Festival Forum KTI: Merajut Optimisme dari Timur



Sudah 2 tulisan saya buat tentang Festival Forum Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang diselenggarakan oleh BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia). Festival ini berlangsung pada tanggal 24 – 25 Oktober lalu di Hotel Four Points by Sheraton dan dipadati pengunjung.



Bukan Hanya Noken dari Tolikara


Kesibukan membuat saya baru bisa menuliskan bagian ketiganya. Yang saya tuliskan di sini berlangsung di hari kedua. Dibuka dengan presentasi Laporan dari Garis Depan dari Ester Wanimbo dari Karubaga, Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua. Ester adalah potret perempuan yang gigih berkontribusi terhadap pendidikan perempuan Papua dalam hal kemampuan baca – tulis – berhitung dan membuat kerajinan tangan noken dari bahan kulit kayu.



Mengaku awalnya lama baru bisa membaca,
Ester kemudian mampu menyelesaikan S1-nya di Manado.
Dia ingin perempuan Papua juga maju melalui noken
sehingga bisa bermanfaat secara ekonomi.
Noken dari kulit kayu susah dibuat. Dia menyadari
potensi noken ini bagi kemajuan warganya.

Di atas panggung Ester mengenakan pakaian dari noken kulit kayu. Selain memperlihatkan di presentasi pada layar di belakangnya, Ester juga membawa aneka kerajinan noken bersamanya. Bukan hanya menjadi tas dan baju, Ester juga memperlihatkan pakaian dalam, ikat pinggang, dan rompi yang terbuat dari noken.



Noken ini amat kuat. Bisa digunakan untuk membawa hasil bumi seperti ubi kayu hingga menggendong anak. Bisa pula dibuat warna-warni. Menurutnya perempuan Papua punya potensi dan, “Kami butuh orang-orang seperti Bapak dan Ibu untuk meneruskan pembangunan di Papua!”

Pengelola Sampah Online dari Makassar


Penampil berikutnya adalah anak muda dari Makassar. Namanya Adi Saifullah Putra. Dia adalah inisiator MallSampah (www.mallsampah.com), platform pengelola sampah online pertama di Indonesia. Adi membawakan presentasi berjudul MallSampah – Layanan Pengelolaan Sampah Online. Baca tulisan saya tentang Mall Sampah di: Mall Sampah: Solusi Masalah Sampah Jaman Now.

Adi bersama seorang temannya merintis social enterprise ini.
Pada tahun 2015 MallSampah menjadi finalis
Teras Usaha Mahasiswa Nasional. Lantas pada tahun 2017
mendapatkan penghargaan di ASEAN Rice Bowl Startup Award
yang diadakan di Malaysia untuk kategori
Most Social Impact Startup. Saat itulah, melalui Instagram
pertama kalinya saya mengetahui tentang MallSampah ini.

Salah satu fokus Mall Sampah adalah bagaimana meningkatkan angka daur ulang sampah sehingga selanjutnya bisa memberikan nilai kepada pengepul. Harapannya pada tahun 2027 angka daur ulang bisa ditingkatkan sebesar 10 – 40%.


Adi bercerita tentang Dg. Tawang, salah satu pemulung yang bekerja sama dengan Mall Sampah. Dahulu Dg. Tawang berkeliling di kota Makassar selama 6 – 8 jam untuk mencari titik-titik sampah.Kini dia tak perlu berkeliling lagi. Cukup menunggu orderan saja dari website atau aplikasi. Kini pemasukan Dg. Tawang mencapai 2 – 3 kali lipat dari sebelumnya.

PANADA yang Bukan Kue


Presentasi berikutnya masih berkaitan praktik cerdas menggunakan teknologi informasi. Berjudul PANADA – Portal Analisis Data di Kota Manado. Mengapa ada PANADA? Bermula dari saat terpilihnya Vicky Lumentut dan Mor Dominus Bastiaan sebagai walikota dan wakil walikota Manado pada tahun 2016 lalu.

