Ketika Kabar Kematian Datang di Masa Pandemi Covid-19

Sudah sekira sepekan saya gelisah saat tengah malam menjelang subuh. Pukul 03.30 dini hari tanggal 10 April itu, Hadi – keponakan menelepon, mengabarkan berita duka. Ayahandanya – kakak sepupu yang sudah seperti kakak sendiri meninggal dunia belum lama berselang. Musibah kematian di masa pandemi Covid-19 harus kami alami.

Jujur saja, saya agak khawatir menghadapi berita kematian keluarga dekat dalam masa pandemi Covid-19 akibat virus Corona ini karena situasi tak sama seperti dulu lagi sementara penyelenggaraan jenazah tetap harus dilaksanakan. Meskipun meninggal bukan karena wabah Corona seperti kakak sepupu ini, banyak hal yang menjadi tak mudah.


Suasananya pasti tak seperti dulu yang bisa berkumpul banyak orang. Dalam bayangan saya, akan terasa kesedihan yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan – kakak ipar dan 4 anaknya.

Terlebih karena kakak sepupu yang bernama lengkap Putra Jaya bin Andi Mappesangka dulu seorang jurnalis. Almarhum pernah cukup lama menjabat sebagai Ketua Serikat Penerbit Pers (SPS) Sulsel dan juga pendiri Tabloid Demo’s. Banyak karib dan kerabat yang menaruh hormat padanya.

Media online Pedoman Karya mengutip ungkapan mantan Ketua PWI Sulsel – H. Syamsu Nur: 
“Almarhum telah berbuat yang terbaik di dunia pers, khususnya di Sulawesi Selatan. Almarhum memiliki teman dan kawan tanpa menyimpan rasa permusuhan. Almarhum lebih banyak menyapa dengan akrab dan menyimpan kesan persahabatan yang kekal. Sewajarnya kita memanjatkan doa kehadirat Allah SWT, agar diampuni dosanya dan diterima amalannya, dibukakan pintu selebar-lebarnya menghadap Ilahi Rabbi, amin.”

Dalam pandangan saya, almarhum Kak Jaya – begitu saya menyapanya merupakan sosok yang menjunjung tinggi harga diri. Pantang meletakkan “tangan di bawah” dan seseorang yang senang hidup dengan jujur dan meyakini rezeki sudah diatur Allah. Beliau suka membantu keluarga. Saya dan adik-adik dulu juga pernah merasakan dibantu oleh beliau dalam menjalani pendidikan tinggi.


Dulu saya dan adik perempuan sering nebeng mengetik dan nge-print tugas kuliah di kantor beliau (tabloid Demo’s) di jalan Pelanduk. Waktu itu kami tidak punya komputer. Sewaktu adik laki-laki lulus di Teknik Informatika ITS tahun 1997, beliau merelakan satu komputer PC-nya untuk dibawa oleh adik saya.

Kak Jaya punya banyak teman yang loyal dan keluarga yang menyayanginya. Andaikan keadaan normal seperti dulu, pasti banyak yang datang melayat. Yang tinggal di luar kota bahkan rela datang untuk memberikan penghargaan terakhir kepadanya dan keluarga.

Alhamdulillah yang datang melayat masih cukup banyak, mereka datang menggunakan masker. Kebanyakan hanya datang sebentar lalu pulang setelah berdoa dekat jenazah.


Ketika Babinsa[1] (Bintara Pembina Desa) mengumumkan dari pengeras suara dari masjid dekat rumahnya tak ada shalat Jumat berjamaah, kami bersiap shalat jenazah di rumah. Tak dinyana, warga tetap menyelenggarakan shalat Jumat berjamaah dilanjutkan dengan shalat jenazah berjamaah. Banyak juga yang mengawal iring-iringan jenazah.

Jujur saja, perasaan saya campur aduk. Tak tahu hendak berkata apa karena imbauan untuk tak berkumpul termasuk dalam beribadah sudah berulang kali diserukan. Rasanya semua di luar kendali. Walau dalam bayangan saya, ada idealisme dalam Cara Menyikapi Musibah Kematian di Masa Pandemi Covid-19, hal yang seperti ini tentu tak bisa saya atur.

