Tampilkan posting dengan label Mengomentari Media. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Mengomentari Media. Tampilkan semua posting

Menganalisa Berita yang Sensitif Gender dan Peduli Anak

Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari tulisan berjudul KPPPA, Tentang Partisipasi Media dalam Menulis Isu Perempuan dan Anak,  Menuju Jurnalisme Berperspektif Gender dan Anti Kekerasan, Bagaimana Media Memahami Gender, dan Jurnalisme Sensitif Gender dan Peduli Anak yang merupakan catatan dari Pelatihan Jurnalisme Sensitif Gender Bagi Jurnalis dan Blogger. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), bekerja sama dengan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan pada tanggal 21 – 22 April lalu di hotel Aryaduta.
Baca selengkapnya

Jurnalisme Sensitif Gender dan Peduli Anak

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan berjudul KPPPA, Tentang Partisipasi Media dalam Menulis Isu Perempuan dan Anak,  Menuju Jurnalisme Berperspektif Gender dan Anti Kekerasan, dan Bagaimana MediaMemahami Gender yang merupakan catatan dari Pelatihan Jurnalisme Sensitif Gender Bagi Jurnalis dan Blogger. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), bekerja sama dengan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan pada tanggal 21 – 22 April lalu di hotel Aryaduta.
Baca selengkapnya

Bagaimana Media Memahami Gender

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan berjudul KPPPA, Tentang Partisipasi Media dalam Menulis Isu Perempuan dan Anak dan Menuju Jurnalisme Berperspektif Gender dan Anti Kekerasan yang merupakan catatan dari Pelatihan Jurnalisme Sensitif Gender Bagi Jurnalis dan Blogger. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), bekerja sama dengan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan pada tanggal 21 – 22 April lalu di hotel Aryaduta.
Baca selengkapnya

Menuju Jurnalisme Berperspektif Gender dan Anti Kekerasan

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan berjudul KPPPA, Tentang Partisipasi Media dalam Menulis Isu Perempuan dan Anak yang merupakan catatan dari Pelatian Jurnalisme Sensitif Gender Bagi Jurnalis dan Blogger. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), bekerja sama dengan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan pada tanggal 21 – 22 April lalu di hotel Aryaduta.

Gender Bukan Sekadar Memisahkan Laki-Laki dan Perempuan

Usai pembukaan, Ignatius Haryanto[1] menyampaikan materi berjudul Menuju Jurnalis dan Media Berprespektif Gender dan Anti Kekerasan. “Pelatihan sensitif gender penting sekali. Pertama, sebagian dari urusan ini, untuk mengetahui dunia sekitar kita diketahui dari media. Macam-macam peristiwa, diketahui dari apa-apa yang dilaporkan media. Namun media massa kadang-kadang tidak cukup peduli terhadap kekerasan terhadap anak dan perempuan,” Ignatius menjelaskan pentingnya pelatihan jurnalisme yang sensitif gender.


Gender adalah suatu perspektif dalam melihat permasalahan ekonomi, sosial, politik dan budaya dengan tidak membedakan antara lelaki dan perempuan. Aneka permasalahan ini dilihat sebagai suatu konstruksi sosial masyarakat, sehingga pembedaan antara lelaki dan peremuan dalam melihat aneka persoalan itu menjadi tidak relevan. Memiliki perspektif gender tidak harus berarti milik perempuan saja. Jika mampu melihat ketimpangan yang terjadi, lelaki bisa saja berprespektif gender. Di materinya, Ignatius mencontohkan lelaki-lelaki yang seperti itu: Rocky Gerung dan Nur Iman Subono.