Saat itu tingkat penyerapan pajak – khususnya Pajak Bumi dan Bangunan sangatlah rendah. Sistem penagihannya belum tertata baik. Banyak data yang tidak sesuai. Perpindahan wajib pajak belum terdata. Hal tersebut mendorong pemerintah kota menggunakan teknologi sebagai solusi.



Modal awal yang dipakai oleh pemerintah kota adalah peta dasar. Tahap pertama dilatih 504 kepala lingkungan untuk bisa baca citra satelit beresolusi tinggi. Yang mengajarkan adalah staf big data. Para peserta juga diajar untuk mengisi form data lingkungannya.

Kepala lingkungan secara door to door mengisi dan mengumpulkan data di tingkat kelurahan. Lurah diberi HP yang sudah diisi aplikasi survey. Hasil yang diperoleh para kepala lingkungan di-input oleh 87 lurah melalui aplikasi di smart phone-nya. Pemerintah Kota Manado melibatkan masyarakat dan dunia pendidikan dalam hal ini tanpa melibatan konsultan.


Diskusi di Curah Ide


Selanjutnya adalah sesi Curah Ide. Hadirin dibagi menjadi beberapa kelompok dan diminta untuk berdiskusi mengenai topik LOKALITAS. Hasil diskusi dituliskan dan dijadikan pengingat mengenai komitmen yang dihasilkan.



Saya sekelompok dengan 5 orang ibu. Yang satu merupakan seorang pejabat dari Gorontalo, yang satu dari Bappeda Makassar, dan yang tiga orang lagi dari instansi pemerintah di Toraja. Saya mengamati ada perbedaan persepsi di antara kami tetapi karena pada dasarnya semua ingin damai dan sama-sama ingin baik.

Pasikola – Penggunanya Menjadi Makin Baik


Usai istirahat siang, Masyur Rahim tampil mempresentasikan PASIKOLA – Masa Depan Transportasi Publik Makassar.

Mansyur memaparkan keberhasilan Pasikola hingga saat ini. Yaitu anak-anak bangun lebih pagi untuk bersekolah dan pengemudi makin terlatih. Baru-baru ini di Taiwan, Pasikola menyabet juara 1 Smart Mobility Transportation untuk kategori Smart Solution for Public Transportation.



Tantangan awal dari Pasikola adalah memberdayakan pete-pete – angkutan kota di Makassar yang jumlahnya sudah mencapai 4000. Atas dasar pemikiran bahwa alih fungsi pete-pete menjadi kendaraan antar-jemput, akan mengurangi kendaraan pribadi di jalanan. Memang sih, pada jam-jam tertentu di sekitar sekolah-sekolah di Makassar terjadi kemacetan.

Tim Pasikola turun mengobservasi warga, menanyakan transportasi publik seperti apa yang mereka harapkan. Salah satu masukan yang diperoleh adalah agar sopir tidak ugal-ugalan di jalan. Oleh karenanya pengemudi Pasikola dilatih langsung oleh orang-orang dari Dinas Perhubungan.

Langkah selanjutnya adalah memodifikasi mobil (pete-pete).
Cat dan dekorasi body-nya dibuat semenyenangkan
mungkin bagi anak-anak. Mobil itu diperlengkapi dengan
perpustakaan mini, tempat sampah, dan kotak P3K.
Sopir mengantar dan menjemput siswa dari rumahnya
ke sekolah, kembali ke rumah lagi. Orang tua si anak terhubung
dengan sistem Pasikola melalui smart phone.

KTI: Bukan “Aku, ”


Arie Kriting – komedian berkulit gelap, berambut keriting menjadi penampil selanjunya. Guyonannya yang cerdas dan menyentil membuat hadirin tertawa berkali-kali. Arie menyindir orang-orang Indonesia timur yang ketika ke daerah barat mencoba menyembunyikan identitas mereka dan mencoba berbicara seperti cara berbicara orang-orang di Indonesia barat.

