Jalan jalan ke Bangunan Bersejarah Kota Makassar Ala Lembaga Lingkar

Sempat ragu tak bisa maksimal ikut wisata sejarah sembari jalan-jalan ke bangunan bersejarah Kota Makassar yang berlangsung tanggal 14 September karena stamina yang turun-naik, ternyata saya salah. Saya bisa juga menyelesaikan tantangan berjalan kaki sekira 2 kilometer setelah menghabiskan sebotol minuman ion.


Bermula dari Fort Rotterdam


Masih di benteng kebanggaan Fort Rotterdam saya habiskan minuman ion itu. Fort Rotterdam  yang dibangun oleh Karaeng Tumapparsi Kallonna pada tahun 1545 menjadi titik kumpul kami – para peserta ajang yang diberi nama Djalan-djalan ke Bangoenan Bersedjarah Kota Makassar.

Sembari menunggu para peserta hadir semua, kami mengganti kostum dengan baju kaos berwarna abu-abu dan name tag yang diberikan panitia dari Lembaga Lingkar. Lembaga Lingkar ini komunitas yang concern dengan sejarah dan kerap menyelenggarakan kegiatan yang mendekatkan sejarah dengan warga kota. Ini kegiatan Lembaga Lingkar kesekian kalinya yang saya ikuti.


Selalu saja menarik mengelilingi benteng yang memiliki luas bangunan 11.805,85 meter persegi ini. Pada lahan seluas 12,41 ha, terdapat 16 unit bangunan, sumur kuno, parit keliling, dan memiliki 5 bastion yang penamaannya sesuai kerajaan sekutu seperti, Bone, Bacan, Buton, Mandarsyah, dan Ambonia yang diisi pasukan sekutu.

Benteng ini dahulu berfungsi multi fungsi, mulai dari benteng pertahanan masa kerajaan Gowa-Tallo, benteng pertahanan, pemukiman pejabat dan elite Eropa, rumah sakit, kantor pemerintahan dan kantor dagang, dan gudang perdagangan pada masa VOC hingga Hindia Belanda.


Ketika masa pendudukan Jepang (1942 – 1945), Benteng Rotterdam digunakan sebagai pusat penelitian ilmu pertanian dan bahasa. Pada tahun 1945 – 1949, Benteng Rotterdam beralih fungsi menjadi pusat kegiatan pertahanan Belanda dalam menghadapi para pejuang Republik Indonesia.

Pada tahun 1950 benteng ini sempat menjadi tempat tinggal anggota TNI dan warga sipil sebelum akhirnya jatuh kembali ke tangan Belanda pada tahun yang sama dalam rangka pembentukan Negara Indonesia Timur.


Pada perkembangannya, Fort Rotterdam yang telah dipugar difungsikan menjadi kantor oleh pemerintah. Salah satunya yang kini berkantor di sana adalah Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan.

Saya pernah mendapatkan informasi bahwa benteng ini merupakan salah satu dari benteng tua paling terawat di dunia. Oya, Fort Rotterdam telah ditetapkan sebagai “benda cagar budaya” pada tanggal 22 Juni 2010 berdasarkan Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia Nomor PM.59/PW.007/MKP/2010.

Melintasi RRI


Dari Fort Rotterdam, kami berjalan kaki menuju tetangga terdekat di sebelah utara benteng, yaitu RRI (Radio Republik Indonesia). Sebagai orang yang berasal dari generasi X, tempat ini juga menjadi tempat bersejarah bagi saya. Dulu kami hanya mendapatkan hiburan dari satu-satunya stasiun televisi (TVRI) dan dari stasiun-stasiun radio AM/MW, salah satunya RRI.