Perspektif Gender Itu Menyangkut Segala Aspek Kehidupan

Butuh perspektif gender dalam menuliskan berita, hampir di seluruh bidang. Ignatius mencontohkan pada bidang politik (soal pemimpin perempuan, soal kepala keluarga), hukum (diskriminatif atau tidak terhadap perempuan, misalnya dalam urusan sebagai kepala keluarga terkait dengan pengupahan jika perempuan sebagai orangtua tunggal atau apakah kantor polisi punya tempat pelayanan yang ramah anak?), masalah budaya (tradisi-tradisi tertentu misalnya terkait dengan seorang jejaka yang hendak berkeluarga mendapatkan layanan seks dari perempuan dewasa sebelumnya), lingkungan hidup (bagaimana perempuan turut berperan menjaga lingkungan hidup di sekitarnya), dan masalah kriminal (bagaimana cara menuliskan peristiwa kriminal yang menimpa perempuan dan anak.

Ignatius mencontohkan kasus perkosaan di Bengkulu yang mengakibatkan seorang remaja putri meninggal dunia. Setelah terungkap, seolah-olah meledak, bermunculan di mana-mana beritanya, “Pelu diperhatikan bagaimana media memberitakannya. Cepat dan akurat tidak cukup. Perlu berempati. Tetap perlu memberikan perhatian kepada masalah-masalah seperti ini. Jangan sampai anak dan perempuan mengalami kekerasan yang kedua kalinya. Misalnya saat terjadi perundungan seksual, apakah harus ditulis dengan rinci? Hati-hati. Kronologi belum tentu bisa dipertanggung jawabkan keakuratannya. Kadang-kadang ada unsur fantasi.”

Di makalah presentasinya, Ignatius menyampaikan isi Pasal 5 Kode Etik Jurnalistik: ”Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.” Dalam penafsiran atas Pasal 5 disebutkan: ”Identitas adalah semua data dan informasi yang menyangkut diri seseorang yang memudahkan orang lain untuk melacak.”

Bagaimana Media yang Berperspektif Gender dan Anti Kekerasan

“Kalau mau bicara bagaimana menghadirkan media dan jurnalis yang peduli terhadap masalah perempuan dan anak, mungkin bisa melihat potret bagaimana news room,” tutur Ignatius lagi. Yang dimaksudkannya adalah tidak hanya dalam pemberitaan, juga dalam formasi kewartawanannya:
  • Komposisi ruang redaksi. Berapa banyak perempuan? Berapa dari mereka yang jadi reporter, jadi redaktur, bahkan jadi pemimpin redaksi?
  • Perempuan yang menjadi redaktur. Bukan hanya pada rubrik ringan (masalah kewanitaan – yang sering dikonotasikan dengan rubric kecantikan, dapur, kuliner, kesehatan). Apakah perempuan berpeluang meredakturi rubrik-rubrik “keras” (rubrik ekonomi, politik, dan internasional)?
  • Rubrikasi dan berita. Misalnya jangan sampai ada penggambaran yang terlalu detail sehingga korban bisa menjadi korban dua kali. Dalam membahas transportasi umum, apakah perempuan tidak rawan mendapatkan pelecehan? Jika ada liputan atas pembersihan oleh Satpol PP kepada para pekerja seks komersial, apakah hal yang sama dilakukan kepada para lelaki konsumennya?
  • Daftar nara sumber. Banyakkah perempuan yang pernah diwawancarai untuk bidang-bidang beragam?
  • Rubrik opini. Berapa banyak perempuan yang diberi kesempatan menulis? (apakah mereka hanya menulis secara tradisional pada momen Hari Kartini dan hari Ibu saja? Apakah tidak ada momen lain yang bisa dimanfaatkan untuk menulis?). Dari sebuah penelitian, di Kompas hanya 15% perempuan yang menulis Opini.
  • Dalam dunia kerja, perempuan memiliki banyak persoalan. Mulai dari persoalan akses pada pekerjaan yang layak, upah yang layak, perlindungan dalam pekerjaan, perempuan yang memiliki keluarga
  • Dalam dunia pekerjaan jurnalistik, ada cukup banyak persoalan:

= Seberapa banyak kesempatan diberikan kepada perempuan untuk menjadi jurnalis?
= Apakah dalam pekerjaan ini dilakukan pembagian kerja berdasarkan gender (division of labor)?
= Apakah perempuan jurnalis dibayar lebih murah untuk pekerjaannya?
= Apakah perempuan mendapat hak-hak normatifnya (hak cuti datang bulan, hak cuti sebelum dan setelah melahirkan, hak untuk pengasuhan anak) sebagai pekerja perempuan?
= Apakah perempuan mendapat kesempatan yang sama untuk dipromosikan dalam jabatan di kantor media?