Contohnya adalah orang Sulawesi yang ke Jakarta
dan mengganti cara berbicaranya dengan gaya “aku-kamu”
padahal sehari-harinya tak seperti itu. Entah mengapa
mereka seolah takut berbeda sehingga mau-maunya
meninggalkan identitasnya padahal
keberagaman tidak menistakan perbedaan.

Menurut Arie, penting bagi kita untuk menggali kembali sejarah peradaban. Karena tidak banyak buku sejarah dalam kurikulum resmi kita yang berbicara mengenai sejarah orang timur.

Jalur komedi dipilih Arie karena komedi mampu meredakan ketegangan tanpa masalah. Di televisi dia punya acara Waktu Indonesia Timur yang mengeksplorasi Indonesia timur secara komedi bersama beberapa stand up comedian asal Indonesia timur.


Sayang sekali saya harus meninggalkan Four Points usai Arie Kriting membawakan sesinya karena harus menjalani tugas meliput. Masih ada satu praktik cerdas yang saya lewatkan, yaitu Lakoat Kujawas: Dari Pendidikan Karakter ke Kewirausahaan Sosial.

Padahal menarik pembahasan pada bagian ini karena menampilkan penggerak sebuah komunitas Lakoat Kujawas yang tak lelah mengembangkan anak-anak di Kecamatan Mollo Utara – tepatnya di Desa Taiftob. Di sini, inisiatornya – Dicky mengajar anak-anak kampung untuk gemar membaca dan berwirausaha sosial melalui tenunan, anyaman, dan membuat sambal lu’at khas Timor. Sambal lu’at ini tahan lama, hingga pekanan.

***


Selalu saja ada cerita menarik dari Festival Forum KTI. Semoga ada umur panjang bisa berjumpa dengan Festival Forum Kawasan Timur Indonesia yang berikutnya.

Makassar, 2 Desember 2018

Baca juga tulisan sebelumnya:


Dan beberapa tulisan saya terkait Festival FKTI tahun 2015:




Share :

4 Komentar di "Festival Forum KTI: Merajut Optimisme dari Timur"

  1. Saya concern sama kerajinan noken yang dipresentasikan perempuan Papua ini. Di Jawa, saya belum pernah lihat tas noken dibawa-bawa ke mana-mana oleh orang biasa secara casual. Apakah mungkin harga jualnya mahal? Yang lebih membuat saya penasaran, apakah tas noken ini kuat digunakan? Orang macam apa yang mau bawa tas noken, casualkah atau gaya elegankah? Itu yang sebaiknya dipikirkan para pengrajin noken untuk memasarkan barang produksinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harga jualnya mahal, Mbak. Untuk yang terbuat dari benang saja yang kecil bisa 250000 rupiah. Jauh lebih mahal lagi yang dari bahan kulit kayu. Nah, ini harus dipikirkan juga ya soal harga ini.

      Yang dari kulit kayu konon kuat karena bisa dipakai gendong bayi/batita dan membawa hasil bumi (seperti ubi kayu) - menurut penuturan Ester.

      Nah, betul mungkin dalam pemilihan warna bisa lebih disesuaikan dengan gaya anak muda masa kini atau gaya orang kota masa kini.

      Kalau di rumah kami ada satu noken berbahan benang yang berwarna paduan oranye-kuning-hijau. Putri saya (12 tahun) senang membawanya, tantenya yang tinggal di Papua memberinya. Casual sih kelihatannya kalau dia yang bawa, Mbak.

      Delete
  2. Wilayah Indonesia Timur memiliki sumber daya alam maupun budaya yang bisa menjadi salah satu sumber potensi untuk dikembangkan, hanya saja selama ini sepertinya mereka jarang tersentuh sehingga apa yang dihasilkan belum memberikan dampak maksimal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya ada Festival Forum KTI ini, bisa sekaligus mempromosikannya, ya Bang. Saya juga bisa sedikit membantu dengan menuliskannya di blog ini.

      Delete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^