Sewaktu duduk di taman kanak-kanak, tahun 1979  atautahun 1980, saya pernah menjadi bagian dari tim sekolah – TK Indriya KWL yang melakukan pertunjukan radio di sana. Saat itu saya koq berani saja menyanyikan lagu Bunga Nusa Indah. Setelah itu sampai sekarang, jangan harap saya mau bernyanyi dengan gagah berani seperti itu lagi. 😂

Seorang kawan, mantan penyiar RRI menceritakan kisah horor dari gedung ini. Mulai dari suara alat musik yang  terdengar tanpa ada yang memainkannya, suara tangisan, kisah bunuh diri penyiar cantik, ketika tidur malam – bangunnya sudah di tempat berbeda, dan kisah sakit dan meninggalnya pegawai setiap jelang ulang tahun RRI. Begitulah, kisah bangunan bersejarah tak lepas dari kisah horor. 

Simak saja sejarahnya berikut ini. Radio pertama kali mengudara di Makassar pada tanggal 8 Desember 1942saat, Jepang pertama kali datang ke Makassar. Bangunan radio pertama di Makassar adalah rumah warga bernama Dg. Lala (seorang kontraktor bangunan).


Ketika itu nama stasiun radio Jepang ini adalah Makasaru Hozo Kyoku (MHK). Sekaligus menjadi stasiun radio pertama di Makassar bahkan di Indonesia timur. Siaran milik MHK berupa propaganda perang Asia Timur Raya yang diselingi lagu-lagu keroncong, Bugis, dan lagu Jepang.

Setelah akhir perang dunia II De Bruin (komandan pasukan) mengambil alih MHK lalu mengganti namanya menjadi Radio Oemroep Makassar (ROM) yang dipimpin oleh Mr. Sholtens. Pada tahun 1947, ROM berganti nama menjadi Radio Oemroep in Overgangtijd (ROIO). Pada bulan Mei tahun 1950, radio ini berganti nama menjadi RRI (Radio Republik Indonesia).

Melihat dari Dekat Rumah Leluhur Marga Lie/Lishi Jiamiao atau Eng Djoe Tongatau Wisma Sejahtera (1885)


Melintasi bagian depan RRI, kami menyeberang jalan Ahmad Yani, masuk ke Kawasan Pecinan di jalan Sulawesi untuk melihat dari dekat Rumah Leluhur Marga Lie. Menurut Inskripsi tahun 1888, bangunan ini didirikan setelah meninggalnya mantan Kapiten Lie Siauw Teak pada tahun 1885. Rumah abu ini didirikan di dalam kawasan rumahnya.

Lie Siauw Teak diduga bukan merupakan imigran pertama di Makssar tapi dia seseorang yang sukses sehingga berhasil mendapatkan sebidang tanah dari pemerintah Hindia Belanda untuk memperluas pekuburan tua yang saat itu mulai terlalu kecil. Pekuburan baru ini kemudian diberi nama Sintiong atau kuburan baru.


Lie Siauw Teak memiliki dua Putra Sanliang dan Dongyi yang meninggal sangat muda dan dua putri (Xingniang dan Heniang). Dia lalu mengadopsi dua putra dari adiknya Mingong dari tiongkok, Shanshu dan Shanjia.

Mengunjungi Klenteng Ibu Agung Bahari (1738)


Klenteng Ibu Agung Bahari terletak di seberang Rumah Abu Lie. Klenteng dibangun pada tahun 1738. Klenteng ini dibangun oleh Lie Lu Tjang pada masa kapitan Ong Goat Ko (Wang Yue dalam bahasa Mandarin) yang mulai membangun kehidupan sosio cultural masyarakat Tionghoa di Makassar.

Klenteng ini dibuat untuk dipersembahkan bagi Tianhou atau Dewi Langit (untuk memuja Dewi Ma Tjo Poh) yang dipercaya sebagai dewi pembawa berkah dan keselamatan di laut. Oleh karenanya itu patung di atas kleteng dibuat menghadap ke laut.


