Showing posts with label Catatan 3A. Show all posts
Showing posts with label Catatan 3A. Show all posts

Anak Galak Tetap Mendapat Bullying: Waktunya Orang Tua Bertindak

Katanya anak yang diam saja dan menurut akan di-bully? Absolutely wrong. Athifah galak. Sejak di sekolah dasar, dia terang-terangan bilang TIDAK kalau tidak mau atau tidak suka. Dia tidak mau mengikuti kemauan anak-anak yang menekannya. Begitu pun di bangku SMP ini. Dia bisa menolak dengan galak memberikan barang yang diminta siapapun kawannya kalau tak mau memberikannya.
Baca selengkapnya

Melawan Pedih, Mengatasi Bullying

Melawan Pedih, Mengatasi BullyingApa alasan dua anak itu selalu saja mengomentari Athifah secara tidak enak? Tak ada! Saya bertanya dengan detail kepada Athifah apa ada kelakuan jelek yang mungkin dia lakukan sehingga dua anak itu – satu laki-laki dan satu perempuan (sebut saja namanya Baco dan Asse, mereka bersepupu) melakukan bully padanya. Jawabannya: tidak ada!
Oke, supaya jelas apa yang mereka lakukan, saya pindahkan di sini aduan saya kepada wali kelas Athifah di SMP-nya sejak bulan pertama bersekolah (tulisan miring di akhir kalimat baru saja saya tambahkan sebagai catatan)[1]:
Mengatasi Bullying
Gambar: freepik.com

Ini kelakuan si Asse:
  • Mulanya karena Athifah tidak mau pinjamkan label kepada Asse karena caranya minta tidak baik.
  • Lalu Asse marah-marah, bilang sekke (pelit). Lebih dari 3 kali. Sebenarnya Athifah tidak ingat berapa kali sudah anak perempuan ini mengata-ngatainya pelit. Yang jelas dia sering cerita ke saya.
  • Setelah itu pinjam barang-barang berkali-kali mengambil tanpa persetujuan atau dengan persetujuan Athifah. Mengembalikan dengan cara melempar. Athifah biasa menolak dengan tegas. Karena tidak suka caranya yang kasar.
  • Selain itu dia mengatakan Athifah "monyong mulut" dan bilang ke Athifah supaya ikut lomba "monyong mulut". Pernah juga dia suruh Athifah memonyongkan mulutnya dengan sinis. Salah seorang kawan pernah meledek Athifah, “Ada temanmu bilang menang ko kalo ikut lomba moncong mulut”.
Berikut ini kelakuan di Baso:
  • Baso sering mengambil barang tanpa izin. Pernah juga dengan izin. Seringnya mengembalikan dengan melempar.
  • Pernah mengatakan "monyet" ketika Athifah turun dari duduknya di dahan pohon.
  • Athifah duduk di depan pada pelajaran Bahasa Inggris. Dia bilang, "Jangan moko duduk di depan. Mentang-mentang ko pintar Bahasa Inggris. Sok-sok mau duduk di depan, mau pamer!"
  • Waktu guru IPS tunjuk Athifah untuk membaca, dia menyerobot dan langsung membaca.
  • Di pelajaran PKN, guru janjikan nilai 100 bagi yang berani menjelaskan tentang 4 norma. Seorang kawan menarik Athifah untuk menjelaskan. Baso berujar, "Jangan moko kasih naik ki dia, ndak ada gunanya."
  • Baso 3 kali menunjuk-nunjuki wajah Athifah dari dekat dan mengatakan sesuatu tapi tidak jelas dan dia kelihatan tidak senang.
Anak-anak bully perlu diajak melihat sisi jika dia ada di posisi korban.
Foto: freepik.com

Rupanya pada hari saya dan pak suami menghadap Pak wali kelas, si Asse sempat gila urusan, mengurusi kenapa Athifah hanya memberikan satu label (untuk menutup tulisan yang salah) ketika seorang kawan memintanya.

“Eh kenapa mi Athifah, sekke-nya -
timbang label ji!” ujarnya agak galak.
Dia berlaku seperti itu sering sekali
padahal bukan urusan dia. Si kawan
yang minta label menjawab,
Na saya ji yang mau pake.”
Barulah si Asse diam.

