Showing posts with label Memaknai peran IBU. Show all posts
Showing posts with label Memaknai peran IBU. Show all posts

Anak Galak Tetap Mendapat Bullying: Waktunya Orang Tua Bertindak

Katanya anak yang diam saja dan menurut akan di-bully? Absolutely wrong. Athifah galak. Sejak di sekolah dasar, dia terang-terangan bilang TIDAK kalau tidak mau atau tidak suka. Dia tidak mau mengikuti kemauan anak-anak yang menekannya. Begitu pun di bangku SMP ini. Dia bisa menolak dengan galak memberikan barang yang diminta siapapun kawannya kalau tak mau memberikannya.
Baca selengkapnya

Melawan Pedih, Mengatasi Bullying

Melawan Pedih, Mengatasi BullyingApa alasan dua anak itu selalu saja mengomentari Athifah secara tidak enak? Tak ada! Saya bertanya dengan detail kepada Athifah apa ada kelakuan jelek yang mungkin dia lakukan sehingga dua anak itu – satu laki-laki dan satu perempuan (sebut saja namanya Baco dan Asse, mereka bersepupu) melakukan bully padanya. Jawabannya: tidak ada!
Oke, supaya jelas apa yang mereka lakukan, saya pindahkan di sini aduan saya kepada wali kelas Athifah di SMP-nya sejak bulan pertama bersekolah (tulisan miring di akhir kalimat baru saja saya tambahkan sebagai catatan)[1]:
Mengatasi Bullying
Gambar: freepik.com

Ini kelakuan si Asse:
  • Mulanya karena Athifah tidak mau pinjamkan label kepada Asse karena caranya minta tidak baik.
  • Lalu Asse marah-marah, bilang sekke (pelit). Lebih dari 3 kali. Sebenarnya Athifah tidak ingat berapa kali sudah anak perempuan ini mengata-ngatainya pelit. Yang jelas dia sering cerita ke saya.
  • Setelah itu pinjam barang-barang berkali-kali mengambil tanpa persetujuan atau dengan persetujuan Athifah. Mengembalikan dengan cara melempar. Athifah biasa menolak dengan tegas. Karena tidak suka caranya yang kasar.
  • Selain itu dia mengatakan Athifah "monyong mulut" dan bilang ke Athifah supaya ikut lomba "monyong mulut". Pernah juga dia suruh Athifah memonyongkan mulutnya dengan sinis. Salah seorang kawan pernah meledek Athifah, “Ada temanmu bilang menang ko kalo ikut lomba moncong mulut”.
Berikut ini kelakuan di Baso:
  • Baso sering mengambil barang tanpa izin. Pernah juga dengan izin. Seringnya mengembalikan dengan melempar.
  • Pernah mengatakan "monyet" ketika Athifah turun dari duduknya di dahan pohon.
  • Athifah duduk di depan pada pelajaran Bahasa Inggris. Dia bilang, "Jangan moko duduk di depan. Mentang-mentang ko pintar Bahasa Inggris. Sok-sok mau duduk di depan, mau pamer!"
  • Waktu guru IPS tunjuk Athifah untuk membaca, dia menyerobot dan langsung membaca.
  • Di pelajaran PKN, guru janjikan nilai 100 bagi yang berani menjelaskan tentang 4 norma. Seorang kawan menarik Athifah untuk menjelaskan. Baso berujar, "Jangan moko kasih naik ki dia, ndak ada gunanya."
  • Baso 3 kali menunjuk-nunjuki wajah Athifah dari dekat dan mengatakan sesuatu tapi tidak jelas dan dia kelihatan tidak senang.
Anak-anak bully perlu diajak melihat sisi jika dia ada di posisi korban.
Foto: freepik.com

Rupanya pada hari saya dan pak suami menghadap Pak wali kelas, si Asse sempat gila urusan, mengurusi kenapa Athifah hanya memberikan satu label (untuk menutup tulisan yang salah) ketika seorang kawan memintanya.

