Peran Kita dalam Menangani Masalah Kekerasan Anak Terhadap Anak

Peran Kita dalam Menangani Masalah Kekerasan Anak Terhadap Anak – Putri saya yang sekarang duduk di kelas XI (kelas 2 SMA) menyampaikan alasannya tidak ikut lagi kegiatan ekstra kurikuler yang awalnya dia sukai. Alasannya adalah karena ada senior di komunitas mengomel-omeli dirinya, menganggap kegiatan yang dirinya menjadi salah satu panitia tidak berhasil. Dia tidak suka diperlakukan seperti itu. Merasa diintimidasi dan direndahkan, putri saya memutuskan untuk tidak lagi mengikuti kegiatan ekstra kurikuler tersebut.

 

Peran dalam Menangani Kekerasan Anak

Kekerasan dalam Relasi Kuasa Senior-Yunior

 

Putri saya menyampaikan peristiwa tak mengenakkan itu kepada guru pembina ekstra kurikulernya ketika ditanyakan mengapa tidak pernah menghadiri kegiatan lagi. Namanya ibu ya, pasti tidak senang mendengar putri kita diperlakukan seenaknya oleh seseorang tetapi di satu sisi, saya senang karena putri saya BERANI MENGAMBIL SIKAP untuk menjauh dari senior yang PUNYA RELASI KUASA  dan dia juga BERANI TERBUKA kepada guru pembinanya.

Pola relasi berkuasa senior terhadap yuniornya sudah sering terdengar. Sudah banyak cara dilakukan untuk menjauhkan pola relasi seperti ini tetapi rupanya masih ada saja yang melakukannya.

Seperti yang sedang viral saat ini, kejadian yang membuat seorang siswa di SMA Binus Tangerang yang mendapat kekerasan dari para seniornya. Pihak sekolah telah menunjukkan itikad baik untuk mengusut kasus ini. Dari 40 siswa yang terlibat dalam kekerasan, beberapa siswa sudah diberikan sanksi dengan dikeluarkannya siswa tersebut dari sekolah.

Haris Suhendra (Humas Binus School Education) dalam press release-nya, pada 21 Februari 2024 menyampaikan bahwa Binus School menerapkan Zero Tolerance Policy terhadap tindakan kekerasan baik secara fisik, psikis maupun emosional.

 

Mengapa Anak Melakukan Kekerasan

 

Dari berbagai sumber disebutkan bahwa anak melakukan perilaku kekerasan sampai bully bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Beberapa di antaranya termasuk:

1. Kebutuhan untuk Merasa Kuat atau Berkuasa

Anak mungkin merasa tidak berdaya dalam situasi tertentu, dan melakukan perilaku kekerasan adalah cara untuk merasa lebih kuat atau berkuasa atas orang lain.

2. Kurangnya Empati

Beberapa anak mungkin tidak memahami atau peduli dengan perasaan orang lain, sehingga mereka tidak menyadari dampak negatif dari perilaku mereka.

3. Model Perilaku

Anak-anak dapat belajar perilaku kekerasan dari lingkungan mereka, termasuk dari orang tua, saudara kandung, teman sebaya, atau bahkan media.

Model Perilaku Kekerasan

4. Masalah dalam Kehidupan Pribadi

Anak yang mengalami masalah emosional, seperti masalah keluarga, tekanan akademik, atau kesulitan dalam hubungan sosial, mungkin mengekspresikan frustrasi mereka dengan cara yang tidak sehat, termasuk melakukan bully.

5. Ingin Mendapatkan Perhatian

Beberapa anak mungkin melakukan bully sebagai cara untuk mendapatkan perhatian atau untuk merasa lebih populer di antara teman-teman mereka.

6. Ketidakamanan Diri

Anak-anak yang merasa tidak aman atau tidak nyaman dengan diri mereka sendiri mungkin mencoba mengatasi perasaan itu dengan menjatuhkan orang lain.

7. Kurangnya Pemahaman Tentang Konsekuensi Perilaku

Beberapa anak mungkin tidak menyadari betapa seriusnya dampak dari perilaku perundungan terhadap korbannya dan masyarakat secara keseluruhan.

Penting untuk diingat bahwa setiap situasi unik, dan tidak semua anak yang melakukan kekerasan hingga bully memiliki alasan yang sama. Penting bagi orang dewasa di sekitar anak untuk mengidentifikasi perilaku bully dan memberikan dukungan serta bimbingan yang tepat agar anak tersebut bisa belajar mengelola emosi dan berinteraksi secara sehat dengan orang lain.

