Barongsai di TSM dan Bus K1 yang Penuh – Baru perjalanan pergi sudah seru. Sampai-sampai saya membuat 3 tulisan: Sesulit Itukah Menjangkau Bus Arah Galesong?, Mau ke Galesong, Malah Turun di TSM, dan Naik Bus 20206: Install Aplikasi Trans Sulsel. Saat bus tiba di halte Trans Studio Mall (TSM), hari sudah sore. Sudah masuk waktu ashar sehingga saya dan anak-anak berjalan kaki menuju mall.
Ke TSM
Kami beruntung tanggal 16
Februari saat itu sedang cerah sementara hari-hari lain sepanjang bulan
Februari 2026 diwarnai dengan hujan. Jarak dari halte yang
terletak di luar pagar TSM yang dekat Bank Mega Tower ke pintu lobi mall,
saya perkirakan sekitar 100 meter. Kalau tiba-tiba hujan kan ndak lucu ya🙈.
Trans
Studio Mall ini bukan hanya bangunannya yang luas, pekarangannya pun
luas. Lumayan, bisa tercapai ribuan langkah dengan hanya menjelajahi TSM saja –
pikiran ini lumayan memotivasi saya untuk datang ke mall ini dengan
anak-anak meskipun saya bukan orang yang suka sekadar cuci mata di mall hehe.
TSM
ini meskipun banyak pengunjungnya, rasanya nyaman-nyaman saja karena
bangunannya luas. Tidak seperti mall yang
sana yang rasanya kayak berada di Pasar Senggol saat pengunjung sedang
banyak-banyaknya.
Kami
bertiga turun ke lantai dasar, setelah tanya-tanya letak musala terdekat pada
petugas kebersihan. Musala terletak di tempat parkir. Ada bangunan tersendiri,
ber-AC, dan lumayan nyaman yang digunakan sebagai musala. Kalau tak bawa
mukena, tak perlu khawatir karena di musala ini tersedia mukena yang bisa
dipakai umum.
Usai
menunaikan shalat ashar, kami bertiga ke supermarket, lalu naik
ke lantai atas. Saat sedang berjalan menuju pintu keluar, terdengar ada
bebunyian yang berasal dari atraksi barongsai. Pertunjukan barongsai dipersembahkan
untuk pengunjung mall dalam rangka menyambut perayaan Tahun Baru Imlek
2026. Saat ini sudah lazim mall-mall di Kota Makassar menampilkan
barongsai untuk menyambut Imlek.
Dari
lantai 1 kami naik 2 lantai lagi, menuju
ke sumber atraksi berlangsung. Bunyi tambur (gendang besar), simbal
(ceng-ceng), dan gong terdengar harmoni, mengiringi atraksi liukan
singa-singaan yang menari dengan indahnya. Banyak orang di sekitar para
penampil, tak mudah mendekati mereka.
Kurang
lebih 5 menit menyaksikan barongsai, kami turun dan berjalan ke luar mall. Bersyukur
cuaca masih cerah saat kami berjalan kaki kembali ke halte yang lagi-lagi tanpa
tanda pengenal. Tau sama tau saja ada halte di situ.
Berjalan
kaki melewati Bank Mega Tower, saya menghampiri satpam yang berjaga di dekat pintu
gerbang, di mana letak persisnya halte bus Trans Sulsel. Pak Satpam menunjuk ke
arah pintu keluar. Letak haltenya dekat saja dari pintu gerbang kecil itu. Saya
cek di akun Instagram @dishubprovsulsel, halte ini Namanya “Halte Bank Mega Tower”.
Menunggu Bus Balik
Pak
Satpam mengingatkan agar kami benar-benar memperhatikan kedatangan bus sebab
bus berhentinya tidak lama. Baik sekali beliau mengatakan itu agar kami tak
ketinggalan bus. Kami duduk di atas undakan depan pagar. Tak ada tempat duduk
di halte itu, sebagaimana halte-halte bus Trans Sulsel pada umumnya. Kalau tak
mau capek menunggu, harus pandai-pandai cari tempat duduk darurat seperti
undakan itu. 😊
Menit
demi menit berlaku. Lima menit … sepuluh menit … belum ada bus yang mendekat. Saya
mengaktifkan aplikasi Trans Sulsel untuk mencari tahu bus terdekat ada di mana.
Astaga, tak ada bus dekat dari TSM Ini berarti bahwa bus terdekat masih jauh
dari TSM!
Mungkin
sekitar 30 menit menunggu baru tampak ada bus nearby (dekat) dari TSM di
layar handphone. Seingat saya, kami menunggu sekitar 45 menit atau hampir
satu jam di halte sampai akhirnya bus berwarna biru yang ditunggu-tunggu
datang. Senangnya tak terkira …
Ujian di Atas Bus K1
Di
dekat sopir bus, kartu emoney saya dekatkan ke alat pindai. Saldo tak
terpotong sama sekali karena masih masa gratis naik bus Trans Sulsel.
Kulayangkan pandangan ke dalam bus. Bus
penuh, tak ada kursi kosong. Terpaksa deh berdiri.