Dia berlaku seolah polisi ketika Athifah tidak melakukan hal yang dinilainya tak sesuai, dia akan memarahi Athifah. Kelakuannya sesuai dengan standard yang dia tetapkan saja dan semena-mena.

Hampir 3 bulan diperlakukan demikian, Athifah merasa tertekan. Saya tak langsung bertindak, masih mengamati dan menyarankan tindakan-tindakan lain sambil "mengumpulkan bukti". Sampai hari Jumat pekan lalu, sepulang sekolah  putri satu-satunya ini meledak. Marah-marah tak jelas.

Uring-uringannya kelewatan. Menyemprot siapa saja termasuk papanya. Saya memarahinya, papanya juga. Saya mengira dia hanya kurang sabar menunggu dijemput. Ketika sudah menyadari kesalahannya, Athifah menangis keras, memeluk papanya dan saya sembari meminta maaf.

Dia mengatakan sebenarnya dia marah sekali kepada Asse dan Baso dan dia tak tahan dengan kelakuan mereka. Lalu dia menceritakan kelakuan menyebalkan yang baru diterimanya. Duh, pedih mendengarnya menangis dan membayangkan perasannya.

Sumber: freepik.com

Saya bertanya kepada dua orang kawan baik mengenai kasus ini  – kepada Abby Onety dan Faridah Ohan. Ida Ohan menjadi tempat bertanya saya karena dia concern juga dalam hal bullying. Ibu doktor dalam bidang pendidikan ini pernah mempresentasikan hasil penelitiannya di luar negeri.

Keduanya menyarankan saya untuk
melaporkan kepada wali kelas.
Catatan penting dari Ida Ohan adalah
bahwa dengan turun menyelesaikan ini
putri saya juga bisa belajar bahwa dalam
menghadapi masalah, dia harus
mencari bantuan (ketika tak dapat
menyelesaikannya sendiri) .

Yes, jangan biarkan berlarut-larut hingga bikin depresi. Rantai bully harus diputuskan, perlihatkan korban tidak takut sama pelaku. Saya pernah baca kisah-kisah mereka yang trauma, depresi, hingga bunuh diri gara-gara perundungan. Saya tak ingin putri saya merasakannya.

Catatan lainnya adalah, ada baiknya tahu dulu apakah wali kelasnya kooperatif atau tidak. Ketika Athifah mendapat perundungan saat masih di sekolah dasar, dukungan itu tak kami dapatkan jadi kami bertindak sendiri.

Ada suatu kali seorang anak lelaki menendang bagian bawah perut Athifah hingga berakibat putri kami bolak-balik ke kamar mandi. Saat pak suami mengadukannya kepada wali kelas dan ayah si anak, mereka berdua lempeng saja, tidak ada tanggapan.

Begitu pun ketika kelas 6 Athifah tidak boleh mendapatkan kisi-kisi ulangan dari wali kelasnya karena tidak menjadi peserta les berbayar yang diselenggarakan si ibu. Lalu si ibu wali kelas melarang semua anak yang les memberikan kisi-kisi kepada kawan-kawannya yang tak ikut les.

Tak mungkinlah meminta dukungan ibu wali kelas ketika bully meningkat diterima Athifah dari anak-anak yang les. Kelakuannya macam-macam. Tak usah dibahas, ya sudah lama berlalu kejadiannya dan masih pedih hati ini. 😰

Jadi, untuk menghadap ke wali kelas 7 sekarang ini, saya bertanya-tanya seperti apakah pak guru Matematika itu menghadapi isu perundungan? No idea tapi saya dan suami sudah sepakat untuk menghadap. Rencananya hanya menceritakan kejadian ini saja lalu nanti terserah beliau menyelesaikannya. Tanpa perlu ada kami juga tak mengapa.
“Bagaimana kalau saya panggil Baso dan Acce. Nanti Ibu dan Bapak menasihati mereka. Jangan dimarahi, dinasihati saja seperti menasihati anak sendiri. Kan Ibu punya anak, jadi Ibu bisa menasihatinya,” Pak guru menatap saya.

