Festival Forum KTI: Smart dalam Reses Hingga Minyak Jelantah

Masih cerita dari hari pertama Festival Forum Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang diselenggarakan oleh BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia) di hari pertama, 24 Oktober 2018. Usai rehat siang, giliran inspirator Forum KTI yang bercerita soal Reses Partisipatif: Narasi Rakyat di Legislatif. Nara sumbernya adalah Ketua DPRD Kabupaten Maros dan Kelompok konstituen Parepare.


Nurjannah, seorang ketua RW (wakil dari Kelompok Konstituen) di Parepare menceritakan keuntungan dari Reses Partisipatif yang dirasakannya, yaitu:
  • Bisa berkunjung ke kantor DPRD untuk menyampaikan masalah secara langsung.
  • Bisa menyampaikan secara langsung masalah-masalah khas terkait ibu dan anak, seperti: masalah ibu hamil, JKN, gizi bayi dan balita, dan kekerasan terhadap perempuan.
  • Merasa lebih dekat dengan anggota DPRD.
  • Menghasilkan Peraturan Daerah tentang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak berkat reses partisipatif.
Chaidir Syam – Ketua DPRD Maros menyampaikan bahwa melalui reses yang diwajibkan 3 kali setahun, dahulu jika reses anggota DPRD hanya datang, memberi ceramah, makan-makan, dan dapat uang transportasi. Namun setelah mendapatkan penguatan kapasitas perihal Reses Partisipatif, dirinya merasa menjadi lebih dekat dengan masyarakat.

Chaidir Syam (berdiri). Sumber foto: BaKTI

Pada Reses Partisipatif, semua komponen masyarakat harus hadir, seperti tokoh pemuda, pelajar, disabilitas, perempuan, agama sehingga diharapkan reses menjadi ajang curhat warga.

Kaharuddin Kadir – Ketua DPRD Maros mengatakan dengan Reses Partisipatif ini, anggota DPRD jadi benar-benar mengetahui apa yang dibutuhkan masyarakat. Jika hanya mendatangi ketua RT misalnya, bisa jadi penyampaiannya bukanlah merupakan kebutuhan masyarakat.

Misalnya ketika bertanya kepada Ketua RT setempat
mengenai apa yang dibutuhkan warga nelayannya,
Pak RT mengatakan jaring. Tetapi ketika dikonfirmasi
langsung kepada nelayan, si nelayan mengatakan
kebutuhannya adalah pengetahuan pengolahan ikan
untuk istrinya agar nilai jual ikan
yang ditangkapnya bisa naik.

Salah satu hasilnya adalah Parepare telah menganggarkan pembelian ambulans untuk pertolongan kepada ibu melahirkan dan anak-anak. Di dalamnya disediakan fasilitas tabung oksigen yang memang khusus untuk anak-anak. Kaharuddin berharap Reses Partisipatif ini bisa didorong kepada pemerintah pusat agar menjadi model yang bisa diterapkan di seluruh Indonesia.

Satu lagi keynote speech dipresentasikan di hari pertama ini. Taufik Madjid – Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Presentasinya berjudul Inovasi dan Praktik Cerdas dari Desa mengabarkan tentang keberhasilan pemerintah pusat dalam membangun desa.


Di antaranya bahwa 60-an daerah sudah dientaskan dan dana desa menjadi kebijakan fiskal yang strategis. KTI diperhitungkan pembangunannya. “Mari bangun desa untuk Indonesia!” ajak Taufik.

Selanjutnya, Praktik Cerdas kedua di hari pertama: Data yang Mengubah Dunia: Sistem Administrasi dan Informasi Kampung dan Distrik di Papua dan Papua Barat.

Program LANDASAN yang merupakan bagian dari KOMPAK sebagai kerja sama bilateral Pemerintah Australia dan Pemerintah Indonesia menyediakan aplikasi Sistem Administrasi dan Informasi Kampung (SAIK) dan Sistem Administrasi dan Informasi Distrik (SAID).

SAIK berbasis web yang berisi data kependudukan, sosial, dan ekonomi setiap individu yang berada dalam satu kampung. Sistem ini bisa dioperasikan secara offline sehingga bisa dioperasikan di daerah terpencil sekali pun.

Tantangan menerapkan aplikasi tersebut di Papua
adalah karena SDM dan geografinya sulit.
Namun ternyata tantangan bisa diatasi.
Orang Papua sendiri yang mengumpulkan data –
para kepala distrik dengan dibantu oleh
kader-kader mereka.


