Pernikahan dan Keluarga Besar: Tentang Memilih yang Penting dan Siapa yang Menganggapnya Penting

Pernikahan juga berarti menikah dengan keluarga besar, begitu anggapan masyarakat tradisional Indonesia terhadap pernikahan. Ini merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan pasangan suami-istri. Selama hampir 21 tahun usia pernikahan saya dan pak suami, saya juga menyadari hal ini.

Namun ada satu kejadian yang membuat saya bertanya-tanya, berpikir, dan kemudian mencoba mengikhlaskan. Ceritanya waktu itu ada telepon mendadak dari adik ipar, mengatakan kalau ada ponakan suami – anak dari sepupunya yang akan wisuda keesokan harinya.



Sudah malam, sedangkan wisuda berlangsung keesokan harinya. Dalam hati saya membatin mengapa yang seperti ini tak diinformasikan jauh-jauh hari sebelumnya jika menginginkan pak suami hadir. Saya berpendapat kalau kita meminta waktu orang itu sebaiknya jauh hari sebelumnya disampaikan. Mana tahu kan yang bersangkutan punya kepentingan lain.

Kekecewaan Karena Batal Menghadiri Pertemuan Penting


Masalahnya juga, saya sudah punya rencana meeting dengan kawan yang datang dari Jakarta. Dia jarang datang ke Makassar dan saya menyempatkan diri bertemu dengannya. Kami pernah bertemu bertahun-tahun lalu. Kali ini dia datang ke Makassar sebagai nara sumber pada sebuah acara berskala nasional dan dia mengatakan via direct message bahwa ingin bertemu dengan saya.

Pak suami sudah setuju saya pergi dan menyanggupi menjaga anak-anak. Saya berharap bisa bertemu sang kawan karena selain bisa bersilaturahmi, bisa saja ada peluang kerja sama atau informasi yang berarti buat saya.

Pernikahan, tak hanya tentang dua orang.

Saya sedang menanti-nanti pertemuan itu ketika tiba-tiba ada tugas dari keluarga pak suami: menghadiri wisuda si ponakan karena tak ada keluarganya yang bisa hadir. Di sisi lain saya memaklumi, pasti tidak enak rasanya jika diwisuda tanpa satu pun anggota keluarga. Dalam pikiran saya, ibu si ponakan tidak bisa hadir juga. 

Saya membatalkan pertemuan itu karena tidak bisa meninggalkan anak-anak. Biasanya. Tapi pertemuan dengan kawan sangat saya nantikan ... 😳😢

Mengalah untuk “Kepentingan yang Lebih Besar” (?)


Saya mengalah dan mencoba mengikhlaskan hati. Apalagi si ponakan akhirnya menelepon sendiri pamannya. Saya membatalkan pertemuan dengan kawan yang dari Jakarta. Sedih tentunya tapi apa boleh buat. Pernikahan ya kadang-kadang seperti ini, harus mengalah untuk kepentingan keluarga besar.

Sepulangnya suami dari acara wisuda, saya bertanya-tanya tentang acaranya. Katanya ibu si ponakan hadir juga. “Lah, untuk apa kita’ diminta hadir kalau ibunya ada? Katanya tidak ada keluarganya yang hadir?” tanya saya.

“Entahlah,” ucap suami saya.

“Tahu begitu kan mendingan saya pergi tadi ketemuan sama teman,” gondok sekali rasanya. Tak terasa, air mata saya mengalir. Lebay? Mungkin. Tapi saya jarang keluar rumah kalau itu tak penting. Dan pertemuan itu sangat penting bagi saya makanya air mata saya sampai keluar.

Apa alasan logis sehingga saya harus mengalah? Untuk hal yang saya anggap penting, apakah saya mengalah dengan alasan yang setara pentingnya atau tidak? 😥

Pak suami minta maaf. Dia juga tak menyangka ibu si wisudawan sebenarnya hadir. Entah apa maksudnya mendadak dia diminta datang.

