Showing posts with label BaKTI. Show all posts
Showing posts with label BaKTI. Show all posts

Mall Sampah: Solusi Masalah Sampah Jaman Now

Mall Sampah, inilah solusi masalah Sampah Jaman Now! - Saya teringat pada konsep bank sampah Pelita Harapan yang pernah saya lihat di Jalan Pelita. Sempat terpikir untuk jadi nasabahnya namun tidak terlaksana. Waktu itu saya berpikir, bagaimana bisa saya ke sana sekali sebulan dan antre selama berjam-jam untuk dilayani? Karena begitulah keadaannya di bank sampah tersebut, banyak nasabah yang rela antre berjam-jam hingga mendapatkan layanan dari petugas. Para petugas tak dapat dituntut karena mereka sama sekali tak ada yang menggaji. Mereka bekerja secara sukarela untuk kemaslahatan warga RW setempat.


Suatu kebetulan, saya berada di sana pas saat loket bank sampah hendak buka. Berbondong-bondong warga membawa sampah mereka ke lokasi lalu berbaris rapi di sana. Mulai dari anak-anak hingga orang tua, masing-masing memegang buku tabungan sembari menunggu gilirannya. Ingin juga seperti itu, bisa menguangkan sampah sendiri. Namun apa daya, belum ketemu solusi yang mudah bagi saya tersebab satu dan lain hal – rutinitas yang ada membuat saya kesulitan antre di bank sampah.

Mall Sampah, Sebuah Solusi


Rupanya, solusinya baru muncul sekarang. Di awal tahun ini, Mall Sampah (www.mallsampah.com) – konsep yang saya maksud mengemuka. Saya menghadiri talkshow bertajuk Mallsampah – Layanan Pengelolaan Sampah Online yang menampilkan Adi Saifullah Putra (Founder dan CEO Mallsampah) sebagai nara sumbernya di gedung BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia). Acara yang bergairah karena menampilkan nara sumber yang bersemangat dan moderator Luna Vidya yang tak kalah bersemangatnya ini berlangsung pada tanggal Jumat, 9 Februari 2018 pukul 15.00 -17.30.

Hiburan dari Ruang Baca

Beberapa penghargaan yang diterima Mall Sampah

Menarik sejak awal penuturan, itulah kesan yang langsung saya tangkap dari Adi – lulusan Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia yang pernah menjadi aktivis mahasiswa ini. Dia mengatakan bahwa hanya 10% sampah di Indonesia bisa didaur ulang. Visi Mall Sampah adalah dalam 10 tahun ke depan 20 – 30 persen sampah bisa didaur ulang dan nilainya mencapai 2 – 3 kali nilai total saat ini melalui konsep memberdayakan pengepul dan pemulung.

Menurut Adi, kunci dari daur ulang sampah di Indonesia adalah pengepul. Maka agar sampah yang bisa didaur ulang meningkat, mereka harus diberdayakan dan diperbanyak (termasuk pemulungnya) – moga-moga saya tidak salah tangkap dari penjelasan Adi.

“Ketimpangannya, pemerintah belum pahami kalau para pengepul ini berperan penting,” ucap Adi. For your information, ya, pengepul itu yang mengumpulkan sampah dari pemulung atau orang yang bisa membeli sampah kita. Beberapa dari mereka punya kendaraan sendiri untuk mengangkut sampat dalam jumlah yang agak besar. Ada yang biasa masuk hingga ke dalam gang, seperti yang biasa masuk ke daerah tempat tinggal saya dan mengumpulkan sampah dari warga. Warga menjual sampahnya dengan harga yang ditentukan pengepul.

Adi Saifullah Putra
Luna Vidya dan Adi Saifullah Putra

Nah, bedanya, kami tidak tahu kapan si pengepul datang. Tahu-tahu saja dia nongol tapi ketika dinanti-nanti eh dia tak muncul-muncul. Nah, kalau melalui Mallsampah.com, kita bisa memesan jasanya, asalkan sampah kita sudah terkumpul minimal 5 kilo gram dan sudah dipilah-pilah. Jangan sampai masih tercampur-baur, ya. Kalau sampah botol, yang dikumpulkan hingga 5 kilo gram ya sampah botol saja baru menghubungi Mall Sampah, sampah kertas pun demikian.

