Showing posts with label Pesan dari Masa Lalu. Show all posts
Showing posts with label Pesan dari Masa Lalu. Show all posts

Pernikahan dan Keluarga Besar: Tentang Memilih yang Penting dan Siapa yang Menganggapnya Penting

Pernikahan juga berarti menikah dengan keluarga besar, begitu anggapan masyarakat tradisional Indonesia terhadap pernikahan. Ini merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan pasangan suami-istri. Selama hampir 21 tahun usia pernikahan saya dan pak suami, saya juga menyadari hal ini.
Baca selengkapnya

Setelah Huru-hara SBMPTN dan PPDB: Jauh dari "Orang Dalam"

SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) tahun ini jadi istimewa bagi saya. Karena saya dan dua anak kami menjadi yang terlibat di dalamnya. Si sulung Affiq tamat SMA sementara si tengah Athifah tamat SD. Istimewanya lagi, ada perubahan pada penyelenggaraan SBMPTN dan PPDB tahun ini.
Baca selengkapnya

Selalu Ada Saat Pertama dalam Berpetualang dan Keberuntungan Ketika Lolos dari Maut

“Ma, pegal ki pahaku,” lapor si sulung sepulang dari tempat kawannya. Saya pikir ini hal biasa, bukan karena pengalaman pertama berpetualang. Ternyata saya salah ...
Baca selengkapnya

Kisah Sakitnya Ibu Mertua di Bulan Ramadan

Kisah Sakitnya Ibu Mertua di Bulan Ramadan - Ketika menelepon menjelang Ramadan, suara ibu mertua terdengar tak bertenaga, dadanya sakit katanya. Saat ditanyakan kepadanya mengapa tak memeriksakan diri, beliau menjawab, “Kalau disuruh ka’ tinggal nanti, siapa yang jaga ka’?”
Baca selengkapnya

Tentang Menerima Kekalahan dan Memperjuangkan Sesuatu

Tentang Menerima Kekalahan dan Memperjuangkan Sesuatu - Bagi kedua orang tua saya, sekolah bukan sekadar supaya pintar. Ada kompetisi di dalamnya, sehingga akan ada yang menjadi ranking satu atau yang terbaik. “Belajar baik-baik supaya ranking satu,” tak jarang pesan seperti itu saya dengar dari keduanya.
Baca selengkapnya

Telepon dari Bank Terkait Utang Orang Lain

Telepon Terkait Utang Orang Lain – Tangan ibu saya terlihat gemetar. Suaranya meninggi. Emosinya naik. Ini telepon keempat atau kelima kalinya dari sebuah bank swasta. Penelepon menanyakan nama yang sama. Selalu nama yang sama. Nama yang tak pernah saya lihat orangnya. Hanya tahu namanya, sebagai teman organisasi Ibu.
Baca selengkapnya

Mencari Hikmah di Perhelatan Akbar Wisuda Santri

Lapangan Karebosi sudah penuh dengan santri dan pengantarnya ketika saya dan putri saya – Athifah tiba di sana pada pagi hari tanggal 10 Mei kemarin. Di bagian tribun tempat duduk para santri menjelang remaja sementara para pengantarnya duduk di bawah tenda di atas lapangan rumput. Saya mengamati kursi-kursi yang bertebaran. Tak jelas apakah ada tanda di mana nomor 1659 – nomor urut Athifah bisa duduk. Para santri yang akan diwisuda duduk tak beraturan dijaga para pembinanya.
Baca selengkapnya