Kisah Ketakutan di Balik Lampu Dinding

Sejak dulu, orangtua saya selalu menyediakan lampu dinding unik yang dinyalakan pada malam hari, saat tidur. Saya lupa apa sebabnya, saya kemudian tidak suka menggunakan lampu yang cahayanya sangat kurang ini. Saya lebih suka tidur dengan cahaya terang, dengan kata lain, lampu tidak dimatikan sama sekali. Saya merasa tidak nyaman sama sekali tidur dalam cahaya minim.

Sejak kemudian terbiasa tidur dengan lampu menyala, saya selalu saja terbangun saat tiba-tiba lampu mati pada tengah malam atau dini hari. Biar mengantuk bagaimana pun, saya berusaha bangun, mencari lilin, dan pemantik api agar ada sedikit penerangan hingga lampu menyala kembali. Mati lampu menjadi alarm bagi saya. Alarm yang menakutkan. Aneh, sih sebenarnya karena saya tidak pernah mengalami kejadian yang menyeramkan atau menakutkan saat gelap.


Di atas kapal laut, saat bepergian ke pulau Jawa dengan teman-teman kuliah bertahun-tahun silam, mematikan/menyalakan lampu saat tidur menjadi masalah kecil antara saya dengan teman-teman. Saya yang tidak bisa tidur dalam keadaan gelap gulita berulang kali menyalakan lampu karena sulit tidur dalam gelap. Sementara teman-teman yang tak bisa terlelap dalam keadaan terang-benderang gantian melek saat lampu saya nyalakan. Ketika saya mulai terlelap, mereka mematikan kembali lampu. Saling mematikan dan menyalakan terjadi beberapa kali. Akhirnya, setelah saya benar-benar terlelap barulah mereka matikan lampu kamar dan kami pun sama-sama terlelap hingga subuh. Mungkin juga karena sudah sama-sama lelah saling mati-nyalakan lampu berulang kali, yah. Jadi pada kesekian kalinya, akhirnya semuanya pun bisa tidur nyenyak hahaha.

Kebiasaan ini terbawa hingga menikah. Untungnya suami saya tidak berkeberatan tidur dengan lampu terang. Kebiasaan selama puluhan tahun itu akhirnya runtuh setelah saya membaca sebuah artikel yang menjelaskan mengenai akibat yang ditimbulkan jika kita tidur dengan penerangan.

Pada artikel tersebut disebutkan bahwa ada sebuah hormon penting dalam tubuh yang produksinya terhambat jika cahaya terang. Hormon itu bernama melatonin. Melatonin adalah hormon alami yang mempengaruhi tidur sehat dan hidup sehat. Melatonin ternyata juga menjadi hormon antioksidan kuat yang mencegah bertumbuhnya sel kanker dan dapat mengontrol masalah kesehatan lainnya, termasuk siklus haid, menopause, dan insomnia kronis.

Antioksidan, tak hanya dari asupan makanan
Di sini saya tercenung, mengingat angka usia yang semakin besar di mana pada angka seperti ini semakin mudah penyakit berat datang melanda, terlebih mengingat pola hidup yang belum benar-benar sehat. Memang saya sudah menghindari konsumsi daging merah dan makanan berlemak tetapi saya masih sesekali cheating makan gorengan. Namun begitu, saya waswas juga dan berulang kali mengingatkan diri lagi. Siapa dong yang mau mempercepat datangnya penyakit seperti kanker di dalam tubuh 😟? Sudah begitu, saya punya masalah dengan siklus haid pula. Siklus haid, nantinya akan mempengaruhi menopause juga, kan. Dan masa menopause mungkin saja tidak terlalu lama lagi akan menghampiri saya.

Selain itu, konon salah satu efek tidur malam dalam keadaan lampu menyala terang adalah, badan terasa pegal-pegal ketika bangun karena metabolisme tubuh terganggu. Nah, ini pun saya rasakan setiap harinya. Maka, setelah berdiskusi dengan suami, jadilah kami kembali menggunakan lampu dinding untuk tidur.

Sekarang, saya sudah merasa nyaman tidur dalam keadaan penerangan minim. Badan pun terasa lebih segar saat bangun dibandingkan dulu. Saat ini saya bahkan bisa tidur dengan lampu berdaya 1 watt saja. Lampu tidur 1 watt saya itu bisa “ditempel” di dinding, sekaligus juga berfungsi sebagai penjerat nyamuk. Keren, ya lampu jaman now, bisa two in one gitu. Kalau dulu, lampu tidur ya lampu tidur saja. 

Sayangnya, anak bungsu saya tak suka dengan lampu dinding ini karena menurutnya “terlalu gelap” jadi jika hendak tidur, kami harus menyalakan dua buah lampu berdaya rendah 😅. Si lampu 1 watt hanya jadi obat nyamuk di sini. Haha, kayaknya harus cari-cari lampu model lain, nih. Sudah saatnya melihat-lihat lampu dinding di toko online murah di Tokopedia, barangkali saja ada pilihan menarik di sana buat si bungsu.

Makassar, 13 November 2017






Share :

9 Komentar di "Kisah Ketakutan di Balik Lampu Dinding"

  1. Waktu kecil, aku takut banget sama lampu dinding, apalagi yang warna merah. Ngeri aja lihatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ih iya, saya juga tidak suka yang warn cahayanya merah. KEsannya seram ya.

      Hapus
  2. Saya gak bisa tidur kalo gelap gulita karena serasa gak bisa bernafas, pun kalo terang benderang, jadinya gak bisa tidur. Jadi kalo tidur harus ada sedikit cahaya atau tv yang nyala terus, hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih, saya pun gelisah kalo gelap-gulita. Mirip-mirip kayak Mami Ery. Agak sesak rasanya. Untungnya sekarang bisa ma' tidur dengan cahaya minim. Dulu harus terang-benderang pi :D

      Hapus
  3. Baru denger sih mbak tentang melatonin, ternyata itu hormon penting banget ya.. Makasih informasinya mbak

    BalasHapus
  4. Klo saya suka tidur dlm remang remang. Gk suka terang juga gk.suka terlalu gelap hehee

    BalasHapus
  5. sama kayak aku , Tante
    aku juga kalo tidur pake lampu keciiil sekali
    yang penting gak gelap gelap amat
    hehehhee

    BalasHapus
  6. Kayak alm mertuaku kalo tidur lampunya menyala terang, rasanya kayak di dokter gigi. Saya lebih suka tidur dengan lampu dimatikan, tapi lampu kamar mandi harus menyala sepanjang malam dengan pintu yang tetap tertutup. Jika menginap di hotel saya juga seperti ini. Kadang-kadang lampu dapur juga saya nyalakan. Anak-anak ternyata juga tetap mempertahankan cara kami tidur di rumah. di rumah kontrakannya mereka juga tidur tanpa lampu tapi tetap menyalakan lampu kamar mandi sepanjang malam.

    BalasHapus
  7. Kalo aku justru ga bisa samasekali tidur dgn lampu menyala, atopun lampu remang :p. Hrs bener2 gelap :D. Makany pas dulu pernah tidur sekamar ama mama mertua mba, duuh beliau kalo tidur ga bisa blass lampu mati hahahaha.. Secara dia mertua, aku wis ngalah :p. Tp sejak itu kalo traveling aku ga mau sekamar lg ama mertua. Mnding pesan kamar 2 :D

    BalasHapus

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^