“Eh kenapa mi Athifah, sekke-nya -
timbang label ji!” ujarnya agak galak.
Dia berlaku seperti itu sering sekali
padahal bukan urusan dia. Si kawan
yang minta label menjawab,
Na saya ji yang mau pake.”
Barulah si Asse diam.

Dia berlaku seolah polisi ketika Athifah tidak melakukan hal yang dinilainya tak sesuai, dia akan memarahi Athifah. Kelakuannya sesuai dengan standard yang dia tetapkan saja dan semena-mena.

Hampir 3 bulan diperlakukan demikian, Athifah merasa tertekan. Saya tak langsung bertindak, masih mengamati dan menyarankan tindakan-tindakan lain sambil "mengumpulkan bukti". Sampai hari Jumat pekan lalu, sepulang sekolah  putri satu-satunya ini meledak. Marah-marah tak jelas.

Uring-uringannya kelewatan. Menyemprot siapa saja termasuk papanya. Saya memarahinya, papanya juga. Saya mengira dia hanya kurang sabar menunggu dijemput. Ketika sudah menyadari kesalahannya, Athifah menangis keras, memeluk papanya dan saya sembari meminta maaf.

Dia mengatakan sebenarnya dia marah sekali kepada Asse dan Baso dan dia tak tahan dengan kelakuan mereka. Lalu dia menceritakan kelakuan menyebalkan yang baru diterimanya. Duh, pedih mendengarnya menangis dan membayangkan perasannya.

Sumber: freepik.com

Saya bertanya kepada dua orang kawan baik mengenai kasus ini  – kepada Abby Onety dan Faridah Ohan. Ida Ohan menjadi tempat bertanya saya karena dia concern juga dalam hal bullying. Ibu doktor dalam bidang pendidikan ini pernah mempresentasikan hasil penelitiannya di luar negeri.

Keduanya menyarankan saya untuk
melaporkan kepada wali kelas.
Catatan penting dari Ida Ohan adalah
bahwa dengan turun menyelesaikan ini
putri saya juga bisa belajar bahwa dalam
menghadapi masalah, dia harus
mencari bantuan (ketika tak dapat
menyelesaikannya sendiri) .

Yes, jangan biarkan berlarut-larut hingga bikin depresi. Rantai bully harus diputuskan, perlihatkan korban tidak takut sama pelaku. Saya pernah baca kisah-kisah mereka yang trauma, depresi, hingga bunuh diri gara-gara perundungan. Saya tak ingin putri saya merasakannya.

Catatan lainnya adalah, ada baiknya tahu dulu apakah wali kelasnya kooperatif atau tidak. Ketika Athifah mendapat perundungan saat masih di sekolah dasar, dukungan itu tak kami dapatkan jadi kami bertindak sendiri.

Ada suatu kali seorang anak lelaki menendang bagian bawah perut Athifah hingga berakibat putri kami bolak-balik ke kamar mandi. Saat pak suami mengadukannya kepada wali kelas dan ayah si anak, mereka berdua lempeng saja, tidak ada tanggapan.

Begitu pun ketika kelas 6 Athifah tidak boleh mendapatkan kisi-kisi ulangan dari wali kelasnya karena tidak menjadi peserta les berbayar yang diselenggarakan si ibu. Lalu si ibu wali kelas melarang semua anak yang les memberikan kisi-kisi kepada kawan-kawannya yang tak ikut les.

