Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan

Kisah Pemenang Sekolah Sehat Makassar 2017


Sekolah Sehat Makassar - Semacam instalasi perpipaan sederhana berdiri di tengah lapangan olah raga SD Inpres Maccini Baru. Segenap guru dan anggota dewan komite sekolah (komite sekolah terdiri atas para orangtua murid) terlihat masih mempersiapkan pelaksanaan acara. Murid-murid – para pengisi acara bersiap-siap di sekitar lapangan olah raga. Beberapa orang yang mengenakan seragam bertuliskan “Yayasan Peduli Negeri” terlihat duduk atau bercakap-cakap. Tak berapa lama kemudian, para kepala sekolah sekecamatan Tamalate berdatangan. Namun acara tak segera mulai karena Kepala Dinas Kesehatan dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Makassar belum hadir.
Baca selengkapnya

Dongeng Keliling Bersama Perpustakaan Keliling

Saat saya datang ke sekolah Afyad pada tanggal 12 September lalu, sudah banyak anak sekolah dasar itu bergerombol di samping panggung mini di lapangan sekolah. Seorang ibu berjilbab tampak duduk di atas panggung. Kelihatannya ibu itulah yang bertindak sebagai pendongengnya. Pak guru olahraga sedang menyiapkan sound system. Tak jauh dari pintu gerbang sekolah, mobil Dongeng Keliling milik Perpustakaan Kota Makassar tengah terparkir. Pintu-pintunya tertutup rapat.
Baca selengkapnya

Kisah Foto Instagramku: Talkshow Televisi Tema Pendidikan

Ngeblog membuka jalan saya menuju stasiun televisi. Bukan karena jadi selebriti, macam artis gitu, yaa tapi lebih kepada sharing serba-serbi dunia menulis yang saya jalani selama ini. Sepertinya buat sebagian orang, ibu rumahan yang aktif menulis (dan ngeblog) itu luar biasa. Sesekali ada celetukan, “Ibu-ibu kan biasanya doyan gosip, ini koq ada yang doyan nulis!” Hiks, begitulah stigmanya 😓. Makanya ketika ada ruang di stasiun televisi, mamak-mamak yang senang menulis ini bisa masuk layar kaca.

Baca selengkapnya

Catatan dari Perpisahan SMP Si Sulung

Dejavu.

Itu yang seolah-olah saya rasakan ketika menyaksikan tarian Saman dibawakan oleh adik-adik kelas dari anak sulung saya – Affiq pada “Tasyakuran dan Pelepasan” SMP-nya. Pasalnya, 27 tahun yang lalu, saya juga membawakan tarian ini di gedung yang dulu bernama Gedung Manunggal ini. Bedanya, 27 tahun yang lalu itu perpisahan SMP saya, kini saya menghadiri perpisahan SMP sulung saya. Ah, waktu begitu cepat berlalu.
Baca selengkapnya

Catatan dari Seminar Nasional Revolusi Pendidikan di Era Digital

Ketertarikan saya pada pendidikan praktis membawa saya menghadiri Seminar Nasional Revolusi Pendidikan di Era Digital yang diselenggarakan oleh DiLo (Digital Lounge) Makassar dan Masyarakat Industri Kreatif TIK Indonesia (MIKTI) Chapter Makassar pada tanggal 28 Mei lalu.
Baca selengkapnya

XL Future Leaders, Satu Solusi untuk SDM Indonesia Berkualitas

Rasa penasaran mendorong saya untuk mendaftarkan diri pada undangan makan siang XL FL (XL Future Leaders) bareng blogger Anging Mammiri di rumah makan Apong pada 15 April 2016.
Baca selengkapnya

Belajar Tahfizh Harga Terjangkau di Pondok Tahfizh Darul 'Ulum

Mencari sekolah Islam, termasuk yang mengajarkan anak-anak menghafal al-Qur’an di zaman ini gampang-gampang sulit. Gampangnya, karena makin banyak orang atau kelompok yang menyelenggarakan sekolah tahfizh (menghafal) al-Qur’an. Sulitnya, karena mirip-mirip dengan sekolah swasta Islam yang sekarang banyak tumbuh, untuk belajar di beberapa sekolah tahfizh biayanya mahal. Untuk masuk saja, ada yang sampai harus membayar sebesar sepuluh juta rupiah. Yang bisa masuk dengan mulus hanyalah orang-orang berkantong tebal. Lantas, bagaimana dengan orang-orang yang keuangannya pas-pasan?
Baca selengkapnya

Pentingnya Orang Tua dan Pendidikan Tinggi Berkolaborasi dalam Membentuk Karakter Positif Anak

Biasanya, dalam perjalanan yang melewati kampus UNHAS (Universitas Hasanuddin) di jalan Perintis Kemerdekaan, saya menoleh. Walau sekadar melihat pagar dan papan nama UNHAS saja, terasa ada resonansi yang membuat memori saya menggeliat ke masa lalu, di dalam sana ketika pohon-pohon di tepi jalan masuk setelah pintu satu belum setinggi sekarang.

