Perempuan Tangguh dari Seberang

Tulisan ini sudah saya buat pada tanggal 3 Maret kemarin. Baru bisa saya update hari ini karena beberapa hari mengalami masalah kesehatan. Kangen tak ngeblog sekian lama. Apa kabar Kawan? Semoga tak bosan menunggu tulisan baru dari saya ya J


CERITA INI DIIKUTKAN DLM KUIS Buku (facebook) SOUL TRAVEL IN BADUY by Eni Martini

“Itu mi Saya tidak sukanya kalau orang lain yang jaga Tini. Tidak seperti kalo Saya yang jaga. Kalau Saya jaga anaknya orang, betul-betul Saya perhatikan,” ujar mbak Mun (Tini dan mbak Mun merupakan nama samaran).

Saya manggut-manggut, membenarkan. “Ya iyalah, jangan berharap orang lain menjaga cucumu seperti dirimu yang menjaganya, Mbak,” saya membatin.

Ups lupa, Tini bukan cucu kandungnya. Tini itu cucu tirinya. Ia tak memperoleh anak dari suaminya yang sekarang. Dua anaknya dari perkawinan pertama sepantaran saya usianya, sedangkan dari perkawinan kedua dan ketiga, ia tak dikaruniai anak.

Inilah "kampung" saya ^__^

Mungkin karena sering ngobrol dan merasa akrab dengan saya, sesekali ia berkeluh kesah. Khas perempuan. Kalau tak betah mendengarnya (siapa sih yang betah berlama-lama mendengar keluh–kesah orang lain?), saya berusaha menyela untuk memotong pembicaraannya.

Untungnya hanya sesekali. Karena sejatinya ia adalah perempuan tangguh. Saya suka ngobrol dengannya, ketika menyambangi kediamannya untuk membeli songkolo’ (makanan khas Makassar terbuat dari ketan) buatannya atau membeli lauk dagangannya. Ia amat piawai membuat songkolo’, kebolehannya bisa diadu dengan orang asli Makassar.

Karakter perempuan yang usianya mendekati 60 tahun ini amat menarik. Tahun 1980-an ia datang dari pulau garam. Di kota ini ia berpindah-pindah rumah kontrakan. Takdir membawanya pada ketentuan bersuami sebanyak 4 kali. Tiga lelaki terdahulu meninggalkannya. Ada yang terpikat perempuan lain dan perempuan lain itu tega mengiriminya guna-guna padahal ia tak pernah lagi berhubungan dengan mantannya.

Dengan suami yang sekarang, ia istri ketiga atau malah keempat. Saat dinikahi, suaminya sedang dalam status pernikahan dengan perempuan lain. Ia “terpaksa” menerimanya karena lelaki itu – sebut saja Juma, selalu saja mendatanginya dan berlama-lama di warungnya. Daripada menuai fitnah ia menerima saja lamaran Juma.

Istri Juma – sebut saja Jum, adalah pekerja salon. Saya pernah melihatnya dua kali. Usianya jauh lebih muda dari mbak Mun, jauh lebih modis, bahkan jauh lebih seksi. Tapi Juma tak mau pulang kepada Jum. Karena mbak Mun amat mandiri. Kontrakan ia yang bayar. Tak pernah tangannya menengadah pada Juma. Dikasih uang ia terima, tak dikasih ia diam saja. Tetapi servisnya setia tersedia, kebutuhan pangan Juma tercukupi bersamanya.

Menjelang meninggalnya Jum pada suatu hari di setahun yang lalu, Jum menyebut-nyebut nama mbak Mun, berharap dikunjungi oleh mbak Mun. Mbak Mun sering mengingatkannya untuk memperbaiki diri dalam melayani suami tapi ia pernah melakukan perbuatan tercela pada mbak Mun. Merasakan ajalnya sudah dekat, ia ingin minta maaf.

Mbak Mun menjaga Tini seperti menjaga cucu kandungnya. Bila sakit dirawatnya dengan telaten. Ia rela mengejar-ngejar bocah dua tahun itu untuk menyuapinya. Melihat seorang nenek kandung mengejar-ngejar cucunya saja membuat saya terenyuh, ini cucu tirinya? Ia pun ikhlas membiarkan Nini – ibu Tini (bukan nama sebenarnya) bekerja di rumah makan yang berarti nyaris sepanjang hari Tini bersamanya.

Jangankan Tini, Ninot – anak ketiga Jum dirawatnya sejak usia satu tahun. Saat ini Ninot sudah duduk di kelas 2 sekolah dasar. Ada yang bilang Ninot itu “anak ditahan”, maksudnya biar mbak Mun bisa “merampas” Juma. Tapi saya tak percaya. Kalau memang Ninot anak yang sengaja ditahannya, pastilah ia sudah minggat sejak lama. Anak-anak kan masih polos, pasti bisa merasakan ketulusan perawatnya. Saya pun menyaksikan sendiri ketulusan mbak Mun pada Ninot, Tini, dan orangtua Tini. Mereka semua tinggal di rumah petak sempit kontrakan mbak Mun.

