Jika Keraguanmu Berjilbab Dikarenakan 3 Hal Ini Maka Tepislah

Tepis 3 Keraguan Berjilbab - Fase berjilbab bagi setiap orang tak sama. Ada yang sampai kepada keputusan mengenakan jilbabnya dengan mudah dan ada yang dengan berliku. Meskipun tahu hukumnya dalam Islam berjilbab itu wajib namun dalam pelaksanaannya tak semudah niat yang sudah terpatri sejak jauh-jauh hari.

Makanya akhirnya banyak yang ragu-ragu dan menyimpan niat tulus berjilbabnya untuk kemudian hari. Dengan harapan suatu hari nanti segala sesuatunya akan lebih mudah baginya. Padahal umur tak ada yang tahu sampai kapan diberikan oleh Sang Pemilik Hidup.


Oleh sebab itu, jika keraguanmu berjilbab karena 3 hal ini, hilangkanlah keraguanmu dan cobalah untuk terus istiqomah memperjuangkan jilbabmu:

1. Orang tua melarang.

Saya berjilbab sejak tahun 1994, saat masih duduk di bangku kuliah. Padahal niat berjilbab timbul sejak tahun 1989 – 1990 ketika saya mulai ikut kajian keislaman khusus untuk perempuan di SMA. Sayangnya ketika duduk di kelas 2 SMA, tahun 1990, ibu saya mematahkan keinginan berjilbab dan saya menurutinya.

Menurut Ibu, jilbab itu hanya budaya orang Arab. Padahal perintahnya ada di dalam agama Islam. Saya memerlihatkan dalil-dalilnya seperti QS. An Nur: 31, QS. Al Ahzab: 59, dan beberapa hadits namun Ibu tetap membantahnya. Maklum saja, pada tahun 1990, jilbab masih merupakan pakaian aneh. Yang mengenakannya meskipun ukurannya tidak besar, banyak yang dituduh ekstrem

Walau gagal, saya masih menyimpan niat berjilbab hingga benar-benar terlaksana pada 17 Maret 1994. Sebelum mengenakannya, saya sudah mengumpulkan beberapa potong kemeja berlengan panjang, jilbab, dan rok/kulot. Saya memberitahukan kepada kedua orang tua bahwa saya akan berjilbab. Saya bertekad tetap akan mengenakannya meskipun orang tua saya melarang.

Sumber: tafsirq.com

Mengapa? Karena lebih utama menjalankan perintah Allah yang tentu saja ada ketentuannya dalam Islam ketimbang mengikuti larangan orang tua yang tidak ada ketentuannya dalam Islam. Tentunya sebagai anak, tetap harus berlaku sopan dan tidak berkata kasar.

Kedua orang tua tak berkata apa-apa ketika saya benar-benar berjilbab. Mulanya mereka tertawa ketika saya buru-buru masuk kamar untuk berjilbab ketika ada laki-laki yang bukan mahram masuk ke dalam rumah kami namun lama-kelamaan mereka yang memberitahukan duluan jika ada tamu laki-laki bertandang supaya saya segera siap dengan jilbab atau tetap berdiam di dalam kamar.

Perlahan tapi pasti kedua orang tua menerima ketentuan berjilbab. Adik perempuan saya tak ditentang ketika dia juga memutuskan berjilbab. Pelan-pelan makin banyak saja di antara keluarga kami berjilbab bahkan berjilbab/baju muslimah menjadi mode hingga kini. Ibu saya pun mengenakannya pada sekitar tahun 2003.

Jadi, jangan ragu, ya jika mengalami masalah seperti ini. Keep istiqomah sembari terus berdoa. Dulu itu saya senantiasa berdoa supaya Allah memberi kesempatan mengenakan jilbab. Allah akan memberikan jalan kepada kebaikan jika kita berusaha.

Gambar dari pexels.com


2. Atasan melarang,

Dalam kehidupan seorang muslimah, segala sesuatunya adalah ibadah, termasuk dalam berpakaian, bersosialisasi, bekerja, belajar, dan sebagainya. Ketika atasan melarang kita melaksanakan syariat Islam, apalagi jika sampai melarang mendirikan shalat maka berarti di situ bukan tempat kita.

Banyak kisah yang saya dengar, mereka yang berjuang, mencari nafkah namun tetap mempertahankan jilbabnya. Perempuan-perempuan seperti itu tak ditinggalkan oleh Allah. Percayalah!

Yang terakhir saya baca adalah kisah Mbak Vivi (LiRaNa Mom) pada tulisan berjudul My Jilbab is My Hijrah, di mana dirinya kemudian justru mendapatkan pekerjaan yang gajinya jauh lebih besar daripada gaji di pekerjaan yang melarangnya berjilbab.

