Kisah 17-an: dari Assessment, Keranjang Bolong, Hingga Kuburan

Banyak yang tidak pasti dalam hidup, satu-satunya yang pasti adalah kematian

"Kenapa pohon yang di sana kering-kerontang sementara yang di sini subur sekali, ya?" saya menggumamkan tanya. Adik saya Mirna yang berdiri di sebelah saya berkata, “Mungkin pohon itu lebih tua umurnya.”




Entahlah. Lebih tepat pertanyaan itu menjadi pertanyaan retoris. Saat itu kami berada di bawah sebuah pohon yang batangnya sangat besar dan tinggi. Pohon tua yang entah sudah berapa puluh tahun usianya. Sepertinya pohon beringin. Pohon itu sangat rimbun, dengan cabang yang tumbuh ke banyak arah di atas sana. Ada banyak tumbuhan jenis pakis-pakisan yang menumpang hidup pada cabangnya.

Berita Kematian yang Menghentak Itu …

Tak pernah kami  (saya dan keluarga besar Tanawali Daeng Sagala – Paketjtja Ahmad) menduga akan berada di pekuburan Dadi ini pada tanggal 18 Agustus 2018 ba’da zuhur.

Sehari sebelumnya kakak sepupu saya – Kak Duppalepu Jaya tiba-tiba meninggal dunia usai shalat Jumat. Kematiannya tak terduga karena Kak Epu kondisinya relatif sehat. Kecuali hari-hari terakhir menjelang kematiannya, dia mengatakan merasa masuk angin dan dadanya sesak. Setelah kakak sulungnya memintanya ke dokter barulah dia ke dokter dan menurut pengakuannya, dokter mengatakan dia baik-baik saja.




Berada di pekuburan ini juga membuat saya bertanya-tanya sendiri. Di antara sekian banyak kuburan, yang mana yang penghuninya sedang berbahagia? Siksa kubur apa yang dialami mereka yang tidak beruntung? Ah, semoga ketika masanya tiba, saya sudah punya banyak bekal amal baik,

Semua yang ada di bumi itu akan binasa (26). Dan tetaplah kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan (27). – (Q.S Ar-Rahman: 26-27).


Ketika Sang Stand up Comedian Itu Berbesar Hati

Pengalaman di bulan Kemerdekaan yang saya lalui di tahun ini rasanya nano-nano banget. Dua hari sebelumnya (tanggal 16 Agustus), Abby Onety (sahabat blogger Makassar yang juga berprofesi sebagai guru di SMA Nasional) mention saya di status Facebook-nya perihal tindakan stand up comedian Zakakribo yang melecehkan institusinya dalam sebuah pertunjukan yang dihadiri siswa-siswi SMA semakassar.

Nurani saya yang terganggu mendorong saya membuat status Facebook. Catatan buat saya dan semuanya untuk tidak seenaknya berbuat seperti itu. Saya mencoba mention Zaka tapi tak berhasil. Lalu saya buat IG story dan mention dia dengan menggunakan bahasa yang saya tata diksinya. Tindakan ini terdorong oleh Ziqiah yang telah lebih dulu me-mention Zaka di IG story.

Status saya di Facebook
Sepenggal chat dengan Zakakribo

Bukan hanya kami, ternyata banyak juga yang melakukan hal yang seperti kami lakukan kepada Zaka. Mulai dari diksi yang sopan hingga yang kasar. Ibarat telah memantik api, Zaka telah menyebabkan sebuah kebakaran besar, serupa kebakaran hutan. Yang marah bukan hanya para siswa dan guru, melainkan juga alumni SMA Nasional dari seluruh penjuru dunia!

Bisa jadi para pendiri SMA Nasional juga marah. Andai ada sekolah di Makassar yang kita diharuskan memberi hormat ketika melaluinya, SMA Nasional-lah yang layak untuk itu. Mengapa? Karena sekolah yang dimulai dengan berdirinya SMP Nasional itu adalah sekolahnya para pejuang. Kalau mau tahu, baca di tulisan saya yang berjudul Kopdar Awal Tahun di Sekolah Para Pejuang Kemerdekaan. Bukan hanya itu saja, sih. Sekolah apapun tak boleh diolok-olok. Menurut saya, kedudukan sekolah dalam larangan ini sebenarnya sejajar dengan kedudukan larangan mengolok-olok SARA.

