Melahirkan Normal dengan Varises Vagina: Operasi Tanpa Anastesi

Operasi tanpa anastesi harus saya alami ketika melahirkan dengan varises vagina pada suatu hari di bulan September 11 tahun lalu. Di sinilah puncak paling tinggi rasa sakitnya dunia yang saya rasakan sebelum maut. Semoga Allah melindungi dari kejadian seperti ini lagi.

Sebenarnya ini operasi tanpa anastesi kedua yang saya rasakan. Operasi pertama hanya operasi yang lebih “kecil”, berlangsung ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar atau SMP – lupa tepatnya.

Waktu itu di bagian yang dekat sekali dengan mata ada bisul yang mengganggu dan satu-satunya cara mengatasinya menurut dokter mata adalah mengeluarkan bisulnya. Tentu saja tanpa anastesi lha cuma mengeluarkan seuprit bisul begitu.

Nah yang kedua kali ini, ketika pecahnya pembuluh darah di dinding vagina yang menyebabkan terjadinya perdarahan dalam (internal bleeding) harus diatasi, saya kembali mengalami operasi tanpa dibius. Cerita awalnya sudah saya tuliskan dalam tulisan Melahirkan Normal dengan Varises Vagina: Sakit Tak Berdarah.


Operasi Tanpa Anastesi

Perdarahan dalam itu tak kelihatan, kawan tapi sakitnya na’udzu billah meski hanya satu pembuluh darahmu yang pecah, rasanya warbiyasak – kata anak-anak jaman now. Namanya berdarah di dalam ya darahnya tak keluar tapi sebagai pemilik body, rasanya begitu nyata. Terlambat ditangani, nyawa bisa melayang.

Sudah saya ceritakan pula di tulisan sebelumnya bahwa kejadian itu sebuah skenario Allah yang kalau saya dan suami ingat-ingat sekarang, semua aktor pendukung, juga properti sudah tersedia di sekeliling kami. Pada saat yang tepat, semuanya ready dengan cara tak terduga. Tinggal bagaimana saya dan suami menjalaninya.

 

Operasi Tanpa Anastesi: Bukan Lagi Sakit Tak Berdarah

 

Tiga kali melahirkan, 3 kali pula saya mengalami episiotomi (sayatan bedah yang sengaja dibuat) lalu penjahitan perineum. Kalau kata bidan yang menangani saya pada kelahiran anak pertama, “Jahitan kosmetik.” Bidan sudah menyelesaikan jahitan perineum dan tinggal merapikan peralatannya ketika kontraksi dahsyat saya rasakan.

Seperti yang sudah saya ceritakan dalam tulisan sebelumnya, tak lama kemudian Dokter Fatma tiba di ruang bersalin. Setelah semua peralatan siap, jahitan perineum yang sudah rapi dibongkar lagi. Saya merasakan episiotomi lagi. Bongkar jahitan!

Dokter Fatma yang menangani operasi dengan begitu terampil dan tenang. Suaranya senantiasa menenangkan saya. Beliau menenangkan setiap saya mengerang menahan sakit sembari mengatakan, “Tolong dibius, Dokter.”

Dokter Fatma menjawab, “Sabar ya. Sebentar.”

Jawabannya diulang terus setiap saya meminta. Dan hingga selesai operasi, saya ternyata sudah melalui episode operasi tanpa anastesi sama sekali.

Suami yang berada di sisi kepala menggenggam terus tangan saya. Saya hanya bisa memejamkan mata, menahan rasa sakit dengan menyalurkannya pada genggaman tangan kami. Lampu sorot berukuran besar terarah ke tubuh saya, membuat saya tak bisa melihat dengan jelas para dokter, bidan, dan perawat.

Tapi saya bisa merasakan bagaimana jarum 3 ukuran dan yang membawa benang 3 ukuran menjahit bagian tubuh – dinding vagina yang harus dijahit. Rasanya nyata senyata tertusuk sembilu, saudara! Beruntung saya bukan tipikal perempuan tukang teriak jadi rasa sakit tersalurkan melalui erangan dan genggaman tangan.


