Showing posts with label Indahnya Menikah. Show all posts
Showing posts with label Indahnya Menikah. Show all posts

HIjUP Blogger Meet up: Belajar Jadi Istri Resik Agar Keluarga Harmonis

HIjUP Blogger Meet up: Belajar Jadi Istri Resik Agar Keluarga HarmonisUrusan yang paling intim antara suami-istri biasanya menjadi hal yang tabu diperbincangkan di masyarakat kita. Padahal kalau untuk menjadikannya bahan pelajaran, bukan untuk membuka aurat atau membuka aib kan tidak mengapa, yah. Kan tidak bisa dipungkiri juga kalau urusan itu penting dalam keberlangsungan rumah tangga.
Baca selengkapnya

Merindu Sang Pembuat Telur Mata Sapi Gepeng

Bulan ini tulisan di blog ini tak sebanyak bulan-bulan lalu. Adanya musibah di keluarga kami membuat saya harus jauh lebih banyak menyediakan waktu di dunia nyata ketimbang mengurusi blog dan media sosial. Ibu mertua saya, di penghujung tahun lalu mengalami serangan jantung ketiga (akibat kelelahan yang teramat sangat) hingga dari rumah sakit Pare pare harus dirujuk ke Pusat Jantung Terpadu di kawasan Universitas Hasanuddin. Beruntung beliau hanya 10 hari di rumah sakit. Tidak seperti kejadian di tahun 2016 lalu, saat terjadi serangan pertama dan kedua – saat itu beliau harus dirawat inap selama 40 hari.
Baca selengkapnya

Rumahtangga: Kompromi Atau Masalah

Rumahtangga: Kompromi Atau Masalah - Banyak hal yang harus ditimbang-timbang setiap harinya dalam kehidupan berumahtangga. Salah satunya adalah bagaimana bersikap kepada suami, sekaligus mengatasi ketakutan akan pandangan orang lain.
Baca selengkapnya

Merawat Cinta dengan Kencan Khusus

Merawat Cinta dengan Kencan Khusus - Ibu-ibu, setuju kan kalau merawat cinta dengan suami itu perlu? Misalnya, dengan sekali-sekali kencan? Kencannya bisa ke kafe atau nonton film di bioskop berdua saja. Nah, kencan kali ini menarik, saya dan pak suami mendatangi tausiyah yang diisi oleh ustadz Syafiq Basalamah. Temanya seputar hubungan suami-istri, bahwa surga dan neraka istri adalah pada suaminya.
Baca selengkapnya

Romantisme di Balik Dapur

Kemesraan seseorang dengan suaminya bisa membuat orang lain cemburu. Tapi kali ini bukan cemburu yang tdak baik. Cemburu kali ini adalah cemburu yang sekaligus bikin bahagia. Karena yang cemburu adalah sahabatnya.

“Cemburu, deh melihat suaminya bantuin sahabat kita di dapur,” ucap seorang sahabat, sebut saja namanya Asti. Jangan membayangkan Asti mengatakan ini sambil cemberut, yah. Tidak. Dia mengatakannya sambil tersenyum bahagia.
Baca selengkapnya

Menjadi Istri yang Menghidupkan Pernikahan

Pagi hari itu, tanggal 1 Maret, saya menemukan quote yang keren:
"Tak seorang laki-laki pun benar-benar telah menikah sampai dia sungguh-sungguh memahami setiap kata yang tidak diucapkan oleh istrinya."

Quote itu berasal dari fan page Pernikahan yang Hidup. Seseorang baru saja mengundang saya untuk memberikan cap jempol pada page yang ternyata merupakan page promo dari buku berjudul sama – Pernikahan yang Hidup. Saya langsung menyukai salah satu status di page itu.
Baca selengkapnya
Memandang Hal yang Sama, Harus Ada yang Dipersamakan

Memandang Hal yang Sama, Harus Ada yang Dipersamakan

"Membaca koran jangan asal baca, baca apa yang ada di baliknya," itu pesan Pak Subari Waluyo - guru Fisika saya sewaktu SMP.

Waktu pencapresan kemarin sampai sekarang pun berseliweran segala bentuk pendapat. Saya mengamati saja, beberapa. Saya punya pilihan sendiri tapi saya memilih untuk tidak ikut-ikut nyetatus.

