Seni Menulis Skenario Film: Belajar dari Ichwan Persada – Bagi banyak orang, film adalah sebuah keajaiban visual yang menghibur di layar bioskop. Namun, di balik keindahan gambar dan emosi yang mengalir dari para aktor, ada sebuah cetak biru yang sering kali tidak kasat mata namun menentukan hidup-matinya karya tersebut. Cetak biru itu bernama skenario.
Tanggal
16 Agustus
lalu, saya menjadi host dalam sebuah bincang-bincang hangat bersama Ichwan Persada—seorang
produser, sutradara, sekaligus penulis skenario
melalui program Writer’s Talk
dalam Instagram live
di akun komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) @ibuibudoyannulis.
Kak
Ichwan telah melahirkan karya-karya berprestasi seperti Cerita dari Tapal
Batas (Nominasi Dokumenter Terbaik FFI 2011) dan Solata (baru-baru
ini meraih Penghargaan Khusus Kebudayaan dan Kemanusiaan di Golden FEMI Film
Festival di Sofia, Bulgaria). Lelaki yang memulai debutnya sebagai associate
producer tahun 2011 ini membagikan pandangan mendalamnya mengenai seni
menulis skenario sebagai pondasi
utama perfilman.
Berikut
adalah poin-poin reflektif dari lelaki yang memulai kariernya di bidang film
tahun 2011 ini mengenai bagaimana sebuah cerita film dibangun, dijaga
otentisitasnya, dan dihidupkan di layar lebar.
1. Skenario Adalah Pondasi Rumah: Jangan Pernah Instan!
Kak Ichwan menganalogikan pembuatan film seperti membangun sebuah rumah. "Kalau pondasinya tidak kuat, kita mau bikin rumah dua lantai saja roboh di atasnya. Tetapi kalau pondasinya benar, kita bangun sampai tiga lantai pun masih aman."
Dalam
film, pondasinya adalah skenario. Sayangnya, di era yang serba instan ini,
banyak orang terburu-buru untuk langsung melompat ke tahap syuting tanpa
mematangkan naskah terlebih dahulu. Padahal, proses menulis skenario yang baik
membutuhkan investasi waktu, dedikasi, serta riset yang mendalam.
Menulis
skenario bukanlah kemampuan yang bisa dikuasai dalam waktu semalam. Kak Ichwan
secara tegas menyatakan bahwa ia tidak percaya pada kelas-kelas instan yang
menjanjikan seseorang bisa menulis naskah dalam hitungan hari. Baginya, seorang
pemula membutuhkan waktu minimal satu hingga dua tahun hanya untuk mulai
bisa menulis skenario dengan benar. Merujuk pada teori 10.000 Jam dari
Malcolm Gladwell, dirinya meyakini bahwa keahlian yang sesungguhnya hanya lahir
dari ketekunan yang konsisten.
2. Struktur Teoretis dan Proses Panjang di Balik Layar
Banyak
penulis pemula yang sering meremehkan teori dan berpikir bahwa menulis skenario
cukup mengandalkan intuisi atau sekadar mengalir begitu saja. Padahal, film
bekerja dengan struktur yang sangat disiplin dan ajek.
Dalam
dunia film profesional, sebuah skenario harus mengikuti struktur yang ketat,
seperti tiga babak, delapan sekuens, dan lima belas beats.
Struktur ini sangat presisi hingga seorang penulis bisa menghitung pada menit
keberapa sebuah peristiwa penting atau konflik tokoh harus terjadi.
Prosesnya
pun tidak langsung melompat ke naskah ratusan halaman, melainkan harus melalui
tahapan yang berjenjang:
- Menentukan judul.
- Menyusun premis.
- Membuat sinopsis pendek.
- Membuat sinopsis panjang.
- Menyusun step outline.
- Menulis storyline.
- Mengeksekusi
skenario
utuh.
Setiap
tahapan ini memastikan bahwa cerita memiliki arah yang jelas sebelum kamera
mulai merekam.
3. Film Adalah Kerja Kolektif (Triangle System)
Berbeda
dengan menulis novel yang merupakan kerja soliter di mana seorang novelis dapat
menentukan arah ceritanya sendiri, menulis skenario adalah bagian dari kerja
kolektif. Di industri film, dikenal adanya triangle system yang
melibatkan tiga pilar utama: penulis skenario, sutradara, dan produser.
Seorang
penulis skenario harus mampu meredam ego, menyerap visi sutradara, dan
menuangkannya ke dalam adegan, karakter, serta dialog. Proses ini menuntut
kompromi dan pencarian jalan tengah dari "tiga kepala" yang bekerja
bersama.
"Kita harus kolaborasi, kerja sama, bukan sama-sama kerja. Itu dua hal yang sekilas mirip tapi sebenarnya berbeda sekali cara kerjanya," jelas Kak Ichwan.
Dalam
praktiknya, menulis skenario di industri profesional bahkan sering dilakukan
secara "keroyokan" oleh tim yang terdiri dari 4 hingga 8 orang. Di
dalam tim ini, kelenturan ego kembali diuji. Kak Ichwan mengungkapkan bahwa
pada draf pertama (draft 1), ia sering kali membuang hingga 80%
dari naskah yang ditulis timnya dan hanya mempertahankan 20% saja. Proses
kurasi yang ketat ini dilakukan demi kebaikan hasil akhir film, tanpa ada rasa
tersinggung (no hard feelings) antar-penulis.
4. Menjaga Otentisitas Lokal dan Kelenturan di Lapangan
Salah
satu kekuatan karya-karya Ichwan Persada, seperti film Solata,
adalah keberaniannya mengangkat latar lokal (Toraja) dengan isu kemanusiaan dan
pendidikan yang intim. Tantangan terbesar dalam menulis cerita berlatar lokal
adalah ketika pembuat film tidak berasal dari wilayah tersebut.