Pernikahan tak hanya tentang keluarga inti.

Saya mencoba mengikhlaskan diri lagi. Perasaan saya amburadul, saya bingung harus mengalah untuk apa. Apa pentingnya bagi kami dan mereka acara wisuda itu dihadiri sementara kepentingan saya jauh lebih berarti. Saya tak menemukan alasannya ... 😢

Pentingnya Wisuda Dihadiri oleh Keluarga Besar


Sekian lama merenungkan hal ini, baru saya mendapatkan jawabannya. Ah, setidaknya saya berpikir ini merupakan jawaban. Saya mengingat-ingat, zaman kuliah dulu, acara wisuda para mahasiswa yang berasal dari daerah (kabupaten) dihadiri oleh banyak orang yang datang dari kampungnya.

Kadang-kadang anggota keluarga yang hadir di lokasi wisuda bisa sampai belasan – puluhan orang dan mereka menunggu di luar auditorium. Sepertinya yang seperti ini masih terjadi. Berbeda halnya dengan mahasiswa yang berasal dari Kota Makassar. Ketika saya dan adik-adik diwisuda misalnya, hanya kedua orang tua kami yang menemani di hari penting itu.

Mungkin ini yang dimaksud dengan “tidak ada keluarga yang hadir”. Yaitu bahwa tak ada keluarga di luar keluarga inti yang hadir. Dan merupakan sebuah kebanggan bagi wisudawan dan ibundanya, ada keluarga besarnya yang menghadiri dan melihat acara wisuda berlangsung.

Saya akhirnya bisa melihat perbedaan perspektif di antara kami. Saya sudah mengalah dan tentunya tak boleh disesali lagi karena tak ada gunanya. 😄

Pernikahan juga berarti menikah dengan keluarga besar.

Belakangan saya baru tahu kalau si pemuda yang diwisuda itu tak pernah bertemu dengan ayah kandungnya. Ibundanya sudah lama berpisah dari ayahnya dan tak pernah sekali pun bertemu dengan dirinya. Berjuang keras dalam kehidupan sudah biasa mereka lakukan. Sekarang pemuda itu tengah mengadu nasib di pulau Jawa.

Dalam hati saya bersyukur saat itu pak suami menghadiri wisudanya. Semoga kehadiran suami saya waktu itu menjadi semacam pengakuan bagi ibu dan anak itu mengenai eksistensi diri mereka.

Mengubah Perspektif dan Keterampilan Memecahkan Masalah dalam Keluarga


Komunikasi, berikut problem solving – mulai dari identifikasi masalah, prioritas, analisis, menyelesaikan, hingga evaluasi adalah sedikit keterampilan yang perlu diajarkan kepada seseorang sebelum menikah sebagai persiapan pranikah, menurut psikolog Anna Surti Ariani S.Psi, Msi.Psi  (Nina)[1].

Nina adalah seorang praktisi psikolog anak dan keluarga di Lembaga Asesmen dan Intervensi Psikologis Klinik Terpadu Fakultas Psikologi UI Depok. Dan apa yang dikatakannya betul. Jika sebelum menikah, hal seperti ini harus bisa dipahami, apalagi ketika menjalani pernikahan. Bukan sekadar dipahami lagi, melainkan dilaksanakan agar tak jadi masalah besar.

Sesungguhnya berkomunikasi dan problem solving, mulai dari identifikasi masalah, prioritas, analisis, menyelesaikan, hingga evaluasi harus sering-sering dilakukan sebab keadaan bisa saja berubah sewaktu-waktu karena perspektif yang berubah. Mengubah perspekif dan pengendalian diri bisa sangat membantu membentuk kematangan pribadi.

Dalam album kenanganmu, pasti ada anggota keluarga besar
di sana.

Pentingkah? Ya. Penting sekali! Dan sebenarnya pentingnya di sini untuk yang menjalani pernikahan itu sendiri. Bukan untuk orang-orang di luar sana. Supaya tidak perlu bertengkar hebat suami-istri untuk hal yang bisa dibicarakan baik-baik.

