Catatan dari Safari Dakwah Syaikh Abul Bara

Catatan dari Safari Dakwah Syaikh Abul Bara – Ketika mendapatkan informasi mengenai Safari Dakwah Rehab Hati di Makassar akan diselenggarakan pada 17 Januari lalu, saya sudah memasang niat hendak mengikutinya. Terlebih, narasumber utamanya seorang syaikh dari Timur Tengah. Belum pernah melihat langsung wajah seorang ulama yang dijuluki “syaikh”, ingin sekali melihatnya dari dekat dan tentu saja mendengarkan tausiyah-nya. Tentunya ceramah dipaparkan dalam Bahasa Arab namun pasti ada terjemahannya, kan karena audiensnya Masyarakat Kota Makassar dan sekitarnya.

Safari Dakwah Rehab Hati Makassar

Hari Sabtu, tanggal 17 Januari lalu, saya dan suami tiba di Masjid Al-Markaz Al-Islami saat azan zuhur berkumandang. Acaranya dimulai setelah waktu zuhur sehingga para peserta melakukan shalat di masjid Al-Markaz.

Syekh yang didatangkan oleh Rehab Hati adalah Syaikh Abul Bara Usamah bin Yasin Al-Ma’ani. Beliau Adalah guru para pe-ruqyah, sekaligus penulis Ensiklopedia Ruqyah sebanyak 15 jilid, tersusun atas 8000 halaman.

Tausiyah Syaikh

Tak menunggu lama, saya akhirnya bisa melihat sendiri Syekh Abul Bara dari jarak cukup dekat. Saat memberikan tausiyah dalam bahasa Arab, beliau bergerak dari bagian depan jamaah laki-laki ke bagian depan jamaah perempuan, kemudian kembali lagi ke bagian laki-laki, duduk di sofa. Setelah itu gantian seorang ustadz menyampaikan terjemahan tausiyah ke dalam Bahasa Indonesia.

Wajah beliau terlihat bercahaya dan memancarkan ketenangan. Beliau suka sekali menjelaskan panjang-lebar. Sayangnya, saya tak dapat menuliskan banyak di sini karena rekaman terjemahan di handphone saya jelek kualitasnya. Saya mencoba menghilangkan noise-nya, malah jadi tambah jelek. Sound system di masjid tidak memadai untuk saya merekam di dalam ruangan.

Biasanya saya merekam suara narasumber untuk saya dengarkan dan tuliskan kembali. Kali ini, hasil rekaman suaranya tidak bisa saya dengarkan dengan baik karena kurang baik kualitasnya. Hasil enhacement malah membuang sebagian suara asli. Jadi saya mencoba menulis kembali sebatas apa yang sanggup saya catat saja ya ke dalam postingan ini.

Oh iya, sebelum melanjutkan, saya share di sini salah satu tulisan tentang ruqyah syar’iyyah ya, bisa dibaca di Meyakini Mukjizat, Meraih Berkah Al-Qur'an Sebagai Penyembuh. Tulisan tersebut ada kaitannya dengan tulisan ini. Masih ada beberapa tulisan lagi, bisa di-browsing dengan keywords ruqyah” atau “Al-Qur’an”, atau “penyembuh”.

Oke, lanjut. Syaikh Abul Bara mengatakan bahwa ada 3 syarat ruqyah syar’iyyah, yaitu: dibacakan ayat Al-Qur’an dan do’a Rasulullah, menggunakan bahasa Arab atau yang semakna, dan tidak mengklaim ruqyah yang menyembuhkan namun yang menyembuhkan adalah ALLAH.

Jelas ya, hal terakhir penting untuk dipahami dan diyakini karena sebagaimana kita berobat dengan obat apapun, meyakini pemberi kesembuhan hanya ALLAH semata, bukan metode yang digunakan. Jangan sampai berekspektasi di luar “jalur” dengan berharap satu kali menjalani ruqyah bisa langsung sembuh.

Makna ruqyah ada 2:

  • Secara bahasa: apa-apa yang dibaca bagi orang yang mengalami sakit atau gangguan, untuk menggapai kesembuhan.
  • Memohon kesembuhan dari sakit dan perlindungan kepada Allah dari bala’ yang ditakutkan.

Namun demikian, tidak selalu Rasulullah membacakan ruqyah. Gangguan berupa lupa raka’at shalat misalnya, diatasi dengan membaca ta’awwudz sebanyak 3 kali. Jika setelah dilakukan masih juga ada gangguan, Rasulullah menepuk dada sahabat yang mengalami gangguan tersebut sembari berkata: “Ukhruj ya adwallah!” (keluarlah hai musuh Allah) dilanjutkan dengan ucapan “dan saya adalah Rasulullah”.

Lalu bagaimana sikap kita dalam  menghadapi ujian? Syaikh mengatakan: “Sabar – Allah ingin mengetahui siapa yang beriman, sabar, dan bersyukur.”