Bagaimana ketika terjadi perundungan seksual. Dalam kode etik jurnalistik, salah satu pasal menyebutkan anak yang menjadi korban dan pelaku kejahatan disembunyikan identitasnya. Yang ingin saya katakan adalah seberapa konsisten media melindungi identitas media tersebut. Pertama, apa itu identitas? Hal-hal yang membantu orang mengidentifikasi orang tersebut. Media kadang-kadang menyebutnya ‘sebut saja Mawar. Nama disamarkan, wajah diblur tetapi tetangga diwawancarai, rumah disorot, guru diwawancarai,” tukas Ignatius Haryanto.


Mengenai perbandingan nara sumber laki-laki dan perempuan, Ignatius berkata, “Apakah Anda berpikir yang dikontak laki-laki atau perempuan … supaya berimbang? Kapan perempuan perlu ditimbulkan suaranya? BBM naik, angkot naik, sembako naik ... hanya seperti itu! Domestik sekali. Memangnya perempuan hanya mengurusi yang demikian saja?

Kalau bicara tentang wanita karir. Ditemukan ketidaksamaan penghasilan. Kenapa perempuan gajinya lebih rendah padahal posisi sama?” pertanyaan ini dilontarkan oleh Ignatius lagi.

Dalam materinya, lelaki ini menuliskan tentang mengapa penting untuk memasukkan isu soal perlindungan dan pemberdayaan perempuan dalam dunia kerja:
  • Ini hal yang telah lama terjadi namun kerap diabaikan untuk ditulis
  • Ada bias dalam pandangan umum, dimana ada anggapan bahwa perempuan yang bekerja adalah “second income” di rumah tangganya, sehingga untuk itu “dianggap wajar” jika jumlahnya lebih kecil. Dalam kenyataannya ada banyak hal yang tidak bisa digeneralisir. Bagaimana dengan orangtua tunggal (single parent) dari pasangan yang bercerai, dan dalam hal ini perempuan yang bekerja jadi satu-satunya tumpuan penghasilan. Apakah patut kemudian income ini diperkecil atas dasar asumsi di atas
  • Asumsi di atas pun lalu mengecilkan sistem reward yang berdasarkan pada merit system, bahwa orang berhak mendapatkan imbalan atas apa yang telah dikerjakan atau yang jadi prestasinya, bukan berdasarkan pada pertimbangan gender yang ada
  • Perempuan adalah tenaga kerja yang potensial baik di sektor formal dan informal. Khusus dalam sektor informal kita melihat bagaimana perjuangan yang dilakukan oleh para perempuan untuk bergulat menghidupi diri dan keluarganya. Misalnya: para pedagang sayur yang telah keluar rumah sejak jam 3-4 pagi. Para penyapu jalanan, pedagang kaki lima (nasi uduk, lontong sayur dll)
  • Media yang angkat masalah ini akan membuat mata masyarakat umum dalam melihat ketimpangan yang selama ini terjadi, dan mengajak masyarakat untuk sama-sama mencari solusi atas persoalan dan bias yang terjadi baik dalam masyarakat ataupun media selama ini.

Atas pertanyaan dan tanggapan pada sesi tanya-jawab, saya mencatat tanggapan balik dari Ignatius Haryanto sebagai berikut:

Bertanya yang faktual untuk kasus yang ,enyedihkan. Jangan bertanya tentang perasaan! Wawancara yang lebih normal, tidak live, memungkinkan editing, memilah mana yang ingin ditampilkan dan mana yang tidak.