 

Definisi Kekerasan dalam Permendikbudristek 46/2023

 

Dalam Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan  di Lingkungan Satuan Pendidikan (PPKSP) disebutkan definisi yang jelas untuk membedakan bentuk kekerasan fisik, psikis, dan perundungan. Disebutkan bahwa:

  1. Kekerasan fisik dilakukan dengan kontak fisik baik menggunakan alat bantu ataupun tanpa alat bantu. Bentuk-bentuknya: tawuran atau perkelahian massal; penganiayaan; perkelahian; eksploitasi ekonomi melalui kerja paksa untuk memberikan keuntungan ekonomi bagi pelaku; pembunuhan; dan/atau perbuatan lain yang dinyatakan sebagai kekerasan fisik.
  2. Kekerasan psikis dilakukan tanpa kontak fisik untuk merendahkan, menghina, menakuti, atau membuat perasaan tidak nyaman. Bentuk-bentuknya: pengucilan; penolakan; pengabaian; penghinaan; penyebaran rumor; panggilan yang mengejek; intimidasi; teror; perbuatan mempermalukan di depan umum; pemerasan; dan/atau perbuatan lain yang sejenis.
  3. Perundungan merupakan kekerasan fisik dan psikis yang dilakukan berulang dan ada relasi kuasa. Bentuk-bentuknya: penganiayaan; pengucilan; penolakan; pengabaian; penghinaan; penyebaran rumor; panggilan yang mengejek; intimidasi; teror; perbuatan mempermalukan di depan umum; pemerasan; dan/atau perbuatan lain yang sejenis.

Lebih lengkap mengenai bentuk-bentuk kekerasan lain, seperti kekerasan seksual dan diskriminasi & intoleransi bisa disimak di: https://merdekadarikekerasan.kemdikbud.go.id/definisi-dan-bentuk-kekerasan/.

Bentuk-bentuk Kekerasan

By the way, tentang “relasi kuasa” dijelaskan dalam https://tularnalar.id/glossary/relasi-kuasa/:

Menurut konsep pemikiran Michel Foucault, seorang filsuf Perancis yang berpengaruh, relasi kuasa bermaksud menjelaskan bahwa kekuasaan merupakan satu dimensi dari relasi. Di mana ada relasi, di sana ada kekuasaan dan kekuasaan selalu teraktualisasi lewat pengetahuan, karena pengetahuan selalu punya efek kuasa.

Nah, terkait tulisan ini, relasi kuasa yang dimaksud terjadi di sekolah ditujukan kepada yunior oleh seniornya.

 

Pencegahan dan Penanganan Kekerasan: Peran Kemdikbudristek dan Kita Semua

 

Untuk mengatasi koneksi buruk akibat relasi kuasa yang kebablasan penting adanya aturan dari pemerintah agar bisa mengatasi segala permasalahan yang muncul. Perlu adanya payung hukum yang juga berfokus pada pencegahan, bukan hanya sekadar memberikan sanksi hukum kepada pelaku kekerasan yang sudah telanjur berdampak parah.

Untuk itulah dibuat Permendikbud 82/2015 yang kemudian diganti dengan Permendikbudristek 46/2023 atau Permendikbudristek PPKSP. Permendikbudristek PPKSP ini mengatur hal-hal berikut ini yang tidak diatur detail dalam peraturan sebelumnya:

  • Peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan menjadi fokus pencegahan dan penanganan kekerasan.
  • Adanya definisi yang jelas dan bentuk-bentuk detail kekerasan (3 dosa besar) yang mungkin terjadi.
  • Pembentukan tim penanganan kekerasan di satuan pendidikan dan pemerintah daerah diatur lebih rinci.
  • Mekanisme pencegahan yang terstruktur dan peran masing-masing aktor terdefinisikan dengan jelas.
  • Pembagian wewenang dan alur kordinasi dalam menangani kasus-kasus kekerasan lebih jelas antara satuan pendidikan, pemerintah daerah, dan Kemendikbudristek.

Tidak hanya itu, di dalam Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 pasal 24-35 dan 76 juga dibahas tentang Pembentukan TPPK (Tim Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan) dan Satgas dalam PPKSP.

Tim TPPK (Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan) dalam PPKSP ini dibuat oleh satuan pendidikan beranggotakan perwakilan pendidik dan perwakilan komite sekolah/orang tua/wali.