Saya menanggapinya dengan menceritakan kekhawatiran Athifah akan lebih di-bully lagi mengingat waktu di SD dia diejek-ejek “pajamma’” (tukang mengadu) oleh kawannya karena Athifah suka menceritakan apa saja yang terjadi di sekolah kepada papanya[2].

Sumber: freepik.com

Saya juga menceritakan bagaimana perundungan yang diterima Athifah ketika SD. Juga yang dialami si sulung Affiq selama 2 tahun lebih saat SMP (baca Mengapa Anak Saya Mengalami Bullying?). Saya mengatakan tak ingin Athifah mengalami apa yang dialami Affiq dulu – diperlakukan bagai pembantu oleh 3 teman sekelasnya.

Apa yang dialami Athifah sungguh tak enak. Baru 3 bulan bersekolah dia sudah mengalaminya. Kalau dibiarkan, entah apa yang terjadi hingga kelas 9 nanti. Pak guru meyakinkan hal-hal yang saya khawatirkan tersebut tak akan terjadi. Menurutnya akan jauh lebih baik jika kedua anak itu dipanggil dan langsung dinasihati.

Saya berpandangan dengan pak suami.
Ada gelegak kecil di dalam hati saya.
Rasa sakit yang menggeliat. Saya akan
bertatap muka dengan dua anak pem-bully?
Apakah saya sanggup tidak marah-marah
kepada mereka?

Suami saya mengangguk menatap saya. Saya pun mengiyakan usul pak guru sembari ber-istighfar dan membaca do’a Nabi Musa. Sisi waras saya menasihati diri saya sendiri untuk berlaku dewasa dan waras.

Biar bagaimana pun juga, dua anak ini masih anak-anak. Dan mereka juga korban. Korban dari ketidaktahuan dan kenaifan akan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Saya meyakini pada usia 12 – 13 tahun, potensi perbaikan masih sangat besar. Kedua anak ini masih bisa kembali ke jalan yang benar.

Makassar, 18 Oktober 2019

Kisah penyelesaian bullying
yang terjadi tanggal 14 Oktober lalu ini
masih berlanjut di tulisan berikut.


Catatan kaki:


[1] Awalnya, saya ingin menguatkan Athifah supaya tak mengambil hati kata-kata teman-teman yang iri padanya. Saya katakan iri karena tak ada alasan mereka melakukannya.

[2] Waktu itu saya hadapi ketakutan Athifah kepada kawannya dengan mengatakan, “Memang anak harus menceritakan apa yang dia alami ke orang tua, bukan pajamma itu.




Baca tulisan sebelumnya:

Baca juga:


Baca selengkapnya

Mengapa Anak Saya Mengalami Bullying?

Mengapa Anak Saya Mengalami Bullying?Dunia sosial anak-anak adalah representasi dari dunia kita – dunia orang dewasa. Kalau di sekeliling kita ada orang yang ramah, menyenangkan, rendah hati, rese, menyebalkan, sombong, ndableg dan mengganggu maka begitu pun dalam dunia anak-anak.
Baca selengkapnya

Ketika Si Anak Bujang Bepergian Bersama Kawan-kawannya

Bagi saya yang punya anak bujang, adalah sebuah pengalaman baru yang cukup seru ketika tiba-tiba dia mengatakan ingin atau telah melakukan traveling ke kota di kabupaten lain. Seperti ketika dia melaporkan telah melakukan perjalanan dengan 3 orang kawan lainnya menggunakan sepeda motor.
Baca selengkapnya

Setelah Huru-hara SBMPTN dan PPDB: Belajar dari Proses

Sebagaimana yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya bahwa SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) tahun ini istimewa bagi saya maka saya menuliskannya secara khusus di sini.
Baca selengkapnya

Setelah Huru-hara SBMPTN dan PPDB: Jauh dari "Orang Dalam"

SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) tahun ini jadi istimewa bagi saya. Karena saya dan dua anak kami menjadi yang terlibat di dalamnya. Si sulung Affiq tamat SMA sementara si tengah Athifah tamat SD. Istimewanya lagi, ada perubahan pada penyelenggaraan SBMPTN dan PPDB tahun ini.
Baca selengkapnya

