Tampilkan postingan dengan label Review & Reportase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review & Reportase. Tampilkan semua postingan

Ritech Expo: dari Sepatu Kulit Ikan Kakap Hingga Buku Maskulin Dendong

Sebagai pengagum hasil teknologi, saya ikut senang waktu tahu puncak Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas) ke-22 diadakan di Makassar. Jarang-jarang kan ada kegiatan besar yang disertai dengan pameran berskala nasional diselenggarakan di sini. Jadi saat tahu suami saya bersibuk-sibuk menyiapkan salah satu booth beserta kawan-kawannya, saya sudah pasang niat untuk melihat-lihat pameran yang diselenggarakan di Central Point of Makassar (CPI) ini.
Baca selengkapnya

Menyalakan Lilin Melalui Buku untuk Indonesia

Better to light a candle than to curse the darkness. Atau dalam bahasa Indonesia berarti: lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan adalah kalimat  motivasi yang terkenal di seluruh dunia. Di Indonesia kalimat ini dipopulerkan oleh Anis Baswedan dalam gerakan Indonesia Mengajar. Kalimat yang patut dilayangkan kepada mereka yang suka mencaci-maki pemerintah tetapi tak mampu melakukan apa-apa, hal positif yang kecil sekali pun.

Dalam bentuk lain, baru-baru ini saya kembali mendengarkan motivasi seperti ini dari mulut Andy F. Noya – jurnalis terkenal dari Metro TV yang sekaligus Duta Baca Indonesia tahun 2016. Saat itu saya menyimak penuturan Andy sebagai nara sumber pada talkshow Buku untuk Indonesia di panggung acara Fun Walk BCA pada tanggal 23 Juli lalu. Bertepat di satu sisi pada Lapangan Karebosi Makassar, Andy yang pernah menjalani masa kecilnya di kota Makassar pada tahun 1960-an ini mengatakan, “Jangan selalu berharap pada pemerintah.”

Lakukan Sesuatu Meski Itu Hanya Menyalakan Sebatang Lilin

Gubernur Sulawesi Selatan (Syahrul Yasin Limpo) tengah bercakap dengan Andy F. Noya
Sumber foto: Eryvia Maronie (www.emaronie.om)
Melalui paket donasi kepada masyarakat luas yang kemudian dikonversi menjadi buku, BCA berkomitmen untuk menumbuhkan kembali minat membaca di berbagai pelosok Indonesia. Gerakan “Buku untuk Indonesia” berhasil mengundang banyak partisipasi dari masyarakat Indonesia. Pada periode I penggalangan donasi yang berlangsung sejak tanggal 15 Maret hingga 14 Juni 2017, dana yang terkumpul sudah lebih dari 1 miliar rupiah. Bisa Anda tebak, dari mana pemberi donasi terbesar pada gerakan ini? Makassar, yes! Ternyata masih banyak orang Makassar yang mau menyalakan lilin!

Nah, rencananya BCA akan membagikannya kepada 104 sekolah penerima donasi di 60 titik di Indonesia. Donasi minimal sejumlah seratus ribu rupiah bisa dilakukan di kantor BCA atau di gerai-gerai BCA, misalnya yang ada di Lapangan Karebosi saat cara ini berlangsung. Melalui donasi yang diberikan, BCA memberikan kepada Anda kenang-kenangan berupa kaos jersey. Mudah dan murah.

Frengky, Andy, dan Widya.
Penjelasan tentang program Buku untuk Indonesia ini dijelaskan oleh Kepala Kantor Wilayah BCA – Frengky  Chandra Kusuma dan Vice President Kerjasama Transaksi Perbankan BCA – Liza L. Widyasari saat mendampingi Andy di atas panggung talkshow Buku untuk Indonesia. Mengenai minat baca di Indonesia yang (konon katanya) rendah, Andy berpendapat bahwa itu tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, banyak wilayah yang sulit terjangkau di negara ini. Anak-anak Indonesia banyak yang berminat terhadap buku, hanya saja akses mereka kepada buku amat terbatas.

Oya, tentang minat baca Indonesia yang rendah, hal ini diungkapkan oleh sebuah hasil studi tahun 2016. Studi itu berjudul Most Littered Nation in The World, dilakukan Central Connecticut State University. Di situ dinyatakan bahwa Indonesia negara ke-60 dari 61 negara soal minat baca. Negara kita berada persis di bawah Thailand dan di atas Botswana.

