Review Film SOLATA: Pesan Cinta dari Ollon

Review Film SOLATA: Pesan Cinta dari Ollon – Pelaksanaan pendidikan yang bermartabat di pedalaman adalah topik yang klasik di negara ini namun bukan hal yang seksi sehingga sampai hari ini tidak benar-benar selesai secara menyeluruh. Mungkin itu pula yang menjadi penyebab film SOLATA tidak begitu dihargai di Indonesia.

Film SOLATA Mendunia

SOLATA: Keliling Dunia Namun Sepi di  Negeri  Sendiri

Akhir-akhir ini, media online memuat berita mengenai bagaimana film SOLATA “keliling dunia” dengan meraih prestasi,  justru seusai turunnya SOLATA dari layar bioskop. Salah satunya, Kompas.id[1] menulis begini:

Setelah memperoleh penghargaan dari Golden FEMI Film Festival 2025 di Sofia, Bulgaria, tim film ini merencanakan tur keduanya di Eropa. Sebelumnya, tur pertamanya berlangsung pada 5-20 Juni 2026 di 5 kota dan 4 negara Eropa Timur. Ichwan Persada, sang sutradara SOLATA menargetkan 7 negara di Eropa dalam rangkaian tur kedua. Dua di antaranya adalah Yunani dan Austria yang sebelumnya belum berhasil tampil dalam festival film internasional pada bulan Juni lalu. Film SOLATA tampil pada 7–14 September 2026 di ASEAN Plus Three Film Festival di Praha, Cekoslowakia.

Tanggal 6 September lalu, dengan antusias saya menghadiri nonton bareng film SOLATA bersama Daeng Ical (Dr. H. Syamsu Rizal Mi, S.Sos., M.Si), mantan Wakil Wali Kota Makassar periode 2014-2019 yang sekarang menjabat sebagai anggota DPR. Deng Ical merupakan pejabat pertama Indonesia yang merayakan secara khusus keberhasilan film SOLATA usai mendapatkan penghargaan internasional di Bulgaria pada bulan Juni 2026. Beliau melakukan dukungan penyelenggaraan nonton bareng (nobar) SOLATA di CGV Panakukang Square[2].

Masalah Akses dan Infrastruktur: Sebuah Lagu Lama

Urusan akses atau infrastruktur yang buruk menuju sekolah seperti jembatan rusak bukan barang baru di negara ini. Masalah serupa terjadi di Kendari[3] (Sulawesi Tenggara), Pandeglang[4] (Banten), Mamasa (Sulawesi Barat)[5], dan Sikka[6] (Nusa Tenggara Timur). Demikian pula soal kekurangan guru di pelosok.

Indonesia menghadapi kekurangan ratusan ribu guru akibat distribusi yang tidak merata dan tingginya angka guru yang pensiun setiap tahun[7][8]. Meskipun Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan komitmen[9] untuk membereskan masalah ini, pada kenyataannya masalah ini belum sepenuhnya selesai.

Masalah kekurangan tenaga pendidik inilah yang dipotret oleh Ichwan Persada, sutradara sekaligus produser film SOLATA. Masalah yang menjadi tema sentral film ini tidak berdiri sendiri. Persoalan tersebut ditambah dengan ketidaktersediaan bangunan sekolah yang memadai.

Persiapan  film ini sejak masih berbentuk sinopsis memakan waktu lebih dari 10 tahun. Ichwan Persada  yang juga menjadi penulis skenario bersama Aray Amelia, mematangkannya kembali pada akhir bulan Desember 2022[10].

Kalaupun film ini sensitif bagi  pemerintah – dan tentunya pemerintah telah melakukan banyak hal untuk memperbaiki infrastruktur[11] [12] – hal itu tidak menghapus kenyataan bahwa isu pendidikan yang diangkat ini merupakan “lagu lama”. Keberadaan SOLATA,  saya kira justru bisa dijadikan refleksi untuk menjawab pertanyaan “seberapa signifikan perbaikan akses dan infrastruktur pendidikan yang telah dilakukan?”

Penghargaan Film SOLATA

Sinopsis Film SOLATA

SOLATA: Teman Adalah Keluarga yang Kita Pilih mengisahkan Angkasa (Rendy Kjaernett), lelaki asal Jakarta yang mengalami titik terendah dalam hidupnya setelah kehilangan pekerjaan, ditinggal wafat oleh ibunya, dan putus cinta dari kekasihnya, Lembayung.

Untuk menyembuhkan luka batin dan melarikan diri dari keterpurukan, Angkasa memutuskan pergi jauh ke kawasan terpencil di Ollon, Tana Toraja, Sulawesi Selatan menjadi guru relawan di sebuah program pendidikan "kelas jauh".

