“Rumah Tanpa Cahaya” itu seperti apa? “Sesedih itu,” kata seorang Perempuan yang duduk di dekat saya saat saya tanyai kesannya usai menonton screening film Rumah Tanpa Cahaya tanggal 10 Februari lalu di XXI Panakukang. “Keadaan tak sama lagi setelah tak ada ibu,” kurang lebih demikian komentar seorang ibu.
Mirip-mirip
dengan keadaan saya juga di rumah, dalam hal yang berbeda. Saya sampai-sampai
sering bertanya-tanya sendiri, kalau saya meninggal, bagaimana urusan A, B, C,
dan seterusnya dalam rumah ini? Ternyata pertanyaan itu dijawab dalam film
ini lho.
Sedikit Kritik
Bedanya,
Bu Nur senantiasa menyelesaikan segenap pekerjaan rumah dan urusan jualannya
dengan tersenyum sementara saya bukan ibu peri yang bisa seriang itu setiap
harinya. Agak absurd sih menurutku – adakah orang seperti itu di dunia
nyata?
Tidak
perlu selalu tersenyum, masa sih setelah sekian puluh tahun berbelanja
setiap pagi buta ke pasar, sekitar jam 2 dini hari, mengurusi usaha empal gentong dan
segala sesuatunya bisa tersenyum terus sejak pagi buta sampai malam hari jelang
naik ke peraduan?
Bu
Nur adalah motor utama penggerak bisnis warung makan keluarga mereka. Dia yang
pergi berbelanja bersama salah seorang anak lelakinya ketika suami dan anak
lelakinya yang lain masih tidur. Dia pula yang mempersiapkan semua bahan dan
memasak untuk warung makan. Dia membangunkan tiga lelakinya untuk shalat subuh,
sampai mengurus tanaman.
Bu
Nur juga yang mengurusi segala urusan rumah tangga, memasak, menyiapkan
makanan, mengurus rumah, termasuk urusan pakaian kedua anak lelakinya. Sungguh
potret ibu yang ada di benak kebanyakan orang Indonesia. Bayangkan, mengurusi
urusan rumah tangga yang tak ada habisnya saja melelahkan, ini ditambah dengan
mengurus perputaran roda restoran sederhana empal gentong milik keluarga
mereka.
Sekeluarga
memang mengurusi warung makan. Suami dan kedua anaknya membantu namun tetap
saja yang paling capek Bu Nur karena dia sejak dini hari sudah terbangun dan
baru terlelap pada malam hari setelah pulang ke rumah usai menutup warung.
Kalau
di dunia nyata ada manusia seperti Bu Nur yang senantiasa tersenyum … wah, saya
pengen belajar deh padanya. Ilmu ikhlasnya tinggi sekali tuh.
Saya kenal ibu-ibu yang sedemikian pekerja kerasnya sertiap hari dan sangat
sabar tetapi belum nemu yang selalu tersenyum begitu. Mereka senyum
seperlunya saja, kepada orang di dekatnya atau yang menyapanya. Lalu bekerja
dalam diam, tanpa mengeluh. Walau tak mengomel, mereka diam dengan wajah datar
atau tenang yang tak menunjukkan emosi apapun TETAPI BUKAN TERSENYUM WALAU
SEDANG SENDIRI. Ini maksud saya hehe.
Oke,
di situ saja ganjalan saja. Selebihnya, saya suka
film drama yang disutradari oleh Ody C. Harahap, serta diproduksi oleh Citra
Sinema dan SinemArt ini. Jalan kehidupan ketiga lelaki serupa dengan keluarga
lain yang sentranya berada pada sesosok IBU.
Ibu
yang meninggal secara tiba-tiba, membuat kehidupan yang selalu teratur mendadak
kacau. Bukan hanya rutinitas keseharian yang kacau, Kedai Empal Gentong Bu Nur
juga terganggu karena sang pemegang resep rahasia tak bisa lagi menurunkan
resep empal gentong andalan keluarga.
Bisa
ditebak, kehidupan ketiganya mengalami ujian silih berganti, begitupun warung
makan. Sampai di titik ekstrem, ketiganya mengalami ujian berat dan modal nyaris
habis – di sini klimaksnya. Saya suka dengan ending ceritanya. Solusi di
bagian akhir film tak tertebak oleh saya.
Dari keseluruhan film yang saya tonton, ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari film yang menampilkan Donny Damara sebagai ayah dan kedua anaknya yang diperankan oleh Lavicky Nicholas (Azizi) dan Ridwan A. Ghany (Syamsul):
Pergulatan Antara Sisi Patriarki dan Matriarki
Awalnya
terkesan ada sisi patriarki yang kuat dalam film ini. Laki-laki digambarkan
sebagai orang-orang yang dilayani sementara perempuan sebagai orang yang melayani.
