Prasangka, Jangan Sampai Membawa ke Pintu Neraka

Prasangka: Jangan Sampai Membawa ke Pintu Neraka - Hari ini seorang kawan Facebook membuat status mengenai pandangan sebagian orang mengenai statusnya sebagai janda. Bukan pandangan yang benar, lebih kepada prasangka buruk dan stigma negatif


Sekian lama hidup sebagai single parent dengan anak-anak yang sudah dewasa tak membuatnya aman dari prasangka-prasangka itu. Ada yang mengira dirinya kesepian dan menawarkan diri untuk menamani dengan cara yang tak elok. Ada pula yang mengirimkan pesan dengan kata-kata yang tak menyenangkan untuk dibaca.


Prasangka buruk

Saya diam-diam mengagumi sikap si kawan ini dalam kesehariannya bersama putra-putrinya. Sesekali saya bertanya padanya mengenai tips hidup bahagia ala dirinya yang perlu saya aplikasikan juga.


Berteman cukup lama dengannya di dunia maya karena kesamaan minat, ada bagian-bagian dari kehidupannya yang sudah saya ketahui. Berupa kisah panjang tentang perempuan tangguh ini dan perjuangannya untuk bahagia. Serta bagaimana dirinya menetapkan setting BAHAGIA dalam kesehariannya. Sungguh pribadi yang menarik.


Semua itu sebenarnya jelas. Heran saja kalau yang berkirim pesan-pesan negatif penuh prasangka kepadanya yang tak bisa membaca pesan-pesan positif dari tulisan-tulisan kawan ini.


Begitulah sebagian manusia, ya. Saya pun tak menampik sesekali bermain dengan suara-suara yang menari-nari di kepala dan luapan perasaan yang bergentayangan di dalam jiwa. Namun ketika tersadar, saya berupaya menepisnya dengan istighfar. Berharap Allah mengembalikan kewarasan saya.


Langkah seseorang menuju kebaikan pun tak luput dari prasangka. Apalagi jika dirinya merupakan public figure. Memang sulit untuk tak berkomentar terhadap orang yang pernah begitu jemawa mengumbar serapah atau tawa iblisnya.


Lalu ketika terungku yang sekiranya membuatnya jera mampu mengubah auranya menjadi lebih bijak, justru membuat sebagian orang mencibir. Mereka tak menangkap ungkapan mengiba-iba seolah mengemis ampun darinya.


Prasangka buruk



“Ah, alasan!”

“Ah, munafik!”


Padahal banyak sekali riwayat yang membuktikan banyaknya orang insaf akan kekhilafannya lalu bertobat dan mengambil jalan yang benar dalam sisa hidupnya. Banyak orang yang memutuskan kembali kepada jalan yang di-ridhai penciptanya setelah sekian lama menjadi pendosa.





Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang [Surat Al-Hujurat Ayat 12]

Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik”[1]


Prasangka buruk
Sumber: https://tafsirq.com/




Sungguh berbahaya PRASANGKA ini. Tak sadar kita bisa dibuatnya jatuh ke dalam perbuatan sia-sia dan dosa berlimpah.



Ulama Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah mengatakan:  “Maka yang menjadi kewajiban seorang muslim adalah hendaknya tidak berprasangka buruk kepada saudaranya sesama muslim kecuali dengan bukti. Tidak boleh meragukan kebaikan saudaranya atau berprasangka buruk kepada saudaranya kecuali jika ia melihat pertanda-pertanda yang menguatkan prasangka buruk tersebut, jika demikian maka tidak mengapa” (Sumber: http://www.binbaz.org.sa/node/9619)[2].


Jika bukti yang ada berupa ucapan ingin berhijrah, mari pegang bukti itu dulu dan mari doakan hijrahnya istiqomah dan apa yang telah dia lalui menjadi penebus dosa baginya. Ujian yang berat biasanya menjadi pelajaran yang teramat mahal bagi seseorang.


Pasti berat hari-hari yang dilaluinya dengan dua pilihan: depresi atau bertobat. Dengan bertobat lalu berhijrah, bisa jadi masih bergelantungan prasangka dari mata-mata yang melihatnya. Namun sungguh sia-sia jika masih berprasangka karena bisa jadi orang yang diprasangkai sedang menju jalan kebaikan sementara yang berprasangka sedang menuju pintu neraka.


Makassar, 12 Februari 2020


Postingan ini sama sekali tak menunjukkan bahwa saya lebih baik dari siapapun namun menjadi pengingat bagi saya sendiri untuk terus memperbaiki diri. Semoga bermanfaat.




[1] Selengkapnya: https://almanhaj.or.id/3196-hukum-berburuk-sangka-dan-mencari-cari-kesalahan.html, diakses pada 12 Fenruari 2020, pukul 09:57 WITA.
[2] Simak selengkapnya di https://muslim.or.id/25800-prasangka-buruk-yang-dibolehkan.html


Share :

24 Komentar di "Prasangka, Jangan Sampai Membawa ke Pintu Neraka"

  1. iya, prasangka memang harus dijauhi. kalo ternyata prasangka salah tetapi telanjur menyebar, jatuhnya bisa jadi fitnah, nambah lagi deh dosanya. Astagfirullah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Astaghfirullah. Semoga terhindar dari yang demikian ya Mbak.

