Tampilkan postingan dengan label Yang Berbagi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yang Berbagi. Tampilkan semua postingan

Kisah Pemenang Sekolah Sehat Makassar 2017


Sekolah Sehat Makassar - Semacam instalasi perpipaan sederhana berdiri di tengah lapangan olah raga SD Inpres Maccini Baru. Segenap guru dan anggota dewan komite sekolah (komite sekolah terdiri atas para orangtua murid) terlihat masih mempersiapkan pelaksanaan acara. Murid-murid – para pengisi acara bersiap-siap di sekitar lapangan olah raga. Beberapa orang yang mengenakan seragam bertuliskan “Yayasan Peduli Negeri” terlihat duduk atau bercakap-cakap. Tak berapa lama kemudian, para kepala sekolah sekecamatan Tamalate berdatangan. Namun acara tak segera mulai karena Kepala Dinas Kesehatan dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Makassar belum hadir.
Baca selengkapnya

Menakar dan Menitip Asa Tentang Layanan Publik di Puskesmas

 If you do build a great experience, customers tell each other about that. Word of mouth is very powerful (Jeff Bezos, CEO Amazon.com) 

Ada Masalah!

 “Mau cabut gigi anak saya, Pak,” kata saya kepada salah seorang petugas yang sedang berjaga di loket sebuah Puskesmas.
Baca selengkapnya

SHOWCASE: Ide dan Inspirasi dari Pasikola, Genoil, dan Film

PASIKOLA – angkutan umum untuk anak sekolah di Makassar, sudah beberapa bulan terakhir ini membuat saya penasaran. Saya sering melihat 1 unit Pasikola di persimpangan jalan Veteran Selatan – jalan Sultan Alauddin. Di Showcase, saya mendapatkan jawaban atas rasa penasaran saya. Selain Pasikola, ada dua topik lain yang memikat. Yaitu tentang bagaimana minyak goreng bekas dan seni bisa berpengaruh di masa depan.
Baca selengkapnya

SHOWCASE: Ide dan Inspirasi dari Sebuah Utopia dan Rumput Laut

Saya menjadi bersemangat menghadiri SHOWCASE saat mencari tahu tentangnya dan menemukan keterangan bahwa format acara ini terinspirasi oleh TED – sebuah diskusi global yang mengangkat ide-ide seputar teknologi, entertainment, dan desain – ketiga subyektif yang secara kolektif membentuk masa depan kita.
Baca selengkapnya

Menyalakan Lilin Melalui Buku untuk Indonesia

Better to light a candle than to curse the darkness. Atau dalam bahasa Indonesia berarti: lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan adalah kalimat  motivasi yang terkenal di seluruh dunia. Di Indonesia kalimat ini dipopulerkan oleh Anis Baswedan dalam gerakan Indonesia Mengajar. Kalimat yang patut dilayangkan kepada mereka yang suka mencaci-maki pemerintah tetapi tak mampu melakukan apa-apa, hal positif yang kecil sekali pun.

Dalam bentuk lain, baru-baru ini saya kembali mendengarkan motivasi seperti ini dari mulut Andy F. Noya – jurnalis terkenal dari Metro TV yang sekaligus Duta Baca Indonesia tahun 2016. Saat itu saya menyimak penuturan Andy sebagai nara sumber pada talkshow Buku untuk Indonesia di panggung acara Fun Walk BCA pada tanggal 23 Juli lalu. Bertepat di satu sisi pada Lapangan Karebosi Makassar, Andy yang pernah menjalani masa kecilnya di kota Makassar pada tahun 1960-an ini mengatakan, “Jangan selalu berharap pada pemerintah.”