SAID berdampak kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Contoh kecilnya adalah bahwa golongan darah warga kini sudah terdata semua. Jadi jika diperlukan, sudah diketahui kepada siapa bisa dimintai tolong. Masyarakat Papua telah membuktikan bahwa data tidak harus berasal dari pemerintah. Data dari masyarakat sendiri lebih valid dan up to date.

Data pula yang dipergunakan Hilmy dan kawan-kawannya dalam membangun GENOIL. GenOil adalah social entreprise yang dimotori oleh 6 anak muda yang memproduksi biodisel dari minyak jelantah.

Bermula dari keresahan Andi Hilmy Mutawakkil – seorang mahasiswa Antropologi di UNM akan adanya krisis BBM pada tahun 2011 lalu yang diprediksi habis pada tahun 2025. Asal mula GenOil bisa dibaca di Kisah Sulap Minyak Jelantah Menjadi Bahan Bakar Biodiesel. Singkat cerita, kini aset GenOil sudah mencapai 1,3 miliar rupiah dengan omzet Rp. 300 juta per bulan, dan produksi 1.300 liter biodisel per hari.

Dengan mengandalkan preman sebagai
pengepul minyak jelantah, kini sudah
banyak yang bermitra dengan GenOil.
Di antaranya 700 (UKM, hotel, dan restoran),
300 rumah tangga, dan siswa di 30 sekolah dasar
telah berpartisipasi dalam pengumpulan minyak jelantah
sehingga bisa terkumpul 26.000 liter per bulannya.

Uzi optimis, 5 tahun ke depan angka 700 bisa menjadi 5.000 dan 300 rumah tanggal menjadi 3.000 – menjadi mitra strategis GenOil di Sulawesi Selatan. 1 kilo gram minyak goreng bekas dihargai Rp. 2.500 bisa ditukar untuk pendidikan lingkungan semisal pelatihan membuat kerajinan tangan dari sampah daur ulang.


Muflihuddin – “preman pensiun” juga berbagi cerita sukanya bergabung di GenOil. Kini dia telah menjadi agent of change yang memiliki penghasilan yang halal dan berkah dengan menjadi pengepul minyak jelantah.

Oya, kekhawatiran utama Hilmy pada mulanya adalah kesulitan nelayan mencari bahan bakar untuk perahu nelayan. Dengan Biodiesel B100 yang dihasilkan GenOil, kekhawatiran itu secara perlahan berganti dengan harapan. Bahkan sudah ada varian baru dari GenOil di tahun 2018 ini, yaitu Octane Booster yang bisa menghemat BBM.

Pemecahan kelangkaan minyak dan nelayan, berpindah pada pemecahan masalah kesehatan dari minyak jelantah yang dipakai berulang kali. Bukan hanya menghasilkan produk, GenOil juga megedukasi siswa-siswi sekolah dasar dan ibu-ibu rumah tangga.


Anak-anak itu diharapkan menjadi agent of change yang akan turut mengeukasi orang tua mereka di rumah mengenai masalah kesehatan yang mungkin timbul dari pemakaian minyak goreng secara berulang kali. Sementara di kalangan ibu-ibu, GenOil bekerja sama dengan gerakan Ibu PKK dan Dharma Wanita mengenai dampak minyak jelantah bagi kesehatan dan membeli minyak jelantah dari mereka.



Inspirasi di panggung utama Festival Forum KTI VIII ditutup oleh keynote speech dari Samsul Widodo – Dirjen Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Smart Farming 4.0 – Samsul memaparkan mengenai keberhasilan pertanian di daerah pelosok yang mempergunakan teknologi. Seperti petani So’e di NTT (menjual alpukat) dan petani mangga di Situbondo.

Video hari ke-1, dari akun YouTube BaKTI


Makassar, 20 November 2018

Bersambung

Baca juga tulisan sebelumnya:

Dan beberapa tulisan saya terkait Festival FKTI tahun 2015:

Tulisan lain tentang GenOil ada di:




Share :

1 Komentar di "Festival Forum KTI: Smart dalam Reses Hingga Minyak Jelantah"

  1. Banyak ilmu yang boleh diperoleh dengan menyertai Festival Forum KTI ni. Memang bagus bagi semua orang untuk sertai.

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^