Dulu dirinya pernah jadi penguji skripsi mahasiswa yang menulis bagaimana NHK Jepang menulis tsunami di Jepang. NHK tidak pernah memperlihatkan mayat dalam tayangannya meskipun banyak korban jiwa. Tsunami ditampilkan, dampaknya tetapi dari long shoot. Titik-titik tertentu memperlihatkan apa yang terjadi. Pun ketika relokasi. Intinya mengemukakan bagaiana manusia yang ingin survive. Orang Jepang sudah tahu gempa bagian hidup mereka tapi mereka tidak mau kalah dengan gempa.

Semua saling mempersilakan duluan. Ada human dignity yang ingin ditonjolkan, Ini yang harus menjadi warna dalam memberitakan berita terkait perempuan dan anak. Tidak ideal dilakukan secara live. Kalau bisa ditunda, beri waktu satu jam ke depan.

Untuk blogger, memang ada nilai plus karena tidak terkait dengan pihak mana pun. Ignatius mengapresiasi apa yang saya ceritakan berikut ini:

Saya berbagi pengalaman mengenai beberapa kali saya mengkritisi cara media mainstream memberitakan/memperlakukan perihal perempuan dan anak yang tidak etis, salah satunya ada di tulisan Mengumbar Rahasia Pribadi Seseorang di Televisi dalam Siaran Langsung Adalah BULLY! dan tulisan Menjadi Nyamuk yang Mengganggu Monster Raksasa.

Saya juga menceritakan bahwa kini banyak kawan blogger perempuan seperti saya di seluruh Indonesia yang menggunakan blog dan akun media sosialnya untuk berbuat baik. Beberapa teman blogger perempuan membantu me-retweet-ikan teguran kepada rumah produksi dan stasiun televisi yang mengekspos istri dari seorang lelaki yang mengunggah tragedi bunuh dirinya secara live di Facebook.

Saya menyampaikan apresiasi saya terhadap kegiatan ini. Saya menceritakan kalau dulu saya menganggap banyak hal terkait pemberitaan yang terlalu menyudutkan perempuan adalah wajar karena sudah begitu sering saya temui – walaupun hati kecil saya merasa tidak nyaman. Setelah beberapa kali mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen Makassar, wawasan saya bertambah dan memberanikan diri untuk mengkritik hal-hal yang tidak pada tempatnya, seperti juga ketika seorang Kompasianer menuliskan pemerkosa dengan kata “menggagahi”. Syukurnya, petinggi Kompasiana menanggapi dengan baik kritikan saya dan mengubah judul yang digunakan oleh sang kompasianer.

Di akhir sesinya, Ignatius mengajak peserta pelaihan untuk membuat catatan kecenderungan 5 tahun terakhir atau tahun ini berdasarkan data dan fakta mengenai perempuan Indonesia.

Menarik komentar moderator - Ambang Priyonggo, di saat mengakhiri sesi ini:
Faktor budaya yang membuat nilai sensitif gender kurang kuat namun perlu upaya terus-menerus untuk memperbaiki. Kita sadarkan diri kita dulu deh di level kognisi lalu masuk level struktur organisasi. Lalu di level pemerintahan sehingga mampu menghasilkan jurnalisme yang berprespektif gender dan anak.

Makassar, 12 Mei 2017

Bersambung ke tulisan berikutnya




[1] Peneliti senior Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP), pernah jadi wartawan antara tahun 1994-2003, penulis sejumlah buku dan artikel di media massa, anggota Ombudsman harian Kompas sejak 2008,  mengajar jurnalistik di Universitas Multimedia Nusantara, Serpong, Tangerang Selatan, dan anggota Dewan Etik, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta.  
Baca selengkapnya

KPPPA, Tentang Partisipasi Media dalam Menulis Isu Perempuan dan Anak

Ada banyak hal yang membuat saya baru bisa menuliskan kembali kegiatan pelatihan yang saya ikuti pada tanggal 21 – 22 April lalu di Hotel Aryaduta. Pelatihan yang berfokus pada pengetahuan penulisan isu perempuan dan anak ini diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), bekerja sama dengan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan.
Baca selengkapnya