Lilin Berupa Buku untuk Indonesia

“Semoga Aksi Berbagi ini dapat berkontribusi positif dan menjadi pengingat kita semua akan pentingnya akses buku yang luas bagi tunas-tunas bangsa sebagai aset berharga dalam menggapai harapan dan cita-cita. Menjawab animo masyarakat yang tinggi, periode II gerakan berbagi Buku untuk Indonesia akan berlanjut hingga akhir tahun 2017. Kunjungi laman www.bukuuntukindonesia.com atau www.blibli.com untuk berpartisipasi dalam gerakan ini,” pungkas Frengky.

Sebagian peserta
Ah iya, hampir lupa. Sebelum talkshow, usai gubernur Sulawesi Selatan – Syahrul Yasin Limpo meninggalkan lokasi acara, sebanyak 11 kepala sekolah menerima secara simbolis donasi Buku untuk Indonesia. Mengapa secara simbolis saja? Karena buku yang mereka terima, masing-masing sebanyak 200 buku untuk satu sekolah. Kebayang kalau harus menerima buku sebanyak itu di atas panggung, hehe.

Ke-11 sekolah yang beruntung itu adalah: SDN Balang Baru, SDN KIP Bara-baraya II, SDN Inpres Borong, SD Negeri No 11 Bontojai, SDN Inpres Barombong 03, SD Inpres/Negeri BTN Pemda, SD Labuang Baji II, SDN Mamajang I, SD Inpres Gontang, SD Inpres Lanraki 2, dan SDN 178 Inpres Lamangkia.

Gerakan Buku untuk Indonesia mulai diselenggarakan sejak ulang tahun BCA yang ke-60. Sebelum di Makassar, beberapa wilayah sudah lebih dulu menjadi tempat pelaksanaannya, seperti di Jakarta, Semarang, dan Lampung.

Andy berfoto bersama para kepala sekolah dasar penerima donasi buku.
Setelah di Makassar, aksi berbagi Buku untuk Indonesia ini juga serempak diadakan di 5 daerah dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional. Kelima daerah tersebut adalah Garut mewakili Jawa, Manado mewakili Sulawesi, Kupang mewakili Indonesia Bagian Timur, Aceh mewakili Sumatera, dan Singkawang mewakili Kalimantan.

Melalui gerakan yang dilaksanakan dalam rangka HUT yang ke-60 ini, BCA berkomitmen untuk Menjadi Lebih Baik melalui tiga pilarnya belajar lebih baik, melayani lebih baik, dan memberi lebih baik. Aksi berbagi Buku untuk Indonesia ini merupakan perwujudan komitmen BCA untuk memberi lebih baik kepada masyarakat dengan harapan dapat berkontribusi meningkatkan minat baca di berbagai pelosok di Indonesia yang penting dalam menciptakan generasi muda yang cerdas, berkualitas, dan berakhlak mulia.

Kalau Anda-anda ingin ikut “menyalakan lilin” melalui gerakan ini, masih bisa, lho. Buku untuk Indonesia masih berlangsung hingga tanggal 15 September 2017. Segala sesuatunya terkait Buku untuk Indonesia bisa dilihat di website Buku untuk Indonesia.


Well, semoga lilin-lilin ini menyala abadi dan kelak bisa mendongkrak Indonesia menjadi 10 besar dunia dalam hal minat baca. Tidak mustahil, kan?

Makassar, 14 Agustus 2017


Baca selengkapnya

Serba-Serbi Difabel

Acara kopdar (kopi darat) para anggota Komunitas Blogger Anging Mammiri yang berlangsung pada tanggal 5 Agustus ini mengambil tema Serba-Serbi Disabilitas. Namun setelah menyimak penjelasan dari salah satu nara sumber dan setelah sebelumnya sempat berpikir mengenai mana yang lebih manusiawi dipakai “DISABILITAS” (yang berasal dari kata DISABLE – yang berarti tidak dapat) atau “DIFABEL” (yang berasal dari kata DIFFERENT ABILITY – yang berarti berkemampuan berbeda) maka saya menggunakan kata DIFABEL pada tulisan ini.
Baca selengkapnya