Namun, ingin saya pesankan melalui tulisan ini kepada anak-cucu saya. Dalam pernikahan kalian kelak sesekali kalian perlu mengalah untuk kepentingan keluarga besar atau mjungkin kalian perlu meminta saudaramu untuk mengalah. 

Tapi ingat, jangan mendadak meminta hak. Jangan suka menganggap diri lebih penting jika meminta hak kepada saudaramu sebab ada hak saudara iparmu juga di situ. Kabarkan jauh-jauh hari sebelumnya agar semuanya sama-sama enak. Jangan mementingkan diri sendiri, ya!

Makassar, 5 Januari 2020



[1] Dari artikel yang tayang di Kompas.com dengan judul "Menyoal Sertifikat Pernikahan, Ini Tanggapan Psikolog Keluarga", https://sains.kompas.com/read/2019/11/16/170400523/menyoal-sertifikat-pernikahan-ini-tanggapan-psikolog-keluarga?page=all. Penulis : Ellyvon Pranita. Editor : Shierine Wangsa Wibawa. Diakses pada 5 Januari 2019, pukul 21:10 WITA.



Share :

31 Komentar di "Pernikahan dan Keluarga Besar: Tentang Memilih yang Penting dan Siapa yang Menganggapnya Penting"

  1. Yap, selaluuuu ada cerita dan "drama" kalo terkait keluarga besar ya Mak.
    Same here :D
    Duuuh, kalo diceritain semua kagak ada habisnya heheheheh
    Yg penting memang harus saling "ngajeni" atau menghargai/memanusiakan orang lain gitu lah

    ReplyDelete
  2. Memang sih, kalo menikah dengan seseorang ya berarti menikah dengan keluarga besarnya. Saya juga pernah mengalami hal seperti itu dan memaklumi saja.😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sering mengalaminya dan mencoba memaklumi dan mengikhlaskannya.
      Yang di tulisan ini yang paling bikin saya mikir lamaaa hehehe.

      Delete
  3. perkahwinan adalah isu besar dalam kehidupan ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. BEnar sekali. Banyak sisi yang harus dipertimbangkan.

      Delete
  4. emang kalau berurusan dengan keluarga besar, harus banyak ngalahnya ya mbak. Mesti sediakan hati yang sabar seluas samudra

    ReplyDelete
  5. Iya Kak, walaupun ada keluarga inti, tapi kalau ada anggota keluarga besar yang hadir, rasanya jadi lebih apa ya, tenang, merasa lebih berarti..apalagi dari suku kita yang rasa kekeluargaannya erat banget ya..

    ReplyDelete
  6. Kadang saya biasanya juga seperti itu membatalkan kegiatan yang sudah dijanjikan, tapi dari pembatalan itu saya banyak sekali belajar. Apalagi sudah membuat janji memang harus ada salah satu yang kita relakan, terkadang hal yang saya relakan itu adalah hal yang mungkin bisa diulang kembali.. Dan hal itu bisa dilakukan di kemudian hari, kalau ada hal yang tidak bisa diulang dan memang suatu hal yang penting biasanya saya datang ke lokasi tersebut walaupun hanya sebentar saja. Namun bila ada kegiatan yang sama sama penting, biasanya saya bilang ke salah satu acara atau orang tersebut untuk bisa bertemu dan berjumpa atau bisa datang lebih awal agar bisa menghadiri acara keduanya tanpa harus kehilangan salah satunya.. Jadi penyesalan bisa diminimalisir atau dicegah hehe ;D

    ReplyDelete
  7. MasyAllah 21 tahun menjalani pernikahan. Bener-bener bukan sembarang waktu. Luar biasa. Semoga pernikahannya barokah ya mba. Aku salut lho. Doain juga pernikahan aku langgeng ya mba sampai ke syurgaNya. Aku dan suami jarang berantem mba. Tapi permasalahan aku selalu dateng dari pihak keluarga suami alias mertua. Jadi aku banyakin sabarin diri sekaligus menguatkan suami. Klo aku ga sabar, kasian dia. Ga ada yang nguatin dia. Dan aku juga brharap aku pun kuat 😊

    ReplyDelete
  8. Momen wisuda pada keluarga besar sekaligus memperpanjang silahturahmi ya Mba...