Bangunan ini pernah dipugar pada tahun 1805, 1831, dan 1867. Kapiten Nio Tek Hao mulai memugar saat bangunan rumah ibadah ini dalam kondisi rusak. Sayangnya karena kerusuhan anti ina yang pernah terjadi di Makassar pada 1997, yang tersisa dari bangunan awal hanyalah pintu gerbang depan.


Melihat-lihat Gedung Kesenian Sulawesi Selatan (1896)


Dari jalan Sulawesi, rombongan “Djalan-djalan ke Bangoenan Bersedjarah” kembali ke jalan Ahmad Yani dan memasuki sebuah gedung. Ingatan masa kanak-kanak saya mengingat gedung ini sebagai gedung yang bisa dipakai untuk pertunjukan, selain auditorium RRI.

Nama lain Gedung Kesenian Sul Sel ini adalah Societeit de Harmonie. Gedung ini dibangun ketika pemerintah kolonial Belanda menjadikan kota Makassar sebagai kota pemerintahan dan kota niaga (gemeente). Bangunan ini didirikan pada tahun 1896, untuk memenuhi kebutuhan akan tempat pertemuan, perkumpulan, pesta, pertunjukan sandiwara, musik, dan acara resmi lainnya.

Saat itu, pertemuan atau kegiatan yang diselenggarakan di situ dihadiri oleh tamu-tamu penting dan petinggi Belanda, orang-orang Belanda, orang-orang China kaya, dan segelintir bangsawan pribumi. Hiburan yang ditampilkan merupakan karya para dramawan Eropa terkenal tapi dimainkan secara amatir oleh para pemain drama lokal.

Societeit de Harmonie, foto dari Lembaga Lingkar

Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), gedung ini dijadikan balai kota masyarakat. Selain itu, Societeit de Harmonie juga digunakan sebagai tempat rapat untuk kepentingan Jepang, selain untuk pertunjukkan seni. Namanya diganti menjadi "Mikasa Kaikan" dan digunakan untuk kegiatan budaya bagi penduduk Jepang dan lokal.

Selepas Jepang angkat kaki, grup-grup seniman tidak bisa leluasa tampil karena Societeit de Harmonie dikuasai oleh Belanda, keturunan China, dan golong pribumi tertentu. Beruntung pada tahun 1952, atas dukungan Gubernur Sulawesi – Andi Pangerang Pettarani, seniman lokal berhasil mengambil alih gedung ini.

Tanggal 10 November – 7 Desember 1955 diadakan festival seni drama Indonesia 1 di gedung ini. Tahun 1960 – 1978, gedung ini dijadikan sebagai kantor DPRD Sulawesi Selatan. Pada tahun 1978 – 1980  menjadi sekretariat KNPI, kemudian diserahkan kepada Dewan Kesenian Makassar (DSM).  Pada tahun 1982 diselenggarakan festival teater IV yang diikuti 5 grup teater.

Salah satu bangunan tua di kawasan Pecinan. Kami melewatinya
dalam perjalanan menuju Societeit de Harmonie.

Bangunan dengan atap berbentuk limas berkemiringan tajam yang merupakan unsur lokal ini sekarang sering digunakan warga berkegiatan. Ada ruangan berbentuk teater di dalamnya yang sudah direnovasi dan memadai untuk digunakan.

Makassar, 23 September 2019

Bersambung

Ini baru sebagian perjalanan kami, selanjutnya saya tuliskan di tulisan berikut, ya. Oya, keterangan detail tentang tempat yang didatangi berasal dari Lembaga Lingkar.

Simak akun Instagram @lembagalingkar untuk mengetahui 
informasi kegiatan atau wisata sejarah Lembaga Lingkar berikutnya.

Baca juga tulisan terkait Lembaga Lingkar:
Baca juga tulisan-tulisan yang terkait Fort Rotterdam:





Share :

1 Komentar di "Jalan jalan ke Bangunan Bersejarah Kota Makassar Ala Lembaga Lingkar"

  1. wah aku suka banget ahl yang berbau sejarah, selalu nemu hal baru , jd pingin ikut

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^