Kisah Paket Nyaris Melayang dan Kurir Tanpa Kata Maaf – Baru kali ini dapat kurir aneh bin ajaib seperti ini. Awalnya putriku menunggui paket belanjaan online-nya datang pada pekan terakhir Desember 2025. Dia agak gelisah ketika paketnya belum tiba pada hari seharusnya tiba. Kutenangkan dia dengan mengatakan bahwa biasa koq paket terlambat datang. Tunggu saja.
Paket Tak Sampai Namun
Aplikasi Berkata Lain
Namun demikian, paketnya tak kunjung tiba melewati
estimasi waktu, tahu-tahu notifikasi marketplace menunjukkan bahwa paket
sudah diterima oleh seseorang bernama Iswandi. Siapa orang itu? Kami tak
mengenalnya.
Putriku sebisanya mengurus pelacakan paketnya. Saya
tak banyak membantunya, hanya sekadar mengarahkan dia sebaiknya menghubungi
siapa, seperti CS marketplace dan perusahaan jasa ekspedisi,
serta menyediakan pendengaran ketika dia bercerita.
Sementara itu suamiku bertanya-tanya kepada tetangga
apakah ada sosok bernama Iswandi di sekitar rumah kami namun tak ada orang
bernama Iswandi di sekitar rumah. Saya koq curiga si kurir ini
berbohong. Bisa saja dia mengada-ada menulis nama orang yang entah siapa atau
sekadar mengarang-ngarang saja.
Bersyukurnya perusahaan ekspedisi membantu dengan
menghubungi kurir yang bersangkutan. Setelah ditunggu selama berhari-hari
akhirnya si kurir menghubungi namun terkesan mengulur-ulur waktu.
Kurir Tak Beritikad Baik
Kata kurir rumah kami terlihat seperti tak
berpenghuni, seperti rumah kosong jadi barangnya dibawa kembali olehnya. Aneh kan.
Kenapa tak dia laporkan ke perusahaan tempatnya bekerja kalau misal memang
rumah beneran kosong? Seharusnya kan prosedurnya, si kurir
menulis catatan di aplikasi marketplace yang terhubung ke ekspedisinya bahwa
rumah kosong, bukannya menuliskan nama
fiktif dan membawa pulang barang yang dia antar?
Ketika si kurir akhirnya menghubungi anak gadisku
perihal mengantarkan paket anak gadis ke rumah, kuminta dia mengatakan seperti
ini: terserah kapan bisa datang, hari ini atau besok, kami ada di rumah. Kutekankan
kata “KAMI” agar si kurir tahu di rumah bukan hanya anak gadis seorang sehingga
dia tak berani berniat macam-macam.
“Ma, kurirnya bilang mungkin besok dia datang tapi
belum tentu jamnya jam berapa,” kata anak gadisku. Selain itu, si kurir juga
melampirkan foto paket putriku yang masih utuh. Katanya ada kesalahan tulis alamat.
Ngeles lagi dia. Kata putriku, alamat yang dituliskan sudah benar kok.
“Bilang saja terserah dia. Yang penting dia mengabari kalau
mau ke rumah dan bilang lagi ‘KAMI ADA DI RUMAH’,” sekali lagi kutekankan kata
KAMI.
Kurir ini memang aneh. Saat akhirnya dia datang di
hari itu, bukannya keesokan harinya, dia masih melakukan pembenaran demi
pembenaran, alih-alih meminta maaf. Seharusnya kan dia minta maaf saja,
titik. Lha memang dia salah kan. Ini tidak. Masih ngotot bahwa dia
kira rumah kami kosong, seperti dalam chat-nya sebelumnya padahal sudah
anakku sampaikan bahwa rumah tidak kosong, lihat saja di foto bukti paket
sampai.
Pada tanda terima, si kurir melampirkan foto bagian
depan rumah. Di situ terlihat pintu besi sedang terbuka yang berarti itu menunjukkan
di rumah ada orang atau baru saja ada yang masuk atau keluar dan belum menutup
pintu besi, hanya pintu kayu yang tertutup. Mana ada rumah kosong begitu? Kalau
memang rumah kosong kan kedua pintunya tertutup, bahkan tergembok dari
luar, bukan?
Ketika putriku
menemui kurir di depan pagar, kuminta
pak suami mendampinginya supaya si kurir tidak macam-macam. Eh tetap
saja ngeyel dan sama sekali tidak minta maaf. Kata dia di sistem salah
tulislah and so on-lah. Makin banyak ngomong ngeles makin
konyol dia karena itu tak menutupi ketiadaan itikad baik darinya yang tidak
pernah terlihat.