Beda dengan suami saya. Dia punya cara sendiri dalam berpendapat. Saat seorang sahabat mengatakan, "Waah pilihannya (maksudnya: suami saya) kalah, Kak Niar!" Saya mengatakan, pilihan saya dengan suami sama. Kami pendukung capres yang sama.
Baca selengkapnya

Unforgettable Journey: Bulan Madu Berpanjangan

Saya tak mungkin melupakan Riau. Hanya selama dua setengah tahun lebih saya di sana tapi banyak kenangan manis yang masih membekas. Makanya sewaktu berita kabut asap kembali menjadi bencana baru-baru ini, saya ikut sedih juga. Rasanya seperti sebagian jiwa saya masih ada di sana teriris-iris. Lebay ya, tapi begitulah adanya.

Usai rangkaian acara pernikahan pada bulan April 1999, saya mengikuti suami ke Riau. Tepatnya di kota Minas, kira-kira 30-an kilometer dari Pekanbaru. Saya merasa excited sekali waktu itu. Ke tempat jauh, di tengah hutan berlingkungan modern, tinggal dengan suami … wow, ini namanya bulan madu berpanjangan.

“Konsolidasi” internal suami istri

Dengan sukacita saya menyiapkan keperluan yang harus dibawa. Bukan hanya pakaian, saya juga membawa buku-buku resep masakan buat bekal belajar masak. Baru belajar masak? He he he iyaaah. Yang penting ada keinginan belajar, kan?
Baca selengkapnya

Dua Menjadi Satu

“Aku cerita ini ke Niar karena nggak mungkin cerita ke keluargaku. Kalo Aku cerita dan besok-besok Aku sudah baikan sama masku, sudah sayang-sayangan lagi, mereka masih marah sama masku .. kan malu.”

Saya masih mengingat perkataan seorang sahabat saat saya masih di perantauan dulu. Ia bukan menceritakan aib suaminya. Bukan. Ia hanya sekadar curhat mengenai perbedaan pandangan yang biasa terjadi antara pasangan suami-istri yang menimpanya kala itu.

Saya bisa melihat permasalahan itu dengan proporsional, tentu akan berbeda bila yang mendengarnya keluarga dekat sahabat tersebut. Keluarga dekat selalu bersedia tampil sebagai pelindung dan pembela, apapun masalah yang terjadi.
Baca selengkapnya

Maaf Suamiku, Porsi Cinta Untukmu Kukurangi

Dear suamiku,

Benarlah kata-kata bijak yang mengatakan bahwa mencintai seseorang tak boleh berlebihan. Bahkan agama kita mengajarkan, cinta kepada seseorang harusnya dilandaskan oleh cinta kepada Allah.

Mengapa?
Karena cinta yang dilandaskan oleh cinta kepada-NYA pasti berdasarkan perjanjian yang kuat (mitsaqan ghalizha) yang pembangunnya merupakan iman yang tak akan goyah walau diterpa badai yang teramat dahsyat sekali pun.

Suamiku, waktu yang kita lalui bersama selama hampir 15 tahun ini telah memperkaya pengalaman dan pengetahuanku akan berbagai hal. Masih kuingat hari pertama pernikahan kita, saat pertama kali kusimpan bajumu berbaur dengan pakaian-pakaianku. Saat itu, tiba-tiba saja ada aroma lain dalam lemari itu. Seperti aroma khas seseorang tapi bukan aroma khas dirimu yang baru kuindra hari itu. Aroma apakah itu? Hm, sepertinya itu aroma “jodoh” kita berdua. Ya, gabungan dari aroma khas kita, yang bergabung dalam lemariku.
Baca selengkapnya

Benang Merah, Ketika Sepasang Hati Bertemu

Membolak balik buku yang berjudul sama dengan judul tulisan ini, siapa pun yang menyimaknya dengan baik akan mendapatkan quote yang berhikmah tentang apa itu pernikahan dan apa yang diharapkan penulisnya melalui pernikahan.