Sedangkan Satgas PPKSP dibuat oleh pemerintah daerah terkait melalui dinas pendidikan setempat dan beranggotakan dinas bidang pendidikan, dinas bidang perlindungan anak, dinas bidang sosial, dan organisasi atau bidang profesi yang terkait dengan anak.

Bukan hanya itu, peran semua pihak dalam PPKSP juga diatur dalam Permendikbudristek 46/2023 ini, seperti peran pemda, peran satuan pendidikan/kepala sekolah, dan peran pendidik. Jika ingin membaca semua paparan terkait permendikbudristek ini bisa diakses di website https://merdekadarikekerasan.kemdikbud.go.id/.

Perlu diketahui, Kemdikbudristek telah melakukan banyak hal terkait pencegahan perundungan di satuan pendidikan. Melalui Puspeka (Pusat Penguatan Karakter), Kemdikbudristek berkomitmen untuk menghapus segala bentuk kekerasan di satuan  pendidikan dengan menerapkan Program Roots bekerja sama bersama UNICEF dan mitra, serta melakukan Kampanye Anti Perundungan.

Puspeka berkomitmen untuk berupaya menghapus perundungan di satuan  pendidikan dengan menerapkan Program Roots bekerja sama bersama UNICEF dan mitra, serta melakukan Kampanye Anti Perundungan.

Pada tahun 2023 lalu, pelaksanaan bimbingan teknis telah dilakukan secara offline  dan online dengan target peserta dari 2.750 satuan pendidikan. Kegiatan luring dilaksanakan bekerja sama dengan UPT Kemendikbudristek di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi setempat.

Peran Kemdikbudristek

Kemdikbudristek juga bekerja sama dengan Sidina Community dalam memberikan pelatihan kepada para ibu. Sampai saat ini sudah hampir 1.700 Ibu Penggerak yang telah menjalani pelatihan daring dan lebih dari 220 Fasilitator Ibu Penggerak yang menjalani pelatihan luring.

Para Ibu Penggerak ini mendapatkan materi Kurikulum Merdeka, Asesmen Nasional Berbasis Komputer, Literasi & Numerasi, dan 3 Dosa Besar Pendidikan. Mereka terlibat dalam sosialisasi dan edukasi terkait materi-materi tersebut di tengah masyarakat dan satuan pendidikan di seluruh Indonesia.

Mengatasi kekerasan terhadap anak yang dilakukan juga oleh anak masih butuh perhatian dari banyak pihak, termasuk kita semua. Permendikbudristek harus didukung. Sekecil apapun peran itu tetaplah berarti, minimal memberi pengertian dan kesadaran terkait definisi kekerasan yang diabaikan sebagian orang.

Perlu disadari kadang anak melakukan tindakan kekerasan karena memang mereka tidak tahu apa yang dilakukannya adalah merupakan kekerasan dan bisa dikenai sanksi hukum.

 

Makassar, 5 Maret 2024

Simak selengkapnya bentuk-bentuk kekerasan di:

https://merdekadarikekerasan.kemdikbud.go.id/definisi-dan-bentuk-kekerasan/

Keterangan:

Referensi tulisan berasal dari:  Sidina Community (IG: @sidina.community), Kemendikbudristek, dan Puspeka, Cerdas Berkarakter.

 

Baca juga:



Share :

87 Komentar di "Peran Kita dalam Menangani Masalah Kekerasan Anak Terhadap Anak"

  1. Prihatin sekarang liat bullying terjadi di mana-mana, di sekolah biasa maupun elite, bahkan pesantren. Perilaku menindas hanya menimbulkan dendam dan gangguan kepribadian. Jika itu saja bisa diatasi, saya yakin kekerasan anak bisa diminimalisir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Pak. Butuh kerja sama semua pihak untuk menangani masalah kekerasan anak terhadap anak.

      Delete
    2. Betul, saya juga sangat miris dgn kejdian beberapa waktu lalu. Apalagi jika kondisi anak/remaja yang tidak terkontrol langsung oleh guru/asatidz. Tahu2 udah kejadian, dan pihak ponpes juga menyembunyikan kejadian sebenarnya. Duh

      Delete
    3. Semoga kejadian-kejadian tak diinginkan bisa semakin diminimalisir bahkan dihilangkan ya Mbak.

      Delete
  2. Kekerasan verbal juga termasuk kekerasaan yaaa. Hebat anaknya Mbak Niar sudah berani mengambil sikap. Jangan sampai ada kasus bullying lagi di sekolah, dengan alasan apapun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, bahkan secara verbal pun gak boleh ... seperti yang dialami putri saya di awal tulisan, itu termasuk kekerasan verbal. Alhamdulillah, masya Allah ... putri saya waktu itu bersikap demikian. Dulu saat SMP dia korban bully, Mbak .. sampai2 saya dan ayahnya harus ke sekolah untuk menyelesaikan masalahnya.

