Antara IGD dan Hati Nurani – Berita mengenai pasien IGD (Instalasi Gawat Darurat) yang curhat di media sosial Threads soal lamanya dapat kamar di sebuah rumah sakit viral beberapa hari terakhir ini. Bukan soal curhatnya semata yang viral, melainkan komentar jahat dari sejumlah nakes (tenaga kesehatan, termasuk dokter dan perawat) di kolom komentarnya yang viral dan dihujat se-Indonesia raya.
Kebangsatan Nurani Melalui Komentar Jahat Oknum Tenaga Kesehatan
Buat
yang belum tahu kasus ini, saya tulis kembali di sini salah satu komentar jahat
itu:
Kalo full, mau dipindahkan kemana ? mau di lantai? Gk ada hubungannya sama BPJS atau nggak BPJS yg make banyak, otomatis yg dirawat juga banyak, ga cuma u sendiri. Kalo mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong. Ngeselin dah, nakes/RS bahkan pemerintah melalui BPJS berusaha bantuin, masyarakatnya malah gini.
Satu
lagi komentar sejenis:
PP nya kayak orang have tapi aslinya haven't kah? haven't some brain cells.
Salah
satu yang berkomentar jahat di postingan Threads pasien tersebut adalah
seorang dokter peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Komentar
dokter tersebut dinilai merendahkan pasien BPJS yang juga memicu kemarahan
publik, terlebih pasien tersebut akhirnya MENINGGAL DUNIA, delapan hari
setelah membuat postingan di Threads.
Komentar-komentar
jahat yang ditulis para oknum nakes tersebut viral dan menuai kecaman luas
karena dianggap tidak menunjukkan empati serta melanggar etika profesi tenaga
medis. Akibatnya, salah satu rumah
sakit tempat salah satu dokter komentator itu menjalani pendidikan menonaktifkan
sang dokter dari seluruh kegiatan pelayanan dan pendidikan sambil melakukan
pemeriksaan internal.
Kasus
ini kemudian berkembang ke ranah etik profesi. Pihak rumah sakit, fakultas
kedokteran, dan organisasi profesi menyatakan akan memproses dugaan pelanggaran
sesuai mekanisme yang berlaku, termasuk melalui sidang etik oleh Majelis
Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Pemeriksaan
tersebut bertujuan menilai apakah perilaku dokter di media sosial bertentangan
dengan kode etik kedokteran, khususnya terkait penghormatan terhadap pasien dan
profesionalisme dalam berkomunikasi. Kasus ini sekaligus menjadi pengingat
bahwa tenaga medis dituntut menjaga empati dan etika, baik saat memberikan
pelayanan maupun ketika menyampaikan pendapat di ruang publik[1].
Kasus
meninggalnya seorang pasien BPJS yang sempat menjadi sasaran komentar tidak
berempati di medsos itu, memicu perhatian berbagai pihak. Sejumlah anggota DPR
mendesak agar kasus ini tidak berhenti pada permintaan maaf semata, melainkan
diusut secara menyeluruh melalui proses etik dan evaluasi sistem pelayanan
kesehatan agar tidak terulang. Kementerian Kesehatan menyatakan akan mengawal
penanganan kasus tersebut, berkoordinasi dengan rumah sakit, institusi
pendidikan, serta organisasi profesi untuk memastikan adanya pembinaan dan
penegakan etika[2].
Konsil
Kesehatan Indonesia (KKI) sedang melakukan penelusuran terhadap dugaan
perundungan yang dialami pasien BPJS oleh tenaga kesehatan melalui unggahan dan
komentar di media sosial. Dalam prosesnya, KKI mengidentifikasi pihak-pihak yang
diduga terlibat, mengumpulkan berbagai bukti digital, serta berkoordinasi
dengan instansi terkait untuk memverifikasi status registrasi dan kewenangan
profesi masing-masing. Apabila hasil penelusuran membuktikan adanya pelanggaran
etika, disiplin profesi, atau standar profesionalisme, KKI akan
menindaklanjutinya sesuai prosedur yang berlaku, termasuk memberikan sanksi
disiplin kepada tenaga medis atau tenaga kesehatan yang terbukti melakukan
pelanggaran[3].
Saya
menyaksikan banyak yang membuat postingan media sosial yang menyatakan
kegeraman pada para nakes yang berkomentar jahat. Meskipun sudah ada yang menyatakan
permintaan maaf secara terbuka, permintaan maaf tidak lantas menyurutkan netizen
dalam menyatakan kemarahan mereka. “Sudah terlambat,” ujar mereka!