Simak saja quote-quote berikut:

Pernikahan memang terlihat tidak mudah karena kita hanya bergelut memikirkannya. Namun bila kita berani bertindak dan berani mengambil resiko serta tanggung jawabnya, insya Allah akan selalu ada jalan atau solusi. Bukankan Allah SWT juga telah menyatakan bahwa pernikahan akan membuka pintu rezeki, jadi mengapa harus takut menikah dalam keadaan tidak mapan? Bukankah menikah adalah tindakan mulia daripada terus melanglang buana yang tidak tentu arah?
(Irda Handayani, Medan, dalam “Rahasia Allah SWT di Balik Jodoh” di halaman 32).
Baca selengkapnya

Kalau Bukan Saya, Siapa Lagi?

“Saya sudah bawakan air tadi, kenapa belum diminum?” ujar saya kepada suami yang sedang terbaring di kamar Affiq.

Saya sedang dalam kondisi super ribet. Affiq dan Athifah masih selalu harus dikomando untuk mengerjakan berbagai rutinitas, termasuk sebelum tidur. Walaupun sudah kelas 1 SMP, Affiq masih harus dipandu setiap hari. Apalagi Athifah. Terlebih lagi si bungsu Afyad.

Afyad malah mulai menampakkan kerewelan. Ia biasa begitu bila sudah mengantuk tetapi belum merasa nyaman tetapi tidak juga mau naik ke peraduan. Sebenarnya ia sudah di atas ranjang tadi dan sedang tertawa-tawa setelah susunya habis tapi melihat saya ke luar kamar karena hendak menengok papanya yang sedang terbaring di kamar Affiq, ia keluar lagi.

Afyad menunjuk-nunjuk ke arah ruang makan. Saya tak mau. Karena biasanya dia “melampiaskan” ketidaknyamanannya di sana dengan berbagai cara. Padahal saya hendak menerapi papanya dengan alat terapi accupoint kami guna meringankan gejala flu berat dan demam yang sedang dideritanya.
Baca selengkapnya

Memang Harus Berbagi Tugas Dengannya

Satu lagi hikmahnya komitmen bersama suami saya temukan di saat anak-anak pada sekolah. Kami bisa bersama-sama mengurusi urusan sekolah mereka. Bersyukur saya didampingi suami yang mau berbagi tugas dengan saya dalam mengurusi anak-anak walau masih sering harus diberi SOP (standard of procedure) yang teramat jelas dan rinci. Pinginnya sih dia mengerti semuanya, setiap hari itu ngurusi anak-anak bagaimana. Jadi tanpa diminta dia sudah memberikan sumbangsihnya dengan sukarela.

Plak. Itu sih namanya bukan bersyukur, itu kurang bersyukur (menggampar lalu menunjuk diri sendiri). Iya .. ya .. maaf ya suamiku J. Wajar sih, kayaknya sebagian besar (atau mungkin semua?) suami seperti itu. Biasanya yang mengurus anak-anak kan ibunya jadi ibunya punya pola tertentu dalam mengurus mereka.
Baca selengkapnya

Tanyakan Diri, Apa yang Mengganggu

Perasaan tak enak itu mengganggu. Tertahan, tak terdefinisi dengan baik, bisa menyebabkannya terlampiaskan di tempat dan saat yang salah. Walau terkadang terjebak di dalamnya, saya tak suka. Misalnya ketika rasa tak enak itu mewujud dalam bentuk sindroma pra haid. Perubahan hormonal dalam tubuh membuat perasaan tak nyaman muncul. Perasaan tak nyaman menyebabkan letupan emosi. Malah konon ada perempuan yang sampai tega menganiaya suaminya sendiri, baik secara psikis maupun secara fisik.