Tak mungkinlah meminta dukungan ibu wali kelas ketika bully meningkat diterima Athifah dari anak-anak yang les. Kelakuannya macam-macam. Tak usah dibahas, ya sudah lama berlalu kejadiannya dan masih pedih hati ini. 😰

Jadi, untuk menghadap ke wali kelas 7 sekarang ini, saya bertanya-tanya seperti apakah pak guru Matematika itu menghadapi isu perundungan? No idea tapi saya dan suami sudah sepakat untuk menghadap. Rencananya hanya menceritakan kejadian ini saja lalu nanti terserah beliau menyelesaikannya. Tanpa perlu ada kami juga tak mengapa.
“Bagaimana kalau saya panggil Baso dan Acce. Nanti Ibu dan Bapak menasihati mereka. Jangan dimarahi, dinasihati saja seperti menasihati anak sendiri. Kan Ibu punya anak, jadi Ibu bisa menasihatinya,” Pak guru menatap saya.

Saya menanggapinya dengan menceritakan kekhawatiran Athifah akan lebih di-bully lagi mengingat waktu di SD dia diejek-ejek “pajamma’” (tukang mengadu) oleh kawannya karena Athifah suka menceritakan apa saja yang terjadi di sekolah kepada papanya[2].

Sumber: freepik.com

Saya juga menceritakan bagaimana perundungan yang diterima Athifah ketika SD. Juga yang dialami si sulung Affiq selama 2 tahun lebih saat SMP (baca Mengapa Anak Saya Mengalami Bullying?). Saya mengatakan tak ingin Athifah mengalami apa yang dialami Affiq dulu – diperlakukan bagai pembantu oleh 3 teman sekelasnya.

Apa yang dialami Athifah sungguh tak enak. Baru 3 bulan bersekolah dia sudah mengalaminya. Kalau dibiarkan, entah apa yang terjadi hingga kelas 9 nanti. Pak guru meyakinkan hal-hal yang saya khawatirkan tersebut tak akan terjadi. Menurutnya akan jauh lebih baik jika kedua anak itu dipanggil dan langsung dinasihati.

Saya berpandangan dengan pak suami.
Ada gelegak kecil di dalam hati saya.
Rasa sakit yang menggeliat. Saya akan
bertatap muka dengan dua anak pem-bully?
Apakah saya sanggup tidak marah-marah
kepada mereka?

Suami saya mengangguk menatap saya. Saya pun mengiyakan usul pak guru sembari ber-istighfar dan membaca do’a Nabi Musa. Sisi waras saya menasihati diri saya sendiri untuk berlaku dewasa dan waras.

Biar bagaimana pun juga, dua anak ini masih anak-anak. Dan mereka juga korban. Korban dari ketidaktahuan dan kenaifan akan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Saya meyakini pada usia 12 – 13 tahun, potensi perbaikan masih sangat besar. Kedua anak ini masih bisa kembali ke jalan yang benar.

Makassar, 18 Oktober 2019

Kisah penyelesaian bullying
yang terjadi tanggal 14 Oktober lalu ini
masih berlanjut di tulisan berikut.


Catatan kaki:


[1] Awalnya, saya ingin menguatkan Athifah supaya tak mengambil hati kata-kata teman-teman yang iri padanya. Saya katakan iri karena tak ada alasan mereka melakukannya.

[2] Waktu itu saya hadapi ketakutan Athifah kepada kawannya dengan mengatakan, “Memang anak harus menceritakan apa yang dia alami ke orang tua, bukan pajamma itu.




Baca tulisan sebelumnya:

Baca juga:


Baca selengkapnya

Mengapa Anak Saya Mengalami Bullying?

Mengapa Anak Saya Mengalami Bullying?Dunia sosial anak-anak adalah representasi dari dunia kita – dunia orang dewasa. Kalau di sekeliling kita ada orang yang ramah, menyenangkan, rendah hati, rese, menyebalkan, sombong, ndableg dan mengganggu maka begitu pun dalam dunia anak-anak.
Baca selengkapnya