Kata Adi, di Makassar ada 5000 pengepul. Salah satunya yang diperkenalkan melalui slide presentasinya adalah Ibu Rukiah yang berpenghasilan 3 juta – 7 juta rupiah per bulannya. Nah, sejak bermitra dengan Mall Sampah, penghasilan Ibu Rukiah ini naik hingga 2 kali lipat. Jadi 6 – 14 juta rupiah per bulannya. Wow! Target Adi kemudian untuk pengepulnya adalah menaikkan penghasilannya hingga 2  - 3 kali lipat. Amazing, ya? Potensi penghasilan Ibu Rukiah bisa puluhan juta rupiah per bulan ternyata!

Ibu Rukiah, pengepul mapan. Sumber: mallsampah.com

Mau tahu, tak, mengapa penghasilan Ibu Rukiah bisa meningkat tajam setelah bergabung dengan Mall Sampah? Karena pemanfaatan waktunya menjadi jauh lebih efektif. Sebelumnya, waktu 6 – 8 jam bisa dihabiskan Ibu Rukiah dalam mencari sampah. Mencari ke sana ke mari, belum tentu mendapatkan “sampah yang berharga”. Belum lagi kalau harus dipilah-pilah sendiri. Pergi ke kompleks A, belum tentu terkumpul 3 kilo gram kertas misalnya, lalu dia ke kompleks B. Nah, setelah bergabung di Mallsampah.com, Ibu Rukiah jadi “wanita panggilan” saja dan terima duit. Bukan dalam artian negatif lho, ya. Maksudnya, setelah ada panggilan telepon barulah Ibu Rukiah pergi menjemput sampah, begitu. Bisa dari satu orderan ke orderan berikutnya. Mirip-mirip Go Jek atau Grab, lah yang orderannya berdatangan terus dari mereka yang butuh. 

Perkembangan Mall Sampah dan Macam-macam Layanannya


Lalu sekarang, ada berapa jumlah pengepul dan pemulung dalam sistem Mallsampah.com? Ada 100 orang! Pada awalnya, Adi kesulitan mendapatkan yang mau bergabung. Dia malah dicurigai. Sekarang sudah lumayan, seratus orang ini tersebar di seluruh wilayah Makassar. Jadi kalau mencari pengepul untuk menjual sampah atau pemulung untuk donasi sampah (memberikan sampah kita secara cuma-cuma kepada pemulung jika beratnya di bawah 5 kilo gram), sudah lebih mudahlah bagi warga Makassar untuk menemukannya. Kalau kita order maka yang mendatangi kita adalah pengepul/pemulung yang tinggalnya yang paling dekat dengan kita. Tuh, kan, seperti ojek online, ya?


Well, selain layanan beli sampah dan terima donasi sampah, Mall Sampah juga memiliki layanan-layanan lain, yaitu:
  • Produk Hijau, merupakan layanan daur ulang sampah dalam berbagai kategori.
  • Gerakan Hijau, terdiri atas 6 gerakan, yaitu Jumat Bebas Sampah, Zero Waste Event, Pantai Bebas Sampah, Program Bersih Kota, Ekspedisi Bersih Gunung, dan Penggalangan Dana Kampus. Hingga saat ini sudah ada 5 organisasi bekerja sama dengan Mall Sampah dalam gerakan ini.
  • Zero Waste, terdiri atas dua layanan berlangganan bulanan, yaitu kategori rumah dan kantor, untuk bekerja sama mendaur ulang sampah.
Walau belum terbuka kesempatan untuk bekerja sama dengan pemerintah kota, Adi masih berharap adanya kesempatan itu karena pemerintah berkuasa atas regulasi. Menurutnya, untuk memecahkan masalah dalam mengurai sampah, perlu ada produsen sampah dan regulasi dari pemerintah.




By the way, pemerintah punya program Bank Sampah dan macam-macam alat pengangkut sampah yang layanannya hingga ke dalam pelosok lorong. Lantas, di mana peran Mall Sampah? Nah, lihat dulu beda “peruntukannya”, ya. Kalau bank sampah itu mayoritas melayani mereka yang belum begitu melek digital. Sedangkan target Mall Sampah adalah mereka yang belum ter-cover, seperti kaum milenial dan ibu pekerja kantoran yang sibuk hingga tidak bisa antre bulanan di bank sampah terdekat. Ehm, saya juga cocok nih, Adi. Meski bukan ibu pekerja kantoran, saya ibu rumahan yang tidak bisa tiap bulan menarik sampah ke bank sampah terdekat yang letaknya di lorong depan sana. Selain itu, meski ada angkutan sampah, masih ada sampah-sampah yang bisa disisihkan lagi. Seperti di rumah kami misalnya, kadang-kadang bisa menyisihkan sampah kertas hingga berkilo-kilo gram dan pakaian bekas dalam kurun waktu sebulan. Eh tapi pakaian bekas masih belum bisa ditangani oleh Mall Sampah, moga-moga suatu hari nanti, ya.
Kalau GoJek dan Grab sudah menentukan tarif berdasarkan jarak maka
Mall Sampah sudah menentukan harga sampah berdasarkan jenisnya.