Operasi tanpa anastesi

Suami saya bercerita bahwa darah muncrat ke mana-mana. Mengotori baju dokter dan tenaga medis, hingga kain pembatas ruangan. Saya tak tahu berapa dokter dan tenaga medis ada di sekitar kami tapi menurut suami ada 6 orang. Selain 2 dokter spesialis OBGYN, ada 2 bidan dan 2 perawat.

Dokter Anna Sari Dewi, yang memeriksa saya selama hamil Afyad juga menyempatkan diri untuk hadir. Beliau tak menangani persalinan ketiga ini karena kami meminta melahirkan di Rumah Bersalin Budi Mulia sementara beliau tak bertugas di rumah bersalin itu.

Singkat cerita, proses pemulihan berlangsung di dalam ruang bersalin selama beberapa jam berikutnya. Saya ditemani seorang perawat jaga. Suami sesekali keluar untuk makan, shalat, dan ngemong Athifah yang masih berusia 3 tahun.

Kasihan juga Athifah karena sejak saya hamil dia sangat manja kepada papanya dan saat persalinan itu, selama berjam-jam papanya menemani saya di ruang bersalin. Ibu-ibu kami sudah diberi tahu apa yang terjadi tapi tidak secara mendetail supaya mereka tak khawatir.

Usai operasi, masih tersisa rasa sakit pada bekas operasi. Kasa yang dipakai menyumpal harus diganti dan dipasang yang baru lagi, lalu diganti lagi. Di saat-saat seperti ini saya bersyukur perempuan nifas dibebaskan dari kewajiban shalat. Hanya dzkir yang bisa terus saya lantunkan menunggu saat dipindahkan ke kamar tidur.

 

Mengapa Operasi Tanpa Anastesi?

 

Keesokan harinya barulah Dokter Fatma menjelaskan mengapa usai persalinan dengan varises vagina, operasi yang saya jalani tanpa anastesi.

Begini, mencari pembuluh darah mana yang mengalami perdarahan dalam pada dinding vagina itu tak mudah. Usai jahitan perineum dibongkar, lampu sorot diarahkan ke organ yang ditelusuri, pencarian mengerahkan segenap ilmu dan indera penglihatan dokter.

Pemberian obat bius bisa menyebabkan perubahan (warna) pada bagian tubuh yang diamati dan membuat dokter sulit menemukan pembuluh darah mana yang harus ditangani. Diperiksa satu-satu pembuluh-pembuluh darah di dinding vagina. Bukan hal mudah. Tidak boleh salah pilih.


Operasi tanpa anastesi

Pembuluh darah yang pecah itu harus segera ditindaki secara medis. Tidak boleh asal ambil pembuluh darah untuk digunting-jahit-gunting-jahit. Harus presisi.

Luka atau celah atau apapun itu, yang terbentuk ketika pembuluh darah pecah harus segera “ditutup”. Mencarinya itu harus pada saat saya sadar sesadar-sadarnya. Ya, mau tak mau saya harus merasakan jarum dan benang 3 ukuran “keluar-masuk” di situ.

Masya Allah. Kalau mengingat ini kembali, saya makin yakin kalau ujian diberikan Allah itu pasti sesuai dengan kesanggupan kita. Sesuai dengan ayat favorit saya ini:

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (QS. Al-Baqarah: 286).

Mungkin, seandainya sebelum menjalani persalinan diberi tahu apa yang akan saya alami, saya akan gentar. Tapi ternyata begitu dijalani dan kami melewati masa 11 tahun, hikmah itu nyata. Bahwa semua yang kami butuhkan untuk melalui ujian itu ada di sekitar kami. Mestakung – semesta mendukung.

Mengingat itu semua, saya bersaksi bahwa pertolongan Allah memang sangat dekat, panjang lebar saya tulis dalam Melahirkan Normal dengan Varises Vagina: Sakit Tak Berdarah. Alhamdulillah, Allahu akbar, meski kata Dokter Fatma kasus ini langka, kami bisa melewatinya atas rahmat-Nya.

“Apakah kamu mengira kamu akan masuk surga? Padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa kesulitan dan kesempitan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Q. S. Al-Baqarah ayat 214)

Makassar, 1 Oktober 2020

Bagian ke-2 dari 2 tulisan. Silakan baca bagian pertama untuk lebih jelas mengetahui kasus saya.



