Menyikapi Virus Corona: Mereka Masih Bersikap Sama

Sudah lebih sepekan gerakan #DiamdiRumah yang mengimbau masyarakat untuk bekerja dan sekolah di rumah berlangsung. Sungguh sepekan yang bagaikan roller coaster. Virus Corona tidak jauh, dia mendekat terus. Menyikapi Virus Corona: Mereka Masih Bersikap Sama.

Kalian mungkin masih ingat pekan lalu ada berita heboh dari Pakatto, Kabupaten Gowa – Sulawesi Selatan terkait adanya pertemuan Ijtima Ulama Sedunia yang dihadiri oleh ribuan orang seasia dari sebuah organisasi Islam.

Covid 16
Ilustrasi dari Kompas.com 

Sebelum kehebohan itu, sekelompok dari organisasi tersebut berkumpul dan menghabiskan waktu di masjid dekat rumah yang jaraknya dekat sekali dari rumah kami. Dua orang dari mereka mengunjungi ayah saya di rumah dua kali.

Pertama kali untuk bersilaturahmi karena yang satu orang itu datang dari Kalimantan. Kedua kalinya, untuk berpamitan dalam rangka mengunjungi pertemuan Ijtima Ulama Sedunia. Entah basa-basi atau memang bermaksud mau mengajak, orang itu mengajak ayah saya untuk pergi bersama mereka ke Pakatto. “Akan dihadiri oleh 48 negara,” kata dia.

Covid 19
Ijtima Ulama 2020 di Pakatto, Gowa. Tak ada social
distancing.
Foto: Kompas.com.

“Mengapa tidak dibatalkan atau ditunda?” Ayah menanyakan hal ini. Kata lelaki itu tidak ditunda karena mereka sudah mendapatkan izin. Suami saya yang bertemu orang dari kelompok mereka di masjid juga menanyakan hal yang sama dan jawabannya sama: “karena sudah dapat izin”.

Sungguh jawaban yang piti kana-kanai (asal) karena sebenarnya pemerintah daerah setempat meminta panitia untuk menunda bahkan menolak acara yang berisiko itu dilaksanakan dalam wilayahnya. Sebab seruan social distancing sudah digencarkan di mana-mana baik melalui televisi, media online, maupun media sosial.

Covid 19
Rangkaian berita di CNBC terkait Corona dan Tabligh
Akbar.

Gubernur Sulawesi Selatan dalam sebuah konperensi pers menyayangkan kegiatan tersebut tetap berlangsung. Alhasil kegiatan tersebut diberhentikan dan ribuan orang itu diminta pulang. Yang di Makassar langsung pulang ke rumah masing-masing. Yang dari provinsi Sulawesi Selatan langsung pulang ke daerahnya.

Sementara yang dari luar Sulawesi Selatan dan dari luar negeri ditampung dulu di beberapa tempat sembari pemerintah mengaturkan kepulangan mereka.

Saya berharap di antara ribuan orang itu tidak ada yang baru dari Malaysia karena belum lama ini, organisasi yang sama melakukan tabligh akbar di Malaysia. Dari Republika, disebutkan bahwa 12.500 orang menghadiri kegiatan Jord Qudama dan Ulama Malaysia 2020 (28 Februari – 1 Maret). Jumlah itu termasuk warga asing dan 200 pengungsi Rohingya[1].

Covid 19
Sumber: CNBC

Masih dalam artikel yang sama, disebutkan bahwa otoritas Malaysia masih melacak jamaah yang hadir dalam acara tersebut. Sebab dari 1.183 kasus Covid-19 yang saat ini tercatat di Malaysia, 840 di antaranya terkait dengan kegiatan Jord Qudama dan Ulama Malaysia 2020.

Memang setelah itu diberlakukan lockdown di Malaysia tapi bisa saja ada masih ada yang lolos pulang ke tempat masing-masing sebelum masuk ke Gowa. Berbagai kemungkinan lain terkait penyebaran virus Corona bisa saja ada.

You know-lah, ada banyak cara pergi ke Malaysia dari negara kepulauan ini. Orang-orang Indonesia sudah biasa menyeberang beberapa kali antar pulau demi bisa ke sana. Melalui Kalimantan saja entah ada berapa cara.

Covid 19
Flyer dari Departemen Manajemen Rumah Sakit, FKM
Universitas Hasanuddin.

Baca di Bisnis.com[2], ada 4 orang dari 66 peserta Ijtima Dunia 2020 di Gowa, Makassar, Sulawesi Selatan, berstatus ODP (Orang Dalam Pengawasan) Corona. Hal itu berdasarkan hasil tes kesehatan yang dilakukan DKK Karanganyar di Puskesmas Karanganyar, Sabtu (21/3/2020).

Sebelum-sebelumnya ada berita peserta Ijtima dari Jamaah Tabligh yang masuk rumah sakit karena demam tinggi tapi sampai sekarang belum dikabarkan hasilnya. Ayah saya sampai hari ini masih aktif jadi imam shalat fardhu di masjid sebelah dan di masjid itulah sekelompok orang itu biasa berdiam.

Hanya bisa berdoa semoga mereka yang berpotensi berinteraksi dengan para carrier tak menjadi carrier berikut yang lantas membawa si virus mendekat ke Makassar dan beredar di sekitar rumah kami melalui sekelompok orang itu yang berdiam di sini. Saya tak berprasangka ya, saya waspada dan khawatir.