Bergembira di Happy Wonderland dan 5 Bahasa Kasih

Kebahagiaan dan kesehatan itu ada hubungan timbal-baliknya. Talkshow pada press conference #LactogrowHappyWonderland di Boncafe pada tanggal 5 Agustus lalu memaparkan hubungan antara keduanya.
Baca selengkapnya

Ngobrol Seru di Car Free Day Sudirman

Sebenarnya bukan karena tidak mau move on dari reuni tapi karena teman-teman alumni SMA 2 Makassar seangkatan menjadi bagian dari Ikatan Alumni (IKA) SMADA maka saya berminat menghadiri acara olah raga bersama IKA SMADA di area car free day, Jalan Jendral Sudirman pada tanggal 30 Juli lalu. Tapiii bukan untuk ikut olah raganya, cuma mau bertemu, ngobrol santai, dan ikut sarapan kue-kue yang disiapkan karena bertepatan pada hari itu angkatan 92 kebagian menjadi penanggung jawab konsumsinya. 😁
Baca selengkapnya

Cerita Kopdar Spesial Bercanda dengan EYD

Kesibukan di dunia nyata membuat saya terpaksa posting tulisan tentang kegiatan pada tanggal 3 Juli lalu pada hari ini. Semua “utang” tulisan harus saya selesaikan berdasarkan urutan waktu dan prioritasnya. Tapi jangan berpikir kalau saya menghidangkan tulisan basi, ya. Apa yang mau saya sampaikan ini isinya masih amat relevan, koq sampai bertahun-tahun ke depan pun. 😃
Baca selengkapnya

UBOX, Tempat Nongkrong yang Out of The Box

Peti kemas (Inggris: ISO container) adalah peti atau kotak yang memenuhi persyaratan teknis sesuai dengan International Organization for Standardization (ISO) sebagai alat atau perangkat pengangkutan barang yang bisa digunakan diberbagai moda, mulai dari moda jalan dengan truk peti kemas, kereta api dan kapal peti kemas laut (Wikipedia.Org).
Baca selengkapnya

Meriahnya Acara Puncak Silver Reunion SMADA 92

Lanjutan dari tulisan berjudul Silver Reunion SMADA 92: Anjangsana Nostalgia

Acara puncak Silver Reunion SMADA 92 pada malam hari tanggal 30 Juni 2017 berlangsung di Hotel Swiss Belinn. Karena menyanggupi menemani Nine membawakan puisi tentang persahabatan di atas panggung, saya datang lebih awal. Masih sore, sekira pukul setengah enam, saya sudah tiba di ruangan paling besar yang ada di lantai dua.
Baca selengkapnya

HBH IKATEK UNHAS 2017: Dari Liga Futsal Hingga Jasad Ikan Paus

HBH (Halal Bi Halal) Ikatan Alumni Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin pada tahun ini berlangsung pada tanggal 28 – 29 Juni. Temanya Membumikan Silaturahmi untuk Berpacu Meraih Bintang. Acara pagi tanggal 28 Juni di Lapangan Karebosi tak bisa saya hadiri. Suami saya yang juga alumnus (Elektro angkatan 88) yang sempat menghadirinya, bersama putra sulung kami yang sekarang duduk di kelas 2 SMA. Saya baru hadir pada siang hari tanggal 28, di gelanggang futsal.




Sesaat di Liga Futsal

Pada siang harinya, di Gedung Futsal milik PT. Telkom (di jalan A. P. Pettarani), saya datang bersama suami. Kangen juga merasakan atmosfer maskulin ala anak Teknik. Pertandingann futsal ini diadakan dalam dua liga. Saya datang juga karena ingin melihat teman-teman seangkatan saya bertanding. Ini kali pertama angkatan 92 ikut dalam liga futsal. Beberapa kawan sejurusan (Elektro) juga turut bermain. Sayangnya, di babak semi final, tim futsal angkatan 92 harus menerima kekalahan dari tim futsal angkatan 90.😀 

Yah, tidak apa-apa, sih. Namanya juga “pengalaman pertama”, ya. Sudah lumayan bisa masuk babak semi final. Semoga saja pada tahun-tahun berikutnya bisa menang.