Lakukan Sesuatu Meski Itu Hanya Menyalakan Sebatang Lilin

Gubernur Sulawesi Selatan (Syahrul Yasin Limpo) tengah bercakap dengan Andy F. Noya
Sumber foto: Eryvia Maronie (www.emaronie.om)
Melalui paket donasi kepada masyarakat luas yang kemudian dikonversi menjadi buku, BCA berkomitmen untuk menumbuhkan kembali minat membaca di berbagai pelosok Indonesia. Gerakan “Buku untuk Indonesia” berhasil mengundang banyak partisipasi dari masyarakat Indonesia. Pada periode I penggalangan donasi yang berlangsung sejak tanggal 15 Maret hingga 14 Juni 2017, dana yang terkumpul sudah lebih dari 1 miliar rupiah. Bisa Anda tebak, dari mana pemberi donasi terbesar pada gerakan ini? Makassar, yes! Ternyata masih banyak orang Makassar yang mau menyalakan lilin!

Nah, rencananya BCA akan membagikannya kepada 104 sekolah penerima donasi di 60 titik di Indonesia. Donasi minimal sejumlah seratus ribu rupiah bisa dilakukan di kantor BCA atau di gerai-gerai BCA, misalnya yang ada di Lapangan Karebosi saat cara ini berlangsung. Melalui donasi yang diberikan, BCA memberikan kepada Anda kenang-kenangan berupa kaos jersey. Mudah dan murah.

Frengky, Andy, dan Widya.
Penjelasan tentang program Buku untuk Indonesia ini dijelaskan oleh Kepala Kantor Wilayah BCA – Frengky  Chandra Kusuma dan Vice President Kerjasama Transaksi Perbankan BCA – Liza L. Widyasari saat mendampingi Andy di atas panggung talkshow Buku untuk Indonesia. Mengenai minat baca di Indonesia yang (konon katanya) rendah, Andy berpendapat bahwa itu tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, banyak wilayah yang sulit terjangkau di negara ini. Anak-anak Indonesia banyak yang berminat terhadap buku, hanya saja akses mereka kepada buku amat terbatas.

Oya, tentang minat baca Indonesia yang rendah, hal ini diungkapkan oleh sebuah hasil studi tahun 2016. Studi itu berjudul Most Littered Nation in The World, dilakukan Central Connecticut State University. Di situ dinyatakan bahwa Indonesia negara ke-60 dari 61 negara soal minat baca. Negara kita berada persis di bawah Thailand dan di atas Botswana.

Lilin Berupa Buku untuk Indonesia

“Semoga Aksi Berbagi ini dapat berkontribusi positif dan menjadi pengingat kita semua akan pentingnya akses buku yang luas bagi tunas-tunas bangsa sebagai aset berharga dalam menggapai harapan dan cita-cita. Menjawab animo masyarakat yang tinggi, periode II gerakan berbagi Buku untuk Indonesia akan berlanjut hingga akhir tahun 2017. Kunjungi laman www.bukuuntukindonesia.com atau www.blibli.com untuk berpartisipasi dalam gerakan ini,” pungkas Frengky.

Sebagian peserta
Ah iya, hampir lupa. Sebelum talkshow, usai gubernur Sulawesi Selatan – Syahrul Yasin Limpo meninggalkan lokasi acara, sebanyak 11 kepala sekolah menerima secara simbolis donasi Buku untuk Indonesia. Mengapa secara simbolis saja? Karena buku yang mereka terima, masing-masing sebanyak 200 buku untuk satu sekolah. Kebayang kalau harus menerima buku sebanyak itu di atas panggung, hehe.

Ke-11 sekolah yang beruntung itu adalah: SDN Balang Baru, SDN KIP Bara-baraya II, SDN Inpres Borong, SD Negeri No 11 Bontojai, SDN Inpres Barombong 03, SD Inpres/Negeri BTN Pemda, SD Labuang Baji II, SDN Mamajang I, SD Inpres Gontang, SD Inpres Lanraki 2, dan SDN 178 Inpres Lamangkia.

Gerakan Buku untuk Indonesia mulai diselenggarakan sejak ulang tahun BCA yang ke-60. Sebelum di Makassar, beberapa wilayah sudah lebih dulu menjadi tempat pelaksanaannya, seperti di Jakarta, Semarang, dan Lampung.

