Drama Ojek Online: Bukan Makanan yang Dipesan

Drama ojek online saya kira takkan saya alami lagi di masa pandemi Covid-19 ini. Saya lupa kalau masih memesan makanan secara online. Lupa juga kalau dulu pernah gondok sama driver ojek online yang membatalkan secara sepihak orderan makanan saya. Tapi kali ini bukan driver-nya yang bikin drama, melainkan merchant-nya.

Ceritanya, saya memesan pisang ijo untuk buka puasa. Satu paket berisi 3 pisang ijo dengan harga yang murah, sangatlah menggiurkan. Saya hitung-hitung cukuplah buat buka puasa kami seisi rumah. Kebetulan masih ada sisa kolak kemarinnya jadi dengan tambahan 6 pisang ijo, sangat-sangat cukup untuk buka puasa seisi rumah.

Saya menganulir pilihan lain yang muncul di benak karena tawaran harga yang menggiurkan. Soal rasa, belum diketahui, namanya juga baru pertama kali mencoba membeli di merchant ini. Beberapa kali coba-coba beli makanan, saya tak kapok. Saya pikir semuanya sama saja. Setidaknya rasa dari makanan yang mereka jual standard.


Saya pun bukan orang yang rewel soal rasa. Rasa yang standard sudah cukup enak. Kalau sudah cukup enak, tak ada alasan untuk tak puas. Kecuali kalau layanannya mengecewakan. Di mana-mana ya begitu ya, terkadang kita rela membeli sesuatu yang lebih mahal harganya asalkan pelayanannya bagus daripada membeli yang lebih murah tapi pelayanannya buruk.

Bagaikan Terjebak dalam Situasi Tak Terduga


Tak lama kemudian sang driver yang dinanti-nanti kedatangannya muncul. Cepat saja karena memang letak merchant-nya hanya sekira satu kilometer lebih dari rumah kami. Saya pun segera menyambut bawaan pak driver dan membawanya ke ruang makan.

Namun kecewanya saya ketika melihat isi dari masing-masing kemasan yang saya pesan hanya 2 pisang ijo. Harusnya tiga, kenapa cuma dua? Koq bisa ya merchant-nya seceroboh ini? Duh, rasanya seperti ditipu.

Katanya isinya 3.

Andai si empunya merchant menelepon dulu mengabari kalau isi kemasannya dikurangi, tak mengapa. Janganlah membiarkan pembeli merasa bagaikan membeli kucing dalam karung.

Apakah tidak terpikir ya sama si pemilik merchant kalau pembeli yang kecewa besar kemungkinan tidak akan kembali lagi membeli di tempatnya? Ini bukan soal rasa atau harga lagi melainkan soal kepercayaan!

Alasan Memberi Makanan yang Berbeda


Saya langsung mencari form pengaduan di aplikasi ojek online. Pas, pada pilihan isian ada yang sama dengan kasus yang saya alami. Saya tunggu hingga satu jam lamanya, tak ada respon dari pihak aplikasi maka saya mencari nomor kontak merchant yang bersangkutan di aplikasi. Ketemu dan alhamdulillah-nya, aktif!

Bicaralah saya dengan seorang ibu, “Satu jam yang lalu saya pesan pisang ijo, Bu. Tapi kenapa yang tiba cuma dua ya isinya padahal di aplikasi ditulis tiga? Apa memang cuma dua?”

“Oh, maaf, Bu, dikurangi jumlahnya karena mahal ki harga pisang, naik harganya. Maaf ya, Bu,” ucap perempuan di ujung sana.

Ternyata isinya cuma 2.

“Tidak apa-apa, Bu. Tapi tolong dikoreksi yang di aplikasi, ya,” ucap saya. Saya senang si ibu itu langsung meminta maaf dan menyampaikan alasannya.

Saya mah orangnya gampang luluh. Standard bahagia saya pun sederhana. Di samping itu, saya maklum saja sih. Kemungkinannya modalnya tidak cukup makanya dia mengurangi harganya.

Drama Ojek Online yang Semoga Jadi Pelajaran


Sekira 4 jam kemudian barulah ada respon dari pihak aplikasi. Ada email permintaan maaf masuk dan meminta saya menjelaskan lebih rinci lagi mengenai kejadiannya dan meminta saya mengirimkan bukti-bukti berupa foto struk dan foto makanannya.

Emailnya langsung saya balas dengan mengatakan bahwa saya sudah berbicara dengan empunya merchant dan yang bersangkutan menyatakan akan mengoreksi menu di aplikasi. Tak lupa di email saya lampirkan bukti foto makanan dan screenshot menu di aplikasi.