Bagaimana Membahasakan Isu Perempuan dan Anak dengan Etis

“Aliansi Jurnalis Independen awalnya dibentuk untuk melawan rezim orde baru,” Agam Qodri Sofyan – ketua AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Makassar mengawali pertemuan dengan menceritakan secara singkat sejarah AJI. Tudang Sipulung Komunitas Blogger Anging Mammiri pada tanggal 18 Maret lalu berlangsung di Kafe Flash Back Ice Cream & Coffee di Pasar Segar ruko RB8. Induk organisasi jurnalis ini dideklarasikan pendiriannya di Bogor pada tanggal 7 Agustus 1994.
Baca selengkapnya

Menuju Advokasi Peliputan dan Penulisan Isu Perempuan dan Anak

Diskusi Media Soal Anak dan Perempuan yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar pada tanggal 31 Desember lalu itu merupakan langkah advokasi peliputan dan penulisan isu perempuan dan anak. Diskusi kali ini merupakan diskusi keempat. Saya hadir pada diskusi pertama namun berhalangan datang pada diskusi kedua dan ketiga. Harapannya, setelah diskusi keempat ini akan lahir buku saku atau buku panduan dalam peliputan dan penulisan isu perempuan dan anak.
Baca selengkapnya

AJI Menyoal Anak dan Perempuan di Media


Pada tanggal 12 November lalu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar menyelenggarakan Diskusi Media Soal Anak dan Perempuan di sebuah tempat bernama Rumah Independen, di jalan Toddopuli 7 Ruko B Nomor 23 A Makassar. Diskusi ini menghadirkan 3 orang pembicara, yaitu: Ir. Fadiah Mahmud (Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulsel), Nur Anti (Kabid Kualitas Hidup Perempuan dan Anak BPPA Sulsel), dan Muhammad Idris (Produser Celebes TV Makassar) sebagai moderator.
Baca selengkapnya

Catatan dari Diskusi Publik Peran Media dalam Industri Kreatif

Tanggal 31 Mei lalu, saya kembali menghadiri sebuah acara diskusi yang digelar DILoMakassar di kafe Keiko, jalan Dr. Sam Ratulangi. Acaranya bertajuk Peran Media dalam Industri Kreatif. Diskusi ini menghadirkan dua nara sumber Anggi Hasibuan, Kabiro Metro TV Makassar dan Iko, Program & Music Director Madama Radio.
Baca selengkapnya

Catatan dari Diskusi Publik Media dan Isu Kekerasan pada Perempuan dan Anak

Akhir-akhir ini, berita kekerasan seksual pada anak sangat mengerikan. Kadang-kadang ingin bikin status seketika saat mendapatkan beritanya tapi sedang tidak connect ke internet. Namun saat connect dan terpikir untuk menuliskannya, muncul perasaan tidak enak. Campur aduk, antara marah, sedih, dan tidak ingin lagi mendengarnya.
Baca selengkapnya

Maju Terus Media Elekronik Lokal

Melihat ada jadwal tayangan televisi kabel di sebuah surat kabar lokal, saya merasa terenyuh. Mengapa bukan jadwal tayangan televisi lokal yang ditampilkan? Saat ini, stasiun-stasiun televisi lokal sudah punya banyak tayangan positif, lho. Sayang kalau tidak didukung. Ya, sedikit berderma untuk daerah sendiri kan tak mengapa, lah ya. Untuk kepentingan bersama.