    #semoga dapat kesempatan lain bertemu dengan teman dari Jakartanya Mba...

    ReplyDelete
  9. Puk puk puk.. aku pernah juga mengalami bbrp drama terkait keluarga besar. Sulit sih di ungkapkan nyeseknya, ngalahnya buat apa, yaa gitu deh yaa.. hihihi.. ku doain nanti bs segera ketemu teman yg dari jkt ya

    ReplyDelete
  10. Harus ada komunikasi yang lancar mba, tapi juga butuh tenggang rasa. Jadi nggak ada yang dikalahkan. Semoga ada waktu terbaik bisa bertemu teman satu saat nanti

    ReplyDelete
  11. Sabar ya mbak, kadang emang nyebelin sih kalau situasinya seperti itu. Kadang yang bikin kita gak bisa berbuat apa-apa itu karena alasanya yang gak masuk akal.Alhamdulillah kalau di keluarga saya dan suami lebih memahami satu sama lain dengan kesibukannya.

    ReplyDelete
  12. Heeheu, saya juga bakalan gondok pasti Mba kalau dadakan gitu mintanya. Tapi ya syukurlah kalau akhirnya sudah membaik sekarang keadaannya, mungkin keponakan ingin ada sosok "ayah" hadir di wisudaannya yaitu suami Mba Mugniar.

    ReplyDelete
  13. I feel you, Mbak Niar.
    Kadang kita berpikir untuk mengorbankan urusan keluarga yang lebih penting, akan tetapi kadang kenyataannya malah mengecewakan karena orang tidak tahu sebelum kita membuat keputusan itu apakah ada yang kita korbankan. Jadi, nnagis ga lebay. Karena kecewa, tapi setelah itu alhamdulillah legah.

    ReplyDelete
  14. apa aku terlalu lempeng yah kadang aku ya sudahlah kalau misal suami mendadak diminta keluarganya untuk ini itu sementara sudah jauh hari bikin janji buatku dan anak-anak wkwkwk..tapi makasih mba Niar aku jadi tahu sudut lain tentang hal ini :)

    ReplyDelete
  15. MBaa, mungkin orang lain menganggap sederhana karna mereka nggak mau liat dari sisi orang lain. Dan memang sebenarnya kuncinya adalah komunikasi dan ini penting banget :)

    ReplyDelete
  16. Nyesek memang kalau seperti ini, huhuh saya pernah merasakannya juga, nangis? tentu sebagai bentuk kesal dan sedih aja, tapi setelah nangis agak lega dikit.

    ReplyDelete
  17. Ya, kadang begitu. Pernah ada mau berangkat liburan bareng suami. Udah siap-siap pagi-pagi, ada keluarganya yg tlp biar kami ikut lamaran. Padahal ya, sudah sudah banyak yg datang juga. Suami juga sampai menggerutu, acara sepupu lamaran kok ya ngabarinnya mendadak banget kek ngabarin siapa..
    Akhirnya ya sudah, baju-baju yang udah saya packing bongkar lagi. Sediih, pengen teriak tapi ya sudahlah.

    Semoga anak cucu kita nantinya tidak begitu. Ketika ingin meminta kehadiran dari keluarga besarnya, ya paling enggak minimal jarak seminggu sudah memberitahukan. Enggak mendadak di hari itu langsung.