Meskipun
lama tinggal di Makassar, Kak Ichwan mengaku belum pernah ke Toraja sebelum
menggarap Solata. Untuk menjaga kejujuran cerita, ia bersama rekan penulis
skenarionya, Aray Amelia (alumni kelas skenarionya), melakukan riset
mendalam langsung di lokasi sejak Desember 2022. Mereka melakukan perjalanan ke
Olon dengan medan jalanan yang sangat berat demi memahami manusia, budaya, dan
realitas sosial di sana secara langsung.
Dari
proses riset yang panjang inilah kejujuran sebuah film lahir. Bagi Kak Ichwan,
skenario tidak boleh kaku, melainkan harus lentur dan mampu beradaptasi dengan realitas
lapangan.
Kelenturan Skenario Film
Solata
Karakter Fatimah Habibi (diperankan oleh Amira)
Pada
naskah awal, karakter ini ditulis, Habibi tidak berhijab. Namun demikian, saat casting,
mereka menemukan Amira, anak lokal berhijab yang menolak melepas hijabnya demi suatu
alasan kuat. Alih-alih memaksakan naskah asli, Kak Ichwan memilih mengubah
skenario untuk menyesuaikan dengan identitas Amira. Hasilnya, kehadiran
karakter berhijab ini justru memberikan kesan yang sangat riil dan
menggambarkan keberagaman Indonesia yang sesungguhnya.
Karakter Angkasa (diperankan oleh Rendy Kjaernett)
Saat
casting untuk tokoh Angkasa, Rendy Kjaernett sedang berada di titik terendah
hidupnya akibat musibah besar. Ketika membaca adegan kesepian karena kehilangan
ibu dan berkonflik dengan orang terdekat, Rendy menangis sesenggukan di tengah
restoran yang sedang ramai-ramainya. Lelaki berambut putih ini menyadari bahwa Rendy tidak perlu lagi
"berpura-pura" berakting, Rendy telah merasakan emosi terdalam yang
dialami tokoh Angkasa dalam hidupnya yang nyata. Kejujuran emosional inilah
yang membuat akting para pemain terasa tulus dan mampu menyentuh hati penonton
secara mendalam.
5. Menepis Mitos Selera Pasar: Penonton Hari Ini Jauh Lebih Terbuka
Sering
kali ada anggapan bahwa pasar bioskop domestik sangat pragmatis dan hanya
menyukai genre tertentu seperti horor. Namun demikian, laki-laki yang pernah berduet
bersama Marcella Zalianty memproduseri film Batas tahun 2011 ini memandang
pasar saat ini dengan sangat optimis dan dinamis. Demografi penonton kita kini
didominasi oleh generasi muda (gen Z) yang sangat terbuka untuk mengeksplorasi
hal-hal baru dan memiliki akses ke berbagai streaming platform.
Sebagai
bukti, film hitam-putih seperti Jatuh Cinta Seperti di Film-Film mampu
menembus angka 500.000 penonton. Begitu pula dengan film dokumenter bertema
berat seperti Eksil karya Lola Amaria yang berhasil menarik lebih dari
100.000 penonton.
Menurut
Kak Ichwan, yang sering kali berpikir sempit (close-minded) bukanlah
penontonnya, melainkan produser yang terus-menerus mencekoki pasar dengan
formula horor yang berulang tanpa adanya pembaruan (invention). Padahal
penonton sudah jenuh dengan konten yang itu-itu saja.
"Pasar bisa diciptakan," ujar Kak Ichwan. Jika kita memiliki idealisme yang kuat dan cerita yang jujur, selalu ada jalan untuk memperjuangkannya dan menemukan pasarnya sendiri.
Menjadikan Penulisan Skenario Sebagai Sandaran Hidup
Buat
teman-teman yang tertarik mendalami dunia kepenulisan skenario, profesi ini
tidak hanya menawarkan kepuasan batin dalam bercerita, tetapi juga peluang
karier yang sangat menjanjikan secara finansial jika ditekuni dengan konsistens.
Ichwan
memberikan gambaran terbuka mengenai kisaran honor penulis skenario di
Indonesia:
Penulis Pemula (Rumah Produksi Independen / Kerja Kelompok)
Kisaran
Rp1.000.000 hingga Rp1.500.000 per orang untuk penulisan kelompok. Untuk proyek
mandiri film bioskop pemula, angkanya bisa dimulai dari sekitar Rp10.000.000
hingga Rp15.000.000.
Penulis Skenario Profesional
Di
rumah produksi besar, penulis profesional berpengalaman bisa mendapatkan honor
fantastis hingga Rp500.000.000 per skenario film layar lebar.
Pada akhirnya, menulis skenario bukan sekadar tentang merangkai kata-kata indah di atas kertas. Ini adalah proses melatih empati, memahami kompleksitas manusia, dan belajar bekerja sama untuk melahirkan karya yang jujur. Seperti yang bisa dipelajari dari Kak Ichwan kali ini, yaitu bahwa proses kreatif ini mengajarkan kita untuk menjadi pendengar yang baik dan pribadi yang lebih toleran terhadap sudut pandang orang lain.
Apakah
teman siap melangkah melampaui kenyamanan menulis soliter dan mulai membangun
pondasi film sendiri dengan menjadi PENULIS SKENARIO profesional?
Makassar, 23 Agustus 2026
Untuk menyimak rekaman IG live, klik link berikut: https://www.instagram.com/ibuibudoyannulis/reel/DcGhwP5kuBW/
Share :



0 Response to "Seni Menulis Skenario Film: Belajar dari Ichwan Persada"
Post a Comment
Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^