Drama Ojek Online: Ketika Si Bungsu Dituduh Merusakkan Mobil

Drama Ojek Online - “Bu, anak ta’ kasih rusak itu,” tunjuk driver mobil ojek online yang kami tumpangi menuju gedung Haji Bate di Sungguminasa, Kabupaten Gowa. Mata saya beralih pada pegangan pintu mobil di samping si bungsu yang ditunjuknya, pada bagian dalam pintu mobil yang ditunjuk si driver di jok depan. Terlihat ada yang tak beres di situ. Ada bagian pegangan pintu mobil yang rusak.
Baca selengkapnya

Drama Pangkas Rambut: Pilih Model Sendiri

Drama Pangkas Rambut: Pilih Model Sendiri - Cerita cukur rambut anak bungsu di bulan Mei ini tak sedrama cerita bercukur yang sebelum-sebelumnya. Namun tetap saja ada dramanya. Kayaknya ndak seru kalo tidak pake drama. Dimulai dengan tawar-menawar, ke mini market dulu baru ke tukang pangkas rambut yang tentu saja saya tolak mentah-mentah. Bagaimana bisa gaji eh award diminta di depan? 😆
Baca selengkapnya

Anak-anak dan Access Bars

Anak-anak di Access Bars Class dengan dr. David Budi Wartono (Dokter Dave) sebagai fasilitatornya ini riuh. Keriuhan khas kanak-kanak yang senang bermain dan tertawa. Pada tanggal 27 April lalu, saya dan Athifah menjadi bagian kelas ini di House of Beauty. Selama kelas berlangsung hanya sesekali ruangan sepi dengan suara mereka.
Baca selengkapnya

Hari Down Syndrome Sedunia: Kalah-Menang Bukan Masalah

Banyak anak spesial berkumpul di tribune Taman Pakui Sayang pada tanggal 24 Maret lalu. Kebanyakan dari mereka mengikuti lomba mewarnai. Sebagiannya lagi datang untuk meramaikan peringatan World Down Syndrome Day atau Hari Down Syndrome Sedunia yang jatuh pada tanggal 21 Maret.
Baca selengkapnya

Kemeriahan Hari Dongeng Sedunia di Perpustakaan Kota

Kemeriahan Hari Dongeng Sedunia di Perpustakaan Kota - Saat kami tiba sekira pukul 9 pagi, sudah ada hampir 500 orang memadati lantai 1 Perpustakaan Umum Makassar. Usai registrasi dan mengambil hadiah berupa Madu TJ (salah satu sponsor acara Hari Dongeng Sedunia di Perpustakaan Kota), kami mencari tempat kosong di karpet yang terhampar di depan panggung.
Baca selengkapnya

Jajan Kuaci? Hayuk!

Jajan Kuaci? Hayuk! - Anak-anak di mana pun tak lepas dengan jajanan baik ada manfaat besertanya ataupun tidak. Begitu pun anak-anak saya. Tantangannya adalah bagaimana meredam atau membatasi keinginan jajan yang kalau diikuti tentu tak akan ada habisnya. Apalagi mamaknya sendiri kadang-kadang masih suka jajanan yang sama dengan anaknya. Eh 😆
Baca selengkapnya

Drama Pangkas Rambut dengan 2 Pemeran Utama

Tumben hari Sabtu lalu si bungsu Afyad cuma sebentar diproses oleh Pak Jamal di Pangkas Rambut Rahmat Suramadu. Pak Jamal ini sudah biasa memangkas rambut anak-anak, makanya beliau santai menghadapi si bungsu. Biasanya dramanya panjang setiap dibawa ke tempat ini namun kali ini tidak lagi. Kali ini, ada progress yang signifikan dalam usaha membawa Afyad bercukur. 
Baca selengkapnya

Drama Pangkas Rambut

Drama Pangkas Rambut - Kalau bagi anak-anak lain bercukur rambut tidak begitu menjadi masalah atau bukan masalah sama sekali, tak demikian bagi si bungsu Afyad. Pun bagi saya dan ayahnya. Kami berkali-kali berhadapan dengan drama cukur rambut setiap kali hendak membawanya bercukur dan selama rambutnya dipangkas.
Baca selengkapnya

Invasi Asing di Grup Eksklusif

HP berdering lagi. Di layar tampak nama adik perempuan saya – Mirna. Kami baru saja bercakap lama tentang banyak hal. Mengapa dia menelepon lagi?