Mau tahu pencapaian social enterprise ini? Pencapaian mall sampah sejak agustus 2017 sekarang adalah telah mendaur ulang 15.000 kilo gram sampah memberdayakan 100 pengepul dan pemulung, dan menghasilkan uang ratusan juta rupiah. Users Mallsampah.com kini menjelang 1.000 dengan 20 – 50 transaksi harian. Target tahun ini adalah menangani 100.000 kilo gram sampah, mengumpulkan 1.000 pengepul dan pemulung, dan menghasilkan uang 1 miliar rupiah. Wow, semoga berhasil, termasuk dengan harapan untuk sustainable dan tidak tergantung pada donasi, anak muda!

Makassar, 23 februari 2018

Catatan:
Untuk mendapatkan layanan buat akun di  www.mallsampah.com/
Baca selengkapnya

Lakukan Sesuatu untuk Hentikan Gaya Menulis Cabul

Twit apresiasi kepada Hipwee segera saya layangkan usai membaca tulisan yang saya protes sudah berubah menjadi lebih baik. Sebelumnya, tulisan berjudul Meski Sudah Mengaku Salah, Pelecehan Seksual oleh Perawat pada Pasiennya Ini Nggak Bisa Diterima! saya protes di kolom komentar post tersebut dan di Twitter. Di Twitter saya mention akun Hipwee dan ditanggapi oleh puluhan orang.
Baca selengkapnya

Berkoordinasi Lintas Sektor untuk Mewujudkan Layanan Kesejahteraan Anak Integratif di Makassar dan Gowa

Tulisan ini dimuat di BaKTI News No. 135, Maret – April 2017. Tak lengkap rasanya bila tidak di-share juga ke blog ini.

Tak mudah bekerja bersama dengan beragam Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk satu tujuan karena alur pada masing-masing organisasi berbeda meskipun tujuannya sama. Selain itu ego sektoral menjadi hambatan yang harus ditiadakan, terlebih dalam mewujudkan layanan kesejahteraan anak yang integratif. Bayangkan bila tak ada koordinasi, masalah sosial yang terjadi pada anak-anak kita berlarut-larut karena terjadi saling lempar tanggung jawab.
Baca selengkapnya

Philanthropy Learning Forum on SDGs: Serba-Serbi Penerapan SDGs pada Filantropi

Masih ada penuturan menarik dari Pak Hamid Abidin terkait filantropi dan Filantropi Indonesia, sebelum tiga nara sumber lainnya mempresentasikan materi mereka. Materi ini baru dan menarik bagi saya. Oleh sebab itu saya menghadiri Philanthropy Learning Forum on SDGs: SDGs Sebagai Tools Peningkatan Kapasitas dan Pengembangan Kemitraan di Gedung BaKTI pada tanggal 19 September lalu. Mengenai apa itu filantropi, apa itu SDGs dan kaitan antara filantropi dan SDGs, Anda bisa membacanya di tulisan berjudul: Philanthropy Learning Forum on SDGs: Kaitan Antara Filantropi dan SDGs.

Baca selengkapnya

Philanthropy Learning Forum on SDGs: Kaitan Antara Filantropi dan SDGs

Saya membaca secara cepat undangan dan TOR (Term of Reference) yang masuk ke e-mail dari BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia). Tajuk acara yang dihelat tanggal 19 September itu adalah Philanthropy Learning Forum on SDGs: SDGs Sebagai Tools Peningkatan Kapasitas dan Pengembangan Kemitraan. Wah menarik, ini tentang sebuah platform untuk para pegiat kegiatan kemanusiaan. Maka tanpa ragu, saya mendaftarkan diri untuk mengikuti acara ini. Rasa ingin tahu saya sedemikian besar. Nah, inilah hasil yang saya "peroleh" saat itu ...
Baca selengkapnya

SHOWCASE: Ide dan Inspirasi dari Pasikola, Genoil, dan Film

PASIKOLA – angkutan umum untuk anak sekolah di Makassar, sudah beberapa bulan terakhir ini membuat saya penasaran. Saya sering melihat 1 unit Pasikola di persimpangan jalan Veteran Selatan – jalan Sultan Alauddin. Di Showcase, saya mendapatkan jawaban atas rasa penasaran saya. Selain Pasikola, ada dua topik lain yang memikat. Yaitu tentang bagaimana minyak goreng bekas dan seni bisa berpengaruh di masa depan.
Baca selengkapnya

