Tampilkan posting dengan label Pelita. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Pelita. Tampilkan semua posting

Berbeda Bukan Berarti Bermusuhan, Biarkan yang Menanam yang Menuai

Kalau saya mengatakan tidak pernah berniat dan berbuat jahat, bukan berarti saya tidak pernah berbuat salah. Ada beberapa kejadian, di mana ternyata orang-orang yang berinteraksi dengan saya merasa tersinggung walau saya tak berniat menyinggung. Itu bukan berarti saya tidak salah. Saya berbuat kesalahan.  Karena menyadarinya, saya meminta maaf.
Baca selengkapnya

Pungli Oh Pungli

Sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui (QS Al Baqarah 188)

Baca selengkapnya

Tentang Speak Up-nya Elisa Monic, Beauty Blogger dari Bekasi

Mari berkenalan dengan salah satu teman blogger perempuan saya yang keren. Namanya Elisa Monic, blogger Bekasi. Saya terkesan sekali dengan tulisan di blognya yang berjudul Kerja Bareng Orangtua Itu Enak.
Baca selengkapnya

Mendefinisikan Kembali Tawa

Di sebuah sekolah dasar, pada suatu siang. Seorang bapak terkena tendangan bola dari anak-anak yang sedang bermain. Anak-anak itu tertawa keras, alih-alih meminta maaf. Kepada anak berbadan besar yang tertawanya paling keras, si Bapak menegurnya dengan keras dan menasihatinya. Apa yang lucu dengan tertimpa bola?
Baca selengkapnya

Dalam Perjalanan, Selalulah Ingat untuk Berdo'a, Nak

Kemarin, begitu keluar dari Same Hotel, hendak ke Fort Rotterdam (dari acara yang satu ke acara yang lain pada ajang Makassar International Writers (MIWF) 2016), saya langsung membaca do'a keluar (rumah), memasrahkan hidup selama berjalan pada sependek jalan di antara kedua bangunan itu kepada Sang Maha Kuasa.
Baca selengkapnya

Kau Pasti Tak Bisa Mengerti Perasaanku

Saya melihat penggalan sebuah film India. Ketika seorang ibu bernama Ratan menjenguk seorang perempuan di rumah sakit. Perempuan itu baru saja kehilangan bayinya. Saya tidak tahu, apakah perempuan itu kehilangan bayi dalam kandungannya ataukah bayinya yang sudah lahir. Ia kelihatan terpukul saat Ratan menemuinya.

Ratan mengatakan, “Aku mengerti perasaanmu.”

Namun apa yang dilakukan perempuan itu? Ia justru melabrak Ratan dengan mengatakan, “Kau pasti tak bisa mengerti perasaanku! Bla bla bla ...”
Baca selengkapnya

Lelaki Penjaga Alas Kaki

Masjid Nurul Mu’minin di jalan Urip Sumoharjo menjadi pilihan saya dan suami untuk melaksanakan shalat ashar. 

Tanggal 29 Oktober lalu saya diantar suami ke GOR Sudiang, untuk melaksanakan tugas meliput kompetisi bola basket LIMA – Liga Mahasiswa sore itu. Perjalanan kami cukup jauh karena sebelumnya saya harus mendatangi toko-toko di sebuah pusat perbelanjaan di sekitar pusat kota untuk melaksanakan tugas sebagai mystery shopper, baru kemudian melanjutkan perjalanan ke Sudiang, daerah pinggiran Makassar yang berbatasan dengan kabupaten Maros.
Baca selengkapnya

Menjadi Muslimah yang Merdeka dari Ketakpedulian pada Perasaan Saudarinya

Perempuan itu, sebut saja namanya Tria, setengah kesal. “Niar, jangan kau ajak-ajak lagi saya ikut kajian Jumat. Saya tidak mau. Tidak akan mau!”
Niar hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Tak tahu mau bilang apa lagi. Sudah sebulanan ini dia membujuk-bujuk Tria untuk ikut kajian Jumat khusus akhwat di sekolah. Akhirnya bujuk-rayunya berhasil. Tria yang sehari-harinya rada tomboi, dengan rok abu-abunya yang di atas lutut itu pun mau menuruti ajakannya. Mungkin karena tak enak saja pada Niar. Daripada nyaris tiap hari mendengar rengekannya, Tria menuruti saja ikut kajian Jumat hari ini.
Baca selengkapnya
Ketika Menyeberang Jalan Terasa Menyeramkan

