Showing posts with label BaKTI. Show all posts
Showing posts with label BaKTI. Show all posts

Festival Forum KTI: Merajut Optimisme dari Timur



Sudah 2 tulisan saya buat tentang Festival Forum Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang diselenggarakan oleh BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia). Festival ini berlangsung pada tanggal 24 – 25 Oktober lalu di Hotel Four Points by Sheraton dan dipadati pengunjung.
Baca selengkapnya

Festival Forum KTI: Smart dalam Reses Hingga Minyak Jelantah

Masih cerita dari hari pertama Festival Forum Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang diselenggarakan oleh BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia) di hari pertama, 24 Oktober 2018. Usai rehat siang, giliran inspirator Forum KTI yang bercerita soal Reses Partisipatif: Narasi Rakyat di Legislatif. Nara sumbernya adalah Ketua DPRD Kabupaten Maros dan Kelompok konstituen Parepare.
Baca selengkapnya

Festival Forum KTI: Tentang Keberagaman, Lokal, dan Berkelanjutan

Festival Forum Kawasan Timur Indonesia (KTI) adalah event yang saya nanti-nantikan dari BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia). Setelah menghadiri beberapa sesi pada tahun 2015 lalu, saya begitu bersemangat menyambut pelaksanaan festival di tahun ini, tepatnya pada tanggal 24 – 25 Oktober lalu.
Baca selengkapnya

Membincangkan Perubahan: Menjadi Pahlawan atau Sang Bijak

Diskusi buku Mengubah & Menginspirasi – Cerita Tentang Perubahan yang berlangsung di kantor BaKTI yang berlangsung tanggal 10 Agustus lalu masih menyisakan kenangan. Bukan saja pengetahuan mengenai konten buku tersebut saya peroleh tapi juga hal-hal lain yang menarik. Diskusi pada akhirnya bukan hanya pada buku namun menjadi berkembang tetapi tetap menarik.
Baca selengkapnya

KPPOD dan JiKTI: Tentang Kebijakan Publik Berbasis Bukti

Tadinya saya pikir akan menuliskan satu atau dua tulisan saja dari Seminar Berbagi Pengetahuan (Knowledge Sharing) Tentang Pentingnya Kebijakan Publik Berbasis Bukti yang Berpihak pada Masyarat Miskin yang saya hadiri bulan lalu ini. Ternyata saya salah duga. Tulisan yang Anda baca ini merupakan tulisan ke-4 yang saya buat karena rasanya banyak yang kurang kalau saya hanya menuliskan satu atau dua tulisan saja. Pada tulisan keempat ini, saya share mengenai presentasi dari Robert Na Endi Jaweng – Direktur Eksekutif KPPOD[1] (Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah). Pak Robert membawakan materi berjudul Riset & Kebijakan Publik: Pengalaman Terbatas KPPOD.
Baca selengkapnya

Analisis Kebijakan Berbasis Bukti: Pengalaman Birokrat Gorontalo

Birokrat, pengusaha, dan peneliti juga menjadi nara sumber pada seminar yang saya hadiri pada tanggal 5 Juli lalu di Hotel Melia. Seminar bertajuk Berbagi Pengetahuan (Knowledge Sharing) Tentang Pentingnya Kebijakan Publik Berbasis Bukti yang Berpihak pada Masyarat Miskin ini dihadiri berbagai elemen masyarakat, termasuk dari masyarakat umum seperti saya ini.
Baca selengkapnya

Mengapa Profesi Analis Kebijakan Penting

Pada Seminar Pertemuan Berbagi Pengetahuan (Knowledge Sharing) Tentang Pentingnya Kebijakan Publik Berbasis Bukti yang Berpihak pada Masyarat Miskin yang berlangsung di Hotel Melia pada tanggal 5 Juli kemarin, sebuah profesi yang disebut-sebut bersaing pentingnya dengan anggota legislatif dibicarakan. Profesi yang masih tergolong baru tersebut bernama ANALIS KEBIJAKAN. Dalam hal ini, tentunya analis kebijakan yang dimaksud akan mendukung KEBIJAKAN BERBASIS BUKTI berlaku di negara kita.
Baca selengkapnya