      Delete
  3. Satu yang pasti, orang tua harus terbiasa membuka ruang diskusi dan berdialog. Banyak yang kejadian, anak segan cerita ke orang tua. Karena orang tuanya menganggap sepeleh pembullyan, atau sebaliknya, terlampau sumbu pendek sehingga main hakim sendiri.

    Yang jelas, bahaya bullying ini harus selalu diajarkan. Bagi sebagian orang tua, sedih anak menjadi korban. Tapi ketika anak menjadi pelaku, rasanya lebih nano-nano lagi. Ya ini tipe orang tua yang paham bahayanya bullying ya, sebab sebagai orang tua emang bebal dan berdalih, "ah gitu aja cengeng, anak saya itu bercanda aja" ah ini yang bahaya banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Om ... muaranya selalu ada pada orang tua :(
      Sedihnya banyak orang tua yang gak ngeh, sudah begitu ... ada anak yang di rumahnya kalem tapi di sekolah na'udzubillah kelakuannya dan selalu dibela pula oleh orang tuanya.

      Delete
  4. Suka miris kalo baca berita bullying kayak gini kalo msh dlm tahap wajar setidaknya tdk ada kekerasan fisik mash bisa ditolerir tapi klo sdh kekerasan fisik/seksual gt langsung down nie hati rasanya pengen baca tapi kok gak tega so saddd😔
    Dunia pendidikan harusnya bisa memberikan pendidikan kegembiraan suka cita kepada seluruh pihak yang ada didalamnya...semoga keluaega kota dijauhkan dari hal2 spt ini

    ReplyDelete
  5. Bagus ya peraturan baru ini pihak sekolah dan kampus lebih aware tentang kekerasan di lingkungan sekolah dan bisa menindak pelaku jika ada kejadian. Bukannya malah menyembunyikan kasusnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus aware, Mbak ... dan sebenarnya harus melibatkan orang tua siswa untuk menjadi tim dalam menangani kasus2 yang ada. Kalau menutupi malah bisa jelek buat sekolah saat ketahuan dan pastilah ketahuan kalau kasus kekerasan.

      Delete
  6. Adanya edukasi tentang bullying kepada orang tua maupun anak adalah sangat pentuing. Bersyukur sudah ada peraturan baru dari pemerintah, sehingga institusi pendidikan lebih waspada apabila ada kekerasan yang terjadi di lingkungannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita menunggu bagaimana implementasinya di sekolah-sekolah ... semoga bisa diimplementasikan karena maksud dari adanya aturan ini baik.

      Delete
  7. Miris ya dengan kasus perundungan yang semakin marak saat ini, anak saya pun pernah mengalami perundungan, menguatkannya untuk menghadapi perilaku pelaku yang buruk hingga akhirnya dia bisa melawan dann tidak diperlakukan buruk lagi oleh pelaku merupakan PR yang berat yang pernah saya hadapi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya, penting bagi orang tua untuk mengarahkan anaknya bisa bersikap tepat dalam menghadapi kejadian tidak mengenakkan dengan teman ataupun seniornya.

      Delete
  8. Kadang ada juga anak2 yang tahu kalau tindakannya merupakan kekerasan dan mengandung sanksi hukum, tetapi jiwa muda plus emosi yang membuncah membuat mereka tetap melakukannya tanpa pikir panjang. Ironis ya Mbak.... tindakan memuaskan sesaat tetapi bisa menyeretnya dalam masalah yang lebih panjang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sulit ya kalau seperti itu, Mbak Lisdha ... besar banget peran orang tua, bagaimana agar anaknya bisa mengendalikan dirinya.

      Delete
    2. Saya ingat kasus mario dandi, ya sih dia sudah bukan anak2. Tapi korbannya kan masih anak2 yaa... Di berita2, Mario Dandi menantang utk dilaporkan ke pihak berwajib kan..eh beneran jd kasus dan malah merembet ke ayahnya juga. Jd terlihat benar ya bagaimana gambaran keluarga membentuk karakter anak.

      Delete
  9. Sedih deh akhir-akhir ini sering mendengar berita soal kekerasan, apalagi terhadap anak. Bukan hanya PR jadi sebagai orangtua yahh, kita bermasyrakat sudah seharusnya aware.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, semua kita perlu mengambil peran sekecil apapun itu. Jika melihat ada anak yang bermainnya kebablasan, sebaiknya ditegur dan diarahkan dengan baik, jangan dimaklumi "namanya juga anak-anak".