Covid 19
Update hari ini terkait Corona di Makassar.
Sumber: Kompas.com.

Apalagi sekelompok orang itu giat menyampaikan ajakan untuk tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Beberapa orang dari mereka mendatangi rumah tetangga dan berkata, “Jangan takut sama Corona, Bu. Masa mau berdiam di rumah saja?”

Selain itu, warga sekitar sini masih seperti biasa. Tadi malam saya masih mendengar suara anak-anak tetangga bermain dengan riang sampai jam 10 malam. Menjelang tengah malam sampai lewat tengah malam sekelompok anak muda yang memang biasanya keluar malam masih bercengkrama di dekat rumah kami.

Mereka masih bersikap seperti biasa. Malah ada anak yang bersekolah di Pare pare, sekarang ada di rumah neneknya di dekat sini. Ada juga anak lain yang sekolah dan tinggal di Gowa, sekarang berlibur di sini. Mereka menganggap sekarang sedang liburan dan saatnya bersenang-senang.

Covid 19
Update terkait Corona hari ini di Sulsel.
Sumber: Tribun Timur.

Maafkan kalau kalian membaca curhatan ini dan ikut merasa khawatir. Saya menuliskan di sini sebagai catatan sejarah saya. Kelak semoga dibaca, terutama oleh anak-cucu saya dan tidak mengulanginya.

Imbauan tinggal di rumah untuk mencegah penyebaran pandemi yang saat ini menjadi masalah sedunia. Sebab banyak kasus menunjukkan orang yang positif terinfeksi virus bisa saja kelihatan tidak sakit. Bukan hanya mereka yang terlihat sakit yang menjadi pembawa (carrier) virus, lho.

Kita tak tahu kita berpapasan dengan siapa saja. Tak tahu sudah memegang apa saja dan sudah bersinggungan dengan apa saja selama berperjalanan. Ada baiknya mengikuti seruan untuk di rumah saja karena seruan ini bukan main-main dan bukan untuk diabaikan.

Menyikapi virus Corona: mereka masih bersikap sama. Seolah-olah tak mengapa, seolah sedang liburan. Padahal masalah Covid 19 sungguh masalah serius maka mari bersama-sama beritikad baik untuk diam di rumah dan tak keluar jika tak benar-benar penting. Semoga Allah menjaga kita semua dari wabah ini.

Makassar, 24 Maret 2020

Tanggal 23 Januari 2020 saya menulis tentang virus Corona pertama kali. Saat itu masih satu-dua media di Indonesia yang membahas. Tidak disangka, saat ini bahkan hampir semua WA group membahas soal ini.

Update Kasus virus Corona di Indonesia per Senin sore, 23 Maret 2020: total kasus positif sebanyak 579. Sebanyak 49 di antaranya meninggal dunia.

Silakan dibaca:





[1] Selengkapnya:  https://republika.co.id/berita/q7l3vw368/jamaah-tabligh-akbar-di-malaysia-periksakan-diri. Diakses 24 Maret 2020 pukul 11.26.

[2] Selengkapnya: https://semarang.bisnis.com/read/20200323/536/1216715/empat-peserta-ijtima-di-gowa-asal-karanganyar-odp-corona. Diakses 24 Maret 14:31.



Share :

5 Komentar di "Menyikapi Virus Corona: Mereka Masih Bersikap Sama"

  1. Kadang suka sebel sih mbak ama yg ginian, udah ada larangan utk acara kumpul2 dalam hal apapun tapi ya masih ngeyel. Nah itu kalau satu orang postif Korona, rang orang yang lain juga bakal ketularan kan?

    Sebenarnya kalau situasinya normal sih its okay. Semoga aja wabah ini cepat berakhir dan bisa segera normal kembali :)

    ReplyDelete
  2. Himbauan dan keputusan adanya social distancing tentunya adalah untuk kebaikan kita bersama juga, agar rantai penyebaran virus tidak berlanjut lagi. Kuy diikuti untuk tetap sementara waktu di rumah hingga suasana kembali kondusif

    ReplyDelete
  3. paham itu memang dalam. Banyak orang abai dalam sikon kayak gini. Semoga makin kesini makin nurut dan nggak tambah jumlah korban, Semangat semuanya,

    ReplyDelete
  4. Panik boleh tapi ga boleh parno. Kita malah harus cari info sebanyak banyaknya biar tambah ilmu, bukan nambah keparnoan diri. Makasih info corona yg detail kak

    ReplyDelete
  5. Anjuran untuk tetap di rumah saja dan jaga jarak sesuai social distancing, sekarang sudah terasa di Sukabumi, Mbak. Keadaan kota sangat sepi. Angkutan kota pada kosong, paling hanya 1 atau 2 penumpang. Apalagi anak-anak sekolah juga belajar di rumah.

    Saya membaca juga informasi tentang pertemuan Ijtima Ulama Sedunia tersebut Mbak. Agak bingung juga dalam kondisi seperti ini acara tersebut tetep akan digelar. Tapi akhirnya dibubarkan oleh pemerintah setempat ya Mbak.

    Sehat selalu Mbak bersama keluarga ya.

    Salam dari saya di Sukabumi.

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^