Tim futsal 92 dan cheerleader-nya. Foto: Ocha Haruna.
Laga futsal. Foto: Ocha Haruna
Yang menyenangkan di sini, saya sempat bertemu dengan 3 teman perempuan seangkatan (harap maklum mengapa saya senang, perempuan kan makhluk langka di FT 😁). Mereka adalah Nine dan Uche (Arsitektur) dan Ocha Haruna (Sipil). Juga sempat ngobrol lama dengan Nova Saridhani (Mesin ’93). Dan bertemu dengan Nyung – kawan blogger yang baru saya tahu ternyata dia dari Arsitektur 2003.

Mengenai hasil liga futsal, saya mendapatkan informasi, hasilnya sebagai berikut:
Zona Bintang (super senior, angkatan 87 - 2000):
  • Juara 1 angkatan 2000.
  • Juara 2 angkatan 87.
  • Juara 3 bersama angkatan 90 dan 97.
Zona bumi (2001 – terakhir):
  • Juara 1 angkatan 2006.
  • Juara 2 angkatan 2001.
  • Juara 3 bersama angkatan 2009 dan 2004
Selamat ya, Brothers. 👍

Focus Groud Discussion: Waste to Energy

Acara berikutnya yang saya memang niatkan hadiri adalah Focus Group Discussion. Karena tak bisa menghadiri acara puncak pada malam harinya, saya usahakan datang menghadiri FGD pada tanggal 29 pagi – siang di Fort Rotterdam. Pasnya lagi, pak suami juga berminat menghadiri FGD yang saya minati, yang temanya Energi Terbarukan (Waste to Energy).

FGD Waste to Energy
Saat tiba di gedung chapel di Fort Rotterdam, tempat diskusi dilangsungkan, acara baru saja mulai. Pak Jacky Latuheru (Praktisi Energi - The World Bank Indonesia) menyampaikan data yang dipunyainya, bahwa Indonesia merupakan negara penyumbang sampah laut terbesar ke-2 di dunia.

Sampah di negara kita rata-rata 60-65% organik. Sisanya anorganik. Kalau diolah dengan baik akan menghasilkan energi. Kalau tidak akan menghasilkan emisi yang menyebabkan pemanasan global. Misalnya gas metana yang dihasilkan sampah organik, 21 – 25 kali lebih besar daripada karbondioksida (CO2). Hal ini bisa menyebabkan perubahan energi. Efek perputaran iklim satu tempat yang alamnya rusak menyebabkan perubahan di tempat lain. Perilaku masyarakat yang suka membakar sampah, juga menghasilkan aneka gas yang mencemari lingkungan. Mulai dari gas monoksida, CO2 , dioksin, dan lain-lain yang dampaknya sangat berbahaya bagi kesehatan.

Namun pengolahan sampah yang baik bisa meminimalisir dampak lingkungan, menghasilkan aneka hal bermanfaat, sekaligus bisa menjadi sumber energi, seperti listrik. Meski bisa dilakukan dalam skala kecil, industri pengolahan sampahlah yang dipresentasikan oleh Pak Jacky. Tersebab oleh keinginan besarnya agar masalah sampah di kota Makassar bisa terselesaikan dengan baik. Mengingat “produksi” sampah di kota ini mencapai 1200-an ton per harinya. Besar sekali potensi pengolahan sampah di kota berpenduduk 1,5 juta jiwa ini.

Yang dimaksud dengan Waste to Energy yang dibicarakan hari ini adalah Adalah proses menghasilkan energi berupa listrik dan / atau panas dari pengolahan limbah utama. Sebagian besar proses WtE menghasilkan listrik dan / atau panas secara langsung melalui pembakaran, atau menghasilkan bahan bakar yang mudah terbakar, seperti metana, metanol, etanol, atau bahan bakar sintetis.

“Teknologi yang kami pegang di-endorse oleh US Air Force,” tutur Pak Jacky. Bantar Gebang di Bekasi adalah contoh pengolahan sampah terbesari di Indonesia (seluas 110 Ha). “Di Bali sudah dikembangkan tetapi tidak berjalan.’Teknologi yang dipakai plasma arc gasification atau plasma gasification process (PGP),” lanjut Pak Jacky lagi.

