Ketika Kreator Digital Merasa Kecewa

Spoiler dulu, tulisan berjudul Ketika Kreator Digital Merasa Kecewa ini murni mengandung curhat. Mungkin, jika bermanfaat, akan bermanfaat bagi yang mengambil langkah yang sama sepertiku, menjadi kreator digital. Kalaupun tidak, akan memberikan gambaran mengenai aktivitasku selama ini.

 

Kreator Digital

Saya Kreator Digital, Juga Content Creator

 

Saya menuliskan KREATOR DIGITAL sebagai personal branding saya selain BLOGGER. Mengapa saya memilih istilah creator digital? Jawabannya adalah karena saya menggunakan berbagai platform digital untuk beraktivitas dan juga untuk mengais rezeki.

Bukan hanya blog yang saya gunakan, saya juga menggunakan media sosial seperti Facebook, Instagram, X, TikTok, dan YouTube. Namun demikian, berhubung usia sudah tidak muda lagi maka kesempatan saya tidak seluas yang masih muda. Sering kali saya terhalang usia karena ada saja form registrasi job yang meminta dan membatasi informasi umur kreator.

Apa bedanya kreator digital dengan content creator? Pada dasarnya sama saja. Hanya saja content creator lebih spesifik merujuk pada mereka yang menggunakan media sosial saja. Jadi, sebenarnya sudah lama saya menjalankan aktivitas sebagai kreator digital atau content creator, sejak 2011 hanya saja saya tidak memproklamirkan diri sebagai pelaku profesi yang dianggap mentereng oleh banyak gen Z dan gen Alfa ini.

Kalaupun mengaku-ngaku mungkin banyak yang tak percaya yak arena dalam pikiran sebagian orang yang content creator itu sekelas Atta Halilintar, Ria Ricis, Jerome Polin. Ketahuilah wahai netizen, content creator itu ada level-nya. Selain kelas makro atau kakap, ada juga level di bawahnya, yaitu kelas mikro dan kelas nano. Begitu!

Sejak tahun 2011 saya sudah memonetisasi blog walaupun belum beli domain melalui Id Blog Network (IBN), perusahaan yang mempertemukan blogger dengan brand. Waktu itu blog saya masih beralamat di blogspot.com. Selaku blogger yang berupaya aktif, sebagaimana teman-teman blogger lain, saya juga mengelola media sosial seperti Instagram, Facebook, dan Twitter (X). Monetisasi bukan hanya di blog, juga menyangkut akun-akun media sosial itu.

 

Ada Duka di Sela-sela Suka Sebagai Kreator Digital

 

Aktivitas selaku kreator digital biasanya menyenangkan. Nyaris tak ada dukanya, berderet “suka” dalam menjalaninya. Seperti itulah menjalani aktivitas yang berdasarkan passion, kalaupun bekerja, rasanya seperti sedang tidak bekerja. Saya menikmati sekali.

Namun demikian, tak melulu suka yang dilalui. Ada juga peristiwa tidak enak, misalnya ketika saya meliput produk dari UMKM makanan. Saya pernah ditanggapi dengan jutek oleh seorang pemilik usaha. Dia akhirnya meminta maaf setelah menyadari maksud pertanyaan dan perhatian yang saya berikan beritikad baik.

Sepertinya di awal, dia curiga saya cuma pengen produk gratis padahal harga produknya tidak ada apa-apanya dengan biaya jasa yang biasanya saya terima. 😓 Hal seperti ini bukan sekali dua kali saya rasakan. Begitulah kalau pemilik usaha ingin menggunakan media digital tetapi tidak mengerti apa yang kami kerjakan.

Sebaiknya pemilik usaha memahami tulisan berjudul 7 Alasan Mengapa UMKM Perlu Bekerja Sama dengan Blogger dan 7 Hal yang Harus UMKM Perhatikan Jika Bekerja Sama dengan Blogger sebelum bekerja sama dengan blogger ataupun content creator. Rasanya perih lho dianggap hanya ingin produk gratis padahal kreator membayar lebih dengan skill dan aset yang dimilikinya.

Blogger dan Kreator Digital

Di lain hari, saya pernah menunggu sampai sekitar 50-an menit makanan yang akan saya review. Waktu itu di grup koordinasi, hanya saya kreator asal Makassar yang diutus restoran pusat untuk me-review produknya jadi saya tak punya teman sedaerah untuk sharing. Di dalam grup tersebut ada 20-an kreator lain namun semua asalnya dari pulau Jawa dan Sumatera, hanya saya yang dari Makassar.