Share :

46 Komentar di "Melahirkan Normal dengan Varises Vagina: Operasi Tanpa Anastesi"

  1. Merinding banget bacanya Mba, alhamdulillah Mba kuat melaluinya. Oh ya, waktu smp juga pernah tuh dioperasi bagian mata karena ada cairan yang buat bengkak hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak dianastesi? Huhu, membayangkannya seram ... ingat waktu bagian mata saya dikorek-korek.

      Delete
  2. Masa besar Allah. Kuat bgt mba. 4 tahun lalu merasakan proses jahit episiotomi tanpa anastesi. nyerinya terbayang sampai sekarang :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oiya, jahitan pada perineum dan episiotomi tidak dibius. Berasa sewaktu dijahit hehe.

      Delete
  3. Wah baru mengetahui ada operasi tanpa anastesi. Betapa sakitnya jika operasi tanpa anastesi. Setelah melewatinya, bisa bernafas lega.

    ReplyDelete
  4. Ya Allah, Dewi bacanya sambil merinding. Semoga sehat selalu ya mbak Mugniar. Dewi juga semoga dijauhkan dari pengalaman ini, krn trauma Dewi sangat besar pasca operasi jari 12 tahun lalu... Makasih sharingnya mbak....

    ReplyDelete
  5. Bacanya sambil menahan rasa nyeri padahal yang operasi bukan saya, hehehe. Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, tidak bisa membayangkan rasa sakitnya operasi tanpa anestesi..

    ReplyDelete
  6. Ngilu Saya bacanya Mbak. Salut bisa kuat dan tabah pas menghadapinya. Betapa hebat perjuangan Ibu dalam mengandung & melahirkan buah hatinya. Semoga Sehat2 selalu

    ReplyDelete
  7. Ya Robb...saya antara menyesal dan bersyukur baca ini. Menyesal krn jd ikut membayangkan, sampe tahan napas. Bersyukur krn saya tdk mengalami itu.

    Subhanalloh.

    ReplyDelete
  8. Waktu persalinan aku juga kena jahit epidural tp dibius. jd tiap benang ditarik aku masih ngerasain sakit ada juga yg ga berasa apa apa. Tp kakak aku yg tunggal di Qatar cerita, wkt persalinan normal kalau di sana memang ga dibius. Ngilu aku beneran.

    ReplyDelete
  9. Masya Allah mbaaa, semoga lekas pulih yaaa. Membaca tulisan ini membuatku sangat ingin berusaha untuk bersyukur lebih banyak...

    ReplyDelete
  10. Ga kebayang gimana sakitnya tanpa anastesi. Bacanya saja sudah bikin ngeri. Mbak bahkan tidak berteriak, hebat. Mudah-mudahan cepat sembuh yaa.

    ReplyDelete
  11. Masyaa Allah Mba sekarang bahkan baik-baik saja ya? Benar2 kuat Mba, ini adalah anugerah dari Allah SWT tentunya ya. Perjuangan Mba sungguh besar saat melahirkan dioperasi tanpa dibius saya masih spechless Mba. Ditunggu bagian keduanya :)

    ReplyDelete
  12. Masya Allah Mbaaak.. aku baru dnegar istilah pembuluh darah pecah di dalam saat mau melahirkan. Kebayang jahitannya Mbak karena akupun juga saat melahirkan dijahit sakitnya bukan main. Aku rasa aku juga ngga dibius deh :(

    ReplyDelete
  13. duh kebayang banget ngerinya, kadang aku kalau denger orang cerita tentang opearsi suka ngilu sendiri, ini semua gegara suamiku pasang pen saat patah tulang. trauma itu sampai sekarang.

    ReplyDelete
  14. Masya Allah, ngeri-ngeri sedap bacanya Mbak Mugni. Untung berjalan dengan lancar dan sehat semuanya yaaa. Ya Allah melahirkan memang memiliki versi yang berbeda-beda ya pada tiap perempuan. Itu mencari pembuluh darah kek gitu itu ngeri juga bayangin, sampe muncraat darahnya ke mana-mana.

