Showing posts with label Pelita. Show all posts
Showing posts with label Pelita. Show all posts

Ironi di Perhelatan Akbar Wisuda Santri

Saya anggap nomor urut nyaris bontot: 1659 adalah sebuah keuntungan. Kami bisa duduk manis menanti nomor dipanggil pada perhelatan akbar wisuda santri semakassar ini, tidak perlu berdesak-desakan dengan seribuan orang yang ingin naik ke panggung. Total santri yang diwisuda pada tanggal 10 Mei ini adalah 1668 orang. Enak kan, menjelang nomor si putri mungil disebut, tempat ini pasti sudah lebih lengang. Toh, tidak lama lagi acara akan berakhir. Tidak perlu menunggu lama sampai nomor 1659 dipanggil.
Baca selengkapnya

Mencari Hikmah di Perhelatan Akbar Wisuda Santri

Lapangan Karebosi sudah penuh dengan santri dan pengantarnya ketika saya dan putri saya – Athifah tiba di sana pada pagi hari tanggal 10 Mei kemarin. Di bagian tribun tempat duduk para santri menjelang remaja sementara para pengantarnya duduk di bawah tenda di atas lapangan rumput. Saya mengamati kursi-kursi yang bertebaran. Tak jelas apakah ada tanda di mana nomor 1659 – nomor urut Athifah bisa duduk. Para santri yang akan diwisuda duduk tak beraturan dijaga para pembinanya.
Baca selengkapnya

Mencari Kepingan Puzzle Melalui Pak Profesor

Saya tidak selalu berani ke mana-mana sendiri. Alasan saya adalah karena menjaga keselamatan diri. Tapi kalau menghadiri sebuah undangan acara menarik yang mana di tempat itu kemungkinan besarnya saya tidak mengenal siapa-siapa, saya berani-berani saja selama saya tahu tempatnya aman dan orang-orang yang akan hadir merupakan orang-orang yang bermoral.
Baca selengkapnya

Misteri Kabar Kematian

“Apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya”. Surat An-Nahl Ayat 61
Baca selengkapnya

Ingatkan Saya Tentang Adab Bersosialisasi di Dunia Maya, Kawan!

“Janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan ishlah di antara manusia. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 224 ).

Banyak sekali hal sehubungan tentang adab. Salah satunya dalam berhubungan dengan sesama manusia.
Baca selengkapnya

Sebuah Kisah Tentang Aturan: Tegakkan atau Langgar

Orangtua perlu mengajari anaknya taat aturan supaya hidup keluarganya tertib dan disiplin. Sebagai orang dewasa, untuk hal yang berkaitan dengan aturan, kita ingin agar aturan itu ditegakkan dengan baik. Misalnya kita tak senang kalau ada yang menyerobot antrean di depan kita. Maka implikasinya, kita pun tentunya tak boleh melakukan hal yang melanggar aturan – sesederhana melanggar aturan antrean.
Baca selengkapnya

Serba-Serbi Difabel

Acara kopdar (kopi darat) para anggota Komunitas Blogger Anging Mammiri yang berlangsung pada tanggal 5 Agustus ini mengambil tema Serba-Serbi Disabilitas. Namun setelah menyimak penjelasan dari salah satu nara sumber dan setelah sebelumnya sempat berpikir mengenai mana yang lebih manusiawi dipakai “DISABILITAS” (yang berasal dari kata DISABLE – yang berarti tidak dapat) atau “DIFABEL” (yang berasal dari kata DIFFERENT ABILITY – yang berarti berkemampuan berbeda) maka saya menggunakan kata DIFABEL pada tulisan ini.
Baca selengkapnya

Bully ... Oh ... Bully

"Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela." (QS. Al-Humazah: 1).

Mengapa tentang bully saya tulis secara terpisah, alasannya adalah karena tulisan berjudul Mengaktualisasikan Nilai-Nilai Pancasila Melalui Flash Blogging sudah sangat panjang. Alasan lainnya adalah karena saya ingin lebih khusus membahasnya. Saya yakin akan menjadi satu tulisan tersendiri. Saya pun butuh figur tokoh untuk saya pinjam penjelasannya sebab kalau saya yang mengatakan, siapa yang akan percaya? Siapalah saya ini, kan. Hanya seorang makhluk dhaif nan fakir ilmu.
Baca selengkapnya

IZI: Tentang Rumah Singgah dan Keajaiban Internet

Rumah singgah bagi pasien yang tidak punya tempat menginap di sebuah kota, pernah saya tonton idenya di film berjudul Pinky Promise. Pinky Promise adalah sebuah film yang menceritakan mengenai kisah para perempuan survivor kanker di Jakarta. Salah seorang dari mereka bercita-cita membangun rumah singgah bagi para pasien yang harus berobat ke Jakarta tetapi tidak memiliki kerabat yang rumahnya bisa ditempati menginap.
Baca selengkapnya

Berbeda Bukan Berarti Bermusuhan, Biarkan yang Menanam yang Menuai

Kalau saya mengatakan tidak pernah berniat dan berbuat jahat, bukan berarti saya tidak pernah berbuat salah. Ada beberapa kejadian, di mana ternyata orang-orang yang berinteraksi dengan saya merasa tersinggung walau saya tak berniat menyinggung. Itu bukan berarti saya tidak salah. Saya berbuat kesalahan.  Karena menyadarinya, saya meminta maaf.
Baca selengkapnya