      Delete
  2. Prasangka itu emang sering bikin orang yang dituju menjadi sedih. Sayangnya, sering orang malah ngga mau mengakui bahwa prasangka mereka itu menyakitkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak mau jujur bahwa sedang memprasangkai orang dan melihatnya baik-baik saja ya .. hiks.

      Delete
  3. Perlu kedewasaan pikiran dan mental menuju sikap dewasa seperti ini.
    Tapi tak apalah, yang penting terus berusaha. Nanti juga bisa dan terbiasa.
    Dukut saya sangat sulit sekali mengontrol lisan , seiring waktu ternyata bisa juga.

    ReplyDelete
  4. makasih sharingnya, buat jadi pengingat bagiku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Mbak . Pengingat juga bagi saya ini.

      Delete
  5. Iya, kadang kebahagiaan seseorang itu sering ditentukan oleh prasangkanya sendiri. Thanks sharingnya, mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah, Mbak ...
      Siap, terima kasih ya sudah mampir.

      Delete
  6. Hebat bangeeettt sahabaat kak Niar yg single parent itu
    Karena di jaman serba digital ini, orang gampaaanggg banget menularkan suudzon dan syak wasangka ke orang lain.

    ReplyDelete
  7. thank you so very much for sharing and reminding us mba..seringkali prasangka memang membawa banyak masalah

    ReplyDelete
  8. Sel reminder banget ya mbak. Prasangka memang tidak bisa di elak lagi. Sebagai manusia tentunya harus berkaca diri daripada menghujat orang. Terima kasih mbak nasihatnya.:)

    ReplyDelete
  9. Setuju banget, Mbak. Jauh-jauh deh dari prasangka buruk. Kita gak pernah tau seberapa besar efeknya kalau selalu berprasangka buruk

    ReplyDelete
  10. Suka sedih dan ikutan sakit hati kalau ada yang komentar negatif tentang janda, karena ibuku juga janda dan beneran berjuang untuk membesarkan aku.

    Salam hormat untuk teman mbak Niar, semoga semangat terus!

    ReplyDelete
  11. masya allah, ini self reminder banget mba, jarang-jarang aku berkunjung blog dengan bacaan seperti ini, jadi sekalian mengkaji diri.

    ReplyDelete
  12. Ini ya, kak Niar...yang bikin pnyakit hati makin tumbuh subur.
    Diawali dengan mata yang melihat, lalu hati berprasangka. Lama-lama, mulut mengeluarkan hingga ga peduli menyakiti hati siapa.

    Astaghfirulloh...

    ReplyDelete
  13. Kadang miris juga dengan komentar negatif yang dilontarkan seseorang kepada orang lain yang sebenarnya tidak begitu dikenalnya. Padahal dia gak tau ada apa yang sebenarnya, bukan?

    ReplyDelete
  14. Subhanallah bikin adem tulisannya mbak Niar. Benar mbak ini lebih ke pengingat pada diri sendiri ya mbak.....karena ketika kita sudah merasa berbuat baik masih ada saja prasangka buruk yang ditujukan kepada kita. Demikian sebaliknya.....apalagi status janda, pasti banyak prasangka yang sering mendarat kepadanya....apapun itu.... seyogyanya kita harus terus bermuhasabah sambil berusaha memperbaiki diri, menjadi pribadi yang baik di mata Allah....

    ReplyDelete
  15. MashaAllah.. baca tulisan ini semakin mengingatkan aku untuk selalu berfikir positif ya.. dengan selalu berfikir positif itu banyak banget keuntungannya selain hidup jadi lebih sehat juga menjauhkan kita dari api neraka.. makasih ya mbak udah mengingatkan aku

    ReplyDelete
  16. MasyaAllah terima kasih bunda, sudah mengingatkan
    aku kadang masih ngomongin yang gak kusuka, dari seseorang wkwkkw
    karena sebel sih tapi kalo udah ya udah kelar gitu
    Semoga kita slealu diberikan kemudahan untuk memeperbaiki diri aamiin

    ReplyDelete
  17. Duh, reminder banget ini. Aku kadang suka gak sadar sudah berprasangka. Suami nih sering ngingetin. Asumsi, prasangka, suuzon. Gak enak juga sebenernya ke diri, ya. Tapi sering kali kita lupa. :(

    ReplyDelete
  18. Jika orang berprasangka buruk dan menyatakan prasangka itu di depan umum atau langsung kepada si tersangka melalui media medsos ataupun bicara langsung kemudian prasangkanya itu tidak benar, jatuhnya adalah FITNAH. Dan jika prasangka itu pun benar terjadi jatuhnya adalah GHIBAH.Kedua-duanya tetap buruk di mata Islam. Siapapun seharusnya jika mengaku muslim, maka saudara semuslimnya seharusnya aman dan nyaman dari omongannya.

    ReplyDelete
  19. prasangka sama menuduh itu harusnya beda kan mbak?


    skrg byk yang berprasangka dan lgsg mengarah ke tuduhan

    padhal prasangka sndiripun diajari prasangka baik terlebih dahulu

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^