    ReplyDelete
  15. Aku sampe meringis perih bacanya. Melahirkan normal aja udah mules sakit luar biasa, apalagi yang dialami mbak. MashaaAllah, semoga menjadi ladang pahala dan sehat selalu ya

    ReplyDelete
  16. Masya Allah mbk... Aku bacanya kok merinding ya. Inget dulu aku pas ngelahirin Aqla. Tiap ibu punya pengalaman yang berbeda jetika melahirkan. Alhamdulillah semua lancar ya mbk

    ReplyDelete
  17. Subhanallah, mbak mugniar...u are so strong! Aku pun kmrn varises vagina saat vbac. Namun, terlihat dsn kurasakan sat masuk trimester 3...alhamdulillah krn posisinya bukan di jalan lahir jdi tdk berpengaruh tp sy jg sempat mengalamu kekhawatiran

    ReplyDelete
  18. MaasyaAlloh, kuatnya luar biasa mba. Aku gak sangguo bacanya, sambil mringis mringis aku 😭😭😭😭

    ReplyDelete
  19. Ya Allah mba, pas baca auto lemes dan ngiluuuu banget aku :(. Kayak lgs kebayang sakitnyaaa :( . Salut kamu bisa tahan tanpa teriak2. Tapi itulah wanita yaaa. Ada yg bilang kemampuan wanita dalam menahan sakit memang LBH bagus daripada laki2.

    Duuuh itu bagian yg darah sampe muncrat, itu kalo aku bisa melihat, rasanya lgs mau pingsan :(

    ReplyDelete
  20. Duuuhhh, saya ngeri ngebayanginnya. Sekaligus kagum, mba bisa melewati masa-masa kayak gtu. Hebatnya perjuangan seorang ibu..

    ReplyDelete
  21. MashaAllah mbak, 11 tahun yang lalu tapi mbaknya masih mengingat dengan sangat jelas ya.. karena jadi momen yang paling mbak ingat karena menyangkut hidup dan mati ya.. semoga tulisan ini jadi sumber inspirasi juga buat para ibu ibu lain ya mbak

    ReplyDelete
  22. Ya Allah, mbak.. kamu luar biasa sekali. Semoga semua sakit itu jadi penggugur segala dosamu mbak. Berkah selalu hidupmu, si kecil, suami dan juga semua dokter yang telah membantu persalinanmu. Amin ya Rabbal Alamin!!

    ReplyDelete
  23. Masya Allah, Allahu Akbar ... aku bacanya ngilu banget mbak. Sampai nyari bagian pertama yang mana hehe.

    Semoga anak-anak tumbuh menjadi anak sholeh/sholehah ya mba, ibunya luar biasaaa...ayahnya juga ;)

    ReplyDelete
  24. Mba Niar aku paham pasti sakit banget. Setelah melahirkan normal aku juga ada jahitan dikit karena robek. Itu aja sakit banget. Bahkan sudah 3 tahun berlalu aku masih trauma.

    ReplyDelete
  25. Duh, Ya Allah, aku menringis2 gini bacanay mbak :( :( Mbak kuat, hebat, Allah Maha Kuasa atas segalanya. Mbak bisa sabar, cukup dengan menggenggam tangan erat, ga terus2an berteriak. Oh, ternyata itu alasannya ga boleh dibius ya. Betul, kalau dikasih tau ga dibius di awal, mbak bisa gentar hehehe.

    ReplyDelete
  26. OMG kak! Baca ceritanya aja udah merinding, apalagi kalo ngalamanin sendiri.
    Benar2 kasus langka ya, seperti kata dokter.

    ReplyDelete
  27. Kok saya ngeri ya bacanya. Alhamdulillah terlewati dengan baik. Terus baca penjelasan dokter ternyata lebih ke arah safety prosedur ya.

    ReplyDelete
  28. Luar biasa mba, aku jadi ngebayangin. Kalau momen begini selalu ingat ya mba dan tak akan terlupakan. Semangat mba

    ReplyDelete
  29. Saya sudah dua kali dioperasi tapi tak pernah merasakan sakit karena dibius bukan lagi dibius lokal tapi bius total.
    Baca ceritata, ngeri sekali rasanya. Tapi betul apa firman Allah, kita dilihat kuat makanya dikasi cobaan seperti itu.