Sembari mereka bercakap, kukenakan jilbab dan segera
menuju pintu rumah, berdiri di sana sambil melipat tangan di depan badan dengan tatapan lurus ke arah kurir. Sekadar ngasih
tanda: awas kau macam-macam, Mamak galak siap menerkam!
Paket pun Tiba
Alhamdulillah paket putriku dia terima utuh. Kasihan kalau paket itu
tak sampai di tangannya karena dibelinya dari uangnya sendiri. Beberapa waktu
sebelumnya, putriku mendapatkan door prize di sebuah acara yang kami
hadiri. Tak main-main, door prize-nya 500 ribu rupiah! Dari uang itulah
dia membelikan kebutuhan skincare-nya melalui marketplace.
Sejumlah skincare dan perintilan lainnya dibelinya di marketplace dengan
nominal total 150 ribu rupiah. Lumayan lho.
Andai tak sampai ke tangan putriku, paket skincare itu
bisa dijadikan hadiah lagi – jujur saja, prasangkaku sudah buruk soalnya butuh
waktu berhari-hari sampai paket itu akhirnya tiba dan harus melalui dalih panjang
dari kurir yang sibuk ngeles untuk membenarkan perilakunya. Ngapain coba
paket itu dia simpan selama berhari-hari?
Kalau si kurir punya niat baik, bisa banget kok paket
putriku tiba 1-2 hari setelahnya, tidak perlu menunggu lebih dari 3 hari
setelah mengeluarkan effort besar dengan menghubungi sana-sini.
Ini tidak, dia sama sekali tidak berusaha menghubungi
lebih dulu. Apa dia pikir tidak akan terlacak? Apa dia pikir si empunya paket
tidak akan melacaknya? Apa dia pikir perusahaan tempatnya bekerja tidak akan
mencarinya? Kalau semua jawabannya IYA, kok terlalu naif ya?
Dari semua sikap, perilaku, dan kata-kata si kurir, putriku paling tidak bisa menerima
KETIADAAN PERMINTAAN MAAF dari si kurir. Semua kata-katanya berupa pembelaaan
diri, membenarkan dirinya.
Namun demikian, saya melarang putriku untuk memberikan
bintang 1 sebab khawatir akan keselamatan putriku ke depannya. Saya menduga si
kurir ini tinggalnya tak jauh dari rumah kami karena dengan cepat dia bisa datang
ke rumah (padahal sudah mengatakan akan datang keesokan harinya, malah muncul di
hari itu).
Saya khawatir jika diberi bintang 1 akan berdampak
pada pekerjaannya dan dia sakit hati lalu mendatangi dan meneror putriku.
Maklum saja, hal seperti itu lazim dilakukan oleh orang yang dendam.
Saya meminta putriku untuk memberikan bintang 3 saja toh
marketplace dan perusahaan ekspedisi menanggapi keluhannya dengan sangat
baik dan cepat. Selain itu, tak ada salahnya si kurir diberi kesempatan kedua.
Siapa tahu dia belajar banyak dari pengalaman ngeyel-ngeyelannya kali
ini dan bisa membuatnya menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi ke depannya.
Setelah mengecek, putriku mengatakan tak menemukan
bagian penilaian untuk kurir dan ekspedisi di aplikasi. Mungkin dia tak teliti
saja tapi saya tak mempersoalkannya. Biarlah, dengan demikian putriku belajar
untuk tak selalu membalas kekesalannya pada orang lain. Lagi pula putriku
santai saja perihal penilaian kinerja kurir di aplikasi.
Selain itu putriku juga belajar banyak. Dia belajar bagaimana
caranya mengatasi masalah paket tak sampai yang dilaporkan “diambil anggota
keluarga fiktif”. Saya lihat – alhamdulillah dia mampu menguasai dirinya
dengan tetap tenang sejak tahu uangnya sebesar Rp150.000 hampir saja melayang
ke tukang paket. Setelah itu dia menghubungi sana-sini untuk mencari penyelesaian,
dan menunggu selama sekian hari. Saya bayangkan jika berada di posisinya, saya
takkan setenang itu! Kalian pernah mengalami hal serupa kisah yang saya
ceritakan? Share, yuk! 😊
Makassar, 13 Januari
2026
Share :


0 Response to "Kisah Paket Nyaris Melayang dan Kurir Tanpa Kata Maaf"
Post a Comment
Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^