Pak Jacky menjelaskan, jika sistem pengolahan sampah berlangsung dengan baik maka baru masuk ke TPA saja, semua sampah sudah terpilah saat dimasukkan ke dalam sistem pengolahan sampah. Langsung diproses berdasarkan jenisnya. ZERO WASTE TO LANDFILL, istilahnya. “Semua sampah ‘dimakan’. Disortir. Dihasilkan energi. Waste is not problem. Akan dijadikan kosong!” pungkas Pak Jacky.


Mau lihat pengolahan sampah yang keren di negara maju? Ini dia!

Pak Jacky menceritakan mengenai negara-negara yang pengolahan sampahnya bagus, seperti Swedia dan Jerman. Di Jerman, ada detektor di selokan-selokannya untuk mendeteksi pembuangan sampah yang tidak semestinya. Saat terdeteksi, langsung dilaporkan, dan ditegur pelakunya. Swedia, sudah menjadi negara pengimpor sampah untuk dijadikan Waste to Energy yang menghasilkan energi panas dan listrik.

Bagaimana dengan Indonesia?

Terdiri atas 416 kabupaten dan 98 kota, seharusnya Indonesia bisa memanfaatkan implementasi WtE (Waste to Energy). Obligasi pengelolaan sampah adalah kebijakan pemkot/pemkab (pemerintah kota/pemerintah kabupaten) setempat. “Tapi sebagian besar tidak ada kemampuannya. Alasannya klasik – tidak ada dana dan lain-lain. Padahal, berdasarkan UU Nomor 18 Tahun 2008, pemerintah harus mengelola sampah. Ada penalti kalau tidak melaksanakan,” tutur Pak Jacky.

UU Nomor 18 tahun 2008 itu didukung juga dengan UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah, dan Permen ESDM No 44 tahun 2015 Tentang Pembelian Tenaga Listrik Oleh PT PLN (Persero) Dari Pembangkit Listrik Berbasis Sampah Kota. Namun keberadaan Permen ESDM Nomor 12 Tahun 2017 yang mengatur Pemanfaatan Sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk Penyediaan Tenaga Listrik kurang mendukung peraturan-peraturan terdahulu.

“Hanya segelintir Pemda di Indonesia yang membayar untuk pengelolaan sampah – salah satunya adalah Bantar Gebang. Tidak ada fleksibilitas dalam birokrasi pemerintah. Untuk mengurus surat-surat saja sering kali dilempar dari satu bagian ke bagian lain. Soalnya pengelolaan sampah butuh uang. Padahal ketika investor datang, pengelolaan sudah bagus, bisa dilaksanakan WtE. Sayangnya tidak demikian realitanya,” ujar Pak Jacky.

Menurut Pak Jacky, banyak investor yang mau bekerja sama jika sistem pengolahan sampah (yang merupakan kewajiban pemerintah) sudah siap. Harus ada pembatas dari ruang terbuka di TPA supaya tidak mencemari udara. “Sayangnya, penanggulangan terhadap terjadinya pencemaran lingkungan tidak ada. Sampah dibuang begitu saja. Dengan demikian, tidak tecipta iklim yang bagus untuk mendukung industri WtE. Kalau full support dari pemerintah, 17 bulan sudah bisa siap sistemnya (cepat, ya). Kita perlu swasta untuk berinvestasi karena pemerintah tak sanggup,” lanjut Pak Jacky lagi.

Inilah tantangannya:
  • Peraturan nasional tidak mendukung pengembangan EBT, khususnya pengelolaan sampah kota.
  • Peraturan Feed in Tariff  (FIT) tidak mendukung pengembangan investasi pembangunan WtE.
  • IKATEK Unhas jika sudah siap dengan “PT”-nya bisa berkontribusi. “Kepada kawan-kawan yang duduk di pemerintahan: cobalah punya hati untuk memasukkah pengelolaan sampah dalam programnya! Ini peluang berkolaborasi. Kalau tak bisa mewujudkan sistem yang lengkap, landfill-nya saja. Investor sebenarnya berjejer, sayangnya peraturan saling bertabrakan,” pungkas Pak Jacky. Oya, landfill adalah sebuah area yang menjadi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah dengan metode dan perlakuan tertentu.
Persiapan acara puncak di malam 29 Juni. Sayangnya, saya tidak bisa hadir 😔

