Drama Ojek Online: Kejar-kejaran dengan Pak Driver

Drama Ojek Online: Kejar-kejaran dengan Pak Driver – Saya mendidik diri untuk tak rewel dalam menjadi pemakai ojol (ojek online). Menunggu bermenit-menit, sampai 30 – 45 menit pun tak mengapa kalau saya memang tak buru-buru. Kalau buru-buru sih tidak mau saya menunggu  selama itu.

Pasalnya saya kasihan, membatalkan orderan berarti menghambat pekerjaan para driver ojek online. Lagi pula memesan ulang tidak menjamin saya bisa sesegera mungkin mendapatkan driver baru. Jadi, buat saya, nothing to lose-lah kalau memang tak buru-buru. Hitung-hitung melatih kesabaran.
 

Menunggu Ojek Online Tak Masalah, Asalkan ...


Berjalan kaki sampai 200 meter menghampiri ojol pun saya tak berkeberatan. Buat saya ada manfaatnya, kaki saya terlatih berjalan mengingat saya tak sering ke luar rumah. Anggap saja olahraga.

Bukan cuma satu-dua kali saya menunggu ojol dalam waktu lama. Pernah malah sudah duduk manis menunggu antaran makanan selama hampir sejam. Karena penasaran, saya menelepon warung makan tempat saya memesan, eh rupanya si driver membatalkan pesanan saya tanpa konfirmasi terlebih dulu. Saya baru menyadarinya ketika diberi tahu oleh orang di warung makan.

Orang yang menerima telepon saya bilang si driver tak mau menunggu karena lama. Rasanya seperti orang patah hati hahaha. Sudah terbayang saja makanan impian tapi diputuskan di tengah jalan secara sepihak oleh pak driver. Tak apa kau memutuskanku, Pak Driver tapi tolong, berikanku penjelasan. Katakan apa salahku.😭

Tentunya perilaku driver ini saya adukan kepada pihak perusahaan.


Walau kecewa, saya tak sampai menahan marah kepada di babang ojol. Saya mencoba memakluminya. Toh saya sudah melaporkannya.

Pernah pula saya menunggu sekira 30 menit padahal pak sopirnya berada tak jauh dari rumah, hanya sekira 200-an meter. Mustahil kan ya kalau dia cepat bergerak nyampenya ke rumah makan waktu sampai 30 menit?

Lagi-lagi, saya tak sampai menahan amarah. Saya menunggu dan tetap memberikannya bintang lima meskipun waktu itu saya sebenarnya sudah harus sesegera mungkin tiba di tujuan.

Beberapa drama juga berlangsung demikian. Lagi-lagi, saya tak sampai marah.

Kali Ini, Saya Sungguh Menahan Amarah!


Berbeda dengan kejadian malam Ahad kemarin. Saya memesan ojek mobil untuk mengantar saya, ayah – ibu saya, dan si bungsu Afyad ke pesta pernikahan. Memakai rok yang agak span menjadikan saya tak leluasa melangkah. Mantan mahasiswi Teknik ini mana bisa melangkah gemulai, bisanya melangkah gagah.

Tapi demi pak driver yang pasti kesulitan masuk berhubung tetangga dekat sini menggunakan bahu jalan sebagai tempat kongkow, saya bersedia berjalan sekira 50 meter ke arah timur. Ayah dan ibu saya pun tak berkeberatan.

“Tunggu maki’ di situ, Pak. Saya lihat mi mobil ta’,” saya yang sudah melihat mobilnya mendekat ke arah kami, mengajak kedua orang tua dan putra bungsu saya mendatangi mobil tersebut.

“Tunggu maki’ di situ, Pak. Saya lihat mi mobil ta’," kami pun bergerak
dari A menuju B.

Sampai di sana, mobil itu malah menjauh, bergerak sejauh 30-an meter ke arah selatan. E e e e ... apa ini, diminta menunggu malah menjauh?

Saya menelepon lagi, memintanya berbalik arah, “Pak, kenapa ki’pergi? Saya bilang tunggu maki’. Ada saya menunggu ini di tempat tadi saya bilang supaya kita’ tunggu ka’! Ke sini ki’, saya sama dua orang tua ini soalnya. Kembali ki’!”