Saya pernah tercatat menjadi mahasiswi kampus yang dijuluki kampus merah itu selama kurun waktu hampir 5 tahun (1992 – Mei 1997). Menjelajahi koridor-koridor, beberapa ruangan, dan kantin di dalamnya. Juga bertemu jodoh di sana. Namun yang paling berkesan adalah: saya belajar banyak hal di sana, utamanya pengembangan diri. Bekal yang kelak, bertahun-tahun kemudian hingga saat ini sangat membantu saya dalam menjalani kehidupan. Betapa beruntungnya saya, pada salah satu bagian di dalam kampus tempat saya belajar – tepatnya di Himpunan Mahasiswa Elektro, sekaligus menjadi laboratorium kecil dalam “universitas kehidupan”.

Baca selengkapnya

Catatan dari Seminar Islamic Parenting

Beruntung sekali saya bisa menghadiri seminar Islamic Parenting – Pengasuhan Anak Berbasis Keluarga yang diadakan oleh SD Dunia Anak Islam (DAI) pada tanggal 14 Oktober lalu. Seminar yang diselenggarakan bertepatan dengan tanggal 1 Muharram ini, dibawakan oleh DR. H. M. Asrorun Ni’am Sholeh, MA (ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia/KPAI) sebagai nara sumber tunggal.

Kebetulan sekali seminar Islamic Parenting ini diadakan pada tahun baru Hijriyyah. Dengan momentum hijrah, orang tua yang hadir diingatkan kembali tentang makna hijrah, yaitu: berpindah dari keadaan yang tidak baik kepada keadaan yang lebh baik. Sebagai orang tua, kita tentu perlu selalu memperbaiki diri agar menjadi orang tua yang terbaik untuk anak-anak kita di setiap saat .
Baca selengkapnya

Belajar Menulis Alfabet Bersama Boci

Sejak zaman Affiq balita, video ataupun game edukasi anak sudah mulai marak. Kalau dulu masih bisa dihitung jari yang memproduserinya, kini sudah banyak sekali. Melalui gadget, via Play Store, kita bisa mengunduh berbagai macam aplikasi edukatif untuk anak.

Asyiknya sekarang, game edukasi yang ada bukan hanya mengajak anak nge-klik gambar, melainkan juga bisa melatih gerakan motoriknya agar menjadi lebih baik lagi. Seperti pada aplikasi BelajarMenulis Bersama Boci, contohnya.
Baca selengkapnya
Meneladani Keuletan Mereka

Meneladani Keuletan Mereka

Empat tahun lalu, Pak Haryadi Tuwo bersama mendiang istrinya mendirikan Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak Babul Jannah di Jalan Rapoocini. Sekolah sederhana itu diperuntukkan bagi warga tingkat ekonomi menengah ke bawah di sekitarnya. Hanya cukup membayar uang pangkal, tak ada uang bulanan. Para santrinya rata-rata sudah bisa membaca, menulis, dan menghafal do’a sehari-hari setelah tamat. Keuletan Pak Haryadi membuat sekolahnya masih beroperasi hingga kini.

Keuletan pula yang mengantarkan Wahyudin menjadi sarjana Ekonomi. Wahyudin adalah seorang warga Bekasi yang memulung sejak duduk di kelas 4 sekolah dasar. Selain memulung, Wahyudin juga menjual hasil ternak dan berjualan gorengan. Walau sering dicibir, ia bergeming. Dengan giat, ia terus bekerja demi mengumpulkan uang untuk pendidikannya. Tekadnya membara. Menurutnya, dengan berpendidikan, ia bisa memberi manfaat untuk lingkungan sekitar.
Baca selengkapnya

Melihat-Lihat Sekolah Alam Insan Kamil

Hidroponik
Sabtu, 21 Maret kemarin, saya bersama suami dan kedua anak kami yang kecil bertemu dengan kawan-kawan masa kuliah dulu: Hartono – teman sefakultas beda jurusan dan Ida Ohan – beda angkatan tapi sangat akrab dengan saya. Tono sekarang mengelola sekolah alam yang didirikannya – Sekolah Alam Insan Kamil. Sementara Ida berkecimpung dalam dunia pendidikan (khususnya manajemen pendidikan) melalui institusi tempatnya mengabdi: Universitas Negeri Makassar.

