Drama Ojek Online: Ketika Si Bungsu Dituduh Merusakkan Mobil

Drama Ojek Online - “Bu, anak ta’ kasih rusak itu,” tunjuk driver mobil ojek online yang kami tumpangi menuju gedung Haji Bate di Sungguminasa, Kabupaten Gowa. Mata saya beralih pada pegangan pintu mobil di samping si bungsu yang ditunjuknya, pada bagian dalam pintu mobil yang ditunjuk si driver di jok depan. Terlihat ada yang tak beres di situ. Ada bagian pegangan pintu mobil yang rusak.

Afyad sudah duduk di samping pak sopir. Saya yang duduk tepat di belakang Afyad menepis tangan Afyad yang hendak meraih pegangan pintu mobil. Saya bengong. Mencoba mencerna dengan cepat apa yang sebenarnya terjadi. Ini kasus serius. Anak bungsu saya dituduh merusakkan pegangan bagian dalam pintu mobil!


Bagaimana bisa seorang anak kecil merusakkan pegangan pintu mobil? Ini kan bukan mobil kaleng-kaleng?

Saya diam saja. Tak berkomentar apa-apa. “Barangkali Afyad tutup pintunya terlalu keras?” Athifah berkomentar. Saya masih diam saja. Masih mencoba mencerna apa yang terjadi dengan segala kemungkinannya. Saya tak ingin langsung menyalahkan si bungsu ataupun si driver karena saya tak menyaksikannya sendiri.

Saya lihat ada penahan yang terlepas di situ. Kata si sopir, ada baut yang dipasangnya tapi terlepas. Saat anak saya menutup pintu mobil, bagian yang ditariknya terbuka. Bagian yang terbuka itu ditutup kembali tetapi bautnya sudah tak ada di situ.

Saya yakin kalau kondisi mobil tentunya bukan yang masih benar-benar bagus. Pasti sudah ada kerusakan sehingga tangan seorang anak kecil bisa merusakkannya. Saya tak mau kami dipersalahkan sepenuhnya.

Bisa jadi sudah ada yang merusakkan bagian dalam pintu mobil itu. Kalau memang ada baut yang menahan, mana baut itu?

Ketika saya pertanyakan, sopir itu mengatakan bahwa tadi ada bautnya. Nanti dia akan tunjukkan apa yang rusak. Saat saya pertanyakan, “Mana bautnya?” Dia menjawab, “Saya tidak tahu, Bu.”

“Kalau masih bagus, tidak akan langsung rusak. Ini memang tidak benar-benar bagus toh?” saya bertanya pada si sopir. Dia mengakui kalau memang ada kerusakan tetapi dia sudah memperbaikinya dan menambalnya dengan satu baut. Sekarang anak saya melepaskan baut itu.

Dalam pikiran saya, kalau memang ada bautnya, seharusnya jatuhnya tidak jauh-jauh dari Afyad dan pintu mobil namun sampai kami turun dan menelisik bagian itu, baut itu tak ditemukan. Si sopir tetap mengatakan, “Saya tidak tahu, Bu.”

Bagian yang dilingkari itu yang terlepas ketika Afyad
menutup pintu mobil

Sungguh sebuah perjalanan yang kaku. Berdiam diri sepanjang jarak lebih 6 kilo meter itu sama sekali tak asyik. Anak-anak mengerti apa yang terjadi. Mereka diam saja, tak berkata sepatah kata pun sepanjang perjalanan hingga tiba di Gedung Haji Bate.

Hari itu kami harus menghadiri pernikahan ponakan saya yang jauh-jauh datang dari kota Palu. Anak dari sepupu saya yang blasteran Palu – Gorontalo menikahi perempuan asal Gowa. Sepupusaya – Kak Sri namanya, dia anak bungsu dari kakak sulung ibu saya.

Dalam pikiran saya berkecamuk segala kemungkinan yang akan terjadi. Diam-diam saya menghubungi suami saya dan menceritakan masalah ini. Kami berdiskusi. Suami saya menginstruksikan supaya membayar saja kalau si driver minta bayaran, ganti rugi atas kejadian ini. Asalkan masih wajar, tak mengapa.