Saya menunggu lagi. Saya pikir dia akan kembali menjemput saya dan rombongan kecil yang saya pimpin. Andai saya sendirian atau dengan si bungsu saja dan leluasa berjalan kaki, saya akan bergegas menyusulnya. Tak masalah jika tak ada halangan.

Tapi kali ini, saya kan bersama ayah yang berusia 79 tahun, ibu yang berusia 76 tahun, dan saya menggunakan rok yang agak span! Bukan hal mudah buat kami. Ayah saya mungkin masih bisa bersabar dan berjalan kaki lagi karena beliau terbiasa berjalan kaki ratusan meter. Tapi Ibu? Ibu saya belum tentu bisa, mau, dan belum tentu bersabar. 🙈

Tunggu punya tunggu, tak ada bau-bau mobil mendekat. Ya Allah, di sini saya mulai gemas. Saya takut menyusahkan kedua orang tua dan saya takut menghadapi akibat jika ibu saya tak mampu bersabar.

Saya melihat kedua orang tua saya masih bersabar. Kalau biasanya Ibu sudah mengomel-ngomel dalam situasi ini, kali ini alhamdulillah, beliau diam saja. 😅

 “Pak, kenapa ki’pergi? Saya bilang tunggu maki’!"
Saat tiba di B, pak driver malah bergerak ke C.

“Di sana mobilnya. Bagaimana? Kita ke sana saja?” tanya saya kepada keduanya sembari menunjuk arah mobil itu pergi. Keduanya mengiyakan.

Ya sudah, kami menyusul mobil itu. Namun apa yang kami dapati saudara-saudara? Bayangan mobilnya pun tak ada.

Ya Tuhan, bagian mana dari perkataan saya yang tidak dimengerti bapak itu? Rasanya sudah jelas sekali. Kata menunggu itu tidak ada biasnya. Diminta menunggu lalu diminta berbalik. Saya harus pakai bahasa apa? Bahasa Inggris? 😵

Tanduk imajiner di kepala saya naik.😈 Untuk menurunkannya kembali saya ber-istighfar sepenuh hati. Jangan sampai saya tak bisa menguasai diri dan memaki-maki pak sopir itu. Gemas sekali saya. Saya bersama dua orang tua ini, Paak. Dan saya memakai rok setengah span! 😬😰

Bukan hanya itu sebenarnya. Sejak pagi tadi berbagai hal terjadi. Dan berbagai hal itu membuat keadaan emosional saya naik dan turun secara tajam. Putri saya Athifah sampai beberapa kali membujuk saya supaya tersenyum – mungkin karena wajah saya tak enak dilihat.

“Pak, di mana ki’? Ndak ada maki’ saya lihat. Balik ki’!” nada lebih tegas saya perdengarkan kepada Pak Sopir.

“Di mana ki’?” tanya pak driver.

Saya menjelaskan posisi kami, sembari terus ber-istighfar. Berulang kali saya sebutkan tanda-tanda bangunan mencolok yang ada di situ dan meminta dia berbalik arah.

“Pak, di mana ki’? Ndak ada maki’ saya lihat. Balik ki’!” nada lebih tegas
saya perdengarkan kepada Pak Sopir.

Sekian menit kemudian terlihat sinar lampu mobil mendekat. Akhirnya muncul juga mobil yang kami kejar-kejar. Baru kali ini saya kejar-kejaran dengan mobil ojek online. Baru kali ini prosesi menunggu pak driver ojol membuat saya menahan marah.

Istighfar Berhasil Menurunkan Tanduk Itu


Kami masih harus berjalan kaki 10 meter ke arah timur untuk menyongsong mobil itu. Saya membuka pintu mobil di belakang driver lalu mengonfirmasi tujuan. Istighfar berhasil meredakan amarah dan menurunkan tanduk imajiner yang sudah naik tadi. Sekilas saya perhatikan postur tubuh pak sopir dan raut wajahnya dari samping.

