Drama Pangkas Rambut dengan 2 Pemeran Utama

Tumben hari Sabtu lalu si bungsu Afyad cuma sebentar diproses oleh Pak Jamal di Pangkas Rambut Rahmat Suramadu. Pak Jamal ini sudah biasa memangkas rambut anak-anak, makanya beliau santai menghadapi si bungsu. Biasanya dramanya panjang setiap dibawa ke tempat ini namun kali ini tidak lagi. Kali ini, ada progress yang signifikan dalam usaha membawa Afyad bercukur. 

Ya iyalah, Drama Pangkas Rambut di sana ndak ada tapi selama tiga hari ini dramanya terjadi di rumah kami. Jenis dramanya adalah “pre hair cut” 🙈.

Bukan Afyad namanya kalau tak ada drama sebelum memangkas rambutnya. Namun perbedaannya, kali ini bukan hanya dia pelaku utama dalam lakon drama, ada andil si sulung Affiq juga di situ. Lakon si sulung baru saya sadari setelah dia menggunting rambut adiknya.

Pangkas Rambut Madura

“Mana sisir, Ma?” tanya si sulung pada suatu malam. Saat itu sudah pukul 10 malam lewat. Ogah-ogahan saya menjawab pertanyaannya. Si sulung pun keluar kamar, sepertinya setelah dia menemukan barang yang dicarinya.

“Mana gunting, Ma?” tak lama kemudian dia masuk kamar lagi mencari benda tajam itu. Sekali lagi, saya ogah-ogahan menjawabnya. Pukul sepuluh malam inie, Nak … Mamak sudah ngantuk. E tapi mana pula si bungsu dan si tengah. Kenapa ndak kunjung masuk kamar?

Saya pun keluar kamar dan mendapati pemandangan yang tak biasanya di ruang tengah. Bak seorang tukang cukur profesional, Affiq tengah mengguntingi rambut adik bungsunya. Athifah menonton lakon kedua saudaranya sembari sesekali bertindak sebagai penenang bagi si bungsu.

Heh? Gunting rambut jam segini?
Anak bujang ini kan ndak pernah menggunting
rambut siapa pun sebelumnya kecuali
pada masa kecilnya dia pernah bereksperimen
dengan rambutnya, seperti Afyad bereksperimen
dengan rambutnya sendiri selama dua hari ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu hanya berkelebat di dalam benak. Si anak bujang langsung menjawabnya tanpa saya suarakan, “Jelek sekali bela rambutnya Afyad, Ma!”

“Tapi malam sekali mi, Nak,” ujar saya sembari menunjuk jam dinding di ruangan itu yang tengah bersiap menuju angka 11. Rupanya si sulung ini hendak merapikan rambut adiknya. Dia gemas sendiri melihat cukuran suka-suka ala Afyad.

Dua hari ini, Afyad lagi gandrung menggunting rambutnya.
Saya tak melihat dia melakukannya tetapi
selama dua hari berturut-turut ini, saya mendapati
gunting tergeletak begitu saja dan banyak
serpihan rambut halus di sekitarnya.

Selanjutnya saya hanya lebih banyak terdiam pasrah sembari menguap-nguap, menunggui dan menyaksikan kedua anak lelaki ini menuntaskan ekspedisi kilat mereka. Mau dipaksa masuk kamar juga sepertinya tak mungkin. Nantinya malah tambah kacau. Aksi si anak bujang terlihat meyakinkan. Sepertinya dia yakin bisa merapikan rambut adiknya.

Pangkas Rambut Makassar

Afyad tampak terlihat lebih tenang dibanding ketika duduk di kursi tukang pangkas rambut langganan kami. Hanya wajahnya yang berkerut-kerut tak menentu. Kedua matanya terpejam. Terlihat garis di sekitar kedua mata tertarik ke bagian tengah jidat. Afyad memonyong-monyongkan mulutnya seperti tengah menahan sesuatu. Kepalanya sedikit bergerak-gerak menahan geli di bagian lehernya.