Pada tanggal 12 Desember lalu, secara tak sengaja saya melihat tayangan televisi secara langsung di Kompas TV Makassar, penganugerahan award dari KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah) Sulawesi Selatan kepada media-media televisi elektronik (televisi dan radio) lokal yang peduli kepada tayangan positif.
Baca selengkapnya

Saya, Bukan Perempuan Biasa

Sebenarnya saya berencana membuat tulisan berseri mengenai Festival Forum KTI (Kawasan Timur Indonesia) yang saya ikuti tanggal 17 – 18 November lalu. Saya baru membuat 3 tulisan, masih banyak yang belum saya tulis tapi saya interupsi dulu dengan tulisan ini karena ingin menuliskan satu hal penting dulu *catat: PENTING .. uhuk .. J*

Tanggal 29 September lalu saya memenuhi undangan Cakrawala TV (jaringan lokal NET. TV, 57 UHF) untuk shooting program Bukan Perempuan Biasa. Shooting-nya bertempat di cafe sebuah hotel di bilangan Racing Center.
Baca selengkapnya

Kunjungan yang Menyenangkan ke Kantor Redaksi Harian Amanah

Seorang teman, namanya Kak Arni posting status tentang Harian Amanah dengan menge-tag saya dan teman-teman lainnya. Suatu kebetulan, suami saya pernah membawa pulang ke rumah sebuah edisi dari Koran Amanah. Menarik. Koran Amanah adalah sebuah koran yang anti mainstream. Di tengah kondisi media cetak yang hampir seragam dalam pemberitaan dan karakter, koran ini tampil percaya diri dengan mengusung bendera “dakwah islami”, terbit di Makassar pula. Benar-benar sebuah terobosan!

Saya tertarik dengan koran ini. Rasanya ingin menyambangi kantor redaksinya. Kak Arni yang mengenal salah seorang pegawai pada kantor redaksi Harian Amanah membantu. Maka ketika kantor barunya – di jalan Kakatua nomor 35 (gedung Almira lantai 3) baru saja ditempati beberapa hari, saya dan  beberapa teman yang tergabung dalam IIDN (Ibu-Ibu Doyan Nulis) Makassar bertamu (12 Oktober 2015).
Baca selengkapnya

Pentingnya Peran Media dalam Melindungi Hak Anak

Tulisan ini merupakan tulisan ke-6 mengenai Pelatihan Jurnalistik Membangun Perspektif Perempuan dan Anak dalam Pemberitaan (LBH APIK, 10 – 11 Agustus 2015). Lima tulisan sebelumnya adalah: Menggugah Kepedulian Jurnalis Melalui Kritik MediaKekerasan dan MediaAgar Media Berperspektif Gender, Sudut Pandang Hukum yang Bisa Digunakan dalam Menulis Kasus Kekerasan pada Perempuan dan Anak, dan Isu Anak, BukanHanya Engeline.

“Sebenarnya banyak agenda dan isu yang butuh dukungan tapi justru tidak dibantu dari sisi pemberitaan,” hal ini dikatakan Pak Rusdin Tompo di sesinya, hari kedua pelatihan.

“Anak-anak dari pemotongan hewan di Tamangapa (kabupaten Gowa – Sulawesi Selatan, red), yang setiap harinya terlibat dalam pekerjaan pemotongan daging, pernah diliput oleh BBC London. Apakah pernah diliput media lokal?” Pak Rusdin memberi sebuah contoh.
Baca selengkapnya
Isu Anak, Bukan Hanya Engeline

Isu Anak, Bukan Hanya Engeline

Tulisan ini merupakan tulisan ke-5 mengenai Pelatihan Jurnalistik Membangun Perspektif Perempuan dan Anak dalam Pemberitaan (LBH APIK, 10 – 11 Agustus 2015). Empat tulisan sebelumnya adalah: Menggugah Kepedulian Jurnalis Melalui Kritik MediaKekerasan dan MediaAgar Media Berperspektif Gender, dan Sudut Pandang Hukum yang Bisa Digunakan dalam Menulis Kasus Kekerasan pada Perempuan dan Anak.