Di lokasi restoran ada content creator lain muda, cantik, semampai, putih, dengan rambut panjang curly-nya. Dibandingkan saya yang sudah paruh baya ini, kalah jauhlah haha. Cewek itu bukan dari grup saya, mungkin dia dari grup lain atau creator yang di-hire resto lokal.

Secara terang-terangan, cewek cantik itu mendapatkan produk yang sama persis dengan yang saya tunggu padahal dia datang belakangan. Saya yakin saat baru datang, dia belum ada. Sebelumnya, ada pengunjung yang memesan produk yang sama, saya pikir buat saya, setelah itu si cewek cantik itu. Jadi, ada dua kali saya menghela nafas panjang karena paket makanan yang ditunggu hanya lewat depan mata.

Sewaktu baru tiba, saya ke kasir dan mengatakan bahwa saya content creator yang akan me-review, dia minta saya menunggu karena dia akan membicarakan dengan pihak manajemen dulu katanya. Tunggu puluhan menit lamanya, kenapa cewek itu yang lebih dulu diladeni?

Setelah 40-an menit menunggu, saya mendatangi kasir. Saya tak bisa lagi menyembunyikan ekspresi bete. Dengan wajah agak tertekuk, saya datangi kasir, menatap lurus padanya dan bertanya, “Jadi, bagaimana?”

Kasir mendekati seorang pegawai yang sepertinya manajemen yang dimaksud, saya diarahkan bicara padanya. Pada pegawai yang murah senyum itu, saya perlihatkan akun Instagram saya - @mugniar. Dia meminta saya memperlihatkan undangan, tentu saja saya tidak punya. Tentunya saya bisa memperlihatkan grup koordinasi dengan agensi yang mengutus saya.

Nama grup sama dengan nama paket resto yang harus saya review. Saya perlihatkan percakapan di dalamnya yang menunjukkan instruksi yang harus saya lakukan dan saya di-mention di dalam instruksi itu. Masih tersenyum ramah, lelaki itu meminta saya menunggu.

Saya duduk di kursi yang sebenarnya membelakangi front of house (meja front office) di restoran itu tetapi saya sengaja mengambil sikap duduk yang sedang menunjukkan ketidaknyamanan, dengan memaksa wajah menghadap ke arah para pegawai di FoH.

Ekspresi saya masih tertekuk. Sembari menopang kepala dengan tangan kanan, saya tatap si pegawai murah senyum itu. Dia tengah bercakap dengan seorang lelaki yang terlihat dari gesture-nya berperan sebagai atasannya. Kutatap tajam keduanya.

Terlihat si atasan mengarahkan telunjuknya kepada saya. Dia terlihat tak berkenan. Menyaksikan body language-nya, rasa-rasanya dia seperti akan menolakku. Biar saja kalau dia tolak, informasi tentang perlakuannya akan tiba di restoran pusat dengan cepat.

Tetapi reaksinya berubah Ketika pegawai murah senyum memberi penjelasan. Kulihat si atasan mengangguk. Saya menghela nafas. Terlihat cewek cantik putih berambut panjang curly sedang asyik makan bersama temannya. Apa karena dia lebih muda dan lebih cantik jadi lebih dipercaya sebagai kreator sehingga jatah makanannya lebih dulu diberikan? Lagi-lagi kuhela nafas, meningkahi negative thinking-ku.

Ini perlakuan tidak menyenangkan terlama yang saya alami selama menjalani aktivitas sebagai kreator. Anggap saja ujian kesabaranku. Tidak kutinggalkan restoran itu karena yang akan membayarku restoran pusat, di Jakarta. Kalau dia yang memanggilku, mungkin kutinggalkan sejak tadi. Apa dikiranya saya makan gratis saja? Tidak dong. Saya membayarnya dengan kemampuan kreatif yang kumiliki dan aset berupa media sosial yang selama ini berupaya kukelola dengan baik selama bertahun-tahun!

Akhirnya setelah total 50-an menit menunggu, tibalah paket yang harus ku-review di depanku. Jujur saja, tidak enak mengambil footage saat perasaan sedang jengkel seperti itu tetapi tetap harus kujalani prosesnya seprofesional mungkin, diupayakan saja bagaimana enaknya.

Begitulah, kawan, gambaran “duka” dari aktivitas yang menjadi jalan rezekiku. Memang rasanya tidak enak tetapi “duka” seperti itu tak banyak, jauuuh lebih banyak sukanya. Alhamdulillah.

Makassar, 15 Januari 2026



Share :

0 Response to "Ketika Kreator Digital Merasa Kecewa"

Post a Comment

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^