“Memang Kau kasih masuk abi-nya Rifqah, Kak Chullink, Nana, Athifah ke grup Marakarmas, kah?” dia menanyakan apakah saya baru memasukkan anggota baru ke dalam grup Marakarmas.
Baca selengkapnya

Pertanyaan Tentang Sel Telur dan Indung Telur

Apa itu sel telur dan indung telur, Ma?” tanya Athifah yang sedang membaca-baca buku RPAL – RPUL Global-nya. RPAL itu Rangkuman Pengetahuan Alam Lengkap, sedangkan RPUL adalah Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap. Di zaman saya sekolah dasar dulu, buku seperti ini sudah ada dan kami harus menghafalnya di luar kepala. Sering kali soal-soal ulangan kami diambil dari buku yang waktu itu terdiri atas 2 buku, berjudul RPA dan RPU. Athifah tidak diwajibkan oleh gurunya memiliki buku RPAL - RUP Global ini tapi saya membelikannya karena banyak sekali pengetahuan di dalamnya.
Baca selengkapnya

Ironi di Perhelatan Akbar Wisuda Santri

Saya anggap nomor urut nyaris bontot: 1659 adalah sebuah keuntungan. Kami bisa duduk manis menanti nomor dipanggil pada perhelatan akbar wisuda santri semakassar ini, tidak perlu berdesak-desakan dengan seribuan orang yang ingin naik ke panggung. Total santri yang diwisuda pada tanggal 10 Mei ini adalah 1668 orang. Enak kan, menjelang nomor si putri mungil disebut, tempat ini pasti sudah lebih lengang. Toh, tidak lama lagi acara akan berakhir. Tidak perlu menunggu lama sampai nomor 1659 dipanggil.
Baca selengkapnya

Mencari Hikmah di Perhelatan Akbar Wisuda Santri

Lapangan Karebosi sudah penuh dengan santri dan pengantarnya ketika saya dan putri saya – Athifah tiba di sana pada pagi hari tanggal 10 Mei kemarin. Di bagian tribun tempat duduk para santri menjelang remaja sementara para pengantarnya duduk di bawah tenda di atas lapangan rumput. Saya mengamati kursi-kursi yang bertebaran. Tak jelas apakah ada tanda di mana nomor 1659 – nomor urut Athifah bisa duduk. Para santri yang akan diwisuda duduk tak beraturan dijaga para pembinanya.
Baca selengkapnya

Pelajaran dari Grand Final Lomba Bercerita Tingkat SD/MI 2018

Menyelesaikan kerempongan pagi-pagi dulu, baru saya siap mengantarkan Athifah. Kami meluncur ke Hotel Asyra di jalan Maipa, guna menyimak pengumuman hasil Audisi Lomba Bercerita Tingkat SD/MI Kota Makassar yang dilaksanakan sehari sebelumnya, pada tanggal 17 April 2018. Kami tiba pas sesaat sebelum acara Grand Final Lomba Bercerita Tingkat SD/MI Kota Makassar dimulai. Deg-degan juga rasanya menanti pengumuman 10 peserta yang masuk grand final lomba ini. Oya, simak tulisan sebelumnya: 5 Hal Tentang Lomba Bercerita Tingkat SD/MI yang Perlu Anda Tahu dan Pelajaran dari Audisi Lomba Bercerita Tingkat SD/MI 2018.
Baca selengkapnya

Pelajaran dari Audisi Lomba Bercerita Tingkat SD/MI 2018

Sudah berkali-kali saya katakan pada Athifah kalau mau ikut Audisi Lomba Bercerita tingkat SD/MI, harus dia yang betul-betul serius mau ikut. Harus dari dirinya sendiri yang berinisiatif mau latihan sendiri tanpa saya perlu berkali-kali menyuruhnya. “Nanti orang bilang Mama manfaatkan anak!” alasan asal-asalan yang pernah saya lontarkan. Apa-apaan si mamak, memangnya anaknya artis, gitu, memanfaatkan kemampuan anaknya buat cari duit? 😆 (Oya, baca cerita sebelumnya di: 5 Hal Tentang Lomba Bercerita Tingkat SD/MI yang Perlu Anda Tahu).
Baca selengkapnya