Dengan cepat email saya berbalas. Isinya sama saja, meminta penjelasan dan foto. Duh, lelah haha. Saya katakan kalau saya sudah jelaskan pada email sebelumnya dan meminta customer service untuk membacanya dan melihat lampiran yang saya kirimkan supaya saya tak perlu menjelaskan berkali-kali.

Ini semacam drama juga mendapati customer service yang menyuruh mengulangi hal yang sudah dijelaskan hehe.

Support dari penyedia aplikasinya keren.

Sekira sejam kemudian, masuk lagi email dari aplikasi yang menyatakan permintaan maaf dan bahwa mereka sudah memberi tahu pihak merchant juga untuk mengoreksi aplikasinya. Syukurlah, pihak penyedia aplikasi sangat memperhatikan hal-hal serupa ini jadi bisa push para merchant-nya untuk lebih peduli terhadap bentuk pelayanan secara online.

Kan sama saja ya, kalau secara dunia nyata, kalau ada perubahan di dalam penyajian menu, pasti disampaikan kepada pembeli, begitu pula pembelian secara online. Merchant harus menyadari ini supaya sama-sama nyaman. Semoga tidak terjadi lagi kesalahan yang sama kepada customer berbeda. Semoga tak ada lagi drama ojek online yang tak enak.

Makassar, 10 Mei 2020



Share :

11 Komentar di "Drama Ojek Online: Bukan Makanan yang Dipesan"

  1. Jualan online memang tak semudah yang dibayangkan.
    Harus memikirkan dan harus sering update dengan apa yang tertera di daftar online.
    Pokoknya ribet deh. Apalagi bagi yang awam atau yang baru terjun.
    Mikirin offline saja sudah kelimpungan
    Yang penting sama-sama memaklumi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hm iya sih. Kayaknya merchant-nya masih kagok ya, tidak ngeh. Semoga saja setelah ini dia lebih hati-hati.

      Delete
  2. Wah kita sama nih mba. Sekesal2nya kita pada suatu hal, sekalinya yang bersangkutan minta maaf masalah langsung selesai.

    Duh kangen pisang ijo. Di sini jarang ada.

    ReplyDelete
    Replies
    1. He he iya Bang Day. Saya salut sama orang yang mengakui kesalahannya dan mau merendahkan diri untuk meminta maaf. Sikap yang harus dihargai.

      Delete
  3. Assalamu alaikum kak niar... lama tdk bersilaturahmi d blog kak niar. Alhamdulillah kalau d respon ji sama pemilik merchant dan cs aplikasinya. Yahhh walaupun kecewa krn tdk sesuai dgn yg kt pesan

    ReplyDelete
  4. Pernah aku gitu juga mba, antara gambar yang dipamerkan dengan realita produk ternyata beda 180 derajat. Lha aku pesan ayam bakar dapatnya ayam lecap. Rasanya? Aduhhh gak semempesona di gambar haha

    ReplyDelete
  5. Hahaha seru kak tapi apresiasi lho.karena nggak semua orang bisa mengakui kesalahannya .

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah, masalah kalau dibicarakan baik-baik dan dengan kepala dingin, akan ketemu juga jalan keluarnya ya, Mbak. Begitu lebih baik daripada tiba-tiba membuat postingan di media sosial lengkap dengan screenshot percakapan. Padahal belum pernah berusaha untuk konfirmasi. Di luaran tuh banyak yang begitu. Sayang ya, nggak mau tabayyun dulu.

    ReplyDelete
  7. Aku pernah ngalamin juga mba, tapi mau marah gimna ya , kasihan aku juga liatnya karena aku fikir positfnya mungkin si driver lelah sampe g fokus dan kadang bayangin kalau posisi it di saudara kita sndiri kasihan kan , tapi emng lebih enak jalan sendiri sih kk ya kalau mau jajan mah jadi lebih puas🤗

    ReplyDelete
  8. sama, aku pernah ngalamin dan langsung protes aja, dripada ngedumel sendiri tak tentu arah. Klo portes ktia bisa jadi tahu apa yang terjadi

    ReplyDelete
  9. Aku belum pernah ngalamin bund
    Masih aman ini soal urusan pengantaran makanan. Nah kalau soal pengemudi sok tau arah dan akhirnya nyasar pernah sekali wkakaka. Padahal uda aku kasih tau jalannya lho. Hmmm si driver ngeyel.

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^