Mengapa Perlu Analisis Kebijakan Berbasis Bukti

Muhammad Iqbal Suhaeb – Kepala Balitbangda (Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah) provinsi Sulawesi Selatan membuka Seminar Pertemuan Berbagi Pengetahuan (Knowledge Sharing) Tentang Pentingnya Kebijakan Publik Berbasis Bukti yang Berpihak pada Masyarat Miskin. Menurutnya sejak dulu diketahui mengenai evidence based tapi pada kenyataannya hanya dikenal di kampus-kampus padahal seharusnya evidence based menyangkut kebijakan juga. Barulah akhir-akhir ini disosialisasikan oleh beberapa lembaga, di antaranya oleh LAN (Lembaga Administrasi Negara).
Baca selengkapnya

Forum Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan: Menuju Pembangunan Ekonomi yang Lebih Inklusif

Pengalaman yang berbeda saya alami ketika menghadiri Forum Pembangunan Daerah (FPD) Sulawesi Selatan pada tanggal 8 Mei lalu. FPD ini diselenggarakan oleh The SMERU Research Institute (SMERU), bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan dan Yayasan BaKTI. SMERU adalah lembaga independen yang bergerak di bidang penelitian dan studi kebijakan publik. Alasan mengapa Sulawesi Selatan dipilih adalah karena dalam beberapa tahun terakhir mencatat pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi – lebih tinggi dari rata-rata nasional namun menghadapi tantangan peningkatan ketimpangan yang juga tinggi. Selain itu, SMERU juga telah melakukan beberapa penelitian di Sulawesi Selatan yang dapat dijadikan bahan masukan untuk diskusi kebijakan.
Baca selengkapnya

Mall Sampah: Solusi Masalah Sampah Jaman Now

Mall Sampah, inilah solusi masalah Sampah Jaman Now! - Saya teringat pada konsep bank sampah Pelita Harapan yang pernah saya lihat di Jalan Pelita. Sempat terpikir untuk jadi nasabahnya namun tidak terlaksana. Waktu itu saya berpikir, bagaimana bisa saya ke sana sekali sebulan dan antre selama berjam-jam untuk dilayani? Karena begitulah keadaannya di bank sampah tersebut, banyak nasabah yang rela antre berjam-jam hingga mendapatkan layanan dari petugas. Para petugas tak dapat dituntut karena mereka sama sekali tak ada yang menggaji. Mereka bekerja secara sukarela untuk kemaslahatan warga RW setempat.


Suatu kebetulan, saya berada di sana pas saat loket bank sampah hendak buka. Berbondong-bondong warga membawa sampah mereka ke lokasi lalu berbaris rapi di sana. Mulai dari anak-anak hingga orang tua, masing-masing memegang buku tabungan sembari menunggu gilirannya. Ingin juga seperti itu, bisa menguangkan sampah sendiri. Namun apa daya, belum ketemu solusi yang mudah bagi saya tersebab satu dan lain hal – rutinitas yang ada membuat saya kesulitan antre di bank sampah.

Mall Sampah, Sebuah Solusi


Rupanya, solusinya baru muncul sekarang. Di awal tahun ini, Mall Sampah (www.mallsampah.com) – konsep yang saya maksud mengemuka. Saya menghadiri talkshow bertajuk Mallsampah – Layanan Pengelolaan Sampah Online yang menampilkan Adi Saifullah Putra (Founder dan CEO Mallsampah) sebagai nara sumbernya di gedung BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia). Acara yang bergairah karena menampilkan nara sumber yang bersemangat dan moderator Luna Vidya yang tak kalah bersemangatnya ini berlangsung pada tanggal Jumat, 9 Februari 2018 pukul 15.00 -17.30.

Hiburan dari Ruang Baca

Beberapa penghargaan yang diterima Mall Sampah

Menarik sejak awal penuturan, itulah kesan yang langsung saya tangkap dari Adi – lulusan Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia yang pernah menjadi aktivis mahasiswa ini. Dia mengatakan bahwa hanya 10% sampah di Indonesia bisa didaur ulang. Visi Mall Sampah adalah dalam 10 tahun ke depan 20 – 30 persen sampah bisa didaur ulang dan nilainya mencapai 2 – 3 kali nilai total saat ini melalui konsep memberdayakan pengepul dan pemulung.