Saya kira masuk akal. Toh kami juga sama sekali tidak bisa bebas dari “kesalahan” ini. Kami sudah membuat si sopir tak nyaman. Saya memang harus mengakui bagian mana kesalahan kami. Tetapi saya juga sudah siap berdebat jika perdebatan yang akan terjadi. Bahan baku mobil yang kami tumpangi seharusnya bukan terbuat dari kaleng yang gampang terlepas!

Saya menyadari pula bahwa di saat ini anak-anak bisa belajar bagaimana cara saya mengatasi masalah. Mereka kelak akan meniru sikap dan cara saya. Apakah saya role model yang tenang atau pemarah? Apakah saya role model yang angkuh atau legowo? Dan apakah saya role model yang bisa membereskan masalah atau seorang pecundang?

Saya memikirkan semuanya hingga mobil diparkir di halaman gedung. Si sopir bertanya apakah saya mau melihat kondisi bagian dalam pintu mobil yang dirusak anak saya. Saya mengiyakan. Kami turun dan berkumpul pada sisi kiri mobil.

Seharusnya seperti ini jika belum rusak.

Saya kira saya akan menemukan baut yang dikatakan di driver terpasang di situ. Ternyata tak ada. Saya pertanyakan hal tersebut. Saya bilang padanya bahwa kondisi mobil itu tidak prima. Tentunya kalau masih bagus tak akan secepat ini rusaknya.

“Saya minta maaf atas kondisi ini. Tapi pintu mobil ta’ tidak sama sekali bagus kondisinya, kan? Anak saya sudah sering duduk di bagian depan dan tidak pernah ada kejadian apa-apa,” ucap saya.

“Iya, Bu. Saya cuma sampaikan ke kita’ supaya jadi bahan pelajaran. Supaya tidak terulang lagi. Jangan sampai nanti dapat ki’ driver yang pemarah. Jangan sampai nanti anak ta’ kacca-kacca,” ucap si sopir. Maksudnya, jangan sampai tangan anak saya usil memegang-megang yang ada di mobil orang.

“Anak saya biasa ji duduk di depan dan selama ini tidak apa-apa. Lain kali bilang ki’ sama penumpang ta’ untuk tidak duduk di kursi depan!” sejak tadi saya menjaga nada suara untuk tidak terdengar lemah. Saya usahakan bersuara tegas meskipun volume suara saya tidak keras.

“Jadi, bagaimana, saya kasih ki’ tip?” saya mengajukan solusi yang kira-kira bisa sama-sama enak.

“Jangan mi, Bu. Tidak usah. Saya hanya menyampaikan saja supaya tidak terjadi lagi.”

“Oke, saya minta maaf ya, Dek. Terima kasih.”

Si driver yang masih nampak tegang mengangguk dan kembali ke bangku pengemudi. Saya mengajak anak-anak untuk masuk ke dalam gedung sembari mengoperasikan aplikasi. Saya memberikan si driver bintang 5 dan memberikan dia tip sejumlah Rp. 30.000.

Alhamdulillah, masalah ini selesai win-win solution bagi saya. Entah bagi si driver. Saya bersyukur dia tak memperpanjang masalah ini. Seandainya dia mempermasalahkannya terus, saya siap berdebat dengannya dan siap memperkarakannya ke kantor ojek online.

Tentunya tak elok menimpakan kesalahan sepenuhnya kepada penumpang atas kondisi mobil yang sudah mulai rusak, hanya ditambal seadanya. Syukurlah dia tak melakukannya. Saya meminta Afyad untuk tak lagi naik di bangku depan ojek online. Dan semoga, baik Afyad maupun Athifah merekam cara penyelesaian masalah ini dengan catatan yang baik.

Makassar, 30 Juni 2019

Baca juga:







Share :

25 Komentar di "Drama Ojek Online: Ketika Si Bungsu Dituduh Merusakkan Mobil"

  1. Saya menemukan pesan yang kuat dari cara mba menahan diri untuk menjadi contoh anak2. Keren mba. Sudah untuk bersabar atau menahan emosi seperti itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bang Day seorang pembaca yang baik. Terima kasih sudah mampir :)

      Delete
  2. Belajar bgt Dari kak niar.. Kalau sy di posisi ta mungkin sudah marah2 duluan, huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya biasa terpikir begitu tapi saya terpiki lagi, "Apakah marah itu solusi?"
      "ANak-anak nanti merekamnya bagaimana dan menjadikannya solusi juga?"
      Dst
      Dst
      AKhirnya lebih terkendali.