Ketika Menyeberang Jalan Terasa Menyeramkan

Karena sudah jarang sekali menyeberang sendiri, Jalan Gunung Bawakaraeng jadi sedemikian mengerikan buat saya. Mau menyeberang, malah "maju-mundur-maju-mundur cantik" saja di sisi jalan. Horor, deh, rasanya. Suami yang menunggu di seberang jalan sudah siap-siap menyeberang, mengambil saya, dan membawa ke seberang sana. Rasanya koq aneh ya, kalau dia harus menyeberang untuk mengambil saya lalu kembali ke sana, hehehe.

Seorang lelaki muda berbadan kurus, berkulit legam mendekat ke arah saya memberi isyarat bertanya, apakah saya hendak ke seberang. Saya mengangguk. Dengan lincah, anak muda itu menuntun saya - dari jarak satu meteran menyeberangi jalan lebar itu. Karena bersyukur, rasanya seperti sudah diselamatkan malaikat, tangan kanan saya ringan saja merogoh kantong. Selembar uang dua ribuan siap saya ulurkan padanya.
Baca selengkapnya
Menyongsong Ridha Ramadhan

Menyongsong Ridha Ramadhan

Seseorang yang sedang galau mengatakan bahwa ia tak bisa merasai bahagia memasuki bulan Ramadhan. Padahal ia mengetahui kalau Allah sudah berjanji akan melipatgandakan semua bentuk kebaikan dalam bulan suci itu.

Apa pasal?

Karena kehidupannya tengah dikepung berbagai masalah dari berbagai arah. Semua rasa tak enak mengungkungnya. Bukan hanya secara jasmani. Rohaniahnya juga mengalami rasa sakit yang bertubi-tubi.
Baca selengkapnya

[Opini Harian Fajar 100215]Mempertanyakan Empati dalam Kondisi Kini

Tulisan (opini) ini dimuat di Harian Fajar, 10 Februari 2015

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “empati” berarti keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Namun demikian tiap orang bisa berbeda-beda caranya dalam mempersepsikan empati.

Ada kasus menarik yang baru-baru ini terjadi. Sejumlah turis di lokasi jatuhnya pesawat Transasia Airways bernomor penerbangan GE235 dikecam banyak pengguna media sosial. Stasiun televisi nasional pun memuat berita tentang mereka karena dianggap tidak berempati atas musibah kecelakaan yang terjadi. Dengan latar belakang perahu-perahu karet tim penyelamat yang masih mencari korban-korban yang hilang, mereka berpose dengan wajah gembira.

Hal yang sama terjadi di depan bangkai ekor pesawat Air Asia QZ8501 setelah proses pengangkatannya pada bulan lalu. Ada anggota kepolisian dan TNI berfoto narsis dengan latar belakang ekor pesawat. Banyak yang mengecamnya, bahkan media Inggris, Mirror.co.uk pun mengecamnya. Tudingan tidak berempati pasti tidak terbayangkan ketika mereka berpose untuk mengabadikan momen langka itu.
Baca selengkapnya

Berantas Bibit Korupsi, Mulai dari Diri Sendiri

Sesungguhnya banyak perbuatan korup yang terjadi di masyarakat. Seperti kebiasaan mark up proposal dan kerja sama tak wajar antara pemenang tender dan penguasa adalah hal yang lazim terjadi. Bahkan dalam skala kecil-kecilan, perbuatan korup terjadi di mana-mana.