Zaka merespon IG story saya dan memulai chat. Saya meresponnya dengan sopan dan mengajaknya untuk menyelesaikan masalahnya. Tidak terlalu mudah pada awalnya. Namun saya senang karena dia menanggapi saya dengan sopan. Akhirnya dia meminta nomor WA guru SMA Nasional. Saya memberikan nomor Kak Merry – yang menjabat sebagai wakil kepala sekolah. Sayang kan kalau karirnya sebagai entertainer berakhir dengan cara ini.

Inilah contoh anak muda yang berjiwa besar. Foto: Abby Onety

Untungnya dia mau berbesar hati dan beritikad baik untuk meminta maaf secara langsung di SMA Nasional pada keesokan harinya (usai upacara Hari Kemerdekaan). Untuk yang ini, saya setuju dengan komentar Andi Bunga Tongeng: “Zaka memerdekakan dirinya di Hari Kemerdekaan.”

Yup, pasti Zaka belajar banyak di moment Hari Kemerdekaan tahun ini Dia pasti semakin menyadari makna kemerdekaan berpendapat/berbicara di depan publik yang etis. Saya berharap ke depannya, Zaka bisa menjadi pengingat para stand up comedian di kota ini karena di antara mereka masih ada yang kebablasan dalam menyampaikan humornya.

Harinya Si Bungsu di Edufa Berbagi

Di hari yang sama saya membawa si bungsu Afyad untuk mengikuti assessment di Edufa. Kira-kira sepekan sebelumnya saya mendapat informasi bahwa Edufa Cabang Makassar mengadakan Edufa Berbagi – assessment gratis untuk anak dengan autisme serta gangguan bicara. Saya mendaftarkan Afyad lalu mendapatkan jadwal untuk mengikuti assessment. Kemampuan bicara si bungsu akhir-akhir ini semakin bagus sebenarnya namun saya ingin tahu perkembangannya secara model assessment ini. Hasilnya bagus, Afyad bisa menjawab hampir semua pertanyaan. Untuk selanjutnya Afyad dianjurkan untuk mengikuti tes IQ.


Yayasan EDUfa Salamanca dan Biro Psikologi EDUfa Counseling berdiri   pada   tanggal 31 Mei 2012 di Bandung. Fokus pada Yayasan EDUfa Salamanca adalah menyediakan pendidikan inklusi untuk semua anak sedangkan Biro psikologi EDUfa Counseling fokus pada membantu mengembangkan potensi anak/peserta didik/tenaga kerja secara optimal. Setelah membuka cabang di beberapa kota di Indonesia, Edufa membuka cabangnya di Makassar pada bulan Mei lalu.

Kabar Gembira dari Koran Fajar

Di Hari Kemerdekaan ini, kabar gembira mengenai dimuatnya tulisan saya di rubrik Opini Harian Fajar saya terima. Tulisan berjudul Menanti Merdekanya Pendidikan yang Inklusif Bagi Semua Anak ini sudah menjadi perhatian saya selama bertahun-tahun. Tulisan ini saya buat khusus untuk menyambut Hari Kemerdekaan RI. Bukanlah hal mudah untuk menuliskannya. Keyakinan untuk menulis baru timbul setelah mengikuti Sosialisasi Tugas dan Tanggung Jawab Guru Khusus di Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusi, terkait Pengabdian kepada Masyarakat Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) Fakultas Pendidikan Universitas Negeri Makassar di SD Inpres Maccini Baru yang berlangsung tanggal 4 Agustus lalu.



Bermain Bersama #ObatManjur di Play Day

Selain ke Edufa, acara khusus dalam rangka Hari Kemerdekaan ke-73 yang kami ingin hadiri adalah Play Day #ObatManjur with Go Food Festival Makassar di Karebosi Eat and Out. #ObatManjur merupakan kepanjangan dari “Orang Hebat Main Jujur”. #ObatManjur adalah komunitas yang melakukan gerakan yang berfokus pada pencegahan dan literasi edukasi anti korupsi dengan menggunakan media pembelajaran yang kreatif seperti board game, serial animasi/kartun, lagu, senam, buku, dan dongeng (story telling).

