Lagi-lagi, Wacana "Orang Dalam" di Kampus Impian – Lucu ya, di zaman seleksi masuk perguruan tinggi yang semakin transparan, ternyata masih ada yang percaya bahwa “orang dalam” adalah jalan terbaik menuju kampus Impian.
Apa yang Dimaksud Dengan Orang Dalam?
Secara umum, orang dalam
adalah seseorang yang berada atau bekerja di dalam suatu lingkungan, golongan,
atau instansi tertentu. Dalam praktiknya, istilah ini sering dipakai dalam dua
konteks utama: jalur khusus rekrutmen kerja dan kepemilikan informasi rahasia.
"Bantu ya, anaknya mau kuliah. Kau kan tahu jalurnya bagaimana masuk Unhas."
Kalimat itu kembali kudengar
beberapa waktu lalu. Salah seorang kerabat meminta bantuanku agar anak anggota
keluarga lainnya bisa masuk Universitas Hasanuddin lewat "jalur orang
dalam".
"Saya tidak tahu, Tante. Anakku masuk Unhas karena lulus tes," jawabku.
Jujur, saya masih heran.
Tahun 2026, ternyata masih ada saja yang percaya bahwa masuk perguruan tinggi
negeri bisa diurus melalui "orang dalam".
Padahal, saya sendiri masuk
Teknik Elektro Unhas pada tahun 1992 melalui jalur tes. Adik perempuanku
menyusul setahun kemudian di jurusan yang sama, sedangkan adik laki-lakiku
diterima di Teknik Informatika ITS pada 1997. Kami bertiga menjalani proses
sebagaimana mestinya. Tidak ada titipan, tidak ada orang dalam. Begitu pula
ketika anak-anakku mulai memasuki masa mencari kampus.
Apa Arti Jalur Orang Dalam?
Jalur orang dalam (ordal)
adalah cara mendapatkan pekerjaan, posisi, atau layanan lewat bantuan seseorang
yang sudah memiliki pengaruh atau hubungan di dalam sebuah instansi. Proses ini
sering dipakai agar seseorang bisa langsung diterima tanpa ikut seleksi umum.
"Ah, kau pasti tahu jalurnya. Tolonglah kasih masuk anaknya ini," desak tante itu lagi. Dalam hati saya hanya menarik napas panjang.
Andai beliau tahu bagaimana
jungkir-baliknya saya mendampingi anak-anak menghadapi proses seleksi masuk
perguruan tinggi. Andai beliau tahu bahwa saya punya banyak sahabat yang kini
menjadi dosen, bahkan ada yang kini sudah jadi profesor, di berbagai kampus
negeri maupun swasta. Namun demikian, tidak pernah sekali pun terlintas dalam
pikiranku untuk memanfaatkan pertemanan itu demi mempermudah jalan anak-anakku.
Persahabatan bagiku terlalu berharga untuk dibebani permintaan seperti itu. Saya memilih membiarkan anak-anak melalui proses yang memang harus mereka lalui.
Masih kuingat betul
perjuangan mendampingi Athifah menghadapi UTBK (Ujian Tertulis Berbasis Komputer) untuk masuk perguruan tinggi negeri. Saat itu saya mengatakan
kepadanya bahwa kemampuan matematika dan bahasa akan menjadi bekal penting
dalam menghadapi ujian.
Saya sendiri dulu menyukai
dua bidang itu sehingga berhasil lolos pada pilihan pertama. Sayangnya,
matematika bukan mata pelajaran favorit Athifah. Karena itulah saya
memintanya—bahkan lebih tepat disebut mewajibkannya—mengikuti les matematika
tambahan secara daring.
Lucunya, pada beberapa
pertemuan awal justru saya yang mengikuti kelas Zoom. Awalnya saya
memperkenalkan diri sebagai "mamanya Athifah". Lama-kelamaan saya
masuk menggunakan akun Athifah dan ikut berbaur dengan para siswa SMA. Saya
menikmati kembali belajar matematika yang sudah puluhan tahun kutinggalkan. Rasanya
seperti menemukan kesenangan lama.
Semua itu kulakukan agar
setelah kelas selesai saya bisa menjelaskan kembali materi yang belum dipahami
Athifah. Kami mengerjakan soal bersama, menonton ulang rekaman pembelajaran,
lalu membahas bagian-bagian yang masih membuatnya kesulitan. Proses itu
panjang. Tidak mudah. Tidak instan.
Karena itulah saya selalu merasa heran ketika ada orang yang dengan enteng berkata, "Tolong carikan orang dalam."
Tidak Perlu Jalur Ordal dalam Sekolah atau Kampus
Mengapa harus mencari jalan
pintas, sementara jalan yang benar masih bisa ditempuh?
Bagiku, ada beberapa alasan
mengapa jalur "orang dalam" bukan pilihan.
Pertama, proses adalah guru terbaik. Ketika anak berhasil lolos melalui kemampuannya sendiri, ia belajar menghargai perjuangan. Keberhasilan itu akan menjadi modal kepercayaan diri yang luar biasa.
Kedua, jangan merepotkan sahabat. Belum tentu teman yang bekerja di kampus nyaman menerima permintaan seperti itu. Sebaliknya, saya justru merasa bangga ketika seorang sahabat mengucapkan selamat karena anakku diterima di kampus tempat ia mengajar—bukan karena ia membantuku memasukkan anakku. Bahagia rasanya saat dia mengapresiasiku tak memintanya memasukkan anak kuliah.
Ketiga, tidak semua privilese harus kita miliki. Mungkin anak dosen memiliki kemudahan tertentu. Itu bagian dari kondisi yang memang melekat pada keluarganya. Namun jika kita bukan bagian dari kondisi itu, mengapa harus memaksa memperoleh perlakuan yang sama?
Terakhir, jika seorang anak harus "dimasukkan" ke dalam sistem yang sebenarnya belum mampu ia tempuh, apakah itu benar-benar akan membantunya?
Menurutku justru sebaliknya. Ia akan menjalani perkuliahan dengan beban yang lebih berat karena sejak awal tidak melewati proses seleksi yang semestinya. Padahal, ketika seseorang berhasil lolos melalui kemampuannya sendiri, dia akan memasuki dunia baru itu dengan kepala tegak dan keyakinan bahwa dirinya memang layak berada di sana.
💚💗💙
Mungkin terlihat keren bisa berada di kampus impian. Namun jauh lebih membanggakan jika sampai di sana karena kemampuan sendiri. Sebab pada akhirnya, yang akan menentukan keberhasilan bukanlah siapa yang membuka pintu untuk kita, melainkan kemampuan kita bertahan dan berkembang setelah berhasil masuk.
Jadi, jangan mencari orang
dalam. Percayalah pada proses. Karena proses yang jujur akan melahirkan hasil
yang juga membanggakan.
Makassar,
7 Agustus 2026
Baca juga:
Share :


kalo saya sih sesuai kemapuna saja. kalo kampusnya memang mendahulukan yng pakai ordal brarti emang kampusnya ga pas buat kita
ReplyDeleteTidak usah bergabung dengan yang pengennya apa-apa pakai ordal ya.
Delete