      Delete
  10. Jadi teringat kak, beberapa bulan lalu anak saya kelas 4 SD mengejek temennya. Temennya langsung gak sekolah. Saya terkejut luar biasa karena gak nyangka si anak begitu pada temannya.
    Akhirnya saya tanya, dia cuma bercanda awalnya. Dia juga ternyata sudah berteman dekat dengan temannya tersebut.
    Haduuuh saya udah mikir kemana-mana saat itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ibunya peka berarti dan perhatian kepada kawan-kawan anaknya :)

      Delete
  11. Aduh, jujur takut banget deh saya sama isu-isu bully begini. Mana yang terekspos sekarang makin banyak, bikin saya sebagai orang tua khawatir. Alhamdulillah tapi sekarang masyarakat udah banyak yang lebih aware dan pemerintah pun sudah mulai sosialisasi sana sini tentang kekerasan anak terhadap anak gini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selain bully, isu kekerasan yang hanya dilakukan sekali dua kali juga meresahkan, Mbak. Kalau sudah bully, berkali2 dilakukan tetapi yang dilakukan satu kali saja seperti yang putri saya alami dalam tulisan saya ini, itu pun sudah tidak baik dan sebaiknya dihentikan.

      Delete
  12. Salut kepada para ibu penggerak dari Sidina Community yang telah berkontribusi dengan memberikan berbagai pelatihan :) Soal bullying, rasanya aneh sekali kenapa sampai hari ini masih banyak terjadi dan solusinya bagaikan angin lalu. Makin bingung nih, apalagi di televisi berita macam2 perundungan bahkan pelaku dan penderita dari berbagai kalangan :( Semoga lekas teratasi aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eranya media sosial, jadi makin sering kita mendengarnya ya Mbak :(

      Delete
  13. Sangat mendukung dgn melalui ibu penggerak ini bisa meminimalisir atau memberantas bullying terhadap anak dgn memberikan edukasi kpd anak dan ortu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, setuju .... Ibu Penggerak, khususnya Fasilitator Ibu Penggerak mendapatkan, lalu memberikan edukasi, jadi pengetahuan makin meluas ....

      Delete
  14. Kaget banget baca yang kasus di binus, bapaknya kan artis yah jadi kejadian itu cepat viral. Setiap kali ada yang share cerita perundungan pasti deh banyak komentar cerita kasus perundungan lain. PR banget yaa di Indonesia apalagi kalau menyangkut pelakunya itu punya kuasa sampai membuat sekolah bungkam :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salah satu pelaku anak artis, ada juga yang anak pejabat ya katanya. Nah iya, ketika orang tua pelaku "penguasa", itu bisa membungkan penyelesaian yang fair :(

      Delete
  15. Iya, heran sama anak2 sekarang kenapa makin banyak aja kasus kekerasan fisik dan verbal dikalangan anak2 sekolah. Bukan hanya binus tapi banyak kasus lainnya yg marak akhir2 ini. Bahkan anak pengacara terkenal sekalipun menjadi korbannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena sekarang semakin mudah sesuatu viral .. begitu gampang orang menggerakkan jempolnya. Naifnya, anak2 pelaku kekerasan juga jempolnya pada ringan nge-share rekaman kekerasan yang dilakukan :(

      Delete
  16. Ini yg mau aku latih ke anakku mba. Biar mereka tidak menjadi korban bully, tapi juga tidak menjadi pelaku.

    Aku tekanin berkali2 kalo mereka ga perlu takut jika dibully, dan harus berani lapor. Sekarang udah serem dengan banyaknya kasus bully begini. Bahkan sampai meninggal 😭

    Anak2 memang harus tahu kalo perbuatan seperti itu termasuk kriminal, supaya mereka paham untuk tidak melakukan itu kepada siapapun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tepat, Mbak ... Perlu aware sebagai orang tua, berupaya agar anak tak berpotensi jadi pelaku ataupun korban.

      Delete
  17. Asli mba, rasanya miris banget dengan kasus pembullyan yg dilakukan anak di usia sekolah. Mesti ada tindak lanjut secara serius jika kasus seperti itu terus terjadi apalagi di ranah pendidikan. Btw cukup penasaran jawaban dari putrinya mba Mugniar saat ditanya guru perihal tdk lagi hadir di kegiatan ekskul ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Putri saya menceritakan kelakuan tidak menyenangkan yang dilakukan seniornya, Mbak. Putri saya pernah di-bully saat SMP, alhamdulillah dia belajar dari situ untuk bersikap menhhadapi anak pelaku kekerasan.