Menurut Adi, kunci dari daur ulang sampah di Indonesia adalah pengepul. Maka agar sampah yang bisa didaur ulang meningkat, mereka harus diberdayakan dan diperbanyak (termasuk pemulungnya) – moga-moga saya tidak salah tangkap dari penjelasan Adi.

“Ketimpangannya, pemerintah belum pahami kalau para pengepul ini berperan penting,” ucap Adi. For your information, ya, pengepul itu yang mengumpulkan sampah dari pemulung atau orang yang bisa membeli sampah kita. Beberapa dari mereka punya kendaraan sendiri untuk mengangkut sampat dalam jumlah yang agak besar. Ada yang biasa masuk hingga ke dalam gang, seperti yang biasa masuk ke daerah tempat tinggal saya dan mengumpulkan sampah dari warga. Warga menjual sampahnya dengan harga yang ditentukan pengepul.

Adi Saifullah Putra
Luna Vidya dan Adi Saifullah Putra

Nah, bedanya, kami tidak tahu kapan si pengepul datang. Tahu-tahu saja dia nongol tapi ketika dinanti-nanti eh dia tak muncul-muncul. Nah, kalau melalui Mallsampah.com, kita bisa memesan jasanya, asalkan sampah kita sudah terkumpul minimal 5 kilo gram dan sudah dipilah-pilah. Jangan sampai masih tercampur-baur, ya. Kalau sampah botol, yang dikumpulkan hingga 5 kilo gram ya sampah botol saja baru menghubungi Mall Sampah, sampah kertas pun demikian.

Kata Adi, di Makassar ada 5000 pengepul. Salah satunya yang diperkenalkan melalui slide presentasinya adalah Ibu Rukiah yang berpenghasilan 3 juta – 7 juta rupiah per bulannya. Nah, sejak bermitra dengan Mall Sampah, penghasilan Ibu Rukiah ini naik hingga 2 kali lipat. Jadi 6 – 14 juta rupiah per bulannya. Wow! Target Adi kemudian untuk pengepulnya adalah menaikkan penghasilannya hingga 2  - 3 kali lipat. Amazing, ya? Potensi penghasilan Ibu Rukiah bisa puluhan juta rupiah per bulan ternyata!

Ibu Rukiah, pengepul mapan. Sumber: mallsampah.com

Mau tahu, tak, mengapa penghasilan Ibu Rukiah bisa meningkat tajam setelah bergabung dengan Mall Sampah? Karena pemanfaatan waktunya menjadi jauh lebih efektif. Sebelumnya, waktu 6 – 8 jam bisa dihabiskan Ibu Rukiah dalam mencari sampah. Mencari ke sana ke mari, belum tentu mendapatkan “sampah yang berharga”. Belum lagi kalau harus dipilah-pilah sendiri. Pergi ke kompleks A, belum tentu terkumpul 3 kilo gram kertas misalnya, lalu dia ke kompleks B. Nah, setelah bergabung di Mallsampah.com, Ibu Rukiah jadi “wanita panggilan” saja dan terima duit. Bukan dalam artian negatif lho, ya. Maksudnya, setelah ada panggilan telepon barulah Ibu Rukiah pergi menjemput sampah, begitu. Bisa dari satu orderan ke orderan berikutnya. Mirip-mirip Go Jek atau Grab, lah yang orderannya berdatangan terus dari mereka yang butuh. 

Perkembangan Mall Sampah dan Macam-macam Layanannya


Lalu sekarang, ada berapa jumlah pengepul dan pemulung dalam sistem Mallsampah.com? Ada 100 orang! Pada awalnya, Adi kesulitan mendapatkan yang mau bergabung. Dia malah dicurigai. Sekarang sudah lumayan, seratus orang ini tersebar di seluruh wilayah Makassar. Jadi kalau mencari pengepul untuk menjual sampah atau pemulung untuk donasi sampah (memberikan sampah kita secara cuma-cuma kepada pemulung jika beratnya di bawah 5 kilo gram), sudah lebih mudahlah bagi warga Makassar untuk menemukannya. Kalau kita order maka yang mendatangi kita adalah pengepul/pemulung yang tinggalnya yang paling dekat dengan kita. Tuh, kan, seperti ojek online, ya?


