Telepon dari Bank Terkait Utang Orang Lain

Telepon Terkait Utang Orang Lain – Tangan ibu saya terlihat gemetar. Suaranya meninggi. Emosinya naik. Ini telepon keempat atau kelima kalinya dari sebuah bank swasta. Penelepon menanyakan nama yang sama. Selalu nama yang sama. Nama yang tak pernah saya lihat orangnya. Hanya tahu namanya, sebagai teman organisasi Ibu.

Ibu pada dasarnya bukan orang yang sabar. Menghadapi suasana seperti ini, kepanikan lebih menguasai dirinya ketimbang akal sehat. Bagi saya suara lelaki di seberang sana itu sama sekali tidak terdengar kasar. Suaranya “hanya” terdengar tegas – ketegasan khas lelaki dan dia sedang mengorek keterangan sebanyak mungkin.


Selain panik, ketakutan karena merasa terintimidasi sepertinya membuat emosi Ibu memuncak hingga tangannya bergetar seperti itu. Suara tegas dan pertanyaan beruntun lelaki di seberang sana membuatnya merasa under pressure. Ibu mengatakan tak suka cara lelaki itu yang kasar padanya, “Saya tidak suka begini. Kasar! Saya juga sakit-sakitan ini!”

Wajar saja apa yang dilakukan lelaki dari bank itu. Ini menyangkut perkara utang lelaki teman organisasi Ibu. Kira-kira 6 tahun lalu, teman organisasi Ibu – sebut saja namanya Pak S, mengambil kredit di bank. Dia mencantumkan nama dan nomor telepon ibu saya sebagai kerabatnya yang bisa dihubungi oleh pihak bank.

Ibu yang cepat luluh dengan permintaan orang yang baik padanya dan merasa dihargai oleh orang tersebut, mengiyakan saja namanya dicatut sebagai tante oleh Pak S. “Kasihan dan ingin membantu” itu alasan Ibu waktu itu.


Saya mencoba membantu menjawab telepon sebisa mungkin. Karena speaker di-set on, saya mendengar langsung apa yang dikatakan lelaki dari Jakarta – pusat bank swasta itu.

“Pak S itu teman organisasi ibu saya. Dia tidak tinggal di sini. Katanya Pak S lagi sakit, Pak. Dia kena stroke,” ujar saya.

“Katanya apa! Bukan ‘katanya’! Memang dia lagi sakit! Baru-baru ini Mama ke rumah sakit, orang rumah sakit kasih tahu dia dirawat di situ. Mama juga lihat sendiri!” Ibu malah membantah keras perkataan saya di depan speaker yang lagi on.

Ya mana Saya tahu. Dipotong seperti itu, saya terdiam. Secara teknis, kalau saya mengatakan “katanya” itu karena saya tak kenal Pak S. Lagi pula saya bermaksud menekankan kalau kami memang tak mengenalnya secara dekat. Ibu yang terlalu polos malah mementahkannya dan membuat kesan dirinya sangat mengenal Pak S.


Sekira 6 tahun yang lalu, ketika orang bank menelepon dan mengonfirmasi apakah memang Pak S kerabat Ibu, pernyataan itu diiyakan oleh Ibu. Jelas saja nomor telepon rumah kami yang dihubungi jika ada apa-apa terkait kredit yang diambilnya.

Sekira 4 atau 5 tahun yang lalu, qadarullah ibunda Pak S meninggal dunia. Tak lama kemudian, Pak S terkena stroke. Istrinya yang berasal dari pulau lain meninggalkannya. Perempuan itu baru dinikahinya sekira setahunan. Sejak itu, Pak S tak menempati rumahnya yang dulu lagi. Hingga sekarang Pak S dirawat oleh keluarganya dan tak ada yang tahu persisnya di mana alamatnya.

Siapa lagi yang dihubungi pihak bank kalau bukan nomor telepon rumah kami? Utang bank yang terus berbunga dan sudah bertahun-tahun lamanya tak terbayarkan tentunya membuat pihak bank mencari cara untuk menyelesaikannya.

Maka dari itu, beberapa kali pihak bank menelepon ke rumah. Beberapa teman seorganisasi Ibu menenangkannya dan mengatakan supaya Ibu tak ambil pusing dan bersikap cuek terhadap telepon dari bank.

Sumber: rumaysho.com

Tapi ya bagaimana juga bisa sama sekali cuek kalau kami bagaikan kekasih yang tak bisa terlupakan dan selalu kan terkenang? Biar bagaimana kan tidak enak juga bila sewaktu-waktu bisa saja menerima telepon dari pihak bank itu untuk mencari Pak S? Memangnya enak? Wong kami tak pernah menikmati uang yang dipinjamnya itu, koq!

Saya menyarankan ibu untuk menyampaikan perihal utang ini kepada kerabat Pak S. Yang awalnya keterangan mengenai alamat keluarga Pak S bagaikan gelap malam tak berbintang, akhirnya ada titik terang. Ibu saya mendapatkan nomor telepon dan alamat yang bisa dihubungi.

Saat dihubungi pertama kali, si empunya nomor lagi tak di tempat. Dihubungi kedua kali, tak ada yang mengangkat telepon. Ibu berencana mendatangi alamat yang dipegangnya bersama salah seorang kawan organisasinya yang juga kerabat kami.

Sang kerabat masih sibuk saat ini makanya belum bisa mengunjungi rumah kerabat Pak S. Saya mau melihat dulu bagaimana teman-teman organisasinya membantu penyelesaian masalah ini. Akan lebih kuat penekanannya jika Ibu datang bersama teman organisasinya itu ke sana.

