Workshop Remaja: Menghadapi Baligh Tanpa Labil dan Panik

Baligh bagi seseorang yang beragama Islam adalah tahapan yang penting. Di saat itu, dalam Islam, tanggung jawabnya sudah berupa tanggung jawab orang dewasa. Hak dan kewajibannya dalam Islam adalah yang berlaku bagi orang dewasa meskipun usianya masih remaja.

Pubertas adalah tandanya dengan beberapa catatan. Sehubungan dengan baligh dalam Islam, untuk lebih jelasnya bisa dibaca di https://muslim.or.id/47618-memahami-tanda-tanda-baligh.html. Nah, salah satu tugas orang tua juga ini, bagaimana memberi pemahaman pada anaknya.


Pemahamannya mulai dari tata cara mandi wajib, bagaimana pergaulan antara laki-laki dan perempuan, batasan aurat, mewaspadai pelecehan seksual, dan sebagainya. Untuk putri satu-satunya, saya sudah berusaha menyampaikan hal-hal yang saya ketahui dan saya anggap perlu saya sampaikan sebagai pendidikan seks baginya.

Namun saya pikir, perlu mendaftarkan dia mengikuti workshop yang diadakan oleh LPPAR (Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Anak dan Remaja) agar wawasannya bertambah.

Bisa jadi ada yang belum saya sampaikan tetapi penting dia ketahui dan itu luput dari perhatian saya. Sementara untuk hal-hal yang sudah pernah saya jelaskan, acara semacam ini menjadi semacam afirmasi supaya dia tahu mamaknya ini tak mengada-ada.

Maka pada tanggal 27 Oktober lalu, saya mengantar Athifah mengikuti workshop bertajuk Tetap OK di Masa Remaja yang berlangsung di Hotel Swissbelin.


Karena sudah registrasi via online, di sana tinggal konfirmasi. Kelihatannya bisa cepat namun ternyata tak demikian karena remaja perempuan peserta acara ini banyak sekali. Saya perkirakan jumlahnya 3 kali lebih banyak daripada laki-laki.

Saya memutuskan menunggui Athifah selama acara. Durasi waktu sejak usai waktu zuhur hingga selesai waktu ashar tak terasa karena ada yang menemani saya. Saya bertemu dengan Nurdiana (Diana), teman sekelas di SMA yang mengantar 2 remajanya. Juga ada Herda – teman sekelas juga di SMA yang menjadi salah satu fasilitator acara ini.

Pemateri seminar ini adalah Syarief Ahmad yang disapa Kak Syarief, seorang psikolog dari Jakarta yang berpengalaman dalam memberikan pelatihan kepada remaja. Dari informasi yang saya peroleh, Kak Syarief ini mampu membawakan materi dengan cara dan gaya bahasa yang mudah diserap oleh remaja.

Well, cara dan gaya bahasa ini memang perlu diperhatikan agar para remaja ini merasa dekat dengan pemateri dan tak merasa bosan. Dengan demikian berbicara dari hati ke hati menjadi lebih mudah.

Game untuk perempuan, Athifah memberanikan diri maju,

Usai shalat ashar, para peserta masuk ke dalam ruangan lagi untuk materi yang tersisa. Saat saya mengira acara selesai, para orang tua yang menunggui anaknya dipanggil masuk oleh fasilitator. Katanya kami boleh ikut menyimak sesi terakhir, berupa materi umum.

Wah, lumayan buat tambahan pengetahuan. Saya dan Diana bergabung dengan para peserta dan ibu-ibu lain. Nah, di dalam ruangan besar itu, saya mencatat beberapa hal penting. Saya paparkan berikut ini, ya ...

Jangan sampai tak bisa mengendalikan diri


Prefrontal cortex pada otak menunjukkan aktivitas yang tidak seperti biasanya jika anak kecanduan pornografi. Kak Syarief menceritakan mengenai penelitian menggunakan MRI yang pernah diadakan. Prefrontal cortex pecandu pornografi terganggu, terbanjiri cairan dopamin secara berlebihan (yang berarti tak wajar).

