Tukang Parkir yang Baik Hati

Tukang Parkir yang Baik Hati – Usai melaksanakan pekerjaan me-review resto selaku kreator digital, saya ditemani anak sulung melangkah ke luar resto. Tadinya hendak menunggu hingga hujan reda namun hujan tak kunjung reda,  malah semakin deras di sore itu. Saya memutuskan untuk menerobos hujan, toh jas hujan untuk masing-masing dari kami sudah siap dari rumah tadi.

Tukang Parkir Baik

Perasaan tak enak yang saya tahan sejak tadi sudah mulai berkurang namun belum hilang sepenuhnya. Sebelumnya, saya menunggu sampai lebih dari 50 menit untuk mendapatkan menu yang harus saya review, sebagaimana tugas dari resto pusat. Lima puluh menit itu terlalu lama sebab orang-orang setelah saya sudah menerima menu yang mereka pesan. Bahkan seorang content creator yang datang setelah saya juga telah mendapatkan menu yang harus dia review.

Perlakuan dua oknum pegawai resto tidak mengenakkan bagiku. Mereka yang membuatku menunggu sekian lama dan bersikap kurang elok. Jadinya footage produk harus kubuat dengan menahan rasa jengkel.

Bersyukur, perasaan jengkel sudah banyak berkurang ketika melangkah keluar dari resto. Hujan deras mengadang[1]. Sedikit kena hujan, anakku mengambil motor, membawanya ke tempat yang teduh. anakku bergegas mengeluarkan jas hujan kami dari dalam bagasi motor.

Secara bersamaan, tukang parkir resto bergerak ke sebuah tempat dan mengeluarkan dua helm milik kami. Diberikannya helm-helm itu kepada kami. Terlihat kedua helm kami masih kering. Masya Allah, baik sekali tukang parkirnya, dia menyimpankan kedua helm itu di tempat yang terlindung dari air hujan.

Tadi tak terpikir olehku untuk mengamankan helm dengan kantong kresek, begitu pun anak sulungku. Bayangkan kalau tukang parkir itu tak peduli dan membiarkan helm kami basah oleh hujan, mau tak mau kami pulang dengan mengenakan helm basah di kepala!

Masya Allah, sedikit kepedulian saja, rasanya seperti mendapatkan anugerah. Kesehatan kepala terselamatkan oleh tindakan tukang parkir. “Baiknya, masya Allah,” saya membatin, memperhatikan tukang parkir paruh baya itu.

Setelah mengenakan jas hujan dan siap meluncur, kuberikan uang parkir kepada bapak tukang parkir berambut putih itu seraya sedikit membungkukkan badan dan berkata, “Terima kasih banyak, Pak.” Ucapan dan bahasa tubuhku mewakili rasa terima kasihku yang sebesar-besarnya sekaligus rasa syukurku bisa pulang dengan helm kering.


Parkir Motor Mobil

“Tunggu, Bu, saya ambil kembaliannya,” ujar tukang parkir itu. Dia bisa saja berdalih “tidak ada uang kecil” sehingga saya memberikan keseluruhan uang yang saya sodorkan kepadanya namun tak dilakukannya.

“Tidak apa, Pak, jangan mi dikembalikan,” bapak tukang parkir hendak berbalik ke arah kiri ketika kutahan langkahnya. Uang yang kuberikan tak seberapa besarnya dibandingkan dengan rasa syukurku pulang dengan helm kering di tengah hujan deras pada sore itu. Kalau pulang dengan helm basah di kepala, bisa-bisa sampai di rumah langsung masuk angin atau sakit padahal masih ada sederetan pekerjaan yang harus kulakukan.

“Terima kasih, Bu,” seraut senyum tipis tersungging di bibirnya.

“Hati-hati ki’,” ujarnya lagi. Ucapannya terasa sejuk di hati.

Setelah hari itu, dua kali saya ke resto tersebut. Alhamdulillah, pelayanan pegawainya jauh lebih bagus, tak seperti sebelumnya. Tukang parkir yang sama, masih mengucapkan kata “hati-hati” kepada kami. Saya tak tahu dia mengenali kami atau tidak. Ataukah ucapan itu memang biasa diucapkannya kepada para pengunjung resto. Apapun itu, dia memang baik dengan mengatakannya, masya Allah.

Makassar, 20 Januari 2026


Catatan kaki:

[1]Adang” merupakan kata baku, bukan “hadang” (https://kbbi.web.id/adang)



Share :

0 Response to "Tukang Parkir yang Baik Hati"

Post a Comment

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^