Mau ke Galesong, Malah Turun di TSM – Upaya nego kepada si bungsu Afyad agar kami tidak perlu ke Galesong tak membuahkan hasil. Anakku ini belum punya wawasan mengenai Galesong, perkiraan waktu tempuh, dan kemungkinan hambatan-hambatan yang ditemui. Dia harus mengalami sendiri, baru bisa diajak bernegosiasi. Tulisan sebelumnya baca di: Sesulit Itukah Menjangkau Bus Arah Galesong?
Belajar dari Pengalaman ala Anakku
Pengalaman lama menunggu bus di halte BCA, menyeberang
ke halte Mandiri gara-gara 3 bus lewat tidak menepi, naik bus di halte Mandiri
dengan tujuan halte Panakukang Square
sudah dia rasakan seperti apa melelahkannya. Sekarang waktunya mengukur
jarak ke Trans Studio Mall (TSM) yang letaknya sekitar 8-9 kilometer dari
Panakukang Square. Dia perlu merasakan sendiri perjalanan ke TSM yang memakan
waktu cukup lama baginya.
Setelah sekian lama di atas bus, akhirnya anak
bungsuku ini setuju kami menyudahi perjalanan di TSM di tanggal 16 Februari siang jelang sore itu. Saya bilang kami akan
jalan-jalan saja di TSM, jajan sebentar, shalat ashar, lalu menunggu bus balik
ke rumah. Dia setuju. Sementara si tengah Athifah yang sudah jadi mahasiswi,
dia sudah paham dan bisa memproyeksi kesulitan yang bakal terjadi jika kami
tetap mengotot[1] ke Galesong.
Halte Bus Trans Sulsel Tanpa Tanda
Perasaan setengah hati saya mulai terobati oleh rasa
penasaran. Saya penasaran dengan halte-halte yang tersebar di sekitar rumah
kami. Bus rute Galesong atau yang disebut juga Bus Trans Sulsel Koridor 1 dari
titik keberangkatan di Panakukang Square itu mengarah ke rumah kami. Dalam
radius sekitar 1-2 kilometer dari rumah yang dikitarinya, ada sejumlah halte
bus dilalui. Sayangnya halte-halte itu tak terlihat karena tak ada tandanya.
Kalau tak mengalami sendiri perjalanan by bus, saya mungkin takkan
pernah tahu.
Uniknya halte untuk
Bus Trans Sulsel atau Trans Mamminasata ini, tidak semuanya dalam bentuk
lazimnya halte yang ada tempat duduk dan atapnya. Tetap di sebut halte walau
secara kasat mata hanya berupa bagian depan biasa dari sebuah bangunan dan tak
ada apa-apa di sana, hanya sekadar pelataran
yang bisa untuk sejumlah orang berdiri.
Seperti halte Bank Mandiri misalnya, kita hanya
mengenali bangunan Bank Mandirinya saja, jangan berharap melihat ada bentuk
sebuah halte di sana. Namun demikian, setiap bus yang berhenti, akan berhenti
di titik yang kurang lebih sama, kalau di kiri ya di kiri terus, bukannya di
kanan, di bagian depan bangunan Bank Mandiri itu.
Beruntungnya di halte ini, saat tengah menunggu bertepatan
dengan turunnya hujan, masih bisa berlindung di bagian depan bank yang masih
terlindungi oleh atap. Ada juga tenda di pelataran bank yang tampaknya tak
ditempati di luar jam kantor. Saat kami ke halte, tak ada apapun di bawah
tenda, jadi kami bisa bernaung dari terik matahari siang yang menyengat kulit.
Banyak halte yang hanya berupa “nama gedung” di kota
ini. Kalau berdiri di situ dan melambai saat bus mendekat, sopir sudah paham
kita ingin naik bus. Kalau hujan, ya apes, bisa hujan-hujanan kalau tak membawa
payung, seperti halte BCA yang letaknya di luar pagar BCA.
Penasaran dengan Halte Bus K1 Terdekat
Ah ya, kembali ke perjalanan kami … bus yang kami tumpangi bergerak,
menyusuri jalan Boulevard Panakukang. Saat hendak melewati halte BCA, bus
menepi sedikit, bersiap berhenti untuk mengambil penumpang yang hendak naik. Loh
loh loh … berarti sudah benar kami tadi menunggu di sini.