Sepanjang pertemuan yang menjadi topik diskusi kami adalah mengenai dunia pendidikan. Kami semua punya basic pendidikan di Fakultas Teknik tapi bisa dibilang mimpi kami akan pendidikan ideal bisa dibilang sejalan.
Baca selengkapnya

[Opini Harian Fajar 100215]Mempertanyakan Empati dalam Kondisi Kini

Tulisan (opini) ini dimuat di Harian Fajar, 10 Februari 2015

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “empati” berarti keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Namun demikian tiap orang bisa berbeda-beda caranya dalam mempersepsikan empati.

Ada kasus menarik yang baru-baru ini terjadi. Sejumlah turis di lokasi jatuhnya pesawat Transasia Airways bernomor penerbangan GE235 dikecam banyak pengguna media sosial. Stasiun televisi nasional pun memuat berita tentang mereka karena dianggap tidak berempati atas musibah kecelakaan yang terjadi. Dengan latar belakang perahu-perahu karet tim penyelamat yang masih mencari korban-korban yang hilang, mereka berpose dengan wajah gembira.

Hal yang sama terjadi di depan bangkai ekor pesawat Air Asia QZ8501 setelah proses pengangkatannya pada bulan lalu. Ada anggota kepolisian dan TNI berfoto narsis dengan latar belakang ekor pesawat. Banyak yang mengecamnya, bahkan media Inggris, Mirror.co.uk pun mengecamnya. Tudingan tidak berempati pasti tidak terbayangkan ketika mereka berpose untuk mengabadikan momen langka itu.
Baca selengkapnya

Rumah Belajar Samsung: Harmonisasi 3 Kekuatan yang Mewujud

Usai coffee break, para undangan event Peresmian Rumah Belajar Samsung menghadiri acara seremonial di gedung pertemuan yang telah dipersiapkan. Di sini kami mendengarkan pemaparan singkat dari Mr. Kanghyun Lee (Vice President PT. Samsung Electronics Indonesia), Ibu Nurmi Handa, SH, MH (Kepala UPTD Pusat Pelayanan Bina Sosial Remaja Makkareso, Maros), Bapak Dr. Iskandar Irwan Hukom (Board, Advisor Yayasan Cinta Anak Bangsa), dan Bapak Drs. H. Patriot Haruni, Msi (Sekretaris Jenderal Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan, mewakil Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan). Keempatnya mendeskripsikan harmonisasi yang indah antara 3 kekuatan besar: pemerintah, organisasi sosial, dan perusahaan besar dalam wujud Rumah Belajar Samsung yang menempati satu bagian di area seluas 4,8 hektar milik UPTD PPSBR Makkareso di Jl. Poros Bantimurung km. 11, Kabupaten Maros, untuk pengentasan pengangguran, pengentasan kemiskinan, dan pemberdayaan masyarakat Sulawesi Selatan.


Mr. Kanghyun Lee memaparkan bahwa Rumah Belajar Samsung merupakan program CSR (Corporate Social Responsibility) PT. Samsung Electronics Indonesia (SEIN) yang bertujuan membantu menurunkan angka pengangguran di Indonesia. Mr. Lee berpesan, “SEIN dan YCAB memberikan kesempatan ‘langkah pertama’. Untuk selanjutnya, anak-anak didiklah yang harus punya sikap mental yang keras untuk masa depan sendiri!”
Baca selengkapnya

Perjalanan Menuju Rumah Belajar Samsung

Lanjutan dari tulisan berjudul Undangan Meliput Rumah Belajar Samsung

Hari berganti hari, tiba juga tanggal 27 Januari. Usai mengerjakan rentetan pekerjaan rumah, saya menuju sebuah kafe di bilangan Panakkukang diantar suami dan si bungsu Afyad. Di situlah rombongan dari Makassar berkumpul untuk sama – sama menuju Maros, lokasi Peresmian Rumah Belajar Samsung di Sulawesi Selatan.

Di area parkir terlihat dua bis pariwisata. Sepertinya bis-bis itu yang akan membawa kami ke Maros. Saya bisa segera melihat meja tempat kawan-kawan blogger Anging Mammiri berkumpul. Di sudut yang lain, terlihat sekelompok orang – mereka adalah para jurnalis yang juga mendapat undangan meliput event Rumah Belajar Samsung.