Mengerikannya, pada orang yang kecanduan pornografi, perubahan pada otaknya menyebabkannya tak mampu mengendalikan diri meskipun tahu mana yang benar dan mana yang salah. Hal-hal buruk menjadi mudah dilakukan. Tidak tanggung-tanggung akibatnya, ada anak berusia belasan yang masuk penjara karenanya.

Di bagian perempuan.

Di bagian ini, saya memperhatikan bagaimana cara Kak Syarief menyampaikan contoh-contoh kasus. Saya sendiri masih risih menggunakan kata “memperkosa” atau “menghamili” tapi kata-kata itu dipergunakan oleh Kak Syarief, didahului dengan permintaan maaf. “Maaf ini, ya ... maaf. Tapi Kak Syarif harus menyampaikan karena teman-teman sudah usia SMP,” seperti itu contohnya.

Mewaspadai sentuhan


Mengingatkan adanya sentuhan baik dan sentuhan buruk. Sentuhan baik adalah pundak ke atas dan dengkul ke bawah. Sentuhan buruk adalah pada wilayah yang ditutupi pakaian dalam. Waspadai juga sentuhan sesama jenis pada bagian tubuh yang seharusnya tertutup pakaian dalam.

Waspadai orang-orang yang menikmati sentuhan fisik dari sesama jenis. Hati-hati, bisa saja mulanya biasa-biasa saja, lama-kelamaan menikmatinya. Ingat, sentuhan buruk bisa membawa pelakunya dihukum 3 – 15 tahun. Larang dengan teriakan/ekspresikan dengan tegas.

Jangan lembut pada orang yang berniat jahat. Pertimbangkan untuk kabur atau menceritakan kepada orang tua atau orang yang bisa dipercaya. Jika tak menemukan orang lain, usahakan cari kantor polisi terdekat.

Orang yang kecanduan melakukan “sentuhan buruk” ada yang suka melakukan hubungan suami-istri yang terlarang dilakukan karena belum menikah. Buruknya lagi, mereka menderita penyakit kelamin atau HIV/AIDS. Kak Syarief memperlihatkan gambar mengerikan sehubungan dengan dampak negatif yang ditimbulkan oleh perilaku seks bebas.

Pentingnya menahan/mengalihkan pandangan


Kak Syarief mengingatkan bahwa tindakan seks bebas itu melanggar aturan agama. Mau dilakukan sembunyi-sembunyi pun, Allah pasti tahu. Kak Syarief mengingatkan untuk menjaga kesucian dan kemaluan, termasuk di dunia maya. Tak boleh memperlihatkan foto aurat kepada orang lain melalui internet.


“Jangan sampai para laki-laki tidak bisa menahan pandangannya,” kata Kak Syarief. Berkali-kali Kak Syarief mengingatkan perintah menahan pandangan dan menjaga kemaluan sebagaimana yang termaktub di dalam QS. An-Nur [24] : 30.

Jika pemandangan yang bisa memancing syahwat muncul, cara menjaga diri adalah dengan sesegera mungkin mengalihkan pandangan.

Hal ini ada risetnya. Salah satu ahli neuro sains dari barat mengatakan bahwa cara mencegah cairan dopamin tidak membanjiri otak ada di dalam al-Qur‘an, yaitu dengan menahan/mengalihkan pandangan. Dengan mengalihkan pandangan maka dopamin tak keluar banyak.

Motivasi untuk melakukan hal positif


Dengan cara yang menarik, Kak Syarief memotivasi para peserta untuk mencontoh para remaja yang berprestasi. Mencoba hal-hal baru, upayakanlah ke hal-hal positif semisal Naufal Raziq‎ - remaja asal Aceh yang menghasilkan arus listrik dari pohon kedondong.

Dikomunikasikannya pula kepada para peserta yang sebagian besar duduk di bangku SMP bahwa kelak mereka akan akan menikah. Orang yang sudah menikah itu harus bertanggung jawab dan positif.