      Delete
  18. gemas sekalinya dii kalau ada yang bully-bully begitu, apalagi di lingkungan sekolah duuh kayak kurang kerjaan sekelinya tuh anak-ana deh.
    syukurlah ya, anaknya Bunda mau untuk speak up ke guru ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heran dengan anak2 model begitu, di ruang otaknya disisakan tempat untuk membuat kekerasan :(

      Delete
  19. Pelaku perundungan nggak ngenal stastu keluarganya ya, bisa terjadi sama siapa saja. Saya jadi tahu deh penjelasan bedanya kekerasan fisik, psikis dan perundungan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kekerasan anak terhadap anak bisa terjadi di mana saja.

      Delete
  20. Karena udah punya pengalaman sebelumnya ya Kak jadi putrinya berani mengambil sikap seperti itu dan terbuka juga sama guru pembinanya. Patut diancungi jempol nih karena biasanya junior takut dan manut2 saja dengan seniornya yang "sok" berkuasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pelaku bully ataupun kekerasan yang terjadi sesekali saja perlu disikapi dengan berani, Siska. Pelaku akan mikir2 juga untuk melakukannya lagi.

      Delete
  21. Pasal perundungan makin marak terjadi di negeri ini. Makin banyak terungkap gara-gara medsos. Semoga semakin berkurang kalau bisa ditiadakan. Tapi memang harus diberikan pengertian pada anak-anak bahwa merundung itu salah dan tidak boleh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak yang melakukan bisa jadi tidak menyadari apa yang dilakukannya itu punya sanksi hukum yang bisa membawanya ke penjara, Kang Aip. Pe er kita semua masih banyak.

      Delete
  22. emosi kalau liat berita bullying begini
    aku nggak nyangka berita terakhir yang aku tau siswa Binus melakukan tindakan kekerasan, aku sebagai orang yang tinggal di luar jakarta dari dulu mikir kalau anak anak yang sekolah di Binus udah pasti pinter, tata kramanya bagus, hikss lah kok muncul berita gini
    perlu edukasi juga ya kepada siswa, tapi kadang karena pengaruh pergaulan juga yang bisa membuat mereka berubah sifat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya, pikir saya juga dulu begitu, Mbak Ainun, bahwa anak2 yang bersekolah di sekolah mahal lebih mengenal adab ya tetapi ternyata sama saja dengan sekolah2 untuk anak2 menengah ke bawah atau di sekolah negeri. Perlu banget selalu diedukasi mereka, apalagi di sekolah itu kan sudah berlangsung selama 9 angkatan tradisinya.

      Delete
  23. belakangan ini sedang marak sekali soal kekerasan pada anak dan dilakukan oleh anak, miris banget ya memang mba, dari sini kita belajar peranan orang tua dalam mengangtisipasi kekerasan anak oleh anak ini sangat besar dan sepakat dengan yang mba tuliskan di atas. setelah mengetahui penyebabnya kita bisa mengantisipasinya. terima kasih untuk informasinya mba, saya baru tahu jenis-jenis kekerasan seksual ini secara detail apa saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Peran terbesar ada pada ayah dan ibu. Sayangnya masih banyak yang tidak menyadarinya :(

      Delete
  24. Kadangkala juga anak-anak yang sudah dibekali ilmu tangkal bullying terpaksa menyerah karena keadaan dan lingkungan yang gak mendukung. Semoga bullying ini bisa kita cegah bersama. sebagai orang yang lebih dewasa, kita bisa membuatkan lingkungan bersosialisasi yang sehat untuk menumbuhkan generasi yang tangguh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemungkinan yang terjadi seperti itu ketika support system terdekatnya tidak membantu, Mbak Len ... teman putri saya ada yang bahkan ibu kandungnya sendiri yang nge-bully dia, dengan kata-kata yang tidak pantas. Saya saja yang dengar sakit hati, Mbak Len.

      Delete
  25. Miris banget nih terkait perundungan yang kian hari kian marak dan parah. Semoga kita selaku orang tua dan orang dewasa bisa melakukan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan, sejak dini secara masif di berbagai lokasi serta situasi. Semoga anak-anak pun lebih memahami, menjaga diri dan tidak menjadi pelaku perundungan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemungkinan kian marak karena pengaruh media sosial ya yang sekarang mudah memviralkan hal2 yang terjadi di masyarakat.