Saya bergabung dengan kawan-kawan blogger. Ikut sarapan (lagi) sebuah kue nagasari – kue tradisional yang dibungkus daun pisang dan segelas air mineral. Saya mengisi daftar presensi yang diedarkan dan membaca-baca draft yang dibagikan panitia.
Baca selengkapnya

Sekolah Pengembangan Diri Terbaik

FTUH, dari lantai 3 (difoto April 2014)
Hasil penelitian Employment Research Institute tahun2005 mengungkapkan hard skill hanya berkontribusi sebesar 18% terhadap kesuksesan seseorang. Sisanya 82% disumbangkan oleh kemampuan soft skill. Sementara itu, survei National Association of Colleges and Employers pada tahun 2002 di Amerika Serikat dengan subyek penelitian 457 pemimpin perusahaan menyatakan bahwa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) bukanlah hard skill yang dianggap penting di dunia kerja. Jauh lebih penting soft skill yang antara lain berupa kemampuan komunikasi, kejujuran, kerja sama, motivasi, adaptasi, dan relasi interpersonal lain dengan orientasi nilai yang menjunjung kinerja yang efektif[1].
Baca selengkapnya

Dari Tes Gratis Hingga Orang Gila

Pada awalnya, kedatangan saya di Pameran Pendidikan UNM pada tanggal 20 Agustus lalu adalah untuk sekadar melihat-lihat saja. Waktu itu saya belum tahu kalau ada tes-tes gratis sehubungan dengan kemampuan personal seseorang di stan Prodi (program studi) Bimbingan Konseling (BK) dan Psikologi.

Namun saat mengetahui bahwa tes itu ada, dari keterangan yang tertulis di stan-stan yang bersangkutan, spontan saya menyatakan keinginan mengikutinya.

Karena sudah sore, jika memang serius ingin mengikuti tes-tes tersebut, kami diminta untuk datang lagi keesokan harinya (di stan Prodi BK).

Susahnya, saya tak bisa mencatat nama-nama stan ataupun apa yang dipamerkannya karena saya harus mengawasi 2 krucil saya, Athifah dan Afyad yang sangat excited di pameran itu. Kedua bocah itu dengan lincahnya bergerak ke sana ke mari, mengeksplorasi apa saja yang bisa mereka amati. Tak jarang saya harus tergopoh-gopoh atau berlari mencari mereka yang tiba-tiba hilang dari pandangan saya.
Baca selengkapnya

Tes Kepribadian dan Kecerdasan Majemuk di Pameran Pendidikan UNM

Tanggal 19 – 21 Agustus lalu, Universitas Negeri Makassar (UNM) menyelenggarakan pameran pendidikan sehubungan dengan dies natalis ke-25 institusi tersebut.

Sahabat saya, DR. Faridah Ohan (Ida), dosen bidang Ilmu Kependidikan menginformasikannya kepada saya. Karena memang tertarik dengan dunia pendidikan dan letak UNM relatif dekat dengan rumah, saya pun menyempatkan diri menghadirinya.

“Ke stan PPG SM-3T, nah. Saya tunggu Niar di sana,” terdengar suara Ida di ujung saluran telepon nir kabel.

Tak berapa lama saya pun tiba di lokasi pameran, di lantai satu gedung Phinisi, gedung mentereng dalam kompleks Universitas Negeri Makassar.
Baca selengkapnya

Kenangan Tentang Prof. Dikwan Eisenring

Tidak banyak guru yang berkesan di hati saya. Saya meminta izin kepada kak Astra Ibrahim Eisenring untuk menyimpan foto yang ada gambar ayahnya (yang mengenakan kemeja putih dan berdasi) ini karena beliau adalah guru terfavorit saya. Melihat foto ini, kontan hati saya tergetar, titik air menggenang di pelupuk mata saya, menandakan begitu kuatnya kesan beliau dalam hati saya.

Masih teringat hari-hari kursus dengan beliau. Bagaimana telaten dan tegasnya beliau mengajar kami Bahasa Inggris, bahkan kalau perlu sekaligus mengajari kami Geografi, Bahasa Indonesia, perilaku/etika, dan pelajaran-pelajaran lain.

Banyak hal darinya yang masih berkesan bagi saya. Salah satunya adalah ketika pelajaran sedang berlangsung, cucunya (saya masih ingat namanya Lili) yang waktu itu masih berusia 2 tahun terjatuh. Spontan kami tertawa. Sebagian besar yang kursus waktu itu masih duduk di bangku SMP, beberapa yang lainnya sudah duduk di bangku SMA. Entah kenapa secara internasional, adegan jatuh dianggap lelucon oleh banyak orang, termasuk oleh kami ketika itu.
Baca selengkapnya