Pungli Oh Pungli

Sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui (QS Al Baqarah 188)

Baca selengkapnya

Tentang Speak Up-nya Elisa Monic, Beauty Blogger dari Bekasi

Mari berkenalan dengan salah satu teman blogger perempuan saya yang keren. Namanya Elisa Monic, blogger Bekasi. Saya terkesan sekali dengan tulisan di blognya yang berjudul Kerja Bareng Orangtua Itu Enak.
Baca selengkapnya

Mendefinisikan Kembali Tawa

Di sebuah sekolah dasar, pada suatu siang. Seorang bapak terkena tendangan bola dari anak-anak yang sedang bermain. Anak-anak itu tertawa keras, alih-alih meminta maaf. Kepada anak berbadan besar yang tertawanya paling keras, si Bapak menegurnya dengan keras dan menasihatinya. Apa yang lucu dengan tertimpa bola?
Baca selengkapnya

Dalam Perjalanan, Selalulah Ingat untuk Berdo'a, Nak

Kemarin, begitu keluar dari Same Hotel, hendak ke Fort Rotterdam (dari acara yang satu ke acara yang lain pada ajang Makassar International Writers (MIWF) 2016), saya langsung membaca do'a keluar (rumah), memasrahkan hidup selama berjalan pada sependek jalan di antara kedua bangunan itu kepada Sang Maha Kuasa.
Baca selengkapnya

Kau Pasti Tak Bisa Mengerti Perasaanku

Saya melihat penggalan sebuah film India. Ketika seorang ibu bernama Ratan menjenguk seorang perempuan di rumah sakit. Perempuan itu baru saja kehilangan bayinya. Saya tidak tahu, apakah perempuan itu kehilangan bayi dalam kandungannya ataukah bayinya yang sudah lahir. Ia kelihatan terpukul saat Ratan menemuinya.

Ratan mengatakan, “Aku mengerti perasaanmu.”

Namun apa yang dilakukan perempuan itu? Ia justru melabrak Ratan dengan mengatakan, “Kau pasti tak bisa mengerti perasaanku! Bla bla bla ...”
Baca selengkapnya

Lelaki Penjaga Alas Kaki

Masjid Nurul Mu’minin di jalan Urip Sumoharjo menjadi pilihan saya dan suami untuk melaksanakan shalat ashar. 

Tanggal 29 Oktober lalu saya diantar suami ke GOR Sudiang, untuk melaksanakan tugas meliput kompetisi bola basket LIMA – Liga Mahasiswa sore itu. Perjalanan kami cukup jauh karena sebelumnya saya harus mendatangi toko-toko di sebuah pusat perbelanjaan di sekitar pusat kota untuk melaksanakan tugas sebagai mystery shopper, baru kemudian melanjutkan perjalanan ke Sudiang, daerah pinggiran Makassar yang berbatasan dengan kabupaten Maros.
Baca selengkapnya

Menjadi Muslimah yang Merdeka dari Ketakpedulian pada Perasaan Saudarinya

Perempuan itu, sebut saja namanya Tria, setengah kesal. “Niar, jangan kau ajak-ajak lagi saya ikut kajian Jumat. Saya tidak mau. Tidak akan mau!”
Niar hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Tak tahu mau bilang apa lagi. Sudah sebulanan ini dia membujuk-bujuk Tria untuk ikut kajian Jumat khusus akhwat di sekolah. Akhirnya bujuk-rayunya berhasil. Tria yang sehari-harinya rada tomboi, dengan rok abu-abunya yang di atas lutut itu pun mau menuruti ajakannya. Mungkin karena tak enak saja pada Niar. Daripada nyaris tiap hari mendengar rengekannya, Tria menuruti saja ikut kajian Jumat hari ini.
Baca selengkapnya
Ketika Menyeberang Jalan Terasa Menyeramkan

Ketika Menyeberang Jalan Terasa Menyeramkan

Karena sudah jarang sekali menyeberang sendiri, Jalan Gunung Bawakaraeng jadi sedemikian mengerikan buat saya. Mau menyeberang, malah "maju-mundur-maju-mundur cantik" saja di sisi jalan. Horor, deh, rasanya. Suami yang menunggu di seberang jalan sudah siap-siap menyeberang, mengambil saya, dan membawa ke seberang sana. Rasanya koq aneh ya, kalau dia harus menyeberang untuk mengambil saya lalu kembali ke sana, hehehe.

Seorang lelaki muda berbadan kurus, berkulit legam mendekat ke arah saya memberi isyarat bertanya, apakah saya hendak ke seberang. Saya mengangguk. Dengan lincah, anak muda itu menuntun saya - dari jarak satu meteran menyeberangi jalan lebar itu. Karena bersyukur, rasanya seperti sudah diselamatkan malaikat, tangan kanan saya ringan saja merogoh kantong. Selembar uang dua ribuan siap saya ulurkan padanya.
Baca selengkapnya