Pengalaman Menyaksikan Hiruk-Pikuk IGD dan Tantangan Hati Nurani
Menyimak
persoalan ini, saya teringat dengan pengalaman sendiri ketika mengantarkan rahimahallah
ibu mertua ke IGD – 3 hari sebelum
beliau berpulang …
Sewaktu
membawa Nenek (ibu mertua) ke rumah sakit tanggal 19 Juli, kami tiba pukul 19 lewat. IGD sudah
penuh sesak dengan orang-orang sakit dengan berbagai keluhan. Nenek baru bisa
masuk kamar pukul 2.30 dini hari. Suami dan anak bungsu tinggal menemani Nenek,
saya dan 2 anak terbesar pulang. Kami tiba di rumah pukul 3.30.
Kami
menerimanya dengan baik karena menyaksikan sendiri sesibuk apa IGD itu. Bed
di IGD penuh padahal jumlahnya cukup banyak. Kursi roda penuh, bahkan ada yang
duduk di kursi biasa, menunggu giliran.
Secara
keseluruhan, pelayanan di rumah sakit baik hanya sempat gondok dengan seorang
oknum nakes yang menolak saat kami datang. Dia bilang bahwa dokter jantung yang
merawat ibu mertua juga bertugas di rumah sakit lain, mengapa tak ke sana saja.
Saya berkeras tak mau ke rumah sakit lain lha rekam medis mertua kan
ada di RS tersebut. Kan repot kalau dirawatnya di RS lain karena beliau
sementara rawat jalan di poli jantung dan saraf.
“Kalau
mau jaki’ duduk di kursi dulu,” ujar nakes itu. “Ada ji kursi
roda?” tanya saya. “Tidak tahu, saya cek dulu,” ujarnya. Akhirnya ibu mertua
dapat kursi roda, seorang satpam mendorong kursi roda kosong ke arah kami. Kami
menunggu sekitar satu jam hingga dapat bed di IGD.
Tindakan
cepat diberikan, dokter IGD dan nakes-nakes lain cukup sigap. Saat masih duduk
di kursi roda, ibu mertua sudah diinfus dan diobservasi oleh dokter IGD beserta
sejumlah dokter muda.
Baru
saat itu saya saksikan sendiri hiruk-pikuk IGD. Pasien seliweran
silih-berganti. Raungan dari pasien kecelakan tunggal yang kepalanya sepertinya
pecah menusuk-mengiba di gendang telinga kami. Lalu-lalang nakes dan pasien-pasien
tak pernah absen menuju ke dan keluar dari ruang tindakan.
Memang
omongan dari segelintir nakes bikin hati tidak enak dalam kondisi seperti itu tetapi
hanya segelintir yang kurang peka seperti itu. Bak nila setitik, nakes model
begini bisa merusuk susu sebelanga.
Satu
lagi untaian kalimat dari oknum dokter residen yang bikin tidak enak hati.
Bagusnya, profesornya menegurnya di dalam kamar rawat inap yang tentunya
didengar sendiri oleh suami (saya sedang pulang ke rumah waktu itu). Pak
profesor menekankan pentingnya menggunakan nurani dalam menghargai keluarga
pasien.
Merenungi
apa yang dikatakan Pak Profesor, dalam situasi krusial di rumah sakit, keluarga
pasien punya hak untuk menentukan sikap dan menolak saran medis sementara di
sisi lain, dokter tak boleh terlalu agresif dalam memveto situasi terkait.
Dalam
sistem yang berjalan sangat dinamis di rumah sakit, di saat gentung,
beraktivitas dengan HATI NURANI memang menjadi tantangan tersendiri bagi nakes.
Baik
pasien, para nakes, dan keluarga pasien sama-sama lelah dan punya pendapat
serta perasaan masing-masing. Bukanalah hal mudah untuk menyelaraskannya. Bukan
hal mudah pula untuk tetap WARAS dan soft spoken saat berada di bawah
tekanan. Yuk, mari sama-sama belajar bijak dari kasus "pasien
IGD yang akhirnya meninggal dunia ini".
[1] https://www.inilah.com/kronologi-lengkap-kasus-dokter-hina-pasien-bpjs-hingga-berujung-sidang-etik-idi
[2] https://nasional.kompas.com/read/2026/08/06/09340261/membela-almarhum-yurizal-pasien-bpjs-yang-dirundung-komentar-nirempati?page=all
[3] https://nasional.kompas.com/read/2026/08/06/18134291/kki-telusuri-dugaan-perundungan-pasien-bpjs-oleh-nakes-dan-named-lewat
Share :


0 Response to "Antara IGD dan Hati Nurani"
Post a Comment
Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^