      Aamiin, semoga semakin baik ya penanganan kekerasan anak terhadap anak ya Mbak.

      Delete
  26. Setelah kejadian yang melibatkan anak artis di BINUS ada lagi kak anak Sunan Kalijaga korban bulling. Miris memang kondisi mental anak-anak sekarang. Tugas kita sebagai orangtua untuk menjaga anak agar berani speakup saat terkondisikan tidak nyaman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, saya lihat berita2 tentang anak Sunan Kalijaga itu. Miris ya, Kak Dennise :(

      Delete
  27. di segala keadaan ada Bullying ini mba. Aku cuma bisa elus dada dan juga cemas gimana penerus bangsa kalau kayak gini hiksss. Sedih banget. Moga kejadian ini nggak akan terulang lagi..
    Si kakak udah tau harus gimana ya, kalau tidak nyaman langsung cabut aja dibanding kena omel senior. Mungkin aku juga akan begitu, (dia bukan emak aku, kok ngomel2 hehe). Masalah komunikasi dengan anak2 jadi penting banget.Keluarga dan lingkungan berperan ngebentuk mereka ya mbaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yess, penting bagi anak untuk tahu harus bagaimana. Juga bahwa tidak perlu mencari pengakuan di dalam geng yang senang melakukan kekerasan, baik itu kekerasan verbal, apalagi psikis, apalagi kalau sudah nge-bully (dilakukan berulang kali).

      Delete
  28. Makanya anak harus sering2 diajak ngobrol yah mbak, supaya mau terbuka sama kita. Udah banyak banget kasus soalnya, semoga aja anak2 kita selalu dilindungi yaah

    ReplyDelete
  29. Perihal kekerasan pada anak memang sedang marak-amaraknya. Kita semua baik itu dilingkugnan keluarga atau sekolah harus memahaminya ini. Kekerasan yang terjadi akan memberikan dampak luar biasa perkembangan anak kedepannya

    ReplyDelete
  30. Miris memang, melihat kenyaatan yang ada. Ternyata masih banyak anak yang melakukan kekerasan terhadap anak lainnya. Sudah jadi tugas kita mengedukasi anak untuk tidak jadi pelaku atau korban perundungan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pe er bersama karena masih marak ya, Mbak 😐

      Delete
  31. Salut lho sama anaknya yang speak up. Karena biasanya korban bullying itu diam :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, Indi. Speak up termyata bukan hal yang mudah ya 🥺

      Delete
  32. Paradoks bgt klo lihat dunia pendidikan.

    katanya mendidik, tapiii kok banyak kasus. Semogaaa masalah ini bs terselesaikan ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga .... Masih banyak yang tidak mengerti ya 😞

      Delete
  33. Walah, ini sama kasusnya dengan adik saya. Beberapa bulan lalu akhirnya adik saya keluar dari ekstrakurikuler yang diminatinya. Waktu itu adik saya mengadu ke kami kalau ingin pindah sekolah, kami kaget, gak ada angin gak ada hujan kok tiba-tiba ingin pindah.

    Akhirnya saya coba mengulik, dan adik saya menjelaskan semuanya, kalau kakak seniornya sudah membentak-bentak, bahkan hampir menampar adik saya. Jadi adik saya gak mau sekolah lagi di situ.

    Adik saya sudah mencoba senyum kalau kakak seniornya itu lewat, tapi kakak seniornya selalu buang muka. Akhirnya lah, sampai pada titik tidak nyaman, orang tua kami datang ke sekolah untuk mengajukan pindah sekolah tapi tidak diizinkan, jadinya adik saya keluar dari ekstrakurikuler itu.

    Permasalahan dengan kakak seniornya itu diselesaikan bersama dengan pihak guru dan kepala sekolah.

    Asli dah.. suka geram sendiri kalau di sekolah masih terjadi bullying atau sok senior gitu. Sampai sekarang masih ada hal-hal kayak gitu. Terus kalau pihak sekolah dimintai keterangan jelas atau pertanggungjawaban, pasti akan lebih memilih diam, katanya demi nama baik sekolah. Menyebalkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh kenapa begitu ya kakak senior adiknya, Mbak :(
      Iya nih, masih ada saja kasus seperti ini ya. Kita harus jeli memperhatikan anak2, kalau mengatakan mau pindah sekolah, apa yang terjadi di sekolah sebenarnya?