***

Workshop menghadapi baligh ini berkesan bagi Athifah. Saya lihat sewaktu  berada di dalam ruangan, dia serius mencatat penyampaian Kak Syarief. Kata Athifah, banyaknya game membuat acara ini menarik.

Ketika saya menanyakan, “Banyak mi toh yang sudah Mama kasih tahu Athifah?” Dia menjawab, “Sedikit. Banyak yang belum.” Hehe. Saya kesulitan menceritakan soal dampak buruk yang seram-seram itu. Ternyata memang harus diceritakan secara blak-blakan. Untuk usia remaja, sudah tepat membicarakannya.

Alhamdulillah, keputusan mengikutkan Athifah di acara ini sudah tepat. Banyak tambahan wawasan yang dia dapatkan. Sebagai ibu, saya merasa sangat terbantu. In syaa Allah jerih payah para panitia, fasilitator, dan nara sumber – Kak Syarief berkah dunia – akhirat. Jazaakumullah khayran.

Makassar, 21 November 2019



Share :

26 Komentar di "Workshop Remaja: Menghadapi Baligh Tanpa Labil dan Panik"

  1. Dengan adanya event tersebut, menjadikan remaja baligh yang berpikir berbuat positif..

    ReplyDelete
  2. aku seneng deh mba, ikut2 workshop sprti ini, karena merasa punya anak remaja. dan tantangan punya anak remaja skrg ini sangat berat. sayangnya di serang gak ada :(

    ReplyDelete
  3. Mbaaaa makasii makasiii sharing-nya
    anakku juga masuk fase remaja, dan ya ampyuun aku sbg emaknya ngerasa ketar/i banget. banyak hal yg bikin aku kaget, karena dia jadi sosok yg BEDA BANGET gitu mba

    ReplyDelete
  4. Dulu aku mendapatkan pengetahuan soal baligh dan pubertas ini dari guru SMP. karena masa SMP masanyaremaja baligh dan puvertas. Zaman dulu sih masih rada tabu ya kalau ortu ngomongin soal ini.

    ReplyDelete
  5. aih kakak athifah dah jangkung tinggi yaa
    workshopnya keren. remaja baligh jadi diarahkan untuk berkegiatan positif dan
    berprestasi :)

    ReplyDelete
  6. You know? Sex appeal is the first door. Pertama pandangan sembunyi sembunyi kepada lawan jenis, pertama ngintip ngintip iklan ga jelas di internet... dan seterusnya akhirnya "terbiasa"

    Alah bisa karena amit amit ini sepatutnya ditindak tegas, tapi ... apa daya jika serbuan arus deras informasi dari luar ini membludak? mendukung penuh program kajian pada anak anak remaja muslim ini yaa Niar!

    ReplyDelete
  7. Nanti saat ada workshop serupa seperti ini dan anakku sudah mencakup usia yang bisa ikut workshop gini kayaknya mau aku ikutkan ah. Biar nambah ilmu juga biar kalau ada yang luput dari yang aku ajarkan bisa didapatkan dari sini.

    ReplyDelete
  8. Bacaan penting banget nih, kadang saya pun masih harus mempersiapkan jika kelak anakku bertanya tentang ini.Jadi banyak tau juga informasinya, makasih ya mbak.

    ReplyDelete
  9. Sampai sekarang aku masih ngak nyaman buat bicara yang seperti ini mak, padahal memang sangat penting apalagi dua anakku sudah mulai masuk usia remaja yang harus benar-benar di jaga meskipun ngak juga di kekang. Mudah-mudahan semakin banyak kajian seperti ini, jika perlu masuk ke sekolah-sekolah agar anak mendapatkan pencerahan tanpa harus orangtua merasa terbebani.