Jujur saja, komunitas ini berkesan bagi saya sejak menyaksikannya menjadi salah satu nara sumber pada Ngobrol Publik Pendidikan Karakter Melalui Media Pembelajaran yang Kreatif dan Inovatif yang berlangsung pada bulan Maret lalu. Setelah itu saya pernah bertemu dan berbincang dengan Kak Sahlan dan Kak Budi – relawan #ObatManjur pada Festival Hardiknas Sul Sel pada bulan Mei lalu. Saat itu Athifah dan Afyad sempat bermain board game Keranjang Bolong.

Board game Keranjang Bolong
Bermain Keranjang Bolong dengan Kak Via sebagai pemandu
Ada macam-macam game yang bisa dimainkan ketika #ObatManjur berkegiatan, di antaranya adalah Terajana, PDKT, Kwartet Sahabat Pemberani, It's My Business, Keranjang Bolong, dan Politrik. Ada persyaratan usia/level dalam setiap permainan, mulai dari usia TK,SD, SMP, SMA, hingga usia dewasa. Di Play Day ini anak-anak saya ikut bermain Keranjang Bolong lagi. Saya tertarik ikut bermain Politrik atau game lain yang diperuntukkan bagi orang dewasa namun sayangnya kami harus segera pergi ke rumah duka, tempat kakak sepupu saya disemayamkan sebelum dikuburkan keesokan harinya.

Kelompok orang dewasa bermain POLITRIK
Sementara anak-anak bermain Keranjang Bolong

***

Sungguh, di tahun inilah moment kemerdekaan yang paling berkesan seumur hidup saya. Di Hari Kemerdekaan ini saya bukan hanya merenungkan kembali tentang kemerdekaan berpendapat di depan publik. Saya juga belajar merefleksikan kemerdekaan pendidikan yang inklusif, memerdekakan wawasan dalam mendukung perkembangan anak-anak saya, dan terakhir – merenungkan kembali istilah ini: “Banyak yang tidak pasti dalam hidup, satu-satunya yang pasti adalah kematian”.

Makassar, 19 Agustus 2018

Tulisan ini diikutkan #17anAM #BloggerMakassar17an


Share :

34 Komentar di "Kisah 17-an: dari Assessment, Keranjang Bolong, Hingga Kuburan"

  1. Banyak kejadian di Hari Kemerdekaan ya kak.. Tapi itu foto di pekuburan emang spooky banget deh!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Banyak pelajaran, Mami Ery.

      Delete
  2. Wahh beragam kejadian di hari bersejarah ya mba. Semoga momen-momen tersebut menjadi pembelajaran sekaligus kenangan indah buat mba Mugniar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Makanya saya tulis juga di sini biar tidak lupa, Mbak :)

      Delete
  3. Zaka memerdekakan dirinya di hari kemerdekaan. Quote yang sangat tepat. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari peristiwa ini ya mak

    ReplyDelete
  4. Semoga dari kasus si Zaka semua orang bisa mengambil hikmah nya... ^_^

    ReplyDelete
  5. Kejadian-kejadian di bulan Agustus atau kapanpun selayaknya selalu akan memberi hikmah. Betewe kegiatan di karebosi, ObatManjur itu sebenarnya ingin sekali saya hadiri. Sayang tidak bisa hadir karena sesuatu dan lain hal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa diundang ke sekolah ta', Kak. Mereka biasa diundang ke sekolah-sekolah.

      Delete
  6. Kejadian demi kejadian semoga membawa pembelajaran hidup dan hikmah yang baik. Amin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Semoga menjadi lebih baik lagi ya Teh Okti

      Delete
  7. Ragam kejadian yang dialami ya mba dan iya aku juga suka mikir termasuk yang manakah kelak aku dikubur semoga dijauhkan dari siksa kubur ..

    btw aku ga hafal Zakakribo ntar search ah stand up comediannya hehhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hiks, iya, Seram pas berada di kuburan, memikirkan akan berada di kubu mana nanti.