Andy berfoto bersama para kepala sekolah dasar penerima donasi buku.
Setelah di Makassar, aksi berbagi Buku untuk Indonesia ini juga serempak diadakan di 5 daerah dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional. Kelima daerah tersebut adalah Garut mewakili Jawa, Manado mewakili Sulawesi, Kupang mewakili Indonesia Bagian Timur, Aceh mewakili Sumatera, dan Singkawang mewakili Kalimantan.

Melalui gerakan yang dilaksanakan dalam rangka HUT yang ke-60 ini, BCA berkomitmen untuk Menjadi Lebih Baik melalui tiga pilarnya belajar lebih baik, melayani lebih baik, dan memberi lebih baik. Aksi berbagi Buku untuk Indonesia ini merupakan perwujudan komitmen BCA untuk memberi lebih baik kepada masyarakat dengan harapan dapat berkontribusi meningkatkan minat baca di berbagai pelosok di Indonesia yang penting dalam menciptakan generasi muda yang cerdas, berkualitas, dan berakhlak mulia.

Kalau Anda-anda ingin ikut “menyalakan lilin” melalui gerakan ini, masih bisa, lho. Buku untuk Indonesia masih berlangsung hingga tanggal 15 September 2017. Segala sesuatunya terkait Buku untuk Indonesia bisa dilihat di website Buku untuk Indonesia.


Well, semoga lilin-lilin ini menyala abadi dan kelak bisa mendongkrak Indonesia menjadi 10 besar dunia dalam hal minat baca. Tidak mustahil, kan?

Makassar, 14 Agustus 2017


Baca selengkapnya

Tak Ada Pameran Tapi Ada Pazaar dan Lazismu

Rencananya tanggal 7 Agustus itu, saya mau melihat-lihat Pameran Muktamar Muhammadiyah di Monumen Mandala Makassar. Walau sejak kecil sering mendengar kata “Muhammadiyah”, saya tak pernah dekat dengan anggota Muhammadiyah. Sampai saat menikah, saya terlibat dengan banyak warga dekat dan simpatisan Muhammadiyah.
Mendekati Monumen Mandala, dari arah selatan, tepatnya di sekitar gedung IMMIM, bis-bis besar yang memuat para peserta muktamar sudah terparkir berjejer. Padahal jarak antara Monumen Mandala dan gedung IMMIM masih sekira 1 kilometer.
Baca selengkapnya

Keceriaan di Festival Anak Makassar 2015 (3)

Tulisan ini adalah kelanjutan dari dua tulisan sebelumnya (bagian 1, klik di sini. Dan bagian 2, klik di sini)

Pertandingan Puzzle 

Selepas kegiatan-kegiatan di sudut-sudut belajar di Festival Anak Makassar 2015 ini, kuis yang disponsori SPAK (Saya Perempuan Anti Korupsi) dan beberapa hiburan dari para partisipan diketengahkan. Hari sudah menjelang sore tetapi wajah-wajah anak-anak dan anak-anak muda itu masih terlihat ceria. Ada saja canda-tawa di sela-sela koordinasi antar panitia dan kegiatan para peserta. Tak terlihat gurat lelah di wajah mereka padahal acara sudah berlangsung sejak berjam-jam sebelumnya. Persiapannya pun sejak berminggu-minggu atau mungkin berbulan-bulan sebelumnya.
Baca selengkapnya

Keceriaan di Festival Anak Makassar 2015 (2)

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya (bagian 1, klik di sini)

Atmosfer di lantai 2 Sao Mari (Eating Point di Mal Ratu Indah) pada Festival Anak Makassar, 25 Juli lalu adalah KECERIAAN. Saya melihat wajah-wajah ceria di sana. Juga pertunjukan seni bernuansa ceria dari anak-anak, wakil dari komunitas-komunitas yang berpartisipasi. Selain komunitas yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya, ada pula partisipan non komunitas, yaitu dari SDN Paccinang dan SD Alam Bosowa. Salut deh, guru-gurunya mau mengajak anak-anak muridnya terlibat dalam Festival Anak Makassar 2015 ini.
Baca selengkapnya

Keceriaan di Festival Anak Makassar 2015 (1)

Tepat waktu zuhur, saya beserta suami dan dua anak kami yang terkecil tiba di Mal Ratu Indah (MaRI) pada tanggal 25 Juli itu. Kami hendak menyaksikan Festival Anak Makassar 2015 yang diselenggarakan oleh LeMINA (Lembaga Mitra Ibu dan Anak) – salah satu lembaga sosial yang sangat peduli pada kesejahteraan ibu dan anak kalangan menengah ke bawah.