Humanisme pada FGD Teknik

Bagi saya, yang paling menarik dari penyampaian Pak Jacky pada siang itu adalah kenyataan yang diperolehnya pada sebagian besar kota di Indonesia yang diriset. Yaitu, di mana ada penyumbatan ada sampah-sampah diapers (popok sekali pakai) dan pembalut kewanitaan di dalamnya. Ada pula ditemuinya 3 tempat sampah berjejer tapi sampahnya malah dibuang di sekeliling tempat sampah. Dalam tempat sampahnya malah kosong.
FGD hampir selesai ketika saya menyadari, saya satu-satunya perempuan dalam ruangan itu. Ah, ini materi maskulinkah? Bagi saya materi ini menarik, bukan bahasan teknisnya tapi wawasan yang saya dapatkan dari FGD ini. Saya kira, bukan khusus untuk lelaki. Perempuan juga perlu tahu. 

Konsultan, Senior Field Researcher & Coordinator, Environment & Natural Resources di The World Bank yang dulunya angkatan 83 di Teknik Mesin UNHAS ini menitip pesan mengenai perlunya kepedulian edukasi kepada keluarga sebagai induk awal penghasil sampah. Jangan buang sampah di saluran air. Pada tanggal 4 Februari 2017 lalu seekor ikan paus ditemukan terdampar di pantai Pulau Sotra, Norwegia. Para peneliti dari University of Bergen yang menanganinya menyimpulkan kondisi paus ini terlalu parah. Akhirnya mereka menyuntik matinya karena kesakitan akibat mengalami gangguan usus. Terdapat limbah plastik bekas di dalam perut ikan paus tersebut. Mamalia itu ditengarai salah kira kantong-kantong plastik itu sebagai cumi-cumi yang biasa dijadikan santapannya.

Hm, saya pun memimpikan kota ini bebas sampah, juga bebas polusi lingkungan. Kota ini sudah terlalu padat dengan kendaraan bermotornya. WtE akan menjadi solusi yang sangat menguntungkan warga kota. Kapan, ya bisa terlaksana?

Makassar, 10 Juli 2017

Catatan:


Sayangnya, hanya FGD yang dipandu Kak Habibie Razak ini saja yang saya hadiri karena kami sudah harus pulang sebelum FGD sesi berikutnya (Tentang ROAD MAP Teknik Perminyakan UNHAS) sebab ada agenda lain yang perlu dihadiri.
Baca selengkapnya

Sophie’s Cake: Nikmatnya Sensasi Rasa Permen Buah dan Cokelat

Sesekali berbuka puasa ala anti mainstream, ah. Kali ini pakai kue ulang tahun. Namanya simple saja: SOPHIE’S CAKE. Nur Hidayah, pemilik Sophie’s Cake tergabung dalam CCBC (Celebes Cooking and Baking Community), sebuah komunitas di Makassar. Informasi mengenai Sophie’s Cake saya peroleh dari CCBC.
Baca selengkapnya

MIWF 2017: Ketika Kampung Literasi Memuat Perpustakaan Bergerak

Keluar dari Ruang I Lagaligo, usai menghadiri Ruang Bersama di Makassar International Writers Festival (17 Mei lalu), saya mengikuti ajakan Kang Maman Suherman ke taman, tempat digelarnya Kampung Literasi. Kampung Literasi tidak ada di dalam daftar acara resmi MIWF 2017. Saya berani memastikan ini acara tambahan pada MIWF. Sebelumnya saya sempat bertemu seorang panitia yang mengatakan ada beberapa acara yang belum masuk pada run down yang pertama kali dicetak.
Baca selengkapnya

Mengaktualisasikan Nilai-Nilai Pancasila Melalui Flash Blogging

Apa yang beredar di media sosial tak hentinya membuat saya terkaget-kaget. Meski tahu beredar aneka konten, mulai dari yang positif sampai yang negatif, tetap saja saya kaget ketika rasa ingin tahu pernah membawa saya melihat ucapan-ucapan kebencian dan bully dari mereka yang merasa dirinya paling benar.
Baca selengkapnya