Well, selain layanan beli sampah dan terima donasi sampah, Mall Sampah juga memiliki layanan-layanan lain, yaitu:
  • Produk Hijau, merupakan layanan daur ulang sampah dalam berbagai kategori.
  • Gerakan Hijau, terdiri atas 6 gerakan, yaitu Jumat Bebas Sampah, Zero Waste Event, Pantai Bebas Sampah, Program Bersih Kota, Ekspedisi Bersih Gunung, dan Penggalangan Dana Kampus. Hingga saat ini sudah ada 5 organisasi bekerja sama dengan Mall Sampah dalam gerakan ini.
  • Zero Waste, terdiri atas dua layanan berlangganan bulanan, yaitu kategori rumah dan kantor, untuk bekerja sama mendaur ulang sampah.
Walau belum terbuka kesempatan untuk bekerja sama dengan pemerintah kota, Adi masih berharap adanya kesempatan itu karena pemerintah berkuasa atas regulasi. Menurutnya, untuk memecahkan masalah dalam mengurai sampah, perlu ada produsen sampah dan regulasi dari pemerintah.




By the way, pemerintah punya program Bank Sampah dan macam-macam alat pengangkut sampah yang layanannya hingga ke dalam pelosok lorong. Lantas, di mana peran Mall Sampah? Nah, lihat dulu beda “peruntukannya”, ya. Kalau bank sampah itu mayoritas melayani mereka yang belum begitu melek digital. Sedangkan target Mall Sampah adalah mereka yang belum ter-cover, seperti kaum milenial dan ibu pekerja kantoran yang sibuk hingga tidak bisa antre bulanan di bank sampah terdekat. Ehm, saya juga cocok nih, Adi. Meski bukan ibu pekerja kantoran, saya ibu rumahan yang tidak bisa tiap bulan menarik sampah ke bank sampah terdekat yang letaknya di lorong depan sana. Selain itu, meski ada angkutan sampah, masih ada sampah-sampah yang bisa disisihkan lagi. Seperti di rumah kami misalnya, kadang-kadang bisa menyisihkan sampah kertas hingga berkilo-kilo gram dan pakaian bekas dalam kurun waktu sebulan. Eh tapi pakaian bekas masih belum bisa ditangani oleh Mall Sampah, moga-moga suatu hari nanti, ya.
Kalau GoJek dan Grab sudah menentukan tarif berdasarkan jarak maka
Mall Sampah sudah menentukan harga sampah berdasarkan jenisnya.

Mau tahu pencapaian social enterprise ini? Pencapaian mall sampah sejak agustus 2017 sekarang adalah telah mendaur ulang 15.000 kilo gram sampah memberdayakan 100 pengepul dan pemulung, dan menghasilkan uang ratusan juta rupiah. Users Mallsampah.com kini menjelang 1.000 dengan 20 – 50 transaksi harian. Target tahun ini adalah menangani 100.000 kilo gram sampah, mengumpulkan 1.000 pengepul dan pemulung, dan menghasilkan uang 1 miliar rupiah. Wow, semoga berhasil, termasuk dengan harapan untuk sustainable dan tidak tergantung pada donasi, anak muda!

Makassar, 23 februari 2018

Catatan:
Untuk mendapatkan layanan buat akun di  www.mallsampah.com/
Baca selengkapnya

Lakukan Sesuatu untuk Hentikan Gaya Menulis Cabul

Twit apresiasi kepada Hipwee segera saya layangkan usai membaca tulisan yang saya protes sudah berubah menjadi lebih baik. Sebelumnya, tulisan berjudul Meski Sudah Mengaku Salah, Pelecehan Seksual oleh Perawat pada Pasiennya Ini Nggak Bisa Diterima! saya protes di kolom komentar post tersebut dan di Twitter. Di Twitter saya mention akun Hipwee dan ditanggapi oleh puluhan orang.
Baca selengkapnya

Berkoordinasi Lintas Sektor untuk Mewujudkan Layanan Kesejahteraan Anak Integratif di Makassar dan Gowa

Tulisan ini dimuat di BaKTI News No. 135, Maret – April 2017. Tak lengkap rasanya bila tidak di-share juga ke blog ini.

