Pak Profesor Itu Guru Siswa SMP

Sumber gambar:
http://power-english.net
Ketika sebuah profesi bersentuhan langsung dengan manusia maka ia akan banyak disorot. Ketika profesi itu membantu anak-anak menjadi lebih cerdas maka mulialah profesi itu. Ketika itu pula, pelaku profesi itu dituntut untuk berlaku bijak. Tak mengapa ia memiliki penampilan yang sangat sederhana asalkan karakter positif yang dimilikinya luar biasa.

Dengan demikian ia akan kekal dalam benak dan hati orang yang mengenalnya meski dirinya sudah berada di alam lain. Memahat prasasti yang memuat namanya dalam bilik memori tersendiri. Setiap orang memiliki kenangan tersendiri akan guru-gurunya, seperti halnya saya. Guru yang satu ini meninggalkan kenangan yang mendalam bagi diri saya.


***

Percaya tidak jika saya mengatakan pernah diajar oleh seorang profesor saat masih duduk di bangku kelas satu hingga kelas dua SMP? Tidak? Ah, Anda harus mempercayainya karena saya mengalaminya sendiri. Profesor yang mengajar saya itu adalah guru kursus bahasa Inggris pada lembaga kursus bernama Ever On English Course  yang didirikannya. Lembaga kursus ini memiliki motto – sebuah idiom dalam bahasa Inggris: Ever On Never Retreat yang berarti ‘maju terus pantang mundur’. Motto yang sangat sesuai dengan karakter pendirinya.

Namanya profesor Dikwan Eisenring. Lelaki berambut putih ini konon berasal dari Belanda. Ia memperistrikan perempuan Indonesia yang memberinya tiga orang anak laki-laki. Mereka menempati sebuah rumah di kompleks IKIP yang terletak di depan gedung IKIP, jalan Bonto Langkasa, Makassar.

Profesi sebenarnya adalah dosen bahasa Inggris di IKIP (Institut Keguruan Ilmu Pendidikan) Makassar dan ia membuka kursus yang mengambil tempat di garasi rumahnya. Pengajar utama kursus adalah dirinya dan sang istri. Terkadang anak-anaknya juga mengajar para peserta kursus di saat pasangan suami istri itu berhalangan. Kursusnya berlangsung dua kali dalam sepekan. Peserta boleh memilih pada hari-hari apa ia bisa: Senin-Kamis, Selasa-Jum’at, atau Rabu-Sabtu.

Saat lembaga-lembaga kursus lain sudah menetapkan biaya sebesar puluhan ribu rupiah setiap bulannya, profesor Eisenring hanya menetapkan biaya sebesar sepuluh ribu rupiah per bulan. Dedikasinya dalam mengajar para peserta kursus yang sebagian besar masih duduk di bangku SMP itu tak perlu diragukan lagi, betul-betul dedikasi seorang profesor.

Saya masih ingat beberapa kali saya datang ke tempat kursus, tak ada seorang teman pun yang datang karena berhalangan. Ini karena peserta dalam kelas yang saya ikuti memang hanya sedikit, tidak sampai sepuluh orang. Jika kebetulan mereka semua berhalangan, tinggallah saya seorang diri yang belajar. Jika demikian, saya belajar di ruang tamu rumahnya. Namun demikian pak Eisenring tetap mengajar dalam waktu yang full dan sangat serius.

Pengajarannya yang menekankan kepada penguasaan grammar, penguasaan kosa kata, dan pronounciation (cara pelafalan) membantu saya dengan cepat mempelajari bahasa Inggris. Sangat serius dalam mengajar, sosok yang sebenarnya bisa juga bercanda ini tak hanya mengajar dengan cara konvensional, ia juga menerapkan permainan-permainan yang membuat kami merasa bahwa bahasa Inggris adalah pelajaran yang menyenangkan.

Dua buah buku paket dengan cover berwarna biru yang dibuatnya sebagai bahan ajar bukan hanya menuliskan materi ajar, buku-buku itu juga menuliskan bagaimana seharusnya sebuah kata diucapkan dengan benar. Misalnya kata-kata yang mengandung gabungan konsonan th, st, ck, ch, sh, dan sebagainya. Buku-buku itu tidak tebal tetapi mampu memuat dasar-dasar grammar yang sangat menunjang pelajaran bahasa Inggris mulai dari SMP hingga SMA.