      Zakaribo itu stand up di sini, Mbak yang dulu di Stand up Academy. Kalo browsing akan ketemu tentangnya.

      Delete
  8. luarbiasa sekali cerita 17-an. dari kuburan hingga ke playday.
    memang banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memaknai kemerdekaan dengan cara yang baik dan bermanfaat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak ya Mbak. Apalagi kalau seperti ini pas ada kejadian-kejadian yang bisa diambil hikmah di moment yang pas.

      Delete
  9. Masya Allah ya Mba, apa yang terjadi dalam hidup memang sudah dalam rencanaNya. Banyak yang bagi kita adalah hal tak terduga yang mengagetkan tapi tidak bagiNya. Semoga kelak kalau sampai waktunya, kita bisa kembali dalam keadaan yang telah siap dengan segala amalan baik di dunia. Huhu, jadi mellow gini ngetik komennya :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Semoga ya Mbak. Kita semua, semoga menjadi beruntung kelak.

      Delete
  10. Apa yang dilakukan Zaka untuk meminta maaf langsung memang harus di apresiasi. Ini tentu akan jadi pembelajaran baginya juga untuk lebih berhati-hati.


    Pertanyaan mba tentang kuburan mana yang berbahagia dan mana yang tidak, makjleb banget. Terima kasih telah reminder mba

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah masalahnya selesai ya mbak. Kesalahan insyaAllah akan bikin makin dewasa.
    Mbak Mugniar keren tulisannya :D

    ReplyDelete
  12. jujur kalo bahas kematian aku sering takut.. takut belom siap sama amal2 yang uda dilakuin mbak 😭😭

    ReplyDelete
  13. banyak kejadian ya mbak. saya sempet merhatiin juga itu kasus si standup comedian. bener2 mulutmu harimaumu

    ReplyDelete
  14. Kalau ingat pemakaman, aku suka kepikiran yg kita cari mati2an di dunia gak akan dibawa masuk ke liang kubur cm kain kafan aja.

    Mbak kok aku jadi merinding ya baca kalimat mana yang siksa kuburnya bahagia atau tidak, ini tulisanya bagus mbak.

    ReplyDelete
  15. Kadang ya comedian emang suka kelepasan.. entah lah mungkin semua hal dianggap pantas buat jadi bercandaan... namun saya salut sama zaka yg berbesar hati minta maaf

    ReplyDelete
  16. Masya Allah, banyak sekali pelajaran dari setiap peristiwa ya mba, yg paling beruntung adalah dia yg dapat mengambil hikmah, kereeen mba, semoga makin bijak lagi

    ReplyDelete
  17. aku heran deh akhir2 ini mudah banget ya orang mencela di muka publik. Bahkan di sosmed saat ini kata2 yang kayaknya zaman kita ga layak disebut aja berhamburan kayak kacang goreng. hiks

    ReplyDelete
  18. Hari kemerdekaan diisi dg yg bermanfaat dg penuh berbgi keceriaan

    ReplyDelete
  19. Mba, aku kok gagal fokus sama pohon gede di tengah kuburan itu

    ReplyDelete
  20. Ya ampun, mengisi libur kemerdekaan dengan hal yang positif yaa keceh deh

    ReplyDelete
  21. wah bagus juga Zaka mau minta maaf ya, penasaran dg bord gamenya

    ReplyDelete
  22. Itu soak kemedian saya kurang paham dan mengerti. Kira-kira dimana letak kesalahan dalam leluconnya. Maklum saya tidak suka nonton tv, karena menghindari info-info yang bikin gerah hati.
    Ya, kematian adalah soal kepastian. Hanya datangnya saja yang tidak bisa dipastikan.

    ReplyDelete
  23. Aku sempet baca soal yg komedian itu, tp ga tau gimana kata2 pastinya saat dia ngeluarin jokes menghina sekolah nasional itu. Tp salutlah, kalo anaknya lgs minta maaf ya mba :). Jd pelajaran supaya lbh menata kata2 lagi walo sdg bercanda :)

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^