Antara Korup dan Korupsi

Saya masih ingat ketika masih kuliah dulu. Waktu itu saya beruntung karena bisa mendapatkan beasiswa yang merupakan hak saya dengan utuh. Pegawai administrasi yang harus saya hubungi untuk urusan itu jujur, tak memotong sepeser pun uang beasiswa saya. Berbeda dengan teman-teman yang lain. Mereka harus rela kehilangan sekian persen dari hak mereka untuk diberikan kepada pegawai yang “membantu” meloloskan berkas mereka.
Baca selengkapnya
Begini Rasanya Bila Bertemu Anggota Barisan Sakit Hati

Begini Rasanya Bila Bertemu Anggota Barisan Sakit Hati

"Anaknya yang besar kelas berapa, Bu?" tanya seorang ibu.

"Kelas dua es em pe," jawab saya sopan.

"Es em pe mana?"
tanyanya lagi.  Saya lalu menyebutkan nama sekolah si sulung.

"Cucuku mau saya masukkan di situ, Bu. Tapi tidak lulus. Padahal bagus ji tes mengajinya. Bagus ji tesnya yang lain, ndak tahu juga kenapa ndak lulus. Jadi saya masukkan di SMP A," ibu itu menyebut nama SMP swasta. Nama sekolah itu baru saya dengar.

Untuk masuk di sekolah Affiq ada serangkaian tes yang harus dijalani. Selain tes-tes tertulis 3 bidang studi yang diujiannasionalkan dan tes Pendidikan Agama Islam, ada pula tes tilawah.

"Kalau di sekolahnya anak ta' banyak yang didapat pakai shabu-shabu, isap lem. Kalo di sekolahnya cucuku bagus ki. lebih bagus lagi dari sekolah anak ta'. Di sekolahnya anak ta' banyak permainan," cerocos ibu itu lagi.
Baca selengkapnya

Ekspektasi untuk Komika Lokal

Sudah lama saya lihat stand up comedy, pada film-film Amerika. Kira-kira tahun 90-an. Hanya saja waktu itu saya belum tahu kalau itu namanya stand up comedy. Saya mengingatnya sebagai acara yang aneh. Ada seseorang menjadi public speaker, menceritakan sesuatu dan sesekali membuat audiensnya tertawa tetapi saya tidak mengerti apanya yang lucu padahal saya jelas-jelas paham dengan teks berbahasa Indonesia yang ditampilkan. Belakangan baru saya mengerti, mengapa saya tidak mengerti di mana letak kelucuannya, adalah karena adanya perbedaan budaya. Yang dibawakan stand up comedian di film-film itu humor khas Amerika, jelas saja saya tidak mengerti karena tak memahami budaya dan cara berpikir orang Amerika.

Saya tahu istilah stand up comedy sejak dipopulerkan oleh Kompas TV, sejak tahun 2011 pada kompetisi bertajuk Stand Up Comedy Indonesia (SUCI). Waktu itu saya nonton hampir semua penampilan finalisnya (di sesi 1). Salut sekali dengan penyampaian komedi dengan cerdas ala SUCI ini. Berbeda sekali dengan kebanyakan acara lawak di televisi yang kebanyakan suka menampilkan saling ejek/cela, adegan jatuh, dan memodifikasi tampilan fisik yang dipaksakan sekali supaya terkesan lucu (padahal tidak).
Baca selengkapnya

Kenangan Tentang Prof. Dikwan Eisenring

Tidak banyak guru yang berkesan di hati saya. Saya meminta izin kepada kak Astra Ibrahim Eisenring untuk menyimpan foto yang ada gambar ayahnya (yang mengenakan kemeja putih dan berdasi) ini karena beliau adalah guru terfavorit saya. Melihat foto ini, kontan hati saya tergetar, titik air menggenang di pelupuk mata saya, menandakan begitu kuatnya kesan beliau dalam hati saya.

Masih teringat hari-hari kursus dengan beliau. Bagaimana telaten dan tegasnya beliau mengajar kami Bahasa Inggris, bahkan kalau perlu sekaligus mengajari kami Geografi, Bahasa Indonesia, perilaku/etika, dan pelajaran-pelajaran lain.