Suatu waktu mbak Jum bercerita tentang Ninot yang sudah berhasil melewati Iqra’ 6. Baginya, amat penting Ninot bisa cepat naik bacaannya. Ia tak memikirkan bagus atau tidaknya tajwid Nino. “Waktu naik qur’an besar, saya selametin. Saya potongkan ki ayam,” ujar mbak Mun.

Saya senang mengamati mbak Mun mengurut suami saya ketika tangannya terkilir. Beruntung mengenal orang yang punya ilmu menyembuhkan cedera terkilir. Saya senang mengamatinya menceritakan nama tumbuh-tumbuhan untuk pengobatan penyakit tertentu. Bahkan saya suka mengamatinya mengomel – asal tak lama-lama saja.  Ia sungguh sosok yang lengkap, keras, tangguh, penyayang, peduli, dan ahli. Mengamatinya membuat jiwa saya bertualang.

Sebagai orang yang terbatas dalam melakukan perjalanan jauh, Inilah travel soul bagi saya. Tak perlu jauh-jauh. Cukup dari seberang jalan saja, maka jiwa saya mengembara. Saya memang tinggal di kota besar yang sepertinya sudah menjadi metropolitan tapi lingkungan tempat tinggal saya masih amat kampung.

Di sini masih sering saya dapati laki-laki bertelanjang dada, hanya mengenakan handuk berkeliaran di gang. Atau perempuan yang hanya mengenakan sarung atau handuk dalam beraktivitas di sekitar rumahnya. Para perempuan yang bercengkerama sambil mencari kutu pun pemandangan biasa. Nenangga adalah kebiasaan warga sini sehari-harinya. Ungkapan “it needs a village to raise a child” masih terlihat di sini. Ngobrol, bercanda, ataupun saling memaki dalam bahasa daerah juga masih sering terdengar.

Masih menarik melakukan soul travel di tempat yang masih banyak sosok dan hal uniknya ini. Sekali lagi, travelling tak harus jauh karena bagi saya yang terpenting dalam sebuah perjalanan adalah perolehan bagi jiwa, bukan bagi fisik saya.

Makassar, 3 Maret 2013



Catatan:

Saya sangat berminat membaca buku ini karena saya selalu penasaran dengan orang Baduy. Saya pernah membaca tentang kehidupan mereka yang masih sangat alami. Salah satunya adalah, mereka tak punya kamar mandi. Segala aktivitas yang melibatkan air pasti melibatkan sungai. Mulai dari mengambil air untuk minum dan memasak. Mandi dan mencuci pun mereka lakukan di sungai, ada “pembagian wilayah” dalam hal ini yang menyebabkan sungai mereka tetap bersih, tidak tercemar.

Anggapan saya, soul travel yang dimaksud mbak Eni di sini adalah sebuah perjalanan yang bukan hanya memperjalankan fisik, tetapi juga memperjalankan jiwa. Saya berharap banyak makanan bagi jiwa ada di dalam buku ini mengingat saya penggemar topik soul travel.


Silakan juga disimak:






Share :

17 Komentar di "Perempuan Tangguh dari Seberang"

  1. Buat teman-teman yang mau ikutan, DL-nya sampai 15 Maret. Ini info dari penulis bukunya:

    Caranya:

    -Ceritakan pengalaman perjalanan anda ke suatu tempat yang membawa 'makna'*Tulis pada awal kisah anda:CERITA INI DIIKUTKAN DLM KUIS Buku SOUL TRAVEL IN BADUY by Eni Martini
    -Alasan apa yang membuat anda ingin membaca Soul Travel In Baduy by Eni Martini
    -cerita ditulis dengan menyertakan pic anda ketempat yang anda ceritakan dan tag saya plus 10 teman anda,selamat berpartisipasi
    Hadiah diumumkan 15 Maret jam 11.00
    Akan terpilih 2 cerita
    -pemenang pertama Buku Soul Travel In Baduy by Eni Martini dan Satu Pashmina cantik
    -hadiah kedua Buku Soul Travel in Baduy dan sebuah Bross cantik

    Hanya cerita yang sangat 'cetar' yang terpilih^^

    ReplyDelete
  2. semoga menang aja bunda..klo udah menulis seperti ini,miminyerah deh heheheh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Mimi .... masak belum nyoba dah nyerah? ^__^

      Delete
  3. wah pas sampe di bacaan soal songkolo, sy jd hilang fokus ngebayangin songkolo hehe ....
    btw smg menang yah mba :))

    ReplyDelete
  4. gimana cara ikutannya??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu ada di komen paling atas :) Ayuk ikutan

      Delete
  5. pengalaman perjalanan yang mengandung hikmah ya mbak

    ReplyDelete
  6. sukses buat GAnya...
    aq jg tinggal d desa, ya gitu deh kehidupannya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jiah ikutan ini deh, pengalaman ke mana2nya pasti banyak

      Delete
  7. sukses mbak GA nya kalo menang jangan lupa aku . :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Putra ... ooh begitu ya. Ok, kalo menang, saya tidak lupa koq sama Putra :D

      Delete
  8. ceritanya membuat aku terharu...dan tersentuh..
    semoga bs dapat bukunya ya.. kalo dapat boleh pinjem kan? hehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Pinjem? Wah apa gak kejauhan mas? :D

      Delete
  9. wah sy pernah tuh kebaduy. cape bener...

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^