![]() |
| Posisi "curhat" paling enak ya di belakang Pak Sopir😆 |
“Pak, tadi saya menunggu di sini, tiga bus Galesong
lewat, tidak ada yang ambil. Berlima ka’ tadi naik bus ini,” saya curhat
lagi kepada Pak Sopir. Saya memang sengaja mengambil tempat duduk dekat dari
sopir supaya bisa curhat, eh tanya-tanya. Sopir bus yang kalem
itu menanggapi dengan anggukan kepala, tanda menunjukkan pengertian atas curhat
saya.
Bus memasuki jalan
Pelita, membentuk huruf L menyusuri jalan Pelita, menuju jalan Sungai
Saddang Baru. Ada halte yang dilalui di jalan Pelita, sayangnya saya tak sempat
mencatatnya. Saya tak bisa menandai karena tak ada yang naik di halte itu,
hanya disebutkan oleh suara operator otomatis yang terdengar di dalam bus.
Suara operator itu menyebutkan setiap halte yang dilalui, baik sopir berhenti
ataupun tidak.
Sopir berhenti atau tidak tergantung dari
penglihatannya: apakah ada orang berdiri dengan gelagat sedang menunggu bus
atau tidak di halte yang dilalui. Jika tidak ada orang sama sekali dan
tidak terlihat bahasa tubuhnya sedang menunggu bus maka sopir tidak melambatkan
bus yang dikendarainya sama sekali.
Saya pikir, jika suatu saat nanti mau ke TSM sendiri
naik bus, saya mungkin akan menunggu di halte terdekat. Mungkin di sekitar
jalan Pelita, jalan Sungai Saddang Baru, atau di sekitar jalan Bulukunyi. Hal
inilah yang membuat saya agak antusias dalam mengamati perjalanan ini.
Ancar-ancar halte di jalan Pelita Raya bisa saya
perkirakan tapi tidak tahu persis titiknya karena sama sekali tak ada tanda
fisik. Bus terus bergerak, tidak berhenti karena tak ada yang naik.
Putriku memperlihatkan postingan Instagram yang memuat
halte-halte bus Trans Sulsel Koridor 1 (K1). Olehnya itu, saya tahu halte
berikut terdekat dari rumah kami ada di jalan Sungai Saddang.
Sekali lagi, bus terus bergerak saat suara operator
otomatis menyebutkan halte “Sungai Saddang” yang ternyata letaknya di jalan
Sungai Saddang Baru.
“Pak, yang mana halte Sungai Saddang?” tanyaku pada
sopir. Saat itu saya masih mengira lokasi halte tersebut di jalan Sungai
Saddang lama alias jalan “Sungai Saddang” saja, tanpa embel-embel di
belakangnya. Jalan Sungai Saddang Baru merupakan “perpanjangan” dari jalan
Sungai Saddang (lama). Letaknya berseberangan, dipotong oleh jalan Veteran.
“Lewat mi, Bu. Ada tadi dilewati,” jawab Pak
Sopir. Dari jalan Sungai Saddang, bus belok kiri ke jalan Bulukunyi. Bus
berhenti di halte yang terletak di depan kedai Ramu Rempah karena ada yang naik
di halte ini. Lagi-lagi tak ada tanda di halte, hanya ytta - yang tau-tau
aja yang menggunakan halte ini.
“Download ki’ aplikasi Trans Sulsel, Bu.
Bisa dilihat halte-haltenya di situ,” ujar Pak Sopir lagi.
“Ooh aplikasi Trans Sulsel ya. Saya kira
aplikasi Damri, soalnya ada yang kasih tahu aplikasi Damri,” jemariku mencari
aplikasi Trans Sulsel di Play Store. Begitu aplikasi berlogo perahu pinisi itu
terlihat, langsung ku-download.
Dari jalan Bulukunyi, bus bergerak ke jalan Lanto Dg.
Pasewang. Halte berikut yang dihampiri bus adalah halte Wisma Polbangtang. Saya
mencatat dalam aplikasi Notes di HP, di bawah nama halte Ramu Rempah. Sampai kapan ya halte-halte itu tak diberi tanda ya? Kan memudahkan kalau ada tanda. Apakah tak penting bagi pemangku kepentingan untuk memberikan tanda pada halte?
Makassar, 12 April 2026
Bersambung
[1] Mengotot adalah kata baku,
sinonim dengan BERSIKERAS dan BERKERAS HATI. Ngotot merupakan bentuk
tidak bakunya.
Share :


0 Response to "Mau ke Galesong, Malah Turun di TSM"
Post a Comment
Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^