Menjelang penghujung pelatihan hari pertama, Pak Rusdin Tompo mengingatkan para jurnalis mengenai 9 elemen jurnalisme yang dikutipnya dari buku “Sembilan Elemen Jurnalisme” karya Bill Kovach & Tom Rosenstiel, penerbit Yayasan Pantau, Jakarta, 2006:
Baca selengkapnya

Sudut Pandang Hukum yang Bisa Digunakan dalam Menulis Kasus Kekerasan pada Perempuan dan Anak

Tulisan ini merupakan tulisan ke-4 mengenai Pelatihan Jurnalistik Membangun Perspektif Perempuan dan Anak dalam Pemberitaan (LBH APIK, 10 – 11 Agustus 2015). Tiga tulisan sebelumnya adalah: Menggugah Kepedulian Jurnalis Melalui Kritik Media, Kekerasan dan Media, dan Agar Media Berperspektif Gender.

Ibu Lusi Palulungan menjelaskan mengenai perspektif hukum yang bisa digunakan jurnalis dalam menuliskan berita mengenai  tindak kekerasan kepada perempuan. Sebelumnya, mari kita simak dulu apa definisi kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap perbuatan berdasarkan jenis kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual, ekonomi ataupun psikologis termasuk pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di muka umum maupun dalam kehidupan pribadi (Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan).
Baca selengkapnya

Agar Media Berperspektif Gender

Tulisan ini merupakan tulisan ke-3 mengenai Pelatihan Jurnalistik Membangun Perspektif Perempuan dan Anak dalam Pemberitaan (LBH APIK, 10 – 11 Agustus 2015). Dua tulisan sebelumnya adalah: Menggugah Kepedulian Jurnalis Melalui Kritik Media dan Kekerasan dan Media.

Usai sesi pertama, Ibu Lusi Palulungan – mantan ketua LBH APIK Makassar mengawal peserta Pelatihan Jurnalistik Membangun Perspektif Perempuan dan Anak dalam Penulisan untuk masuk ke sesi Curah Pendapat dan Berbagi Pengalaman.
Baca selengkapnya

Kekerasan dan Media

Tulisan ke-2 mengenai Pelatihan Jurnalistik Membangun Perspektif Perempuan dan Anak dalam Pemberitaan (LBH APIK, 10 – 11 Agustus 2015). Tulisan sebelumnya bisa dibaca di sini.

Pak Alwy Rahman melanjutkan materinya dengan Teori Kekerasan[1]. Dia memulainya dengan mengatakan Tubuh perempuan menjadi gravitasi yang luar biasa di media. Pada model Irigaray, ada 3 “penempatan” perempuan:
Baca selengkapnya

Menggugah Kepedulian Jurnalis Melalui Kritik Media

 Tulisan ke-1 mengenai Pelatihan Jurnalistik Membangun Perspektif Perempuan dan Anak dalam Pemberitaan (LBH APIK, 10 – 11 Agustus 2015)

Kegiatan ngeblog makin menyenangkan. Salah satu berkahnya adalah jaringan bertambah banyak dan luas. Pada tanggal 10 – 11 Agustus lalu, saya mengikuti Pelatihan Jurnalistik Membangun Perspektif Perempuan dan Anak dalam Pemberitaan. Dua hari sebelumnya, saya mendapat telepon dari Bu Rosmiati Sain – ketua LBH APIK Makassar, penyelenggara pelatihan. Kata Bu Ros, AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Makassar yang merekomendasikan nama saya kepada LBH APIK.
Baca selengkapnya

Menilai yang Layak Disebut Berita

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari dua tulisan sebelumnya: PerempuanMenulis untuk Perempuan dan Mengapa Perempuan Perlu Belajar Gender, Seks, dan HAM

Usai mendengarkan pemaparan dari Salma Tadjang, kami (para peserta) diminta untuk menganalisis fotokopi berita yang berasal dari media cetak secara berkelompok. Saya bersama Zulkhaeryah dan Gee Gee mendapatkan berita yang dirilis tanggal 17 Mei 2015. Tak ada nama media di fotokopian yang kami dapatkan.

Karena pernah mendapatkan pelatihan analisis media, saya langsung merasa muak membaca berita itu. Judulnya saja sudah kelewatan: “Disetubuhi Pria Mabuk, Gadis Manado Lapor Polisi”. Itu baru judul, terlebih lagi isi beritanya.
Baca selengkapnya