SHOWCASE: Ide dan Inspirasi dari Sebuah Utopia dan Rumput Laut

Saya menjadi bersemangat menghadiri SHOWCASE saat mencari tahu tentangnya dan menemukan keterangan bahwa format acara ini terinspirasi oleh TED – sebuah diskusi global yang mengangkat ide-ide seputar teknologi, entertainment, dan desain – ketiga subyektif yang secara kolektif membentuk masa depan kita.
Baca selengkapnya

Meningkatkan Kapasitas Pekerja Sosial untuk Layanan Kesejahteraan Anak Integratif (2)

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan berjudul Meningkatkan Kapasitas Pekerja Sosial untuk Layanan Kesejahteraan Anak Integratif. Dimuat di BaKTI News No. 134, Februari - Maret 2017

Akbar Halim menyampaikan hasil sebuah survei yang menyatakan bahwa tempat-tempat yang paling tidak aman bagi anak adalah sekolah dan tempat ibadah. Hal yang mengejutkan. Untuk mengingatkan kembali pasal-pasal yang perlu digarisbawahi oleh para pekerja sosial, Akbar Halim memaparkannya kembali. Dia mengingatkan kembali bahwa pekerja sosial harus kuat dari sudut asesmen.

Baca selengkapnya

Meningkatkan Kapasitas Pekerja Sosial untuk Layanan Kesejahteraan Anak Integratif

Tulisan ini dimuat di BaKTI News No. 133, Januari - Februari 2017

Menebak tangis bayi pada orang tua baru adalah teka-teki. Apakah sang bayi menangis karena lapar/haus, karena buang air, atau karena merasa tidak nyaman. Kalau tidak nyaman pun perlu diidentifikasi lagi, apakah tidak nyaman karena sakit, ingin buang air tetapi tidak bisa keluar, ataukah ada gigitan serangga. Bagaimana kalau salah menebak? Pasti akan salah penanganan!
Baca selengkapnya

Semua Anak Makassar Berhak Punya Akta Kelahiran

Usai menghadiri Pertemuan Koordinasi dan Pengumpulan Data Pencatatan Kelahiran Bagi Anak-Anak Rentan di Kota Makassar, saya membuat tulisan yang dimuat di BaKTI News No. 130 (Oktober – November 2016).
Baca selengkapnya

Menuju Advokasi Peliputan dan Penulisan Isu Perempuan dan Anak

Diskusi Media Soal Anak dan Perempuan yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar pada tanggal 31 Desember lalu itu merupakan langkah advokasi peliputan dan penulisan isu perempuan dan anak. Diskusi kali ini merupakan diskusi keempat. Saya hadir pada diskusi pertama namun berhalangan datang pada diskusi kedua dan ketiga. Harapannya, setelah diskusi keempat ini akan lahir buku saku atau buku panduan dalam peliputan dan penulisan isu perempuan dan anak.
Baca selengkapnya

Menuju Layanan Kesejahteraan Anak yang Holistik dan Komprehensif

Dimuat di BaKTI News No. 129 September - Oktober 2016

Masih ingat kasus seorang oknum dosen di Cibubur, bersama istrinya menelantarkan kelima anaknya pada tahun 2015 lalu? Sepasang suami istri itu akhirnya dijerat dengan pasal 76 (b) dan pasal 77 (b) Undang-Undang 35/2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman lima tahun penjara. Mau tahu yang lebih ekstrem lagi? Ada orang tua yang menjadikan anak perempuannya sebagai pekerja seks komersial! Sebagian dari kita pasti merasa aneh dan ingin merutuki yang demikian. Karena sudah seharusnyalah orang tua sendiri yang paling berperan melindungi anak, bukan menelantarkan atau menjualnya. Namun, begitulah kenyataannya. Hal-hal yang ekstrem itu bisa saja terjadi. Bahkan profesi dan pendidikan akhir pelaku yang sangat terhormat di tengah masyarakat sekali pun tidak mampu menghalanginya dari perbuatan tercela.
Baca selengkapnya