Di tengah keterbatasan fasilitas dan akses teknologi yang minim, Angkasa mengajar enam murid lokal. Keunikan muncul karena anak-anak tersebut memiliki nama yang identik dengan para presiden Indonesia, yaitu Karno, Harto, Habi, Wahid, Mega, dan Bambang. Interaksi yang tulus dengan anak-anak beserta kehangatan warga lokal di tengah indahnya pegunungan Toraja perlahan mengubah sudut pandang Angkasa dalam memaknai kehidupannya.

Review Film SOLATA

Bagaimana kesan saya setelah nonton film SOLATA?

Saya ingin memulai dari bagian yang membuat saya tersentuh, yaitu, bagian yang menceritakan perjuangan murid bernama Fatimah Habibi untuk bersekolah.

“Saya tidak mau Bapak meninggal!” Habibi berteriak, dia  berlari meninggalkan Pak Guru Angkasa beserta teman-teman sekelas yang datang ke rumahnya.

Habibi sering tidak masuk sekolah. Bukan karena bolos, melainkan karena harus merawat ayahnya yang sakit-sakitan dan adiknya yang masih bayi. Ibu Habibi sudah meninggal dunia dan dia tak ingin kehilangan ayahnya juga.

Interaksi dengan Habibi dan kawan-kawannya menggugah perasaan Angkasa. Dia jadi tahu aneka persoalan yang dihadapi anak didik dan warga setempat terkait pendidikan. Akses menuju sekolah yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki melalui bukit, menuruni lembah, kemudian naik bukit lagi, harus ditempuh setiap hari oleh para siswanya.

Setiap siswa memiliki masalah masing-masing yang rentan membuat mereka tidak bisa masuk sekolah setiap hari selama tahun ajaran berjalan. Saya berharap bisa lebih menyelami persoalan masing-masing atau sekurangnya 3 anak – maklum, ibu-ibu senang dengan tontonan yang menggugah perasaan.

Nah, persoalan setiap anak memang disebutkan di film ini, sayangnya visualisasi permasalahan kelima siswa lainnya kurang dieksplorasi. Andai ada tambahan visualisasi lagi, bagian yang menggugah perasaan tentu akan menjadi lebih kaya. Penonton pun dapat lebih merasakan perjuangan para siswa naik-turun bukit dan lembah hanya untuk bersekolah sehingga film ini menjadi lebih berwarna.

Pak Guru Angkasa digambarkan sebagai laki-laki dengan karakter yang lengkap sebagaimana manusia pada umumnya. Dia memiliki kelebihan sekaligus kekurangan.

Saya sebal melihat Angkasa di awal film, ketika dia berkonflik dengan kekasihnya Lembayung (Rachel Natasya, eks JKT48). Di saat yang sama, ibu dari Angkasa juga baru meninggal dunia.

Melarikan diri ke Ollon menjadi pilihan satu-satunya bagi Angkasa tanpa benar-benar membereskan masalah perizinan kelas jauh di Ollon yang sudah muncul sebelum dia berangkat.

Alhasil, muncul masalah ketika Angkasa sedang bersemangat-semangatnya mengajar di kelas jauh Ollon sehingga dirinya harus pergi ke Kota Makassar untuk menghadap pejabat instansi yang berwenang menangani pendidikan di pelosok Toraja. Ternyata tak mudah. Jauh-jauh datang dari Ollon, Angkasa sangat kesulitan menembus aturan yang kaku.

Angkasa juga digambarkan sibuk membereskan masalahnya dengan sahabatnya, Bumi (Iskandar Andi Patau) dan Lembayung. Abun (Fhail Firmansyah), warga setempat yang rumah orang tuanya ditempati Angkasa, setia menemani Angkasa mencari sinyal internet, yaitu di dalam gereja. Abun senantiasa menemani Angkasa selama di Ollon.

Karakter Abun terlihat “hidup” dalam diri Fhail. Sebagaimana ke-6 siswa kelas jauh, Abun pun bermain natural dalam film ini. Para talenta lokal ini bermain apik. Adegan yang ditampilkan mengalir alamiah, seolah sedang tidak berakting. Begitu pula dengan karakter-karakter lokal lainnya – permainan mereka cukup bagus.

Logat Toraja, diselingi Bahasa Toraja, mewarnai film ini. Kesan lokalnya tertangkap jelas, mengiringi keindahan alam Ollon yang ditampakkan dalam separuh film. Menariknya lagi, Angkasa bisa menirukan logat Toraja dalam percakapannya dengan para muridnya.

Saya suka film ini karena tidak “memaksakan logat Jakarta menguasai kearifan lokal” sebagaimana film-film lain yang berlatar Sulawesi Selatan. Film-film lain itu hanya ber-setting Sulawesi Selatan tetapi tetap menggunakan kata AKU sebagai kata ganti orang pertama sementara orang Sulsel menggunakan kata SAYA bukan AKU. Ditambah lagi, logat Jakarta justru yang digunakan sepanjang film, bukannya logat setempat.