    ReplyDelete
  18. Bener ya, Mba. Kalau mau meminta sesuatu itu jangan mendadak. Kedu orangtuaku baik kandung apa mertua hobinya meminta mendadak. Kalau ga dituruti ortu, dituruti kota punya kepentingan sendiri. Jadi serba salah. Tapi akhirnya ya mengalah sebagai anak. ^_^

    ReplyDelete
  19. Setuju banget kalau menikah dengan suami itu artinya menikah dengan keluarga besar . Saya malah lebih akrab dengan mbak-mbak dan adik ipar serta keponakan suami dibanding suami sendiri loh.Jadi kalau ada apa apa mereka curhatnya malah ke saya. Dan saya menikmatinya.

    ReplyDelete
  20. Nah iya,, kadang kepentingan kluarga hrs didahulukan demi kepentingan pribadi,, kitanya hrs busaenahan diri walaupun Ada yg Maha penting mnurut kita

    ReplyDelete
  21. Begitu tahu alasannya aku bisa paham, Mbak
    Tapi memang sedih mungkin kalau ibunya sendirian datang. Karena momen wisuda - terutama bagi anak daerah (kayak) saya, bisa jadi berarti sekali.
    Semoga si pemuda segera mendapat penghidupan bagi dirinya dan membanggakan Ibunda tercinta

    ReplyDelete
  22. I feel u mbaa.. Baca cerita awal itu berasa balik lagi ke moment dimana aku sempat nangis saat gak jadi ke alfamart bareng buat romantic time. Yaelaah. Receh amat yak? Haha. Memang perlu banget komunikasi positif dan bergantian mengalah dalam pernikahan itu ya. Supaya terwujud keharmonisan dalam rumah tangga. Kadang, saat fase kita mengalah itu. Beberapa saat kemudian pasti ada fase manisnya. Yaa.. Begitu deh hidup. Semoga kita bisa menikmati dan menjalani semuanya dengan hati ikhlas ya mbaa. Hug.

    ReplyDelete
  23. Semangat mbaaaaa
    Karena kadang2 suka kejutan emang keluarga besar itu
    Semoga langgeng keluarga besar kita mba

    ReplyDelete
  24. "Jangan mendadak meminta hak. Jangan suka menganggap diri lebih penting jika meminta hak kepada saudaramu sebab ada hak saudara iparmu juga di situ." Makjleb banget ini Mbak. Betul sekali saya setuju.

    ReplyDelete
  25. Kebayang mba gondoknya dirimu ketika tau fakta bahwa sebenarnya tak mengapa jika pak suami tak hadir. Tapi ya begitulah kehidupan berkeluarga ya, kadang kita memang harus mengalah meskipun ternyata seharusnya kita masih bisa menjalankan aktivitas yang kita inginkan. Semoga pengorbanan dan keikhlasan kita mengalah menjadi berkah bagi semuanya.

    ReplyDelete
  26. Sepanjang tulisan kak Niar, aku serasa berhenti bernapas...karena memang menikah itu artinya belajar komunikasi dan memahami orang lain yang sudah tinggal serumah dengan kita.
    Untuk hal-hal kecil saja bisa memicu perselisihan.

    Semoga Allah jaga selalu pernikahan kak Niar dan suami.
    Barakallahu fiikum.

    ReplyDelete
  27. kebetulan saya hidup di lingkungan keluarga suami. meski tidak bersama kedua orang tua dari kedua belah pihak kami. saya sering tak cocok dg keluarganya, tapi saya ungkapkan dg jelas pada suami jd bila ada yg berhubungan dg keluarganya, beliau yg maju..bukan saya

    ReplyDelete
  28. Saya beberapa kali dihadapkan pada dilema seperti ini. Baik keluarga besar saya maupun keluarga besar suami. Namun ya pada akhirnya tetep saja kepentingan keluarga besar harus didahulukan. Kalau saya mikirnya, pilih amannya saja deh. Males ribut dan ribet sama keluarga besar. Insyaa Allah kalau ada rejeki saya akan dapat yang saya ingginkan.

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^