu: sensing, thinking, intuiting, feeling, dan instinct.

Saya menuju meja 3, tempat saya melakukan tes Stifin tadi. Tak sabar, saya segera membuka kertas yang diberikan oleh bapak yang duduk di balik meja itu. Pada kertas itu tertulis mesin dan drive kecerdasan saya: INTUITUNG EXTROVERT.

Sesaat saya bengong, apa tidak salah ya. Saya sendiri selalu merasa sebagai orang yang introvert. Tapi jika merenungkan masa lalu dan keadaan diri, saya menyadari bahwa sifat introvert yang muncul dalam diri saya adalah bentukan dari rumah. Baru saja terasa beberapa tahun terakhir ini, terutama setelah saya giat menulis kalau drive extrovert itu telah menarik saya hingga “sejauh” ini saya berani menggeluti dunia blogging dan tulis-menulis.

Jumat, 27 Februari 2015

Stifin: Mengenali Keunggulan Diri untuk Menjadi Lebih Baik

Bersyukur sekali saya mendapatkan undangan Workshop Level 1 (WSL 1) Stifin dari Ibu A. Sengngeng. Ibu A. Sengngeng adalah istri dari Pak Alif – kawan SMA saya. Tentang Stifin sudah pernah saya dengar sebelumnya dari suami yang sebelumnya telah mendapatkan informasi tentang Stifin dari kawan-kawannya.

Saya penyuka pengetahuan mengenai kepribadian manusia, Stifin memberikan hal tersebut maka sudah tentu saya tak menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Apalagi setelah Sengngeng mengatakan saya boleh datang dengan suami, makin bersemangatlah saya.

Saya mendiskusikan dulu beberapa hal dengan suami. Kami meminta Kak Nur – seorang kerabat kami untuk datang menemani anak-anak di rumah. Beruntung Kak Nur sedang tak punya halangan untuk itu. Tak selalu ia punya kesempatan, saya dulu pernah beberapa kali memintanya datang tetapi berbagai hal terjadi di luar kendalinya, membuat ia tak bisa datang ke rumah.

Jumat, 20 Februari 2015

Pengumuman Penyelenggara Lomba, Melegakan Walau Bukan Berita Gembira

Dapat e-mail dari penyelenggara lomba, baik itu saya menang lomba ataupun kalah, selalu terasa menyenangkan ketimbang tidak ada kabar sama sekali.

Saya pernah dapat e-mail yang subject-nya: "Pemenang Mingguan Lomba". Saya kira saya menang lomba. Sudah girang saja saya membuka e-mailnya. Ternyata tidak. Sebagai salah satu peserta lomba blog itu, saya menjadi orang yang menerima e-mail pemberitahuan mengenai pemenang mingguan. Penyelenggara lomba "hanya" menepati janjinya untuk mengumumkan pemenang mingguan lomba itu.

Saya sempat mengomel dalam hati, "Ah, ngapain di-e-mail juga hanya untuk mendapatkan berita kekalahan?" Namun segera saya ber-istighfar karena tersadar bahwa lebih baik mendapatkan info kekalahan daripada tidak ada kabar apa-apa. Menunggu tanpa kejelasan itu sungguh tak enak. Dari mengomel, saya lantas berterima kasih karena penyelenggara lomba itu punya integritas.

Rabu, 18 Februari 2015

Berbagai Gaya Mengisap Permen yang Memancing Emosi

Karena Affiq suka jail sama Athifah (kasihan sekali ya Athifah), apapun perlakuan dan kelakuan Affiq saat berada di dekat Athifah, Athifah dengan gampang menuduh Affiq sedang mencoba menggodanya.

Seperti ba’da Isya tadi. Athifah yang sudah mengantuk, marah-marah terus pada Affiq. Affiq – seperti biasa, terdengar seolah-olah tak berdosa menanggapi jeritan-jeritan Athifah padahal sesungguhnya dia menikmatinya.

“KENAPA BEGITU CARAMU?” teriak Athifah

“SAYA TIDAK SUKA. KENAPA BEGITU??!!” seru Athifah makin galak

Papa yang Tanggung Jawab!

"Besok libur Athifah," Papa memberitahu Athifah sebuah kabar gembira. Kabar yang biasanya ditunggu-tunggu anak sekolah.

"Kalau ternyata besok tidak libur, Papa yang tanggungjawab itu! demikian reaksi Athifah atas berita gembira itu.

"Begitulah orang kalo suka jail sama anaknya," Mama terkikik geli mengatakan ini pada Papa.

Papa suka jail sama Athifah. Tega-tega saja dia membuat putrinya menjerit-jerit saat diisengi. Mama suka sebal sama Papa. Kali ini Papa merasakan akibatnya, perkataannya tak dipercaya oleh putrinya sendiri wkwkwk.