Alur cerita film mengalir ringan dengan taburan humor dalam percakapan yang juga terasa natural. Sependek ingatan saya, tak ada humor yang terasa dibuat-buat. Menyenangkan bisa menikmati humor-humor yang diselipkan dalam film ini.

Nobar Film SOLATA
Bersama Ichwan Persada, sutradara dan produser SOLATA

Saya menikmati film dan mencatat sejumlah hal. Dua di antaranya menjadi pertanyaan di benak saya.

Pertama, nama sekolah berubah. Awalnya papan nama sekolah bertuliskan SD 3 Kecil.  Setelah sekolah berubah status menjadi sekolah swasta, mendekati akhir film berubah menjadi SDN 3. Papannya tampak baru tetapi kenapa yang tertera SD nama SD negeri? Apakah saya yang terlewat menyimak alur cerita dan sekolah dasar tersebut akhirnya resmi menjadi sekolah negeri?

Kedua, sepertinya ada masalah antara Angkasa dengan ayahnya. Saya menangkapnya samar-samar tetapi tidak bisa menebak apa itu.

Saya juga tidak bisa menebak apa maksud “bayangan 3 orang” yang beberapa kali “dilihat” Angkasa. Namun, saya tahu ketiga orang itu ada di dalam bingkai foto di ruang tamu rumah orang tua Angkasa.

Ada masalah dengan ingatan Angkasa  sehubungan dengan foto itu. Ingat atau tidak ingat menjadi pertanyaan besar bagi Abun beserta ayah dan adiknya. Tanda tanya tentang hal ini saya bawa sampai keluar bioskop, sampai berdiskusi dengan suami di rumah, barulah saya merasa mendapat jawaban dari pertanyaan itu. Tetapi tetap saja saya bertanya-tanya – sepenting apa?

Di luar kedua hal itu, saya mengamati Angkasa berproses. Angkasa yang tadinya pengecut, berproses menjadi jauh lebih baik dan mencoba menyelesaikan satu demi satu permasalahannya.

Untuk tema besar terkait pendidikan,  film SOLATA memberikan SOLUSI yang tak terpikirkan oleh saya. Bukan solusi yang tak masuk akal – bukan. Solusi yang diberikan justru sangat memungkinkan untuk diwujudkan. Hanya perlu upaya keras, kepedulian orang lain, dan media yang tepat untuk mewujudkannya.

Ollon menyampaikan pesan melalui SOLATA, bahwa solusi penting yang akan mengubah nasib anak-anak Ollon ternyata butuh bantuan pihak luar dalam mewujudkannya. Dan hal itu sangat dimungkinkan di masa sekarang dan bisa diduplikasi di mana saja.

Terkait CINTA antara Angkasa dan Lembayung … pesan yang saya tangkap adalah bahwa cinta semata tidak dapat menyelesaikan persoalan meskipun persoalan itu awalnya terkesan sepele. Tak cukup  hanya cinta. Butuh KETULUSAN yang mengingatkan CINTA untuk menentukan pilihan. Sekaligus menyadarkan kita bahwa CINTA membutuhkan KEDEWASAAN dan KEBIJAKSANAAN sebelum MEMUTUSKAN!

Makassar, 18 September 2026



Catatan kaki:

[1] https://www.kompas.id/artikel/film-solata-peraih-penghargaan-di-bulgaria-siap-berkeliling-eropa

[2] https://rri.co.id/makassar/hiburan/2707213/deng-ical-gelar-nobar-film-solata-dukung-karya-lokal-go-international

[3] https://www.instagram.com/p/DdVHEtxSloX/, https://kendariinfo.com/jembatan-bambu-menuju-smpn-20-kendari-tak-layak-dilalui-pernah-sebabkan-siswa-jatuh/

[4] https://www.youtube.com/watch?v=BTiA5HSRuBA&t=1

[5] https://www.youtube.com/watch?v=WL9yypYaaWs

[6] https://www.youtube.com/watch?v=NZ7AzOBBTuc

[7] https://www.youtube.com/shorts/S3SeQMrtH80

[8] https://www.tempo.co/politik/ri-kekurangan-679-ribu-guru-kemendikdasmen-dorong-lulusan-ppg-mengabdi-di-daerah-3t-1201413

[9] Idem

[10] https://www.instagram.com/p/DQeZ9bGE12J/

[11] https://www.rinews.id/pemulihan-pendidikan-pasca-bencana-di-sumatra-prioritas-pemerintah-untuk-menjamin-hak-belajar-anak/

[12] https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/JKR2O33K-gubernur-diminta-cek-jembatan-rusak-prabowo-jangan-lagi-ada-anak-sekolah-bertaruh-nyawa



Share :

0 Response to "Review Film SOLATA: Pesan Cinta dari Ollon"

Post a Comment

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^