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah Athifah jadi makin paham do&donts di masa akil balighnya ya, Mbak. Dua anakku cowok, aku kadang juga masih ada rasa segan gimana cara penyampaian materi ini. Tapi Algamdulillah di sekolahnya ada seminar akil baligh sejak kelas 5 SD di tiap tahun sampai SMP. Jadi aku sebagai ortu sangat terbantu

    ReplyDelete
  11. Anak remaja sekarang memang harus banget dibekali ilmu agama ya kak, arus deras informasi dan konten buruk nggak bisa kita cegah. Jadi harus bisa membentengi si abak yg mulai baligh dengan ajaran yg baik. Thanks share ilmunya kak

    ReplyDelete
  12. Bagus sekali acaranya, jadi yang agak sungkan kita kasih tahu ke anak, terbantu dengan acara ini ya kak..jadi terbuka pikiran anak-anak dan lebih hati-hati melangkah...

    ReplyDelete
  13. Acaranya sangat bermanfaat sekali ya ini.. Bisa mengedukasi kita juga loh.. Apalagi untuk bisa berhati2 sama pikiran anak2 untuk melangkah

    ReplyDelete
  14. Bagus banget Mbak acara seperti ini mampu membentengi generasi muda dari pengaruh negatif dan mereka bisa memfilter juga membedakan mana yang benar dan tidak. Harusnya lebih digalakan lagi di kota-kota lainnya.

    ReplyDelete
  15. Acaranya menarik ya mbak. Perlu banget nih buat anak-anak remaja. Sebagai bekal mereka menjaga diri dari segala hal-hal yang buruk. Semoga acara seperti bisa terus diadakan.

    ReplyDelete
  16. Acaranya ini berguna banget ya buat para remaja yang sudah mulai mencari jatidirinya. karena masa-masa remaja itu kan mulai kadang kurang berkomunikasi dengan orang tua tuh mbak. kayak nggak mau ribet gitu ya.

    ReplyDelete
  17. yap remaja tak bisa didekte gak boleh begiji, harus begitu. tapi pendekatan dg diajak mengobrol dengan cara yg asyik sehingga mereka jd paham bagaimana melewati masa pubertas dg baik

    ReplyDelete
  18. Bagus nih buat pembelajaran anak remaja ya, bekal agama yang penting dan disajikan dalam gaya bertutur yang menyenangkan tentu mudah masuk dalam ingatan mereka

    ReplyDelete
  19. Edukasi yg pas dan cocok untuk anak anak di jaman sekarang yg perlu mengetahui sejak dini deh ini
    Acaranya beneran seru ya mbak
    Beeguna buat ibu khususnya kak Athifah

    ReplyDelete
  20. Wah anaknya mbak Mugniar udah ada yang mau measuki masa ABG ini kah? Aku msh agak lama sih tapi kyknya kudu bersiap hehe. Sebagai ortu kewajiban kita meluruskan perilaku anak dan kasi penjelasan mengenai kondisi bernajak dewasa ini ya mbak :D

    ReplyDelete
  21. Kadang kita memang kesulitan mba menyampaikan hal-hal seperti yang diungkapkan Kak Syarif. Butuh otang khusus yang bisa terus terang menyebutkan berbagai istilah terkait pendidikan seks tsb.

    ReplyDelete
  22. wah ini penting banget kak.. karna jaman now beda banget ya jaman kita dulu.. jadi ortu dituntut lebih terbuka...

    ReplyDelete
  23. Dengan mengikuti workshop semacam ini, anak-anak remaja akan lebih siap menghadapi masa akil baligh-nya ya

    ReplyDelete
  24. Wah sampai ada workshop nya ya? aq nggak pernah kepikiran kalau masa akil baligh harus dihadapi sampai segitunya. Jaman aku dulu, ibuku ngasi tau soal menstruasi dan batasan pergaulan dari jaman aku masih cilik bgt kayaknya. Diulang2 mulu, sampai pas remaja dan menghadapi yang gitu ya udah punya gambaran harus gimana. kalau bingung tanya ibu. hehehe

    ReplyDelete
  25. Makasih ulasannya mbak, meski anak belum remaja mulai sekarang perlunya pengetahuan begini ya. Saya udah jelasin pelan-pelan menyesuaikan umurnya.

    ReplyDelete
  26. Dengn adanya kegiatan semacam ini, semoga bisa membantu adik-adik dan anak-anak kita lebih siap ya menghadapi masa remaja mereka.

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^