Startup Dini.id Bantu Orang Tua Menangani Speech Delay Anak

Startup Dini.id Bantu Orang Tua Menangani Speech Delay Anak - “Saya ndak tahu anakmu speech delay,” kata seorang sahabat. Saya memang tidak banyak menceritakan kepada orang-orang perihal keterlambatan bicara Afyad si bungsu. Setelah terlihat perkembangan bicaranya dan kemampuannya dalam beberapa hal mulai berkembang saat dia masuk sekolah dasar, barulah saya membukanya kepada sahabat-sahabat dan menuliskannya di blog.
Baca selengkapnya

Happy from the Inside Out: Bahagia Itu Pilihan Sekaligus Keharusan

Jujur saja, setelah beberapa kali ikut acara, baik yang bertujuan untuk sharing pengetahuan parenting maupun pengembangan diri, barulah saya menyadari suatu hal. Yaitu bahwa rasa BAHAGIA itu kita usahakan sendiri. Sebab KEBAHAGIAAN besar peranannya dalam kehidupan kita.


BAHAGIA Adalah Pondasi


Mengapa? Karena dengan berbahagia, akan memudahkan kita menjadi orang yang positif. Persepsi atas apapun itu mudah terpengaruh oleh situasi dan kondisi, termasuk perasaan. Makanya rasa bahagia harus diusahakan, bukannya dipasrahkan kepada keadaan.

Pada bulan November tahun lalu, saya menghidari parenting workshop. Inilah salah satu pengalaman saya. Kalian bisa membaca pengalaman saya pada tulisan berjudul Grow Happy: Orang Tua Bahagia Pangkal Anak Sehat dan Cerdas untuk lebih jelasnya.

Nah, pada tanggal 17 Juli kemarin, saya menghadiri talkshow serupa yang berlangsung di Iconik Café, Jalan Amanagappa. Topiknya Happy from the Inside Out dan disajikan dengan interaktif. Psikolog Elizabeth Santosa, M. Psi, Psi, SFP, ACC kembali menjadi salah satu pembicara sebagaimana tahun lalu.

Happy from the Inside Out


Selain psikolog yang akrab disapa MISS LIZZY ini, hadir pula Brand Executive Nestle LACTOGROW – Pramudita Sarastri dan Dokter Spesialis Anak – Dr. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A(K) sebagai nara sumber yang berbicara mengenai pentingnya acara yang diselenggaakan ini berdasarkan sebuah penelitian dan dari sisi  ilmu gizi.

Mbak Pramudita Sarastri

Pramudita Sarastri mengatakan penting bagi orang tua untuk merasa happy dulu karena kebahagiaan keluarga datangnya dari orang tua. Bukan tanpa sebab Pramudita mengatakan hal itu. Bedasarkan sebuah penelitian di Indonesia, para ibu tidak memperhatikan kebahagiaan anak padahal kebahagiaan adalah salah satu pondasi.

Maka dari itu Nestle LACTOGROW mengajak para orang tua mendukung buah hatinya untuk tumbuh bahagia dengan menggelar workshop Grow Happy Parenting: Happy from the Inside Out. Slide di depan kami menunjukkan quote dengan latar belakang gambar ibu dan anak yang bahagia:
Happiness is not a given. To grow happy is a choice we make every day.

BAHAGIA Adalah Pilihan yang Harus Diupayakan


Nah lho. Ini yang harus kita sadari, bahwa kebahagiaan itu adalah sebuah pilihan yang keberadaannya harus diusahakan setiap harinya. Tidak bisa semena-mena, mentang-mentang ibunya lagi bad mood lantas menularkan emosi negatifnya ke seantero rumah. Ini sih utamanya menjadi catatan buat saya.

A happy child has higher chance of a healthy development and success later in life.
Adalah quote berikut yang tampil di layar. Kutipan ini makin membuat saya makin yakin akan pentingnya mengusahakan kebahagiaan dalam keluarga. Dan kebahagiaan bisa diupayakan melalui nutrisi. Bagaimana hubungannya, hal itulah yang disampaikan oleh Dokter Ariani.