    ReplyDelete
  30. Ya Allah kakak, saya bisa membayangkan sakitnya seperti apa sampai ikut merasakan sakitnya itu. kakak kuat dan hebat!! kalo saya pasti udah minta operasi dengan anestesi. waktu saya melahirkan si sulung, saya ngalamin ruptur perinium stad.4, dokter bilang bisa sih dijahit tanpa anestesi, tapi saya kelelahan luar biasa sehabis melahirkan, jadi saya pilih operasi dengan anestesi. kakak, semoga sehat selalu yaa

    ReplyDelete
  31. Aku cabut kuku aja ngilu Mba, apalagi operasi tanpa anastesi. Huaaaaa. Masya Alloh. Kenapa bisa sekuat itu Mba? Aku jahit epis aja selalu bius dan masih miki-miki mau nambah lagi apa ga

    ReplyDelete
  32. Waahh tanpa anastesi yaa, aku bayanginya aja ngeri...
    Kuat sekali mbak niar

    ReplyDelete
  33. Saya kadang ngeri-ngeri sedap baca tulisan temen-temen yang udah melahirkan. Secara saya masih single, nikah juga belom hehe. Gak bisa bayangin deh rasanya gimana, apalagi itu mbaknya pendarahan di dalem yah :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya yang udah lahiran dua kali aja masih gtu kok, selalu kyk flashback lagi gitu diingatkan soal lahiran. Masih takjub ternyata bisa ya jd ibu hehe.
      InsyaAllah kalau dijalani dengan ikhlas akan baik2 saja.

      Delete
  34. mbaaa yaampun aku merinding baca posting ini. mba kuat bangeeet! jujur jadi merinding mau nangis bayanginnya :(

    ReplyDelete
  35. Sepertinya saya juga pernah mengalami pas melahirkan anak pertama dijahit dalam keadaan sadar dan masyaallah itu sakit sekali jarumnya terasa pas nusuk, ngilu setelahnya. Tapi saya pikir itu lumrah karena dokter harus cepat mengambil tindakan kalau nunggu di bius kan butuh proses beberapa menit ntar nyawa bayi dan ibu yang berbahaya

    ReplyDelete
  36. operasi tanpa anastesi, aku yakin ini kekuatan berserah pada Allah Sang Pemilik Hidup, kekuatan ikhlas dan yakin pada Allah semata. Hebat sekali kamu mak

    ReplyDelete
  37. Mbaa Mugniar,perjuangan ibu melahirkan ya masyaAllah tak mudah. InsyaAllah Allah balas pahala. Sehat sehat mba kuu

    ReplyDelete
  38. Zaman melahirkan anak pertama juga kayaknya aku banyak jahitan mbk soalnya bokong duluan dan tanpa operasi lahirnya, anakku sungsang. Dulu enggak paham, ikut aja deh, hehe... oiya, semakin dibaca proses persalinan emang ngeri2 sedap ya.

    ReplyDelete
  39. Kak Niaarr...
    MashaAllah~

    Aku merinding membaca perjuangan kak Niar.
    Apakah kasus kak Niar begini ada solusi dari dokter, misalnya gak boleh hamil lagi atau kalau melahirkan gak boleh per-vaginum?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo hamil lagi, lahirannya harus operasi ... tapi ini dengar pengalaman temannya suami, Mbak.

      Delete
  40. Lahiran Marwah dulu saya jahitannya banyak, soalnya Marwah kelilit ari - ari dan masuk lagi ke dalam, duh jadi ngilu kalau bayanginnya hehe. Lah jadi curhat deh.

    ReplyDelete
  41. Subhanallah... mbaaa aku terus terang ngilu banget membaca artikelmu ini. Perjuangan seorang ibu saat melahirkan ya mba, sampe kayak gitu. Aku dulu selalu dapet jahitan banyak sih seusai melahirkan, selalu di atas 10. Ternyata masih tak sebanding dengan sakit yang Mb Niar alami ya karena varises vagina ini.

    ReplyDelete
  42. Aku langsung browsing tentang anestesi usai membaca postingan ini, mba.
    Ternyata anestesi ada 3.
    Aku pikir cuma lokal dan bius total.
    Ternyata ada lagi, regional seperti bius epidural saat persalinan.


    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^