Di masjid dalam MaRI kami saya bertemu dengan Tari – salah seorang relawan KPAJ (Komunitas Pecinta Anak Jalanan) beserta anak-anak binaannya. Acara sudah mulai, kata Tari, tapi baru pertunjukan seni. Usai shalat zuhur, saya, suami, Athifah, dan Afyad bergegas ke Sao MaRI Eating Point yang terletak di lantai 3 MaRI. Festival Anak Makassar berlangsung di sana.
Baca selengkapnya
Meneladani Keuletan Mereka

Meneladani Keuletan Mereka

Empat tahun lalu, Pak Haryadi Tuwo bersama mendiang istrinya mendirikan Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak Babul Jannah di Jalan Rapoocini. Sekolah sederhana itu diperuntukkan bagi warga tingkat ekonomi menengah ke bawah di sekitarnya. Hanya cukup membayar uang pangkal, tak ada uang bulanan. Para santrinya rata-rata sudah bisa membaca, menulis, dan menghafal do’a sehari-hari setelah tamat. Keuletan Pak Haryadi membuat sekolahnya masih beroperasi hingga kini.

Keuletan pula yang mengantarkan Wahyudin menjadi sarjana Ekonomi. Wahyudin adalah seorang warga Bekasi yang memulung sejak duduk di kelas 4 sekolah dasar. Selain memulung, Wahyudin juga menjual hasil ternak dan berjualan gorengan. Walau sering dicibir, ia bergeming. Dengan giat, ia terus bekerja demi mengumpulkan uang untuk pendidikannya. Tekadnya membara. Menurutnya, dengan berpendidikan, ia bisa memberi manfaat untuk lingkungan sekitar.
Baca selengkapnya

Menemukan Pendar Cahaya di Balik Sampah

Awalnya saya datang ke tempat ini hanya untuk mengetahui bagaimana proses pembukaan rekening bank sampah. Ternyata saya mendapatkan banyak cerita yang berarti sebuah penambahan wawasan bagi saya.

Saya takjub dengan penjelasan yang diberikan oleh para pengurus Bank Sampah Pelita Harapan. Mereka menerima saya dengan baik dan secara terbuka memberikan semua informasi. Bahkan tanpa segan, pembukuan pun mereka perlihatkan sebagai bukti bahwa mereka transparan, tidak ada menyembunyikan hal-hal tidak baik.

Saya telah membuat reportasenya dan meng-upload-nya di Blogdetik. Bagi teman-teman yang ingin membacanya, berikut ringkasan dan linknya:
Baca selengkapnya

Buah Manis dari Rentetan Proses yang Seperti Kebetulan

Jalan untuk berbagi pengetahuan bisa dari mana saja. Melalui tulisan tentu saja bisa. Jaringan pertemanan pun bisa, bahkan melalui kegiatan bersama, antarkomunitas. Seperti rentetan kebetulan saja tapi saya yakin ini bukan kebetulan. Allah telah mengaturkan jalannya. Saya mengalaminya, baru-baru ini.

Awal mulanya adalah ketika saya bertemu dengan Bunga – sapaan akrab Andi Bunga Tongeng, di event ulang tahun BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia). Bunga adalah penggiat aktivitas sosial di dua komunitas: LeMINA (Lembaga Mitra Ibu dan Anak) dan Penyala Makassar. Bunga juga bergabung bersama saya di komunitas IIDN(Ibu-Ibu Doyan Nulis) Makassar.