MIWF 2017: Tentang Ruang Bersama yang Membincang Keberagaman

Seperti pada tahun-tahun lalu, Makassar International Writers Festival (MIWF) kembali di gelar pada tahun 2017 ini, tepatnya pada tanggal 17 – 20 Mei 2017, berpusat di Fort Rotterdam, Makassar. Seperti biasa, ada banyak kegiatan. Sambung-menyambung dan berlangsung paralel. Bahkan ada yang berlangsung di lokasi-lokasi di luar Fort Rotterdam, seperti di UNM (Universitas Negeri Makassar), UIM (Universitas Islam Makassar), dan Same Hotel. Saya akui, panitia semakin cerdas membuat ragam kegiatan. Kegiatannya makin beragam, pun semakin ramai.
Baca selengkapnya

Ngobrol Cantik dengan IWITA

“Perempuan harus mengenal potensi dirinya dan berani tampil untuk saling menginspirasi” – quote inspiratif ini tertera di bawah nama dan foto Mbak Martha Simanjuntak, founder dan chairlady IWITA (Indonesia Women IT Awareness) di website IWITA. Saya bertemu dengan Mbak Martha pertama kali saat sosialisasi Serempak.id (website Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) yang diselenggarakan pada bulan Agustus 2016 di Hotel Four Points Makassar. Beruntung sekali saat Mbak Martha bersama IWITA datang ke Makassar pada tanggal 10 Mei lalu, saya kembali bisa bertemu dengannya.
Baca selengkapnya

Make Up No Make Up di Beauty Class Sophie Paris

Beauty class. Ingin juga saya mengikuti kelas beauty kalau cuma-cuma. Saya ingin tahu hal mendasar saja. Soalnya selama ini pengetahuan berdandan saya minim sekali. Cuma dulu pernah diberi tahu kalau sebelum pakai bedak, pakai foundation dulu. Nah, bedak apa saja yang cocok untuk saya, saya tidak begitu tahu.
Baca selengkapnya

Menganalisa Berita yang Sensitif Gender dan Peduli Anak

Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari tulisan berjudul KPPPA, Tentang Partisipasi Media dalam Menulis Isu Perempuan dan Anak,  Menuju Jurnalisme Berperspektif Gender dan Anti Kekerasan, Bagaimana Media Memahami Gender, dan Jurnalisme Sensitif Gender dan Peduli Anak yang merupakan catatan dari Pelatihan Jurnalisme Sensitif Gender Bagi Jurnalis dan Blogger. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), bekerja sama dengan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan pada tanggal 21 – 22 April lalu di hotel Aryaduta.
Baca selengkapnya

7 Keistimewaan Masakini Food and Gallery

Masakini Food and Gallery nama bangunan itu. Sudah sering saya lewat di depannya dan mengagumi bangunannya namun baru pada saat itu saya masuk di dalamnya. Pada tanggal 13 Mei lalu, saya bersama kawan-kawan Kelas MAM (Makkunraina Anging Mammiri) datang ke sana untuk sebuah acara. Kelas MAM adalah kelas belajar khusus blogger perempuan yang tergabung dalam komunitas blogger Anging Mammiri.
Baca selengkapnya

Jurnalisme Sensitif Gender dan Peduli Anak

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan berjudul KPPPA, Tentang Partisipasi Media dalam Menulis Isu Perempuan dan Anak,  Menuju Jurnalisme Berperspektif Gender dan Anti Kekerasan, dan Bagaimana MediaMemahami Gender yang merupakan catatan dari Pelatihan Jurnalisme Sensitif Gender Bagi Jurnalis dan Blogger. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), bekerja sama dengan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan pada tanggal 21 – 22 April lalu di hotel Aryaduta.
Baca selengkapnya

Bagaimana Media Memahami Gender

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan berjudul KPPPA, Tentang Partisipasi Media dalam Menulis Isu Perempuan dan Anak dan Menuju Jurnalisme Berperspektif Gender dan Anti Kekerasan yang merupakan catatan dari Pelatihan Jurnalisme Sensitif Gender Bagi Jurnalis dan Blogger. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), bekerja sama dengan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan pada tanggal 21 – 22 April lalu di hotel Aryaduta.
Baca selengkapnya

KPPPA, Tentang Partisipasi Media dalam Menulis Isu Perempuan dan Anak

Ada banyak hal yang membuat saya baru bisa menuliskan kembali kegiatan pelatihan yang saya ikuti pada tanggal 21 – 22 April lalu di Hotel Aryaduta. Pelatihan yang berfokus pada pengetahuan penulisan isu perempuan dan anak ini diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), bekerja sama dengan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan.
Baca selengkapnya