Sumber: http://englishglobal.info

Jika sedang mengajari kami menyebutkan sebuah kata, ia tak membiarkan kami menyebutkannya dengan salah. Setiap anak dites cara pengucapannya. Kami harus mampu mengucapkannya dengan tepat. Jika salah sebut, ia tak beranjak dari hadapan kami hingga kami bisa mengucapkannya dengan benar. Ini membuat kami bersungguh-sungguh dalam belajar. Misalnya kata old harus dilafalkan dengan benar yaitu “Ould”. Ada bunyi ‘u’ setelah ‘o’, dan ada bunyi ‘d’ yang sangat jelas di ujung kata. Jangan sampai mengucapkannya dengan “Old” apalagi “Olt” karena ia akan terus berdiri di situ sambil menatap dengan tajam.

Sebelum memulai pelajaran, kami duduk melingkar. Seorang anak memulai memberi pertanyaan yang harus dijawab kepada anak yang duduk di sebelahnya.  Selanjutnya anak itu memberikan pertanyaan kepada yang duduk di sebelahnya. Begitu terus hingga 20 – 30 menit. Hal ini memicu saya untuk mencari bentuk-bentuk pertanyaan baru. Malu dong kalau pertanyaan yang diajukan itu-itu saja.

Suatu ketika, saya mempersiapkan sebuah pertanyaan dengan mantap. Saya yakin sekali pertanyaan itu tak pernah ditanyakan oleh satu orang pun di kelas kursus saya. Tiba giliran saya, saya mengeluarkan pertanyaan andalan itu: “Do you have parents?” Teman di sebelah saya menjawab sambil tersenyum, “Yes I do.” Teman-teman lain juga tersenyum bahkan ada yang tertawa. Salah seorang dari mereka berkomentar, “Jelas dong!” Aduh ... malunya. Untungnya pak Eisenring tak berkata apa-apa.

Bukan hanya bahasa Inggris, jika dianggapnya perlu dan kebetulan bahan yang sedang dipelajari berkaitan, ia juga mengajari kami bidang-bidang studi lain seperti Bahasa Indonesia dan IPS. Pun kalau merasa perlu menyampaikan ajaran etika dan tata krama, tanpa tedeng aling-aling ia mengajari kami bagaimana seharusnya bersikap. Misalnya saja pada suatu ketika, ia membawakan kami sebuah globe (bola dunia) untuk menunjukkan letak sebuah wilayah kepada kami.

Setiap tahun, pak Eisenring mengikutsertakan murid-muridnya yang sudah kompeten untuk mengikuti Ujian Nasional Bahasa Inggris untuk tingkat Dasar yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud, sekarang bernama Depdiknas – Departemen Pendidikan Nasional).

Untuk menghadapi ujian, ia mengajari kami secara khusus, termasuk bagaimana mendengarkan sebuah pembicaraan (listening) dan menjawab pertanyaan berdasarkan apa yang dibicarakan dan bagaimana memahami sebuah bacaan (reading comprehension). Ia melatih kami dengan materi yang sebenarnya untuk mahasiswa.

Saat hari ujian tiba, pagi-pagi kami sudah berada di kantor Depdikbud. Pak Eisenring juga sudah siap di sana. Ini pengalaman pertama saya mengikuti ujian nasional. Ujian tingkat dasar ini terbagi dua, Dasar Satu dan Dasar Dua. Yang saya ikuti adalah tingkat Dasar Satu. Keberadaan guru di tempat ujian sungguh menenangkan, secara psikologis sangat membantu. Karena terbiasa mengerjakan soal untuk mahasiswa, saya tidak mengalami kesulitan yang berarti.

Sumber:
http://cartoonstock.com
Ternyata untuk ujian listening, pak Eisenring menjadi native speaker-nya. Saya pun tak menemui kesulitan berarti dalam mendengarkan apa yang diucapkannya karena sudah terbiasa mendengarnya bertutur dalam bahasa Inggris yang tentu saja sangat fasih. Usai ujian, beberapa peserta menggerutu karena sulit menangkap apa yang dikatakan oleh pak Eisenring yang menurut mereka tidak jelas, seperti hanya bergumam dan bersuara sangat kecil. Saya tersenyum dalam hati dan membatin, “Mudah-mudahan saya lulus dalam ujian ini.”

Materi ajar yang termuat dalam buku-buku paket kursus habis saat saya duduk di kelas 2 SMP. Sayang sekali, tak ada materi lanjutan di Ever On sehingga masa kursus saya selesai saat itu.