Athifah tidak tahu kalau ia libur Imlek besok. Mungkin saja gurunya sudah memberi tahu tapi dia yang tidak memperhatikan. Waktu kelas 1, guru kelasnya menyuruh murid-muridnya mencatat mengenai apa yang akan dilakukan keesokan harinya, termasuk informasi hari libur. Guru kelas 2 ini tak demikian. 

Sementara anak-anak di kelas Athifah ributnya minta ampun. Boleh dibilang seisi kelas, nyaris semuanya anak aktif. Bisa saja saat diberi tahu, perhatian Athifah sedang beralih kepada teman-temannya atau ia sedang ngobrol. Maka terjadilah "kekacauan" di atas :))


Membaca Ceritana Baco

Program Komunitas Blogger Anging Mammiri (AM) kali ini unik sekali, namanya SIPAKATAU (saling menghargai). Yang berminat diminta mendaftar pada form yang telah dibuat. Lalu para peserta yang terdaftar akan saling me-review blog masing-masing.

Saya masuk dalam daftar peserta putaran pertama. Tugas pertama saya adalah me-review blog  Ceritana Baco milik Arie Purnomo. Tahu saja nih panitia dengan kesukaan saya kepada hal-hal yang menonjolkan kekhasan daerah kami. Membaca nama blog milik Arie ini, saya langsung bersemangat.

Saya kemudian menyusuri sekilas blog Ceritana Baco, mencari-cari jati diri bloggernya. Namanya saya ketahui dari pengumuman pada wall grup AM dan widget Timeline twitter yang dipasang Arie di sisi kanan blog. Namun sayangnya, saya tak mendapatkan “about me” (tentang saya)-nya blog ini.

Jumat, 13 Februari 2015

Rezeki Ngeblog, Anak-Anakku Juga Menikmatinya

Ternyata kegiatan menulis yang saya lakukan selama ini tak hanya berdampak positif kepada saya. Setelah membuka jalan rezeki, rezeki yang saya nikmati dari kegiatan menulis juga dinikmati keluarga saya, terutama anak-anak. Kalau berupa uang, kami bisa menikmatinya bersama. Menyenangkannya, ada hadiah lomba selain uang yang hanya/juga bisa dipakai oleh anak-anakku, seperti voucher makanan dan barang-barang berikut ......

Dari sebuah giveaway yang saya menangkan, saya memilih hadiah permainan Monopoli agar bisa dimainkan anak-anak. Konyol, tapi karena barang itu sudah menjadi incaran saya tapi belum sempat dibeli, makanya saya memilihnya. Anak-anak senang mendapatkannya. Sayangnya mainan Monopolinya tak bertahan lama, si bungsu selalu saja mengeluarkan Monopoli dari tempatnya dan memainkannya dengan caranya sendiri. Akhirnya isinya tercerai-berai dan hilang satu demi satu.

Saya pernah memenangkan hadiah voucher MAP dari sebuah giveaway. Voucher itu kemudian saya belikan tas sekolah buat Athifah dan sepatu sekolah buat Affiq. Dari sebuah lomba yang diadakan oleh Komunitas Blogger Anging Mammiri beberapa tahun lalu, saya mendapatkan 2 tiket bermain di Trans Studio. Athifah senang sekali saya membawanya bermain di Trans Studio.

Minggu lalu saya mendapatkan hadiah 2 buku anak dari Mbak Astri Damayanti, sebagai salah satu pemenang lomba kecil-kecilan yang diadakan oleh Vivalog. Buku-bukunya bagus sekali. Buku dongeng dari 5 benua yang terdiri atas 200-an halaman bergambar dan berwarna, dan buku origami. Athifah senang sekali. Dia langsung mencari kertas bujur sangkar ukuran kecil dan belajar membuat origami.

Rabu, 11 Februari 2015

[Opini Harian Fajar 100215]Mempertanyakan Empati dalam Kondisi Kini

Tulisan (opini) ini dimuat di Harian Fajar, 10 Februari 2015

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “empati” berarti keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Namun demikian tiap orang bisa berbeda-beda caranya dalam mempersepsikan empati.

Ada kasus menarik yang baru-baru ini terjadi. Sejumlah turis di lokasi jatuhnya pesawat Transasia Airways bernomor penerbangan GE235 dikecam banyak pengguna media sosial. Stasiun televisi nasional pun memuat berita tentang mereka karena dianggap tidak berempati atas musibah kecelakaan yang terjadi. Dengan latar belakang perahu-perahu karet tim penyelamat yang masih mencari korban-korban yang hilang, mereka berpose dengan wajah gembira.

Hal yang sama terjadi di depan bangkai ekor pesawat Air Asia QZ8501 setelah proses pengangkatannya pada bulan lalu. Ada anggota kepolisian dan TNI berfoto narsis dengan latar belakang ekor pesawat. Banyak yang mengecamnya, bahkan media Inggris, Mirror.co.uk pun mengecamnya. Tudingan tidak berempati pasti tidak terbayangkan ketika mereka berpose untuk mengabadikan momen langka itu.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...