Saya yang tak ikut ke masjid karena mematuhi seruan pemerintah dan ulama benar-benar speechless tapi sudah jatuh takdir seperti itu. Sepertinya sudah menjadi “rezeki” kakak sepupu juga disalati banyak orang. Ketika kakak ipar terlihat bahagia jenazah suaminya disalati dan diantar banyak orang, saya ikut bahagia melihatnya.


Kesedihannya yang mendalam terlihat dari seringnya dia menangis ketika mengingat almarhum suaminya, terganti dengan keceriaan ketika bercerita mengenai perhatian para pelayat dan keluarga serta teman yang menelepon dari berbagai kota di Indonesia. Masya Allah, saya ikut bahagia untuknya.

Hanya bisa berserah diri dan melakukan perlindungan diri maksimal. Semoga Allah melapangkan makam kakak sepupu dan menjaga kami dari wabah Covid-19 ini.

Makassar, 13 April 2020

Baca juga:





[1] Babinsa merupakan anggota TNI yang memiliki tugas menjaga pertahanan dan keamanan nasional. Babinsa bertanggung jawab atas pelaporan dan pengawasan kondisi demografi, kondisi sosial masyarakat yang berdampak pada pertahanan keamanan nasional. Sumber: https://nasional.tempo.co/read/583477/babinsa-tugas-dan-tanggung-jawabnya/full&view=ok, diakses pada 13 April 2020 pukul 13:14 WITA.



Share :

29 Komentar di "Ketika Kabar Kematian Datang di Masa Pandemi Covid-19"

  1. Wabah ini sudah menggoncang penduduk dunia. Kita seolah tak berdaya oleh makhluk kecil yang tak keliatan. Semoga segera berakhir dan kita semua sehat dan aman

    ReplyDelete
  2. aku juag suak bingung ketika warga gak mau nurut dg hombauan pemimpin. masih saja ada yang berkerumun , masih saja yang solat jumat . jadi kapan terhenti mata rantai ini kalau begini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, imbauan pemimpin juga ulama. Mengapa ya masih ada yang tidak peduli dengan seruan MUI. Tidak sembarang orang yang duduk di MUI. Mereka punya kapasitas yang tidak biasa.

      Delete
  3. sedih banget ya , meninggal gara2 corona..
    temen mamahku juga sudah ada 1 yg meninggal gara2 corona dan pas meninggal jadi gk ada yg ngelayat..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau kakak sepupu ini bukan karena Corona, Mas.

      Berita kematian apapun penyebabnya yang terjadi di zaman sekarang ini, semuanya menjadi lebih menyedihkan, ya.

      Delete
  4. Turut berduka cita ya, mba. Memang tak mudah kalau ada berita duka cita di masa pandemi seperti sekarang, meskipun meninggal bukan karena Covid_19

    ReplyDelete
  5. Baik banget ya almarhum Kak Jaya ini. Ku ikut seneng masih banyak yang melayat. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan kekuatan. Aamiin

    ReplyDelete
  6. Sedih banget aku bacanya..
    Susah ya kalau misalnya ada kabar duka disaat pandemic begini, gak boleh melayat.
    Semoga saja pandemic ini segera berlalu ya mba.

    ReplyDelete
  7. Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un, turut berduka Kak Niar, almarhum kakak orang baik yang mengantar ke pemakaman banyak walaupun masa seperti ini..stay healthy ya kak sekeluarga

    ReplyDelete
  8. Subhanallah. Saya juga khawatir mendengar kabar kematian di kala wabah bgini walau bukan karena wabah. Karena nanti bgmn beekumpul untuk sholat dan memandikannya? Ya Allah mudahkan kami.
    Ini aja saya sudah beberapa kali mendengar kabar kematian, satu diantaranya orangtua teman

    ReplyDelete
  9. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun
    InsyaAllah almarhum husnul khatimah ya mba.
    Beliau tampaknya orang baik...
    Semoga mendapat tempat terbaik di sisi Allah amiin

    ReplyDelete
  10. Semoga almarhun khusnul khotimah. Diantara kesedihan yang sedang menimpa, terbersit juga kebahagiaan karena perhatian dari sanak saudara dan kawan pada almarhum

    ReplyDelete
  11. Innalillahi wainnailahi radjiun mba. Ikut sedih mba membaca kisah ini. Bener mba aku mendapat kabar meninggal kondisi gini tuh ya ikutan sedih. Smoga Allah lindungi kita semua ya. Sehat sehat

    ReplyDelete
  12. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
    Turut berbelasungkawa yg sedalam-dalamnya.

