Selasa, 02 Desember 2014

Giveaway: Istri yang Baik

Tulisan ini merupakan sticky post, akan tetap berada di urutan teratas sampai insya Allah tanggal 2 Desember, bila Anda ingin membaca tulisan terbaru saya, ada di bawah postingan ini J

Senin, 20 Oktober 2014

Pikir Panjang Tentang Gaul dan Syar’i untuk Remaja

Judul: Nikah Aja, Yuk!
Penulis: Irma Irawati
Penerbit: Qibla, imprint Bhuana Ilmu Populer (BIP)
Tahun terbit: 2014
ISBN 10: 602-249-684-5
ISBN 13: 978-602-249-684-7
Ketebalan: 180 halaman
Ukuran: 21 cm x 14 cm

Pubertas di masa remaja banyak dilegalkan orang untuk memulai menjalin hubungan antara lelaki dan perempuan namun Islam memiliki aturan tersendiri tentang hal itu. Penulis mencoba menuliskan aturan tersebut dalam buku ini dalam bentuk fiksi yang mengalir dalam bahasa yang mudah dimengerti tetapi didukung kuat dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadits.

Diwarnai oleh kisah Adiba dan Ayesha, dua kakak-beradik, buku ini banyak membahas tentang problema hati yang dialami para remaja. Ayesha yang masih duduk di bangku SMA mulai merasakan benih-benih cinta kepada Saga – kakak kelasnya tumbuh di hatinya. Lama-kelamaan benih cinta itu makin subur. Hasil olah pikiran dan keadaan sekitarnya membuat Yesha menjadi permisif namun jauh di lubuk hatinya, ia ingin menghindari apa yang sedang dirasakannya karena ia tahu hukumnya.

Minggu, 19 Oktober 2014

Rintik-Rintik Mutiara Syahdu

Manusia bisa berubah. Ya, saya percaya itu. Karena saya juga mengalami banyak sekali momen yang mengubah pola pikir saya terhadap banyak hal, terutama sejak aktif ngeblog. Saya merasakan wawasan saya semakin berkembang. Salah satu yang berubah dari diri saya adalah cara saya memandang diri saya sendiri – mungkin bisa diartikan dengan “citra diri”. Saya juga menemukan cara baru untuk meningkatan rasa percaya diri.

Kegiatan menulis dan ngeblog memegang peranan penting dalam hal ini. Karena jatuh cinta pada dunia menulis maka saya harus banyak-banyak membaca. Karena saya blogger, maka saya harus blog walking (BW), dari kegiatan BW ini, saya membaca beragam hal dari blog para kawan blogger.

Sementara itu, di rumah saya harus menghadapi ibu yang punya pola pikir sendiri tentang "ibu rumah tangga". Beliau minder dengan kondisi saya yang “hanya” ibu rumah tangga. Ini berulang kali terlihat saat bertemu dengan orang lain. “Ini Niar, anak saya. Dia cuma ibu rumah tangga padahal dia sarjana teknik,” begitu beliau memperkenalkan saya walau tak ada yang mempertanyakan profesi saya. Mendengar ini, tak ada yang saya inginkan kecuali memiliki mantera menghilang atau jubah yang bisa menyembunyikan wajah saya dari tatapan kasihan orang-orang. Apalagi jika mereka memperbincangkan saya dengan menyudutkan dan mengasihani saya begitu rupa, aih sepertinya tak ada orang yang semalang saya di dunia ini.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Jaringan Siap, Komunikasi Mantap

Demi melihat suasana di Coffee Toffe La Madukelleng, tempat acara berlangsung masih sepi, saya kaget. Di run down yang saya terima tertera waktu mulai acara adalah pukul 5 sore sementara jam HP saya sudah menunjukkan pukul 5. Aish, ada yang salah nih.

“Acaranya mulai jam berapa?” tanya saya kepada seorang lelaki berkulit terang dan berpostur besar yang sedang mengatur posisi X banner Indosat.

“Jam enam,” dengan ramah lelaki itu menjawab.

“Jam enam? Waduh, di brief yang saya terima tertulis jam lima,” saya yakin tak salah melihat brief yang saya baca di e-mail kira-kira pukul setengah empat tadi.

Rabu, 15 Oktober 2014

Membangun Percaya Diri Anak Sebagai Rangkaian Kebiasaan Bermakna

Judul: Membangun Rasa Percaya Diri Anak
Penulis: Henny Puspitarini
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2014
ISBN: 978-602-02-3956-9
Ketebalan: 258 + X halaman
Ukuran: 21 cm x 14 cm

Bahwa yang membentuk kepribadian kita adalah apa yang kita lakukan berulang kali. Membangun rasa percaya diri pun merupakan rangkaian kebiasaan orang tua, dipandu kesabaran dan percaya sepenuhnya pada anak (halaman V).

Pendapat yang disarikan dari pengalaman dan pengamatan penulis kepada kedua buah hatinya dan anak-anak di daycare yang dikelolanya itu sejalan dengan pendapat Kak Seto – ketua Komnas Perlindungan Anak, bahwa: percaya diri anak memang harus ditumbuhsuburkan karena dapat mengasah kreativitas. Ini sangat penting agar anak-anak bisa menjadi kidpreneur. Kidpreneur yang dimaksud bukan hanya untuk menjadi pengusaha tetapi lebih luas lagi, agar anak mampu menggali potensi dirinya dan mengembangkannya agar bermanfaat bagi dirinya dan orang lain (halaman 6).

Selasa, 14 Oktober 2014

Bukan Labu, Bukan Mangga

Ini bukan labu ya, juga bukan mangga J

Ini penghapus pinsil Athifah yang dipotong-potong. Biarlah ada yang bilang emaknya super irit atau pelit hehehe. Ini buat mengajarinya supaya lebih menghargai barang, uang, dan orang tuanya.

Berkali-kali penghapusnya, pinsilnya, dan barang-barang lainnya hilang di sekolah. Berkali-kali itu pula Mama dan Papa harus menggantikannya, sebab kalau tidak, bagaimana Athifah bisa belajar?

Kami Tidak Kasar

Masih ada juga orang yang memandang negatif daerah lain (seprovinsi-provinsi-nya) gara-gara berita di media. Padahal kalau mau berpikir lebih bijak sedikit, berita tentang beragam kekerasan itu ada di semua daerah. Bahkan orang itu sampai dua kali menyindir suami saya di facebook (untuk 2 peristiwa berbeda, yang terjadi dalam kurun waktu yang berbeda) dengan kalimat yang seolah-olah semua orang di sini tak memiliki hati nurani.

Peristiwa tentang ketakutan orang terhadap orang dari daerah kami pernah juga dialami suami saya di tempatnya dulu. Pernah juga dialami oleh ibu saya waktu di sebuah daerah ditanyakan kepadanya: "Tidak takut tinggal di sana, Bu?" (kebetulan ibu saya perantau, ayah saya yang "penduduk asli" provinsi ini, waktu itu ibu saya mengakui kalau beliau pendatang).

Ibu dari kawan saya juga pernah mengalami, bertemu dengan seorang pemuda yang ketakutan setengah mati saat berada di atas pesawat yang tengah menerbangkannya ke sini.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...