Untung saya tidak jadi memarahinya. Rasanya ndak tega marah-marah pada seorang bapak yang usianya saya perkirakan 55 tahun. Kayaknya saya bakal jadi anak durhaka jika berani memarahi orang yang lebih tua. Fiyuh.

Perjalanan dengan ojek online kali ini jadi pelajaran berharga bagi saya. Dalam hati saya mengucap hamdalah. Bersyukur bisa menahan amarah. Bersyukur kali ini berhasil melawan diri sendiri dan memberikan si pak sopir bintang 5.

Makassar, 25 November 2019

Baca juga:




Share :

30 Komentar di "Drama Ojek Online: Kejar-kejaran dengan Pak Driver"

  1. Ceritanya sangat inspiratif Mbak, bisa menahan emosi dan bersabar. Terimakasih sudah berbagi cerita ini Mbak.

    ReplyDelete
  2. Iya Mbak, terkadang driver ojek onlain memang sangat menjengkelkan. Namun, juga banyak yang ramah kok.

    ReplyDelete
  3. Wah hebat banget ya Mbak, bisa menahan amarah sampai saat itu.

    ReplyDelete
  4. Iya Mbak, saya kadang juga jengkel tapi tidak tega untuk memberikan bintang yang jelek.

    ReplyDelete
  5. Kok drivernya membingungkan gitu ya Mbak hehe, ada apa sebenarnya hehe.

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah ya Mbak, meskipun hari itu Mbak Mugniar sekeluarga sedang diberikan ujian kesabaran. Alhamdulillah, Mbak Mugniar berhasil melaluinya dengan baik. (^^,)

    ReplyDelete
  7. Hyahaahhaha, memang begitulaaaah Mba
    Kalo mau ditulis, buanyaaakk banget dah drama yg keluarga kami alami dgn ojek/taksi online.
    Tapi thanks God ada GoJek dan Grab ya.
    Sangat mempermudah hidup BANGET

    ReplyDelete
  8. Masya Allah, drama ojek online berseri, mi, hihihi.
    Hitung-hitung, jadi inspirasi artikel.
    Luar biasa!

    ReplyDelete
  9. awal-awal menggunakan aplikasi ojek online mirip dengan cerita mba ini, alhamdulillah kesininya, setiap hari menggunakan jasa ojek online drama mulai berkurang.

    ReplyDelete
  10. Jadi inget drama ojol yang pake mobil juga, hampir sejam nungguin sama temen-temen taunya si driver ngakalin maps-nya dimuter-muterin kayak bola kusut yang harusnya kita bayar 20rban jadi bayar 60rb padahal ga jauh tujuannya. Ternyata dia juga udah pick up di jalan sebelum jemput kita. Balik-balik kita protes sama CS-nya, dan duit dibalikin. Apes banget dapet driver nggak sholeh gitu, Mba :))

    ReplyDelete
  11. Yaa allah, iya pernah gini juga. Jalan kaki lumayan jauh demi menyongsong mobil ojol yang nggak mau mendekat

    ReplyDelete
  12. Kak niarrr... aku jg ga bisa marah sama ojol or driver mobilnya. ga tegaan perasaan. terakhir dpt driver yg ngeselin saat belanja panci bareng buibu tetangga. drivernya ga mau bukain bagasi. jadilah kami semua memangku dus gede masing2. sepanjang jalan jg cemberut terus. sama ibu yg punya aplikasi langsung dikasi bintang 3

    ReplyDelete
  13. sabaaaar Niaar .. ojek online kan orang biasa aja ya jadi ga dapet pelatihan mentreatment jadi ya giru deh

    ReplyDelete
  14. Ya Allah....makan hati.
    Sebagai pemakai Taxi dan Ojek online saya faham yang dirasakan Kak Mugniar, deh.
    Saya kadang bertemu juga driver jengkelin gitu. Ingin rasanya kasih bintang 1 tapi ya ga tegah. akhirnya ga tak kasih tips saja hukumannya.