    Memang benar Kak, meninggal di kala pandemi begini rasanya.... Bagi keluarga ya terutama. Pasti berbeda dengan hari-hari kemarin. Semoga keliarga beliau diberikan kekuatan.

    ReplyDelete
  13. Turut berduka cita ya mba. Semoga keluarga diberikan kesabaran begitupun dengan istri dari almarhum.

    senang ya kalau kerabat dekat didoakan oleh banyak orang :)

    ReplyDelete
  14. Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun, turut berduka buat kakak sepupu ya mba.
    Orang terlihat kebaikannya ketika dia meninggal. Meski sedang pandemi, dan ada himbauan pun, orang tetap aja takziyah dan menyalatkan jenazahnya. Masya Allah, semoga almarhum husnul khotimah

    ReplyDelete
  15. Turut berduka cita mba :"(
    Kemaren di komplekku ada yg meninggal 2 orang kakak adik malah. Tapi yg nyelawat dikit :(

    Tetanggaku padahal huhu

    ReplyDelete
  16. Memang miris, ketika mendengar kematian saat pandemi begini. Pertanyaan pertama memang, seberapa banyak org yg ikhlas mensholati dan mengantarkan almarhum je kubur? Itupun sempat jadi bahasan saya dan teman2 kerja, mbak

    ReplyDelete
  17. Turut berduka cita mbak...
    Alhamdulillah ya disalatin dan diantar banyak orang, meski sedang dalam kondisi begini... Terharu bacanya...

    ReplyDelete
  18. Innalilahi bener banget mba meski bukan karena corona tp tetap menyedihkan yah karena memang masanya spt ini :( semoga keluarga yg ditinggalkan diberi ketbahan aamiin

    ReplyDelete
  19. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun, turut berduka cita ya Mbk, kondisi emang tidak seperti dulu ya, semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran.

    ReplyDelete
  20. Itu yg saya takutkan, Mba dalam kondisi begini. Dikala kita meninggal ga banyak yg mengantar kita. Ga banyak yg shatin kita. Sediiih. Apalagi klo emang meninggalnya krn covid.. duuh.. ga kebayang deh.

    ReplyDelete
  21. Ikut berduka cita yang sedalam-dalamnya, kak Niar.
    Semoga Allah melapangkan kuburnya dan mencatat kebaikannya sebagai mati syahid di jalan Allah.

    ReplyDelete
  22. Pertanda orang yang sangat baik ya Kak Jaya ini, sampai-sampai masih banyak orang yang takziyah dan mengantarkan beliau ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

    ReplyDelete
  23. Saya juga khawatir akan berita kematian di tengah situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini. Sedih membayangkan jika hanya sedikit pelayatnya, dishalatkan oleh beberapa orang saja, hiks.
    Turut berduka cita ya, Mbak. Semoga istri dan anak-anaknya tetap kuat untuk melanjutkan hidup tanpa suami/ayahnya..

    ReplyDelete
  24. Memang bukan hal yang mudah mengalami kedukaan di tengah wabah corona. Ibaratnya kesedihannya jadi ganda. Alhamdulillah semua dilancarkan ya mbak prosesi pemakamannya. Semoga alm. Husnul khotimah dan keluarga diberikan keikhlasan...aamiin...

    ReplyDelete
  25. Turut berduka mba...semoga almarhum khusnul khotimah. Agak khawatir mndengar kematian d masa covid , teman kuliah sy minggu lalu meninggal krn kanker krn sedang wabah pa rw setempat minta penyebab kematian resmi dr rs biar warga tenang krn klo ga dikira kena wabah

    ReplyDelete
  26. banyak yang bersedih karena pandemi ini, kita harus selalu berdoa agar pandemi ini segera berakhir aamiin

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^