Dokter Ariani

Mengupayakan Kebahagiaan Melalui Nutrisi


Jaman now, sudah dipahami bahwa memperhatikan pemberian nutrisi kepada buah hati penting diupayakan pada 1000 hari pertama kehidupan anak. Masa emas ini dimulai sejak terjadinya pembuahan hingga 1000 hari ke depannya.

Semua penyakit dimulai dari dalam usus [Hippocrates]
Saluran pencernaan adalah aset untuk sistem pertahanan tubuh terbaik kita (60 – 70% dari keseluruhan daya tahan tubuh). Total luas area usus sekitar 200 meter persegi. Di dalamnya ada 100 miliar bakteri – bakteri baik dan “jahat”.

Memang semua makanan melalui saluran pencernaan, termasuk usus. Tapi tidak semua makanan terserap dengan baik, lho di usus kita. Itulah pentingnya ada asupan dari luar yang mengandung probiotik (mikroorganisme hidup yang pada jumlah yang cukup dapat memberikan efek baik pada saluran pencernaan kita).


Kalau dirinci, peranan bakteri baik pada tubuh kita adalah: untuk menjaga kekebalan tubuh, mencerna serat dan menghasilkan nutrisi yang mendukung kesehatan saluran cerna, melindungi dari penyakit, dan melindungi usus dari mikroba dan zat berbahaya lainnya.

Nah, probiotik yang kita bicarakan di sini adalah Lactobacillus reuteri. Keunggulannya adalah: dapat bertahan pada pH rendah dan lingkungan yang diperkaya enzim, dapat menempel pada epitelium untuk interaksi host – probiotik, mampu berkompetisi dengan mikroorganisme patogenik, dan aman.

Probiotik ini sudah terbukti bermanfaat bagi tubuh. Dokter Ariani mempresentasikan data dari penelitian yang bersangkutan. Paparannya menunjukkan bahwa probiotik ini bermanfaat dalam mengatasi diare, konstipasi, kolik, suasana hati, dan bagi kecerdasan.

Para pemenang kuis interaktif

Setelah Dokter Arianti, giliran Miss Lizzy memaparkan pentingnya keterlibatan orang tua dalam membahagiakan anak.
Tugas orang tua adalah membuat anak Bahagia. Tugas menjaga kebahagiaan itu tidak gampang. Kalu mau bahagia, harus memaksa diri,” ujar Miss Lizzy.

Nah, jelas kan maksud judul di atas:
Bahagia itu pilihan sekaligus keharusan!

Mengapa kebahagiaan penting diusahakan bagi buah hati kita?


Untuk pertanyaan ini, saya pindahkan ke sini pernyataan ahli yang dikutip oleh Miss Lizzy:
Seorang anak yang dicintai dan memiliki pola asuh yang baik sejak dini akan memiliki hippocampus 10% lebih besar. Yaitu bagian otak yang penting untuk proses belajar, memori, repon terhadap stress. Secara umum dapat diasumsikan bahwa masa kecil yang dipenuhi oleh cinta ibu adalah masa kecil yang bahagia [Joan L. Luby (2012) – Professor Child Psychiatry].

Kesehatan emosional atau kebahagiaan di masa kecil adalah hal yang paling tepat untuk memprediksi life satisfaction dan well being pada orang dewasa. Hal ini paling berpengaruh daripada hal lainnya seperti prestasi, pekerjaan, atau kekayaan [Professor Richard Layard (2013)].

Pertanyaan yang diberikan kepada sejumlah responden memperlihatkan hasil jauh lebih besar aktivitas yang dilakukan oleh anak dengan orang tua atau saudaranya (40%), setelah itu alasan lainnya.