Tak mudah bekerja bersama dengan beragam Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk satu tujuan karena alur pada masing-masing organisasi berbeda meskipun tujuannya sama. Selain itu ego sektoral menjadi hambatan yang harus ditiadakan, terlebih dalam mewujudkan layanan kesejahteraan anak yang integratif. Bayangkan bila tak ada koordinasi, masalah sosial yang terjadi pada anak-anak kita berlarut-larut karena terjadi saling lempar tanggung jawab.
Baca selengkapnya

Philanthropy Learning Forum on SDGs: Serba-Serbi Penerapan SDGs pada Filantropi

Masih ada penuturan menarik dari Pak Hamid Abidin terkait filantropi dan Filantropi Indonesia, sebelum tiga nara sumber lainnya mempresentasikan materi mereka. Materi ini baru dan menarik bagi saya. Oleh sebab itu saya menghadiri Philanthropy Learning Forum on SDGs: SDGs Sebagai Tools Peningkatan Kapasitas dan Pengembangan Kemitraan di Gedung BaKTI pada tanggal 19 September lalu. Mengenai apa itu filantropi, apa itu SDGs dan kaitan antara filantropi dan SDGs, Anda bisa membacanya di tulisan berjudul: Philanthropy Learning Forum on SDGs: Kaitan Antara Filantropi dan SDGs.

Baca selengkapnya

Philanthropy Learning Forum on SDGs: Kaitan Antara Filantropi dan SDGs

Saya membaca secara cepat undangan dan TOR (Term of Reference) yang masuk ke e-mail dari BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia). Tajuk acara yang dihelat tanggal 19 September itu adalah Philanthropy Learning Forum on SDGs: SDGs Sebagai Tools Peningkatan Kapasitas dan Pengembangan Kemitraan. Wah menarik, ini tentang sebuah platform untuk para pegiat kegiatan kemanusiaan. Maka tanpa ragu, saya mendaftarkan diri untuk mengikuti acara ini. Rasa ingin tahu saya sedemikian besar. Nah, inilah hasil yang saya "peroleh" saat itu ...
Baca selengkapnya

SHOWCASE: Ide dan Inspirasi dari Pasikola, Genoil, dan Film

PASIKOLA – angkutan umum untuk anak sekolah di Makassar, sudah beberapa bulan terakhir ini membuat saya penasaran. Saya sering melihat 1 unit Pasikola di persimpangan jalan Veteran Selatan – jalan Sultan Alauddin. Di Showcase, saya mendapatkan jawaban atas rasa penasaran saya. Selain Pasikola, ada dua topik lain yang memikat. Yaitu tentang bagaimana minyak goreng bekas dan seni bisa berpengaruh di masa depan.
Baca selengkapnya

SHOWCASE: Ide dan Inspirasi dari Sebuah Utopia dan Rumput Laut

Saya menjadi bersemangat menghadiri SHOWCASE saat mencari tahu tentangnya dan menemukan keterangan bahwa format acara ini terinspirasi oleh TED – sebuah diskusi global yang mengangkat ide-ide seputar teknologi, entertainment, dan desain – ketiga subyektif yang secara kolektif membentuk masa depan kita.
Baca selengkapnya

Meningkatkan Kapasitas Pekerja Sosial untuk Layanan Kesejahteraan Anak Integratif (2)

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan berjudul Meningkatkan Kapasitas Pekerja Sosial untuk Layanan Kesejahteraan Anak Integratif. Dimuat di BaKTI News No. 134, Februari - Maret 2017

Akbar Halim menyampaikan hasil sebuah survei yang menyatakan bahwa tempat-tempat yang paling tidak aman bagi anak adalah sekolah dan tempat ibadah. Hal yang mengejutkan. Untuk mengingatkan kembali pasal-pasal yang perlu digarisbawahi oleh para pekerja sosial, Akbar Halim memaparkannya kembali. Dia mengingatkan kembali bahwa pekerja sosial harus kuat dari sudut asesmen.

Baca selengkapnya

Meningkatkan Kapasitas Pekerja Sosial untuk Layanan Kesejahteraan Anak Integratif

Tulisan ini dimuat di BaKTI News No. 133, Januari - Februari 2017

Menebak tangis bayi pada orang tua baru adalah teka-teki. Apakah sang bayi menangis karena lapar/haus, karena buang air, atau karena merasa tidak nyaman. Kalau tidak nyaman pun perlu diidentifikasi lagi, apakah tidak nyaman karena sakit, ingin buang air tetapi tidak bisa keluar, ataukah ada gigitan serangga. Bagaimana kalau salah menebak? Pasti akan salah penanganan!
Baca selengkapnya