Konon di Amerika Serikat dan Inggris, kasus amuk istri bertambah dari waktu ke waktu. Di Indonesia pun sering terjadi hanya saja korbannya enggan menceritakan. Perempuan yang tega menyiksa suaminya, biasanya tega pula menyiksa anaknya. Jika diteliti kepribadiannya, si ibu normal-normal saja. Yang bisa ditelusuri adalah penyebabnya, biasanya akibat kondisi rumahtangga atau hubungan kurang serasi antaranggota keluarga. Na'udzu billah, mudah-mudahan tidak tergolong perempuan seperti ini.
Baca selengkapnya

Menyemai Cinta Melampaui Murka

Banyak orang terperangah bila mendengar berita perceraian apalagi jika terjadi pada pasangan yang sudah menikah di atas dua puluh tahun. Saya pribadi, setelah menjalani rumahtangga selama 14 tahun memilih untuk mengamati, menjadikannya pelajaran. Karena saya tahu dan memaklumi, semakin panjang usia lembaga kecil bernama rumahtangga ini maka semakin keras pula ujiannya. Apalagi iblis yang pernah bersumpah akan memperdaya keturunan Adam, pasti akan menurunkan bala tentaranya dalam menggoda pasangan suami istri yang tengah berseteru.

Selalu saja ada riak dan gelombang besar di sela-sela kebahagiaan. Baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Terlebih lagi, semakin hari ego masing-masing membesar, mengiringi sapaan “istriku” dan “suamiku”. Karena ada kata ganti milik “-ku” di situ, membuat satu sama lain merasa memiliki. Memiliki identik dengan menguasai, sampai-sampai terlupa bahwa mereka satu sama lain sebenarnya saling memiliki. Bukannya saling menguasai yang seharusnya terjadi tetapi saling memahami, saling menghargai, saling menjaga, dan saling memberi.

Ego bisa lupa bahwa cinta sejati itu memberi, bukan menerima. Cinta sejati tak menuntut atau meminta balasan. Ketika konflik menjadi alasan ego untuk ngelunjak, diri terlupa menelisik bahwa cinta masih ada. Dan seharusnya, dengan meminta dan bersandar pada kekuatan cinta-Nya, konflik bisa diminimalisir bahkan ditiadakan. Sebab, seperti yang termaktub dalam sebuah hadits riwayat Al-Bukhari: Ketika Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis di dalam kitab-Nya di atas singgasana-Nya dan Dia menisbahkan kepada diri-Nya sendiri, “Sesungguhnya Cinta-Ku melampaui murka-Ku.”

Baca selengkapnya

Kenangan Macam Apa yang Akan Kita Wariskan?

Sumber: dakwatuna.com
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Tentu itulah yang pertama kali kita ucapkan saat mendengar kabar Uje (ustadz Jefri) meninggal dua hari yang lalu. Selanjutnya saya tahu, semua stasiun TV pasti menayangkan serba-serbi Uje. Saya sendiri jarang nonton TV, karena satu dan lain hal. Amat jarang malah.

Banyak status facebook yang turut mendo’akan Uje dan menuliskan bermacam hal terkait berita kematiannya. Di BB juga, konon membincangkan Uje. Beberapa blogger juga menulis tentangnya, setidaknya mengingatkan diri pemilik blog sendiri dan pembacanya tentang kematian yang bisa saja datang secara mengejutkan.

Si sulung Affiq dan papanya shalat Jum’at di masjid al Markaz al Islami. Affiq heran, di masjid yang bisa menghimpun ribuan jama’ah itu, orang shalat jenazah sesudah shalat Jum’at. “Mana mayatnya?” ia bertanya-tanya. Shalat ghaib, Nak. Itu untuk jenazah yang jauh. Masya Allah, di sini saya tercenung. Bukan hanya di tempat Uje disemayamkan saja ia dishalati, tetapi juga di sebuah masjid besar di kota ini.
Baca selengkapnya

Ketika Venus dan Mars Menikah | Welcome Trouble

Laki-laki dan perempuan berbeda. Ya iyalah .. jenis kelaminnya berbeda. Kalau yang itu semua orang juga tahu he he he. Tapi ada situasi dan kondisi di mana perbedaan laki-laki dan perempuan nyata sekali, di saat itulah kita bisa salah menilai malah bisa menjadi penyebab retaknya hubungan suami-istri.
Baca selengkapnya

Layakkah Mengumbar Kemarahan Untuk Pelanggaran Privasi?


Menikah sekian tahun memang membuat pasangan suami istri menjadi lebih saling mengenal satu sama lain. Namun di sisi lain, juga membuat mereka saling “tidak mengenal” satu sama lain karena ego yang tidak selalu bisa ditekan.