Mini Workshop MC: Mari Kembalikan Harga Diri

Mengapa saya bela-belai ikut Mini Workshop: Master of Ceremony dengan Kak Luna Vidya sebagai nara sumbernya, yang berlangsung di BaKTI pada Jumat 23 September kemarin? Alasannya adalah karena saya terkesan dengan kemampuan Kak Luna setiap menjadi MC ataupun moderator pada sebuah acara. Menurut saya, Kak Luna punya karakter kuat yang khas. Salah satunya, kalau kebanyakan MC suka berlogat Jakarta, Kak Luna tampil apa adanya, dengan logat khas Makassar dan sesekali dengan logat Ambonnya.
Baca selengkapnya

Pemuda-Pemuda Aktif dan Kreatif dalam Isu Bonus Demografi

Tulisan ini merupakan tulisan ke-17, catatan saya selama mengikuti Festival Forum KTI tanggal 17 – 18 November lalu.

Seorang kawan sudah hadir di cafe lantai 20 Hotel Aston. Katanya, acara Side Event, Peran Pemuda dalam Pembangunan akan segera dimulai. Waktu sore itu menunjukkan pukul 4 lewat. Mengira acara di panggung utama sudah selesai karena sesi Curah Ide sudah hampir selesai, saya pun bergegas ke lantai 17 untuk shalat ashar di mushala hotel, kemudian menuju lantai 20.
Baca selengkapnya

Seni dan Budaya, Adalah Kita

Tulisan ini merupakan tulisan ke-16, catatan saya selama mengikuti Festival Forum KTI tanggal 17 – 18 November lalu.

Setelah beberapa kali mengikuti acara yang diselenggarakan oleh BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia), saya menyadari kalau BaKTI memberikan perhatian besar pada seni dan budaya, terutama yang berasal dari Kawasan Timur Indonesia.

Pada event Festival Forum Kawasan Timur Indonesia VII tanggal 17 – 18 November lalu, para peserta disuguhi pertunjukan seni, baik gerak (tari), musik modern, musik tradisional, fotografi, graphic record, dan seni yang tampak dari dekorasi tangga penghubung antara lantai 17 dan lantai 18 Hotel Aston.
Baca selengkapnya

Ketika Satu Sama Lain Saling Melengkapi dalam Keragaman

Katakanlah saya lebay, biarlah. Tak mengapa. Tapi saya merasakan hal yang agak aneh. Semacam rasa rindu. Ketika baru sekira 12 jam berlalu, saya merindukan merasakan keragaman seperti itu. Ketika kami semua saling melengkapi ... Tulisan ini merupakan tulisan ke-15, catatan saya selama mengikuti Festival Forum KTI tanggal 17 – 18 November lalu.

Memasuki sesi Curah Ide pada hari kedua Festival Forum KTI VII, tiba-tiba saja saya nge-blank. Saya merasa tak bisa mengikuti tema-tema diskusi yang disampaikan oleh Kak Luna Vidya, sang MC. Lima lajur meja-kursi mendapat tema yang berbeda-beda untuk didiskusikan.

“Apa tema diskusi kita, Kak?” tanya Kurniawan yang duduk semeja dengan saya.

“Eh ... oh ... ehm ... apa yah?” saya malah balik bertanya.
Baca selengkapnya

Inspirasi dari Poogalampa dan Honihama

Tulisan ini merupakan tulisan ke-14, catatan saya selama mengikuti Festival Forum KTI tanggal 17 – 18 November lalu. Silakan baca tulisan-tulisan saya yang lainnya: Graphic Recorder, Profesi Kreatif Keren Abad Ini, KTI, Masa Depan Indonesia, Pengelolaan Air dan Penanggulangan Bencana di Kaki RinjaniInspirasi dari Timur: Rumah Tunggu Penyelamat dan Wisata EksotisInspirasi dari Penjaga Laut Tomia, Gerakan Gebrak Malaria dan Pejuang Legislasi Malaria dari Halmahera Selatan, Tendangan Kemanusiaan Andy F. Noya, Para Pahlawan yang Bekerja dalam Sunyi, Sekolah Kapal Kalabia Membentuk Agen Perubahan di Raja Ampat, Inspirasi dari Polisi-Polisi Plus, Pejuang-Pejuang Kesejahteraan yang Tak Kenal Lelah, dan Anggaran Kesehatan yang Cerdas dan Pas untuk Semua di Sulawesi Utara.

Pernah dengar nama-nama daerah itu? Belum? Sama, saya juga belum pernah mendengarnya sampai orang-orang hebat dari daerah-daerah itu tampil di panggung inspirasi Festival Forum KTI, menceritakan hal-hal inspiratifnya ...
Baca selengkapnya