Doa ruqyah yang bisa kita baca setiap hari dipaparkan oleh Syekh. Dimulai dengan ucapan-ucapan yang menyucikan Allah, lalu membaca doa-doa berikut: istighfar, Al-Fatihah, Al-Baqarah 1-5, ayat Kursi, dua ayat terakhir surah al-Baqarah, Al-Kafirun, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.

Sampai di sini catatan saya berakhir. Saat itu saya berharap bisa menambahkannya dari rekaman audio di HP, ternyata tidak. Kecepatan saya mengetik menggunakan HP sangat buruk, jadinya hanya bisa membuat sedikit catatan. Sialnya waktu itu saya lupa membaca buku catatan padahal biasanya saya bawa di acara tabligh akbar seperti itu.

Syaikh Abul Bara


Adab Sang Syekh

Saya terpana – masya Allah dengan adab dari sosok Syekh Abul Bara. Saya memperhatikan bagaimana beliau mendatangi Prof. Veni Hadju di tempat duduknya, menyalaminya sembari memeluknya ketika diperkenalkan oleh Ustaz Nuruddin Al-Indonessy. Jarang narasumber “besar” yang berlaku seperti ini. Biasanya “orang besar” tetap di tempatnya, sekadar menganggukkan kepalanya kalau ada orang di kursi peserta diperkenalkan kepadanya. Kalau ada yang perlu berpindah tempat maka itu bukan si narasumber, melainkan peserta. Ini tidak, Syaikh yang mendatangi Prof. Veni.

Begitu pun terhadap anak-anak, masya Allah,  beliau menyambut setiap anak kecil yang mendekat.  Ditundukkannya wajahnya, dibungkukkan badannya, dan mengajak anak kecil ngobrol. Semua anak yang mendatanginya, diladeni olehnya. Saya sampai-sampai membatin, “Ini kalau begini, bisa lama baru selesai soalnya para orang tua mendorong anaknya untuk maju ke tempat Syaikh.” Hehe. Bukan apanya, soalnya saya ada rencana ke tempat lain selepas maghrib. Kalau terlambat pulang dari  Safari Dakwah ini, agenda saya bisa berantakan.

Rehab Hati Makassar


Pengalaman dalam Sesi Ruqyah

Saat Syekh membacakan doa-doa ruqyah, saya merasakan pengalaman yang tak pernah saya rasakan sebelumnya. Pengalaman nangisnya sama, saya memang biasanya menangis saat sesi ruqyah, itu salah satu reaksi diri saya. Yang berbeda, kali ini saya merasakan angin sejuk berputar-putar di sekeliling saya. Rasanya ada tambahan angin dibanding sebelumnya. Tiupan angin yang terasa bukan dari kipas angin yang letaknya jauh dari tubuh saya. Angin yang terasa sejuk terus berputar-putar sampai sesi ruqyah selesai.

Saya sempat berpikir mungkin saya halu tetapi saat saya membuka mata, tiupan angin masih terasa di sekeliling saya. Saya yakin ini perbedaannya karena sebelum sesi ruqyah, udara sekeliling saya terasa agak hangat – hanya sesekali terasa tiupan kipas angin dari jauh. Begitu pula usai sesi ruqyah, udara terasa menghangat kembali.

Masya Allah, rasanya adem. Suara Syekh tenang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Beliau seperti sedang berbicara, tidak mengeraskan suaranya. Reaksi jamaah di sekeliling saya beragam, ada yang bereaksi ekstrem dengan teriakan dan jeritan.

Sejak mengikuti kegiatan Rehab Hati tahun 2022 lalu, saya menikmati sesi ruqyah dalam tabligh terkait ruqyah syar’iyyah. Efeknya menenangkan jiwa. Bukan hanya jiwa, tubuh juga merasakan manfaatnya, bukan hanya saya – efek positifnya juga terjadi pada suami dan anak-anak, bahkan kucing kami. Banyaklah pokoknya – tak bisa saya paparkan semua di sini. Salah satunya, pernah dipraktikkan ketika kucing kami hendak melahirkan, bisa dibaca dalam tulisan berjudul Akhirnya Bayi Oranye Itu Lahir.

Gelombang suara dari mukjizat Allah (Al-Qur’an), in syaa Allah akan berdampak baik pada jiwa dan tubuh yang menerimanya selama meyakini Al-Qur’an Sebagai Penyembuh. Allah Sang Maha Penyembuh, Maha Kuasa, dan Maha Segalanya yang Baik-baik membuka peluang lebar datangnya kebaikan melalui ayat-ayat-Nya. Alhamdulillah. Allahu akbar.

Makassar, 14 Februari 2026


Baca juga:



Share :

0 Response to "Catatan dari Safari Dakwah Syaikh Abul Bara"

Post a Comment

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^