Cukup
sulit mencari posisi berdiri yang nyaman karena bus berwarna biru yang kami
tumpangi ini ternyata lebarnya tidak sama dengan bus yang berwarna merah. Lebar
bus biru ini sedikit lebih kecil daripada lebar bus merah.
Saya
kesulitan menyamankan kaki, badan, dan tangan saat bergelantungan di bus.
Melihat saya sedang mencari posisi berdiri yang nyaman, seorang ibu keturunan
Tionghoa menepuk kursinya. Dari gesture
tubuhnya, ibu yang dari posturnya sepertinya berusia 60-an tahun itu menawarkan
berbagi seat denganku.
Tidak
ada tempat duduk kosong di dekatnya tetapi dia bersedia berbagi tempat. Saya
tak mungkin menerimanya karena belum tentu orang-orang di dekatnya rela duduk
bersempit-sempitan. Ibu itu sekali lagi menepuk-nepuk tempat duduknya. Saya
tersenyum, sedikit menggelengkan kepala, dan menganggukkan kepala sebagai tanda
berterima kasih atas tawarannya. Sungguh, saya tak bisa menerima tawarannya. Waktu saya di dalam
bus tak lama. Saya tak mau dalam waktu singkat, saya menjadi penyebab umpatan
dan kutukan keluar dari mulut para penumpang bus lainnya.
Ibu
berwajah oriental itu ramah, dia bertegur sapa dengan seorang pemuda yang juga
berdiri tak jauh dari saya. Sambil menyimak obrolan mereka, saya masih sibuk
mencari posisi nyaman. Posisi berdiri bergelantungan di bus ini membuat saya
merasa serba salah. Menghadap ke depan salah, menghadap ke samping salah.
Inginnya
menghadap ke depan karena posis menyamping membuatku pusing. Mencoba posisi
menghadap ke samping, kedua tanganku kewalahan menjangkau gantungan yang
letaknya agak berjauhan. Tidak mungkin kan tangan kanan dan kiriku bergelantungan
pada dua gantungan yang jaraknya lebih lebar dari badanku?
Menghadap
ke depan juga serba salah. Pasalnya, kaki penumpang yang duduk dekat kaki
kiriku cukup mengganggu. Seharusnya jadi penumpang bus itu sebisanya mengambil
posisi duduk yang toleran dengan penumpang yang berdiri. Tidak seperti orang
itu yang kakinya agak diselonjorkan.
Sementara
itu, bus penuh juga dengan penumpang yang berdiri, saya tak bisa bergeser lagi.
Saya juga harus menjaga jarak dengan penumpang laki-laki yang bergelantungan di
sebelahku. Jangan sampai bus harus mengerem mendadak dan membuat pegangan tanganku
terlepas. Saya bisa hilang keseimbangan dan bertubrukan dengan laki-laki itu. Duh
jangan sampai deh.
Alhamdulillah, sekitar 5 menit kemudian beberapa penumpang turun.
Saya bisa duduk juga akhirnya, menggantikan posisi orang yang tak bisa mengondisikan kakinya tadi. Langit sudah
gelap, waktu magrib sudah dekat. Bus bergerak dengan kecepatan sedang dari arah
Tanjung Bunga, masuk ke CPI di Lego-lego, berputar lalu berbalik arah, keluar
CPI. Bus belok kiri, lurus, lalu berbelok kiri lagi ke jalan Penghibur – di
pesisir Pantai Losari.
Bus menyusuri jalan Penghibur, berbelok
ke arah Kantor Pos Indonesia, bergerak ke arah utara, berbelok di jalan Ahmad
Yani, melewati Balai Kota Makassar, berbelok ke arah Selatan lalu belok kiri,
melewati SMA Frater. Bus berjalan pelan, lanjut belok kanan ke jalan
Botolempangan lurus, melewati halte RSIA Catherine Booth.
Kemudian bus membawa kami terus
menuju halte SMKN 8 di jalan Monginsidi, lanjut ke jalan Veteran Selatan. Sudah
pukul setengah tujuh saat kami turun di halte Pasar Maricayya yang letaknya di
seberang Pasar Maricayya. Inilah halte terdekat dari rumah. Jaraknya sekitar 1
km saja dari rumah kami. Dari halte ini kami menggunakan ojol mobil menuju
rumah.
Sungguh perjalanan yang
melelahkan. Sampai hari ini saya belum penasaran lagi dengan perjalanan naik
bus Trans Sulsel ke Galesong. Cukuplah
sampai di TSM saja, rasanya sudah sangat menguras waktu dan energi. Setidaknya,
kami sudah punya pengalaman naik bus K1 walau hanya setengah jalan, sampai di
TSM saja. Kapan-kapan, berbekal pengalaman eksplorasi bus K1 ini bisa jadi
pelajaran jika sewaktu-waktu harus naik bus K1 lagi.
Makassar, 19 April
2026
Selesai (tulisan ke-4 dari 4
tulisan eksplorasi bus Trans Sulsel rute K1)
Share :


.jpg)
0 Response to "Barongsai di TSM dan Bus K1 yang Penuh"
Post a Comment
Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^