Ibu mertua rasa ibu kandung. Itulah beliau, St. Ruqaiyah Tantu Marwa. Saya sangat kehilangan dirinya. Tanggal 22 Juli lalu adalah tanggal saat Allah mengambilnya kembali. Saya beruntung, hubungan menantu-mertua bukanlah hubungan yang harus saya perjuangkan dengan keringat dan air mata. Hubungan kami baik. Tentunya, ini berkat ketulusan dan kebaikan rahimahallah ibu mertualah, hubungan ini mulus-mulus saja.
Perempuan yang mengajarkanku makna ikhlas ini tak pernah mengkritik menantunya meskipun ada hal yang
tidak cocok baginya. Dibiarkannya saya menjadi diri sendiri tanpa “mengharuskan”
saya melakukan hal yang ada dalam kebenaran perspektifnya.
Saya bahagia bisa membersamainya pada masa-masa akhir
hidupnya selama 2 tahun terakhir, terutama menjelang kepergiannya. Ikut mengantarkannya
ke rumah sakit, mendukung suami menjaga ibundanya, mencuci pakaian-pakaian
kotornya, dan membawakannya pakaian bersih ke rumah sakit.
Ada yang mengatakan saya “menantu yang baik” atau “menantu
idaman”. Bagi saya tidak. Apa yang saya lakukan adalah hal yang memang
seharusnya saya lakukan. Saya hanya berusaha berbuat baik, berdasarkan tuntunan
agama dan hal itu dipermudah dengan kebaikan-kebaikan beliau selama ini yang
menganggap saya seperti anaknya sendiri.
Islam mengajarkan anak laki-laki untuk berbakti kepada
ibundanya – dalam hal ini saya hanya mendukung suami saya. Sepuluh tahun lalu
suami saya pernah menunggui ibundanya selama 40 hari di ICU karena sakit kanker
paru-paru dan serangan jantung ketiga. Saya tak merasa cemburu apalagi marah.
Saat sadar, ibu mertua sampai meminta maaf padaku karena
anaknya di rumah sakit terus bersamanya. Tidak apa-apa, kubilang … bukan
kesalahan beliau. Allah memudahkan segala urusan ketika kita berupaya
menjalankan perintah-Nya. Saya pun yakin, Allah merahmati kami jika tulus
berkhidmat pada-Nya. Singkat cerita, beliau terbebas dari kanker. Kankernya negatif hanya penyakit jantung masih membayangi sisa hidupnya.
Menulis ini, kembali air mataku menitik. Kan kukenang
Mama sebagai orang baik. Perempuan yang senang membaca. Saat masih sehat, apapun
buku yang diberikan, dibacanya sampai habis, terutama buku-buku agama.
Mama adalah orang tua yang tidak senang berpangku
tangan. Tidak tahan jika diminta berdiam saja. Selalu ingin menyenangkan anak
dan cucunya. Memberi tanpa diminta. Tanpa diminta saja diberikannya, apalagi
jika diminta. Saat masih produktif, beliau merupakan guru agama Islam di SMP.
Hingga masa akhir hidupnya, beliau menerima gaji pensiun dari pemerintah dan untuk
urusan kesehatannya, ditanggung oleh BPJS.
Beliau tak pernah merepotkan anak dan cucunya. Saat
sakit, memang sudah seharusnya semaksimal mungkin kami rawat di rumah dan di
rumah sakit. Hanya khidmat dalam tindakan saja yang bisa kami upayakan maksimal
kepadanya. Semoga beliau ridho dan Allah pun ridho.
Jujur saja, rasa-rasanya tak pernah maksimal selama
membersamainya. Rasanya ada saja kekurangan tetapi hatiku terhibur jika
mengingat beliau tak sendiri, ada kami sekeluarga membersamainya selama 2 tahun
ini. Malam sebelum berpulang, saya dan anak-anak menemani suami menjagainya
sambil terus menuntunnya dengan lafadz-lafadz Allah. Lalu sebelum
mengembuskan napasnya, anak-anak dan cucu-cucunya yang lain datang dari luar
kota.
Jelang beliau berpulang, saya sempat terkecoh, mengira
dan berharap Mama akan membaik. Mata ibunda sering sekali terbuka, mengamati
anak-anaknya yang baru datang. Respon tubuhnya juga lebih baik, tubuhnya lebih
lemas saat digerakkan ke kanan dan ke kiri untuk diganti diaper dan pakaiannya.
Tidak seperti sehari sebelumnya, matanya kebanyakan
tertutup dan tubuhnya kaku. Tubuhnya berat saat digerakkan ketika kami hendak
mengganti pakaian dan diaper-nya. Senang melihatnya lebih sehat hari itu
jadi kuputuskan untuk pulang dulu sebentar, membawa pakaian kotor ibunda, menyiapkan
makanan untuk suami, dan membawa barang-barang yang diperlukan ke rumah sakit.
Saat itu juga banyak keluarga Malimpung yang menjenguknya.
Sayangnya, kepulanganku itu membuatku tak
menyaksikannya “pergi”. Rasanya sedih tetapi kubersyukur beliau berzikir
sebelum mengembuskan napas terakhirnya. Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha
wa’fu’anha. Semoga Allah mengampuni segala khilaf Mama dan menempatkannya
di tempat terbaik di sana.
Makassar, akhir Juli
2026
Share :


0 Response to "Ibu Mertua Rasa Ibu Kandung"
Post a Comment
Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^