Mantan istri Syamsul dan calon istri Azizi protes keras ketika menduga hendak “dipekerjakan”
di warung dan melayani keluarga mereka. Mereka tak mau disuruh belanja dan memasak
– “bukan pembantu”, begitu kasarnya. Mantan istri Syamsul masih mengungkit alasan
perceraian mereka dengan penuh emosi dan menyatakan kebahagiaannya setelah perpisahan
mereka meski kemudian harus menjadi buruh cuci.
Di sisi sebaliknya, Bu Nur digambarkan sebagai perempuan tangguh. Dialah sosok penting di balik bisnis keluarga. Bukan hanya sekadar sebagai “tukang belanja dan tukang masak”, Bu Nur yang menentukan arah bisnis dan value-nya. Seperti bukan jam berapa sampai jam berapa, kapan perlu menambah jam buka warung, dan apa alasan warung hanya dibuka sampai sore.
Tingkat Ikhlas Tertinggi
Saya pikir tingkat ikhlas tertinggi adalah ketika kita bisa senantiasa tersenyum dan mengerjakan segala sesuatunya dengan hati lapang – itu yang saya pelajari dari sosok Bu Nur. Saya berharap bisa sampai ke tingkat ini kelak. Tanpa keluhan, bersyukur dengan apa yang dimiliki, hingga siap kapan saja maut merenggut. Bagi sosok Ikhlas seperti Bu Nur, mau diambil nyawanya kapan saja, tidak masalah.
Realistis
Sosok Alia, kekasih Azizi yang diperankan oleh Dea Annisa yang dulu nama bekennya Dea Imut ini menunjukkan bagaimana menghadapi calon suami yang belum bisa memberikan kepastian. Keyword-nya adalah REALISTIS. Beri dia waktu tetapi jangan berpanjangan, sampai batas waktu yang kompromistis. Jangan lawan orang tua, ikuti arahan serta harapan orang tua. Lalu ketika batas waktu dilewati, beralih saja kepada calon jodoh yang datang yang direstui orang tua. Yes, itulah realistis, tak mendewakan cinta semata. Memangnya bisa makan cinta saja setelah menikah?
Cari Solusi
Ketika menghadapi masalah, solusi atau jalan keluarnya harus dicari, jangan berdiam diri saja. Dalam film Rumah Tanpa Cahaya ini, digambarkan betapa keras upaya Syamsul, Azizi, dan ayah mereka dalam mencari solusi dari berbagai masalah yang timbul. Banyak cara mereka coba lakukan, mulai dari yang masuk akal sampai yang di luar nalar. Sampai akhirnya jalan keluar yang mereka butuhkan terpampang jelas di depan mata dalam cara yang paling masuk akal. Namun demikian, “jalan berliku” harus mereka tempuh untuk sampai ke situ.
Darah Lebih Kental daripada Air
Pernah dengar ungkapan yang menyatakan bahwa “darah itu lebih kental daripada air”? Maknanya kurang lebih bahwa hubungan darah itu sangat kuat, tak bisa dikalahkan dengan bentuk hubungan lain. Itulah yang tergambar dalam film ini. Ketiga lelaki yang kehilangan cahaya itu paham betul makna dari hubungan darah mereka meski beberapa kali melalui pertengkaran hebat.
Antisipasi Ibu
Ibu
dalam posisinya sebagai “cahaya” selayaknya mulai memikirkan solusi semasa dia
hidup sehingga kalau-kalau sewaktu-waktu ajal menjemput, keluarga intinya tidak
berada dalam kondisi ibaratnya “bagaikan anak ayam kehilangan induknya”. Memang
kepergian orang terdekat harus diikhlaskan tetapi tak ada salahnya jika
dipikirkan sejak masih hidup mengenai solusi yang akan membantu keluarganya pulih pelan-pelan. Dengan
demikian, dia bakal “lebih tenang” meninggalkan keluarganya. Kabar baiknya pula,
kenangan tentangnya akan tetap hidup di antara orang-orang terkasihnya.
***
Deddy
Mizwar sebagai penulis skenario film Rumah
Tanpa Cahaya berhasil menulis cerita yang indah. Sebagaimana
khas Deddy Mizwar, film ini juga menampilkan sejumlah value dan hikmah
pembelajaran, bukan sekadar tontonan yang memancing air mata mengalir. Alur ceritanya
pun logis, tak ada bagian yang terlepas ataupun janggal meskipun para tokohnya
melakukan hal-hal di luar nalar. Good job!
Makassar, 26 Februari 2026
Share :


0 Response to "Review Film Rumah Tanpa Cahaya"
Post a Comment
Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^