“Niar, bikin kegiatan bersama IIDNLeMINA tentang pencegahan kekerasan seksual pada anak yuk,” ajak Bunga.

“Boleh,” jawab saya.

Tiba-tiba saya teringat suatu hal. Seorang kawan psikolog pernah menawari saya tentang ini!
Baca selengkapnya

Peran Media Sosial dalam Aktivitas Komunitas

Sebuah hal menyenangkan yang turut berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi dewasa ini adalah makin maraknya kegiatan sosial dan seni yang diselenggarakan oleh masyarakat biasa di kota saya.

Aktivitas saya sebagai blogger aktif selama 3 tahun terakhir, membawa saya berkenalan dan sekadar membaca tentang para aktivis serta komunitas sosial dan seni di kota ini. Kebanyakan mereka dari kalangan muda usia. Bahkan banyak pula yang masih mahasiswa.

Saya salut sekali dengan kreativitas anak-anak muda itu. Sepertinya karena iklim sekarang berbeda dengan iklim saat saya masih mahasiswa di era 90-an dulu. Kenyataan mengenai aktivitas sosial dan seni yang terbaca di media sosial sekarang, khususnya Facebook dan Twitter  amat mengagumkan.
Baca selengkapnya

Kue Kering Lebaran di Setia Karya

Kegigihan bu Rini dan saudara-saudaranya dalam membina panti asuhan Setia Karya, patut didukung dan ditiru. Membina 65 anak selain anak kandung tentunya bukan hal yang mudah.

Setiap hari bu Rini bersama suaminya membuat kue-kue untuk dititip jual di beberapa toko di Makassar. Ini sekaligus merupakan salah satu sumber pemasukan panti juga. Di bulan Ramadhan ini, ia membuat kue-kue kering untuk dijual tetapi tidak dititip jual di toko-toko. Barang siapa yang berkenan membeli, bisa langsung ke Panti Asuhan Setia Karya, Jl. Manurukki Raya No. 29 A, Makassar.

Ada aneka jenis kue kering, seperti kue keju, nastar, cokelat, dan sultana. Khusus kue sultana ini, saya sempat menghirup aromanya. Sedap. Dari aromanya saja, air liur sampai menetes. Konon bu Rini menggunakan bahan-bahan yang bagus, bukan asal bikin.
Baca selengkapnya

Semangat Berbagi di Setia Karya

Saya senang kembali ke tempat itu. Senang bisa berbincang kembali dengan bu Rini. Senang bisa melihat anak-anak di panti asuhan Setia Karya itu terlihat ceria, seolah mereka tak punya beban hidup apapun padahal di mata kita, merekalah segelintir dari anak-anak yang paling menderita di dunia.

Bagaimana tidak menderita kalau mereka nyaris tak mengenal ayah dan ibu kandung mereka? Beberapa di antara mereka bahkan resmi menjadi penghuni panti di saat usia mereka masih dalam hitungan hari! Hubungan gelap yang dilakukan para mahasiswa yang seharusnya menjadi orang tua mereka dijadikan alasan pembenaran untuk meninggalkan mereka di panti itu.

Bu Rini yang menceritakannya kepada saya. Ia adalah salah satu dari 12 anak pendiri panti asuhan Setia Karya. Enam orang dari mereka tinggal di area panti, mengurusi panti yang beranggotakan 65 anak yatim/piatu/ terlantar ini.
Baca selengkapnya

Para Pecinta Anak Bangsa

Dari ke-75 komunitas yang mengikuti ajang Pesta Komunitas Makassar di Monumen Mandala pada tanggal 24 – 25 Mei lalu, beberapa di antaranya merupakan komunitas penggerak kegiatan sosial. Sebuah kebanggan mengenal mereka. 