Menarik membaca tulisan dari mak Elisa Koraag berjudul Kisahku: “Sungguhkah Privasiku sudah dilanggar?” di blog  http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/ yang menceritakan pergulatan batinnya yang hanya berlangsung sebentar. Saya tertarik dengan tulisan ini karena menemukan penyelesaian konflik yang paling elegan sedunia: dengan menekan ego. Bagi banyak orang sangat sulit menekan ego di situasi itu, tapi tidak bagi mak Elisa.

Saat pulang ke rumah ia dapati tumpukan buku dan surat-surat lamanya sudah diacak-acak suaminya. Suaminya sendiri mengatakan sedang merapikannya. Mak Elisa maraha karena selama ini “privasi”-nya akan barang-barang lamanya itu terjaga, suaminya pun menjaganya hingga hari itu tiba-tiba saja berantakan.

Mak Elisa menulis: Sambil mandi, benakku tak berhenti berpikir. ”Apa sih tujuan Suamiku merapihkan rak buku?” pikirku dalam hati. Sebenarnya tidak ada yang aku takutkan atau khawatirkan. Toh antara aku dan Suami tidak ada rahasia apa-apa. Cuma rasanya tidak rela, ini sedikit menyangkut masalah privasi!

Wajar, walau sekian tahun telah saling melebur, namanya berasal dari latar belakang berbeda tentu saja ada hal-hal yang diinginkan setiap orang untuk tetap menjadi privasi – miliknya sendiri. Saya pun mungkin akan bersikap sama dengan mak Elisa bila mengalami hal itu.
Baca selengkapnya
Para Pendurhaka

Para Pendurhaka

Sumber: mollydailykiss.com
Saat baru menikah saya mengomentari buku “Cara Membahagiakan Suami” yang dibeli oleh suami, “Kenapa ya, kayaknya buku-buku seperti ini selalu buat istri saja. Ya, buat suami juga dong.” Eh, rupanya suami punya buku pasangannya: “Cara Membahagiakan Istri”.

Saya bekomentar seperti itu bukan tanpa alasan. Karena sejak zaman kuliah, bila melihat buku-buku tuntunan menjalani pernikahan selalu saja mendapatkan buku yang penekanannya kepada pihak istri. Seolah-olah hanya istri saja yang punya kewajiban membahagiakan suaminya. Suami boleh enak-enak saja.

Ternyata saya salah, Islam itu indah. Kalau istri punya kewajiban membahagiakan suami, suami pun sebaliknya, punya kewajiban membahagiakan istri. Kalau suami punya hak atas istri, istri pun punya hak atas suami.

Ada kado pernikahan yang amat manis dari teman-teman saya di Cordova Computer, satu paket buku tentang bagaimana membina keluarga yang islami. Sayangnya buku ini tidak dicetak ulang. Ukurannya mungil sekali. Ada dua buku yang sangat saya sukai di antaranya, yaitu: 20 Perilaku Durhaka Suami Terhadap Istri dan 20 Perilaku Durhaka Istri Terhadap Suami.
Baca selengkapnya

Pengantin Baruan di Rantau

Wisma Ukai B, Minas
Mengikuti suami yang bekerja di Riau pada masa awal pernikahan, sangat saya nikmati. Menghadapi kehidupan baru selepas lajang sungguh sebuah teka-teki yang menarik untuk diuraikan. Saya sama sekali tak khawatir pergi jauh dari orangtua. Saya yakin bisa hidup mandiri di rantau.

Segala perbekalan disiapkan, terutama setumpuk buku resep makanan dan beberapa buku mengenai kehidupan pasca nikah. Ini senjata ampuh buat saya yang tidak terbiasa masak (khusus mengenai sejarah masak-memasak, sudah pernah saya tuliskan dalam Memasak Itu (Tak) Mudah).

Dua minggu setelah hari pernikahan, kami dilepas oleh keluarga di bandara Sultan Hasanuddin. Tujuan kami adalah bandara Soetta, Jakarta. Di Jakarta, kami menuju bandara Halim Perdana Kusuma. Pesawat milik perusahaan yang membawa kami ke Pekanbaru berangkat melalui Halim.
Baca selengkapnya