Walaupun pak Eisenring menjadi pembaca soal dalam ujian itu, ia sama sekali tak memberikan kami bocoran soal. Ia betul-betul jujur dalam mempersiapkan kami. Sedemikian dalam kesannya dalam mengajar membuat saya sangat menyukai pelajaran bahasa Inggris. Dasar pengetahuan grammar dan pronounciation saya kuat sehingga sejak kelas 1 SMP hingga tahun pertama kuliah, nilai bahasa Inggris saya selalu bagus.

Dasar pengetahuan itu bahkan masih bisa saya gunakan saat ini dalam mendampingi anak saya yang duduk di kelas lima SD belajar bahasa Inggris. Kalau dulu bahasa Inggris diajar mulai di bangku SMP, sekarang kurikulum kelas dua, bahkan ada yang kelas satu SD sudah mencantumkan bahasa Inggris sebagai bidang studi yang harus dipelajari. Kini, sudah bertahun lamanya ia berpulang namun kesannya sangat mendalam di benak dan hati saya. Bekal bahasa Inggris yang ia ajarkan dahulu, bisa saya pakai untuk mengajari anak saya dasar-dasar bahasa Inggris. Rest in peace, profesor.

***

Masa kursus itu sudah begitu lampau bagi saya namun semua kenangan itu masih saja membekas seakan baru saja terjadi. Para guru, kira-kira sadarkah mereka segala sikap dan perlakuan mereka bisa membekas sedemikian dalam? Seandainya mereka sadar, mereka pasti akan mengemas diri mereka di dalam akhlakul karimah. Mereka tentu berlomba-lomba menjadi teladan dan hati-hati dalam bertutur juga bersikap. So bagi para guru segera berbenah diri mumpung masih ada umur. Jangan sampai Anda meninggalkan kesan buruk bagi siswa-siswa Anda.

Makassar, 29 Desember 2011

Dibaca juga yah:

Dua Kopdar dalam Sehari (1)
Do'a Tak Terduga yang Tulus






Share :

11 Komentar di "Pak Profesor Itu Guru Siswa SMP"

  1. :)
    sipp sob..
    n juga klo sikap guru yg buruk bsa ngebuat pelajaran yg dbwakan ttidak kesampai ke murid dan tentunya berdampak jelek ke murid itu sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, biasa juga kita tidak suka pelajaran karena cara guru membawakannya tidak simpatik :)

      Delete
    2. hehehe, ya kayaknya dulu juga pernah merasa gak suka sama guru yang jarang ketawa

      Delete
  2. ketika menjadi seorang pengajar metode yg di gunakan semenarik mngkin agar murid tidak bosan, selain itu jadilah guru yg baik berprilaku baik sehingga bisa dekat dengan peserta didik ...wah jadi ingat semalam baru ngerjaian PR bhs inggris adikku yg msh klas 6 sd...seorang guru bukan hanya mengajarkan ilmu saja namun juga mampu memberikan tauladan yg baik ..

    ReplyDelete
  3. waaaah apa perlu ana kerjain dulu umi guru2nya :D hihihihihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Weeh dikerjain? Guru2 yg tdk bisa mengajar dengan baik, maksudnya? Guru2 saya mah sudah pada pensiun :D

      Delete
  4. profesor Eisenring hanya menetapkan biaya sebesar sepuluh ribu rupiah per bulan <--- HORMAT DAN ACUNG JEMPOL!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, itu tahu 86 - 87. Kalau sekarang kira2 Rp. 50.000 kali ya ... mana ada kursus bayarannya segitu sekarang :)

      Delete
  5. Astra I. EisenringOctober 10, 2013 at 6:33 PM

    Hii Mughniar.. Thank you sooo much for writing this... I'm his son, Astra Ibrahim Eisenring.. and I tell you.. the same experience I also got from him in studying English.. I was in the same class, I mean in 1970-1972 and I got exactly the same treatment as what you got, so I can remember him as a teacher and as my Dad, and if you want, I can give you the newest edition of his book "HAPPY GO LUCKY SERGEANT" (do you remember that thin story book?).. hahahaa...
    Ohh.. have we been friends in Facebook? (I'm sorry, I don't remember if we have or not), but if we are not friends there yet, please kindly add me.. :D and thank you again :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi kak Astra ... I'm very happy you found this post. I'am sorry, my English isn't good like at those times, when I was at junior an senior high school ... It's a pity ya :D

      Really? Happy Go Lucky Sargeant? I really want to have it ... ^__^
      Thanks before ...

      Delete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^