Banyak hal darinya yang masih berkesan bagi saya. Salah satunya adalah ketika pelajaran sedang berlangsung, cucunya (saya masih ingat namanya Lili) yang waktu itu masih berusia 2 tahun terjatuh. Spontan kami tertawa. Sebagian besar yang kursus waktu itu masih duduk di bangku SMP, beberapa yang lainnya sudah duduk di bangku SMA. Entah kenapa secara internasional, adegan jatuh dianggap lelucon oleh banyak orang, termasuk oleh kami ketika itu.
Baca selengkapnya

Perspektif Itu Khas

Takkan sama memandang dari atas dan dari bawah walau obyek yang dipandangi sama. Seperti juga tak sama yang tampak jika memandang dari arah kiri dan arah kanan. Atau memandang dari dalam rumah dan dari luar rumah.

Bila seseorang yang sudah sampai di puncak ketinggian pendakian, apa yang dilihat dan dialaminya tentu pula tak sama dengan mereka yang masih berada di kaki gunung. Maka wajar jika sang pendaki tertinggi berbagi pengetahuan kepada sang pemula. Tak wajar jika sang pemula membantah atau ngelunjak karena ia belum melihat dan belum mengalami apa yang dilihat dan dialami oleh sang pendaki tertinggi. Ini berlaku kalau tujuan mereka sama, yaitu mendaki gunung yang sama, dari arah yang sama.

Tentu tak bisa diterapkan jikalau seseorang yang menguasai pengetahuan membuat roti mencoba memaksakan pengetahuannya kepada seseorang yang hendak menjadi pembuat jus profesional. Ndak nyambung, kan?
Baca selengkapnya
TRANSFORMASI HATI

TRANSFORMASI HATI

Saat ditempa oleh berbagai hal yang merenggut kepercayaan diri, seseorang bisa terpuruk ke dalam perasaan minder/rendah diri berlebihan. Ke mana-mana kepalanya tertunduk dalam.  Dagunya turun amat rendah dari posisi seharusnya. Kalau bisa, jangan ada yang melihatnya. Ia jadi lupa caranya tersenyum. Ketegangan dan depresi pun berkawan akrab dengannya.

Ia menganggap semua orang hebat. Dirinya hanya sampah. Ia jadi super sensitif. Bila ada yang tertawa, ia merasa ditertawakan. Bila ada yang marah, ia merasa dimarahi. Bahkan tanpa ia bisa jadi sangat keterlaluan, dengan menjadi sarkastis kepada orang lain. Bukan hanya kepada kehidupannya sendiri ia pesimis dan skeptis tetapi juga kepada orang lain. Ia sulit percaya kepada orang lain.

Ketika perbaikan datang perlahan-lahan, ia mulai gembira. Setitik cahaya yang diharapkannya akan muncul terlah terlihat. Perlahan-lahan dagunya mulai terangkat ketika berhadapan dengan banyak orang.
Baca selengkapnya
Terangi Dunia dengan Sinarmu, Nawala!

Terangi Dunia dengan Sinarmu, Nawala!

Air mata saya menitik saat menyimak sesi kemunculannya pada acara Hafidz Cilik Indonesia di Trans 7 kemarin. Dan saya kira siapa pun yang hatinya masih berfungsi akan tergetar melihat hafidz cilik ini. Nawala (6 tahun) asal Aceh. Dari 224 peserta pada babak penyisihan, ia bersama 2 anak lainnya terpilih mewakili Aceh. Dalam keterbatasannya sebagai tuna netra, ia bisa menghafal surah-surah dalam al-Qur'an, dibimbing oleh ayahnya yang juga tuna netra, dengan "membacakan" al-Qur'an berhuruf Braille. Wow, orang Aceh pasti bangga pada Nawala dan ayahnya.

Juri pun menitik air matanya kala membicarakan tentang Nawala dan ayahnya, "Inilah beda antara 'melihat' dan 'buta' yang sesungguhnya. Ada orang-orang yang matanya bisa melihat tapi hatinya buta. Sementara ayah Nawala, walau matanya tak melihat tapi hatinya mampu melihat."
Baca selengkapnya