Yang Bisa Orang Tua Lakukan Agar Anak Bahagia


Miss Lizzy

Kebahagiaan harus diupayakan semaksimal mungkin, stimulasi perkembangan otak anak akan berlangsung maksimal pada anak yang berbahagia. Lalu muncullah pertanyaan, “Bagaimana membesarkan anak agar tumbuh bahagia?” Well, ini dia jawabannya:
  • Makanan makanan bergizi tepat waktu.
  • Manfaatkan waktu bermain dan ekplorasi.
  • Mengekspresikan emosi positif (mampu mengenali dan mengekspresikan).
  • Cukupi waktu tidur.
  • Berikan cinta tanpa syarat.
  • Antusiaslah saat mendengarkan anak (be an active listener).

Untuk orang tua, Miss Lizzy memberikan tips terkait ekspresi emosi positif: memberikan dan mengungkapkan apa yang kita syukuri kepada dunia. Praktik sederhananya, di rumah, tanyakan ini kepada anak/pasangan/diri kita: “Ada kabar baik apa hari ini?”


Orang tua yang mampu mengekspresikan emosi positif akan menuai manfaat: perubahan positif dalam aspek emosi anak, meningkatkan energi anak, meningkatkan kesejahteraan, kesehatan, dan kebahagiaan anak saat dewasa, anak menjadi optimis, dan anak mampu empati.

Selain itu, dengan mengakomodir waktu bermain dan eksplorasi anak, menurut Donna Mathews, PhD manfaat yang diperoleh adalah: meningkatkan kebahagiaan, baik untuk tumbuh-kembang secara fisik dan mental, meningkatkan kemampuan kognitif, dan anak mampu memahami “cara kerja” lingkungan dan dunia sekitar.

Praktik yang bisa dilakukan dengan anak, meskipun saat di rumah adalah dengan mencari pengetahuan “mengapa begini, mengapa begitu” terkait alam, misalnya serangga. Salah satu contohnya, Miss Lizzy meminta kami menebak serangga manakah yang berbahaya di alam bebas – apakah yang berwarna menyolok ataukah bangkai serangga?

Penjurian game.

Serunya pengalaman hari itu. Apalagi ketika kami dibagi berkelompok-kelompok dan mengikuti game membuat menu untuk anak menggunakan clay. Hadiahnya ada dong. Begitu pun sejumlah kuis diberikan, juga memberikan hadiah kepada para pemenangnya.

Senang sekali, saya mendapatkan banyak tambahan wawasan lagi. Dalam hati saya membatin, ingin mengupayakan kebahagiaan sebaik mungkin untuk anak-anak walaupun ada berbagai keterbatasan di sekeliling kami. In syaa Allah.

Foto bersama para mamak blogger. Foto: Nanie


Makassar, 24 Juli 2019

Simak juga tulisan-tulisan sebelumnya:


Baca selengkapnya

Setelah Huru-hara SBMPTN dan PPDB: Belajar dari Proses

Sebagaimana yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya bahwa SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) tahun ini istimewa bagi saya maka saya menuliskannya secara khusus di sini.
Baca selengkapnya

Setelah Huru-hara SBMPTN dan PPDB: Jauh dari "Orang Dalam"

SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) tahun ini jadi istimewa bagi saya. Karena saya dan dua anak kami menjadi yang terlibat di dalamnya. Si sulung Affiq tamat SMA sementara si tengah Athifah tamat SD. Istimewanya lagi, ada perubahan pada penyelenggaraan SBMPTN dan PPDB tahun ini.
Baca selengkapnya

Drama Ojek Online: Ketika Si Bungsu Dituduh Merusakkan Mobil

Drama Ojek Online - “Bu, anak ta’ kasih rusak itu,” tunjuk driver mobil ojek online yang kami tumpangi menuju gedung Haji Bate di Sungguminasa, Kabupaten Gowa. Mata saya beralih pada pegangan pintu mobil di samping si bungsu yang ditunjuknya, pada bagian dalam pintu mobil yang ditunjuk si driver di jok depan. Terlihat ada yang tak beres di situ. Ada bagian pegangan pintu mobil yang rusak.
Baca selengkapnya