Nah, perbanyak berdoa dan yakinlah kepada Allah. Kalau memang mencari ridho dan berkah-Nya, Dia akan berikan jalan meskipun itu berliku seperti yang ditempuh Mbak Vivi, dia harus berangkat dari Medan menuju Banda Aceh. Tapi di tempat yang barulah dia peroleh berkah itu.

3. Merasa belum siap.

Sewaktu Ibu melarang berjilbab pada tahun 1990, saya memperlihatkan dalil-dalilnya sampai menangis mengiba. Ibu berkeras dan akhirnya saya luluh pada perkataan Ibu. Langkah saya surut dan tidak berani berjilbab. Rasa tidak siap begitu menguasai saya.

Saya jadinya mempercayai kalau diri saya tak siap. Ya, dengan kepercayaan diri seperti ini bagaimana bisa berjilbab. Sudah pasti perasaan itu harus ditepis dengan terus berdoa agar Allah memantapkan hati kita.

Di awal berjilbab pun saya merasakan ujian hebat. Selama 3 bulan pertama, ada desakan kuat dari dalam diri untuk melepasnya. Tak mudah menahannya karena di lingkungan keluarga pun saya kelihatan aneh. Salah seorang sepupu menuduh saya anggota sebuah perhimpunan mahasiswa Islam karena berjilbab.

Dia pikir, kader dari perhimpunan itu pastinya punya pikiran ekstrem untuk berjilbab. Saya membantahnya karena memang niat saya berjilbab sudah sejak lama dan saya bukan anggota perhimpunan itu. Takdir di kemudian hari menunjukkan malah istrinya turut mengenakan jilbab.

Godaan untuk melepas jilbab, alhamdulillah berhasil saya atasi dan hingga sekarang saya masih berjilbab dan merasa nyaman dengan pakaian saya sehari-hari ini. Semoga Allah menjaga untuk terus berketetapan hati mengenakannya.

Sumber: pexels.com

Nah, bagaimana, adakah di antara kalian yang masih ragu? Banyak-banyaklah berdoa, ya. Keraguan adalah bentuk dari bisikan yang harus ditepis untuk menjalankan perintah Allah. In syaa Allah akan ada berkah dan ridho-Nya jika menjalankan perintah-Nya.

Makassar, 24 November 2019

Baca juga:




Share :

5 Komentar di "Jika Keraguanmu Berjilbab Dikarenakan 3 Hal Ini Maka Tepislah"

  1. Klo aku dulu malah suami yang belum kasih lampu hijau. Tapi aku nekat. Selain tiap hari aku omongin kenapa aku pengen berhijab. Alhamdulillah lama-lama bisa terima juga.

    ReplyDelete
  2. Jadi teringat saat mulai mengenakan jilbab, usia tak muda lagi hikss. Jujur.... salah satu inspirasi sy berhijab adalah dirimu say.... Mugniar.

    ReplyDelete
  3. Ternyata ada juga ya orang tua yang gak izinin anaknya pakai hijab... Lalu akhirnya ibu ta pake hijab saat umur berapa kak? Jangan-jangan malah Kak Niar duluan yang pake hijab dibanding ibu?

    ReplyDelete
  4. Saya pake hijab sejak tahun 1983, satu-satunya remaja putri yang pake hijab di lingkunganku. Awalnya pake karena tuntutan organisasi, lama-lama sudah biasa akhirnya jadi tak nyaman kalau tidak pakai.
    Alhamdulillah, sekarang hijab sudah familiar dan sudah banyak yang pakai.

    ReplyDelete
  5. Sekira tahun 2004 saja jilbab masih asing alias masih banyak yang belum menggunakan apalagi di tahun 1994. Maa syaa Allaah, waktu itu umur saya bahkan baru dua tahun, hehe.

    Btw salut dengan kebulatan tekad kak Niar saat memutuskab berjilbab. Yup, sebagai anak memang kita wajib mematuhi perintah dan larangan orang tua namun jika itu bertentangan namun dengan perintah dan larangan Allah jelas tidak wajib kita ikuti.

    Kisah saya waktu awal berjilbab malah sebaliknya. Kalau ibunya kak Niar yang melarang, mama saya yang malah ngotot banget anaknya ini berjilbab. Sampai-sampai tanpa meminta persetujuan saya beliu udah langsung pesan jahit seragam SMP lengan panjang dan membelikan beberapa lembar kerudung. Saya yang tadinya menolak pake jilbab akhirnya jadi terpaksa mengenakannya.

    Ya meskipun di awal pake jilbabnya karena terpaksa tapi pada akhirnya saya bisa ikhlas mengenakannya.

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^