      Yaah kadang-kadang juga tidak sih :D

      Delete
  3. Untung saja drivernya baik hati dan sabar ya Mbak. Kalau sampai yang sebaliknya kan pasti nggak bisa dibayangkan deh

    ReplyDelete
  4. Mungkin saja memang keadaan mobilnya atau mungkin juga si kecilnya. Kan sama-sama nggak tahu ya

    ReplyDelete
  5. Untungnya masalahnya nggak diperpanjang ya Mbak. Kalau diperpanjang kan jadi berabe hehe

    ReplyDelete
  6. Niatnya tadi mau bersenang-senang eh malah jadi sebalikya ya Mbak

    ReplyDelete
  7. Wah ini bisa dibuat pelajaran nih ya Mbak. Memang si kecil itu juga butuh pengawasan

    ReplyDelete
  8. pasti was was banget kalau ada kejadian begini. syukurlah masalahnya cepat diselesaikan.

    ReplyDelete
  9. Kalau saya dalam posisinya kak Niar sikap saya bakal seperti apa ya? Tapi yang jelas saya nggak bakal terima kalau anak saya langsung dituduh gitu saja, apalagi tanpa bukti yang jelas. Cuma salut ya kak bisa sabar dan mengendalikan emosi gitu. Catatan ini juga jadi pelajaran buat saya yang baru belajar menjadi orang tua.

    ReplyDelete
  10. Hadeeeh... Kecilnya ji kerusakannya dan gak ngaruh ji sama performa atau pun estetik mobil. Terlepas dari salah atau tidaknya Afyad.

    Kalo saya itu, sudah bisa dipastikan saya langsung semprot drivernya! Hahaha...

    ReplyDelete
  11. Kalau aku mungkin tak ganti rugi aja mls ribet, hihi

    ReplyDelete
  12. Dalam sekali pemaknaanya Kak, bagaimana mengambil sikap dalam masalah yang melibatkan anak-anak yang memang belum layak untuk mencerna masalah yang seberat itu. Analisa yang kuat dengan paparan logis. Keren sekali Kak Niar.

    ReplyDelete
  13. Saya kira akan Panjang ini urusan hehehe :) sip kak saya kira tidak baik juga kalua lgsg menyalahkan anak-anak yg belum bias membela dirinya sendiri

    ReplyDelete
  14. Nasib baik endingnya aman-aman ajha yh,, betul-betul ini drama, masak langsung rusak bgitu, atw bisa saja anu rusak memang mi, just praduga.. Hhe

    ReplyDelete
  15. selamat! Anda lulus ujian
    hahaha

    bayangkan kalau nda dipikir anak-anak, bisa2 langsung marah-marah, defensif, merasa dijebak dan lain-lain. akhinya anak2 akan mengkopi apa yang dilakukan orang tuanya. untung nda begitu ji

    ReplyDelete
  16. hei hei dah lama gk ketemu athifah ... dah gede pastinya sekarang.
    eh tau-tau ada drama di disini. semoga cepat terpecahkan solusinya ya, Bu.

    ReplyDelete
  17. Sedikit merusak suasana ya kak jadinya. Mau menghadiri pesta yg membahagiakan malah ada insiden tak menyenangkan. Tapi syukurnya terselesaikan dg baik2 saja. :)

    ReplyDelete
  18. Wah ku kira bakal berdebat mbak. Ternyata drivernya cm ngasih tau doang to. Drama bgt yak. Wkwkwk
    Alhamdulillah beres tanpa perlu saling menyalahkn..

    ReplyDelete
  19. Kesanku, driver nya Drama King... Dia sepertinya tahu betul kalau putra Mbak tidak merusakkan pintu mobil, makanya tak memperpanjang masalah. Sementara dugaanku, dia tak memperpanjang masalah sebab tak menyangka respons Mbak yang tegas namun tenang, tak terintimidasi. Andai kata Mbak keliatan takut dan merasa bersalah banget, sepertinya kok masalah diperpanjang....... Duh, jadinya suuzon saya inihhh.

    ReplyDelete
  20. Alhamdulillah jika berakhir dengan baik, jadi lebih waspada nih saat naik kendaraan via aplikasi online apalagi saat bawa anak.

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^