    ReplyDelete
  15. Nah kadang yang buat kita kepikiran itu orangtua apalagi yang usia lanjut. Aku bawa anak jalan jauh ke arah mobil juga mikir karna kasian anak

    ReplyDelete
  16. Mbak Niar tanya gak kenapa drivernya muter-muter gitu? Saya penasaran hihihi. Tetapi, salut dengan kesabarannya. Cuma ya saya juga suka gak tega kalau udha terlanjur naik. Paling saya cancel aja kalau udah kesal hahaha

    ReplyDelete
  17. Luar Biasa kak.. sudah mampu menahan utk tidak marah dan tetap memberi bintang 5. Senoga tidak perlu drama2 lqgi kak kalo pake jasa ojol..

    dianesuryaman dot com

    ReplyDelete
  18. Pake arahan gambar titik a-b-c-d bikin aku bisa membayangkan juga bagaimana kejadiannya hehehe.. gemas ya mbak

    ReplyDelete
  19. Waduh, jadi kenapa katanya? Drivernya enggak ngerti atau gimana? Hebat banget mbak bisa sabar, salut :)

    ReplyDelete
  20. Enggak semua bisa kayak Mbak Niar, sabaaaar! dan yang jadi kunci Istighfar.
    Wah mesti belajar juga saya ya...
    Memang belum pernah drama bangets selama naik ojol, karena banyakan naik yang motor bukan mobil. Paling sering, saya di seberang sini, bang ojol di seberang sana, padahal dah naik turun tangga TransJakarta hahaha. Atau, saya nunggu di depan gedung dia nunggu di belakang, saya jalan ke belakang lagi jadinya padahal tadi saya dari sana. Duh, ada aja !

    ReplyDelete
  21. Kalau saya juga gak masalah menunggu asalkan kalau saya kontak pak drivernya jangan diam aja. Biasanya saya tunggu 5 menit utk balas pesan, kalau dalam 5 menit gk ada kepastian terpaksa sekali saya cancel namun biasanya saya minta maaf dulu, apalagi kalau buru2.

    ReplyDelete
  22. Lika liku menggunakan ojeg obline ya mba.. akupun sama beberapa kali naik pitam tp harus sabar sabar sabar tarik nafas buang gt aja terus.. selalu mencari sisi positif dari kejadian..

    ReplyDelete
  23. Ikut emosi bacanya Mbak. Lalu ikut beristigfar juga haha. Astagfirullah. Semoga Mbak dan keluarga diberi bonus oleh Allah SWt atas kesabarannya.

    ReplyDelete
  24. Wuaah pernah sampai menunggu 30 menit mba? Aku sih gak sampai 5 menit gak ada kabar aku langsung cancel.

    ReplyDelete
  25. suka duka pesat ojek online gini ya mbak. Aku sekarang kalau drivernya gak chat lgs aku telp kalau gak diangkat lgs aku cancel soalnya nanti buang waktu gak jelas

    ReplyDelete
  26. Aku pernah mengalami ini Juga mba... Mau cancel tapi butuh terus kasihan tapi kok lama..akhirnya mau gal mau nunggu.. kadang mau melaporkan Juga kasihan

    ReplyDelete
  27. mbak baik bener sih. sabar banget. saya udah ngomel2 tuh mbak. apalagi kalau sampai bikin mama saya kewalahan, saya bakal naik pitam. eh istighfar

    ReplyDelete
  28. Wah saya gak kebayang kak kalau masih ada ojol yang bersikap seperti itu dalam artian ketika membatalkan tidak konfirmasi dan kedua menyusahkan costumer, padahal boleh dikata ojol itu semestinya bersyukur ketemu cs seperti kita karena msh bisa sabar, yang lainnya pengalaman pribadi malah bisa saja sadis kepada driver kalau diperlakukan semena-mena.

    ReplyDelete
  29. Duh kalau saya udah g bisa sesabar itu deh huhuhu udah emosi jiwa dan raga kayaknya

    ReplyDelete
  30. Saya alhamdulillah belum pernah nemu driver yang sampai bikin marah sih. Tapi, saya pernah cancel orderan karena driver saya ngga muncul2. Ditelepon berkali2 pun ngga diangkat, padahal saya sedang buru-buru. Saya positive thinking saja, mungkin beliau ketiduran dan lupa mematikan aplikasi.

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^