Mengapa Konsistensi Menulis Penting

Membangun Konsistensi Menulis - adalah topik yang diberikan kepada saya pada Kelas Menulis MAM pertama di tahun 2019 ini. MAM adalah singkatan dari Makkunraina Anging Mammiri, nama kelas khusus untuk para bloger perempuan di komunitas blogger Anging Mammiri.

Hari Sabtu, 16 Maret lalu, di Confie co working space adalah kali ketiga saya mengisi Kelas MAM. Pertama kali pada Desember 2015, kali kedua pada Juli 2017. Seperti materi-materi sebelumnya, kali ini saya membawakan materi motivasi lagi namun berbeda topik.


Kenapa harus mengambil topik Membangun Konsistensi Menulis? Tentunya jawabannya bukanlah, “Bertanyalah kepada pengurus karena mereka yang memberikan topik itu kepada saya.” Bukan itu, Esmeralda. 😁

Yang jelas, topik ini penting karena ngeblog memang membutuhkan konsistensi. Kalau tak konsisten ngeblog, bisa-bisa blognya dibiarkan “berdebu” dan ditinggalkan rusak begitu saja. Saya memberikan dua ilustrasi mengenai konsistensi di awal presentasi.

Ilustrasi pertama adalah mengenai rutinitas sebagai ibu rumah tangga. Tentunya butuh konsistensi sehingga seorang ibu rumah bisa tegar mendampingi dan merawat keluarganya tanpa peduli cuaca seperti apa dan suasana hatinya bagaimana, kan?

Saya pernah merasakan badan seperti habis dipukuli orang sekampung ditambah kondisi psikologis yang tak mendukung sementara harus bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk seisi rumah, termasuk untuk diri saya sendiri, lho.

Matahari konsisten terbit dari arah yang sama setiap harinya.

Walaupun rasanya babak-belur, saya harus memaksa diri untuk bangkit dan menyiapkan segala sesuatunya. Sebab jika tidak, bisa-bisa anak saya tidak makan, orang tua saya juga tidak makan, dan saya pun demikian. Satu-satunya cara adalah dengan memaksa diri.

Begitu pun dalam hal ngeblog. Sesekali saya memaksa diri untuk berusaha konsisten. Sebab kalau tak memaksa diri, bisa-bisa saya vakum menulis dalam waktu lama. Kalau lama vakumnya, sulit lagi mengembalikan semangat dan akan menjadi lebih kaku saat kembali menulis.

Ilustrasi ekstremnya adalah mengenai ibu rumah tangga yang berhenti konsisten. Memang ada? Ada, Rozalinda! Saya pernah mendengar kisahnya. Ada seorang ibu yang rela meninggalkan suami dan anak-anaknya untuk seorang lelaki lajang yang lebih muda. Saya pernah menjadi saksi jauh keseharian anak-anak dan ayahnya tanpa sentuhan ibu itu.

Ilustrasi lainnya adalah penjual atau pedagang. Ketika penjual bakso begitu konsisten, selalu muncul di jam yang sama dan mangkal di tempat yang sama, masyarakat sekitar rumah kami sudah tahu dan menunggu di situ pada waktu yang sama lalu uang akan mengalir terus.

Foto dari: Yani - pengurus AM

Adakah pedagang yang tak konsisten? Adaaaa. Dulu tetangga depan rumah kami membuka warung. Suatu ketika, warung tersebut tak konsisten buka. Bisa beberapa hari buka lalu tutup selama beberapa hari. Sampai-sampai saya lebih memilih melewatinya saja dan berbelanja di warung yang lebih jauh karena keberadaan warung itu sudah lenyap dari memori saya.

Setelah balik dari warung lain dan melihat warungnya terbuka, barulah timbul semacam penyesalan, “Tetangga macam apa saya ini sehingga tidak berbelanja di warung tetangga terdekat?” Uh, rasanya bersalah sekali sudah menjadi tetangga yang durjana. 😰

Dalam ngeblog, ilustrasinya adalah, orang akan melupakan kalau kita ini blogger jika lama vakum. Blog kita akan hilang dari memori pembaca. Hal ini penting bagi mereka yang berpikir traffic blog penting. Ketika konsisten menulis di blog maka dalam jangka waktu lama, akan ada pembaca yang juga konsisten mampir ke blog kita. Contohnya adalah blog daenggassing.com.

Blog milik Daeng Ipul itu sudah punya pembacanya sendiri. Akan ada orang-orang yang selalu kembali meskipun belum mengetahui apakah Daeng Ipul punya tulisan baru atau tidak. Mereka kembali karena merasa akan menemukan tulisan baru karena memang selama ini Daeng Ipul konsisten menulis.

Lalu, mengapa saya yang membawakan materi ini? Apakah saya orang yang konsisten menulis dan ngeblog? Mungkin karena saya sering menyebutkan perihal “konsistensi menulisini. Saya sendiri lebih suka mengatakan bahwa saya BERUSAHA UNTUK KONSISTEN. Mengapa? Karena saya sadar pentingnya konsistensi menulis bagi saya.

Saya justrus tak berani memproklamirkan diri sebagai blogger yang konsisten. Karena biasanya jika saya mengatakan diri saya “begini dan begitu” atau “selalu begini dan begitu” maka tak berapa lama saya mendapatkan ujian untuk membuktikannya.

Yang namanya ujian tak bisa diprediksi tingkat kesulitannya, Kawan. Kalau mudah ya ndak masalah. Tapi kalau sulit? Duh jangan, deh. Itu makanya saya lebih hati-hati dan lebih memilih mengatakan diri saya BERUSAHA KONSISTEN.

Selanjutnya, untuk konsisten kita TAK BUTUH HANYA NIAT. Ada beberapa hal yang masih perlu dilakukan dan setelah itu barulah menulis, menulis, dan menulis. Apakah beberapa hal tersebut? Tunggu di tulisan berikutnya, yaa.

Makassar, 22 Maret 2019


Baca juga tulisan-tulisan yang lain yaa:




Share :

6 Komentar di "Mengapa Konsistensi Menulis Penting"

  1. terasa tertampar membaca ini karena sudah lama tak konsisten menulis..

    ReplyDelete
  2. Saya masih susah bgt nih mbak untuk konsisten :(

    ReplyDelete
  3. bagus sekali bu...kebanyakan Blogger sekarang, ngeblog untuk adsense, bhkan karena menulis...terima kasih bu inspirasi nya...

    ReplyDelete
  4. saya juga berusaha konsisten menulis di blog saya. Meski susah menentukan kapan akan saya posting. Karena mengikuti kuat lemahnya sinyal.

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^