      Delete
  34. kasus bullying sekarang memang sangat memprihatinkan ya, mbak bahkan sampai ada korban jiwa juga. saya pribadi berharap banget anak saya dijauhkan dari bully membully ini di sekolahnya

    ReplyDelete
  35. Bullying dengan berbagai macam bentuknya, tetap aja namanya menyakiti orang lain dan merasa bahwa dirinya superior dibanding yang lain. Pola yang seperti ini semoga bisa dihindari dengan membentuk masyarakat yang aware terhadap perilaku bullying di sekitar kita. Kita bisa bantu, ayo cegah bullying bersama-sama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harapannya makin banyak yang aware ya, Mbak Lendy.

      Delete
  36. Bullying ini ta baca-baca saat ini makin banyak terjadi bahkan sampai dilakukan oleh anak kecil, tidak hanya fisik, bullying secara verbal juga bisa menghancurkan mental seseorang.
    Tugas kita sebagai orang tua, mengabaikan hal yang salah yang dilakukan oleh anak kita dengan dalih mereka masih anak-anak.
    Sejatinya anak-anak melakukan tersebut bisa jadi karena meniru orang dewasa melakukannya dan sekitarnya menganggap lumrah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, saya setuju, sejak masih anak-anak kita harus luruskan kalau anak melakukan kesalahan. bukannya ditolerir apalagi ditanggapi dengan tertawa karena dianggap lucu (semisal saat anak memukul, seharusnya diberi arahan bahwa tidak boleh melakukan itu).

      Delete
  37. Ngeri ya kasus bullyng makin sering jadi headline, sekolah mahal yg katanya elitpun ga menjamin bebas bullyng. Peran keluarga sangat besar di sini supaya anak tdk jadi pelaku atau korban

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terjadinya di mana-mana, Mbak ... apalagi dengan maraknya penggunaan handphone, banyak hal yang bisa menjadi sumber inspirasi anak melakukannya ya.

      Delete
  38. Setuju banget kak kalau kita semua bisa dapat peran dalam pencegahan kasus kekerasan ini terutama pada anak-anak

    ReplyDelete
  39. Saya paling ngerih sama bullying di sekolah-sekolah ini. Secara anak juga masih sekolah. Gak hanya di sekolah tinggi aja sering terjadi bulliying, kelas rendah kayak SD pun ada.
    Mengkhawatirkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menjadi salah satu hal yang mengkhawatirkan dalam melepas anak ya tetapi mau tak mau harus dihadapi karena merupakan miniatur dunia yang sebenarnya.

      Delete
  40. kekuasaan merupakan satu dimensi dari relasi << ini menarik sekali dan lagi ya sebagai orang tua semakin berat tugasnya untuk lebih memberikan kepenuhan pada anak2 sehingga anak2 tidak berbuat orang lain dirugikan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Orang tua harus memperhatikan segala aspek terkait kebutuhan anaknya ya Mbak.

      Delete
  41. Pentingg banget orang tua dan pihak sekolah aware terhadap bullying karena ini tidak hanya menimpa sekolah negeri tapi yg swasta mahalpun ada yang skrg lagi viral.
    Kerjasama dari berbagai pihak perlu yaa...efek bully ke anak.itu bisa mengubah perilaku anak sampai dewasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, butuh kerja sama semuanya untuk mengatasi hal seperti ini. Diawali dengan kesadaran (awareness) dan itikad baik untuk mengatasinya dengan baik.

      Delete
  42. Sebagai orang tua dengan anak yang pernah di bully rasanya sedih. Karena anak saya pindahan atau anak baru pasti rentan dibully.
    Sayangnya tanggapan dai orang tua tentang bullying secara verbal di sekolah mayoritas walimurid menanggapnya hal lumrah.
    Padahal dari verbal bisa meningkat ke kekerasan lainnya seperti fisik.
    Sayang masih kurang sekali sosialisasi anti bullying dan kurang alat pantau di sekolah negeri terutama. Harusnya terpasang cctv untuk kenyamanan semua muridnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di mana-mana banyak orang tua/orang dewasayang berpendapat begitu, Mbak. :( padahal harus diatasi. Mana enak bully verbal itu, apakah orang2 dewasa itu nyaman kalau ada yang bully mereka secara verbai? :(

      Delete
  43. Sedih kalau dengar kasus bullying. Tidak hanya orang dewasa yang mengalami, usia anak-anak pun mengalami kondisi yang sama bahkan orang tua pelaku menganggap biasa saja dengan alasan anak-anak masih belum mengerti apa yang dilakukannya. Duh bikin gemes.

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^