Para relawannya kebanyakan masih muda-muda dan sudah begitu peduli dengan kesejahteraan masyarakat. Mereka berusaha dengan dukungan dana sendiri yang seadanya sembari mengetuk hati para dermawan. Dari booth-booth yang mereka tempati di Pesta Komunitas Makassar, mereka berbagi cerita tentang kegiatan mereka dan mengajak pengunjung untuk turut mencerdaskan anak negeri bersama mereka. Inilah 3 di antaranya:
Baca selengkapnya

Backpackers Bikin Kelas Inspirasi Sendiri

Sebenarnya jadwal Diskusi Backpackers Menginspirasi dari Selatan tanggal 2 Mei lalu di gedung BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia) berlangsung pukul 15 - 17 tapi saya salah jadwal dan datang pagi sementara pada pagi hari itu hanya ada pameran foto.

Untungnya
dua orang backpackers yang akan berbagi cerita sudah datang pagi itu sehingga saya bisa ngobrol dengan Wawan – salah satu di antaranya. Wawan menceritakan beberapa pengalamannya di 5 kabupaten (Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, dan Bulukumba) di daerah selatan Makassar.

Ia bersama Babe (eh, Babe ini nama panggilan ya
bacanya “BABE” bukan “BEIB”, dan catat … aslinya dia masih muda J), mereka mendapatkan banyak pengalaman menarik melintasi banyak wilayah dengan berinteraksi dengan penduduk dan berbagi inspirasi sebagai relawan Kelas Inspirasi di 4 sekolah dasar. Wawan menyebutnya sebagai "pengalaman spiritual".
Baca selengkapnya

Memperjuangkan Rumah Ramah Rubella

Rubella. Sudah lama saya mendengar kata itu, di awal-awal pernikahan. Ketika itu saya merantau bersama suami dan menyibukkan diri dengan berbagai bacaan mengenai kehidupan berkeluarga, termasuk serba-serbi anak.

Aneka hal yang menyenangkan dan menakutkan saya lalap. Hingga membuat saya sampai di pemikiran, “menjadi orangtua itu tak mudah”. Rubella adalah salah satu momok. Juga istilah-istilah lain, seperti down syndrome, toksoplasma, dan lain-lain.

Tak mengherankan bila ketika Affiq lahir (Juli 2001), saya terkena baby blues syndrome. Selama beberapa hari saya dilanda perasaan nelangsa yang teramat sangat karena merasa tak yakin, apa saya pantas menjadi ibu? Alhamdulillah, Allah menganugerahkan anak-anak yang tak terpapar virus rubella. Akhirnya istilah rubella terlupakan oleh saya hingga saya membaca tentang Rumah Ramah Rubella di blog seorang ibu bernama Gracie Melia yang saya kenal melalui KEB (Kumpulan Emak-Emak Blogger) belum lama ini.
Baca selengkapnya

Anak-Anak Muda Penyala yang Luar Biasa

Parkiran Fort Rotterdam, di sini tenda Penyala Makassar
didirikan
Langit Makassar menjelang siang pada tanggal 14 Februari itu mendadak gelap. Angin bertiup amat kencang. Walau hanya berdiri di dekat beranda rumah, saya bergidik merasakan terpaan angin.

Harap-harap cemas hujan tak berlangsung lama. Saat curahannya mereda, saya beserta suami nekad memboyong Athifah dan Afyad dengan Mega Pro andalan ke Fort Rotterdam, tempat ajang Say It With Books berlangsung.
Baca selengkapnya

Para Pecinta Pasukan Bintang

Saya mengenal nama KPAJ – Komunitas Pecinta Anak Jalanan sejak bergabung dengan komunitas blogger Anging Mammiri. Salah seorang anggotanya – Khie (Rezkiani) namanya, merupakan pengurus komunitas ini.

Sebagai kota yang berproses menjadi kota metropolitan, Makassar memiliki satu problem yang sama dengan Jakarta sebagai imbas berpindahnya penduduk dari berbagai daerah ke kota ini, yaitu: berkeliarannya anak-anak jalanan di mana-mana, terutama di titik-titik keramaian, di jalan-jalan poros.

Tak jarang mereka dimanfaatkan sebagai ladang rezeki oleh orang-orang dewasa yang bertindak sebagai “penyalur tenaga kerja”, diorganisir menjadi peminta-minta di jalanan.
Baca selengkapnya