Note for my self. Sumber: IslamPos
Well, marilah menjadikan hal ini sebagai pelajaran penting bagi kita semua. Jika ada yang meminta tolong mencatut nama kita sementara dia bukan kerabat tetapi dia cantumkan nama kita sebagai kerabatnya, lebih baik jangan diiyakan.

Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Sesuatu yang diawali dengan kebohongan, meskipun tujuannya baik, jangan harap pasti berakhir baik apalagi menyangkut bank dan bunganya.

Makassar, 20 Maret 2019

NB:
Mohon do’anya agar masalah ini cepat selesai ya, Kawan. Kasihan ibu saya, usianya sudah di angka 76. Seharusnya tidak lagi mengalami masalah yang sebenarnya bukan masalahnya seperti ini.



Share :

19 Komentar di "Telepon dari Bank Terkait Utang Orang Lain"

  1. Bicara utang bank memang ngeRIBAnget ya kak. Saya yang baca postingan ini saja seperti merasakan "beban" yang ditanggung ibunya kak Niar karena masalah yang sebenarnya bukan masalah beliau. Semoga masalah ini bisa cepat terselesaikan dan bisa jadi pelajaran juga buat pembaca (termasuk saya) agar jangan mau ikut terlibat dalam utang orang lain dengan pihak bank

    ReplyDelete
  2. Ribet kalau sudah begini, pihak bank gak akan pernah mau rugi karenanya seakan-akan membebankan tanggungjawab itu ke pihak lain. Semoga masalahnya cepat selesai yah kak, walau kelihatannya repot dan musti melibatkan orang yg paham posisi kreditnya, amiin

    ReplyDelete
  3. Bicara soal Riba dan kawan2 nya mmg tak adabhabisnya, memang ngeRI BAnget...
    Apa lagi kalo kasusnya udah kayak diatas

    ReplyDelete
  4. Aminnn kak semoga selesai cepat dan mudah segala sesuatunya.

    ReplyDelete
  5. Semoga ibunya bisa cuek..memang susah kl sdh begini. Huhuhu

    ReplyDelete
  6. Semoga lekas selesai masalahnya ya, kak. Nanti kalau dapat kontak dan informasi alamat valid mengenai kerabatnya. Langsung serahkan saja ke kerabatnya, kak. Karena, hutang harus tetap dibayar. Biar pihak penagih juga ada kepastian.

    ReplyDelete
  7. pelajaran penting memang, harus ki hati2 kalau urusan soal utang.
    apalagi orang yang bukan keluarga dekat kita, karena siapa yang bisa tahu kalau ujung2nya jadi begini.

    tapi ini masih mending karena bank, nah saya malah sudah dapat SMS dari sebuah lembaga peminjam uang yang mengabarkan kalau teman saya (tidak terlalu akrab) ternyata punya utang sama mereka dan sekarang lagi susah dihubungi.

    ReplyDelete
  8. semoga saya tak terjerat yang namanya utang. saya sebisa mungkin menghindari meminjam uang dari siapapun..

    ReplyDelete
  9. Ya Allah. Semoga dimudahkan jalan keluarnya kak. Semoga kluarga pak S bisa segera membantu agar ibunya kak niar tdk diganggu2 lagi sama pihak bank.

    ReplyDelete
  10. Perkara utang piutang memang hal yang sangat ribet,sampai-sampai orang yang meninggal saja di umumkan terkait perihal utangnya agar menghubungi kerabatnya. semoga ini menjadi pelajaran dan berakhir dengan baik

    ReplyDelete
  11. Saya ditelpon tawarin kartu kredit saja bete dan malas.. apalagi ibu ta yg ditanya tanya dan pastinya merasa diteror. Semoga cepat selesai masalahnya Kak

    ReplyDelete
  12. " Akal sehat".. Pas baca kata ini teringat Presiden Akal Sehat ( PAS) di Indonesia..

    Bdw kalau dia masih punya utang, mudah-mudah diberikan rejeki buat Pak S untuk membayarnya..

    ReplyDelete
  13. Semoga segera selesai urusannya kak Niar, semoga beliau diberikan kelapangan rejeki untuk membayar utang, aamiin.

    Ngeri banget ya ini. Ya Allah semoga kita terhindar dari hal ini.

    ReplyDelete
  14. Semoga masalahnya cepat selesai. Urusan sama riba itu memang menyusahkan, bukan cuma buat diri sendiri, tapi juga buat orang lain.

    ReplyDelete
  15. Mengerikan memang kalau sudah urusan hutang piutang, apalagi kalau lewat lembaga peminjaman uang begitu. Itu juga yang lagi banyak sekarang, aplikasi Fintech yang bisa pinjam uang cuma modal KTP. Lebih mengerikan itu... Semoga masalah teman ibuta cepat selesai dengan baik, dan kita semua dihindarkan dari masalah hutang seperti itu.

    ReplyDelete
  16. Semoga sehat selalu ibunya bunda Niar.

    Benar banget. Terlalu mengiyakan dengan niat baik kadang nggak selalu baik, sebaik-baik awalnya kita mengenal seseorang itu. Kecuali benar-benar keluarga inti.

    Hutang di bank memang ngeRIBAnget.

    ReplyDelete
  17. Aaamiiin... Semoga Allah memberikan solusi yang tepat untuk semuanya. Dan ke depannya gak mengalami hal yang sama untuk semua keluarganya ya. Biar dijadikan pelajaran penting.

    Makasih sudah share pengalaman ini.

    ReplyDelete
  18. Semoga masalahnya segera selesai ya. Aku tahu sekali rasanya dikejar-kejar tagihan lewat telepon itu. Mirisnya aku beberapa kali mengalami tapi bukan aku yang memiliki hutang, melainkan ada orang lain yang menggunakan nama dan no telp aku.

    ReplyDelete
  19. Bener banget tuh yang ada di gambar. Kalau riba itu ngeribanget

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^