Jarum jam sudah bergerak melewati angka 11 ketika kedua anak itu memutuskan berhenti berlakon. “Afyad tidak bisa diam,” perkataan Affiq terdengar sebagai keluhan. Ya memang, berdasarkan track record-nya selama ini, Afyad tidak akan benar-benar tenang saat rambutnya dicukur. Alasannya adalah karena tak bisa menahan rasa geli pada bagian belakang lehernya.

Urusan membersihkan tubuh Afyad yang kejatuhan potongan-potongan rambutnya berlangsung tak sebentar. Memandikannya tentu tak mungkin pada jam 11 malam lewat begini. Tisu kering, tisu basah, kain, dan bedak dikerahkan namun masih saja banyak potongan rambut di sekujur tubuhnya.

Pangkas Rambut Anak Makassar

Sesekali Afyad menggaruk tubuhnya yang gatal. Di berkeras membersihkan diri di kamar mandi. Kalau tak saya tahan, dia sudah mengguyur saja tubuh gempalnya dengan air dingin. Jadinya dia hanya bisa mengusap-usap tubuhnya dengan tangannya yang basah. Apa boleh buat, aksi ini tak berhasil sepenuhnya.

Setengah dua belas baru ketiga anak ini masuk kamar.
Itu pun tak langsung tidur seperti biasanya.
Kasak-kusuk tak jelas dulu sebelum terlelap
sudah menjadi bagian dari keseharian mereka.
Fiyuh, andai ada yang bisa dijadikan camilan malam itu,
mungkin berat badan Mamak nambah sekilo akibat
menanti waktu untuk menggiring mereka masuk kamar.

Keesokan paginya, ketika matahari sudah bersinar cantik barulah terlihat betapa tak jelasnya pola hasil guntingan Affiq di kepala adiknya. Kalau polanya zig zag beraturan atau bak sawah terasering pasti bikin adiknya makin tampan. Ini tidak. Panjang-pendeknya rambut tak beraturan. Plus ada jalur-jalur serupa tebak-tebakan labirin penuh jebakan.

“Pa, bawa Afyad ke tukang cukur,”pinta saya kepada pak suami.

Pangkas Rambut Makassar

Permintaan yang saya tahu entah kapan bisa terjawab. Bukan hal mudah membawanya ke tukang Pangkas Rahmat Suramadu. Yang lalu-lalu, untuk sounding saja bisa makan waktu hingga berbulan-bulan sampai wacana bercukur itu benar-benar terealisasi.

Ibu guru Afyad menelepon pagi itu. “Bu, siapa cukur ki rambutnya Afyad?” suaranya terdengar kaget. Saya lalu menceritakan kronologi drama pangkas rambut kali ini. Selama 3 hari bersekolah, guru-gurunya tak tega dengan model rambut Afyad.

“Pergi cukur, ya. Kalo sudah cukur rambut, boleh beli susu Ultra,”
saya merayu anak lelaki bertubuh bongsor ini
sepulangnya dari sekolah. Dia mengangguk tapi wajahnya
terlihat enggan.

Hingga hari ketiga, saya masih membujuknya. Akhirnya Afyad mengiyakan. Tetapi dia tak mau susu Ultra. Maunya pergi ke mini market dekat rumah supaya bisa memilih sendiri minuman yang dikehendakinya.

Pangkas Rambut Madura

“Boleh tapi selesai cukur, ya!” saya menegaskan syaratnya.

Pulang sekolah, Afyad mencoba escape. Dia tetap minta ke mini market tetapi tak mau pergi bercukur. “Ndak mau Mama. Mama kan sudah bilang, pergi cukur dulu. Ndak beli kita kalau ndak bercukur!” lagi-lagi saya menegaskan persyaratannya.

Afyad ngambek. Saya tetap berkeras. Athifah membantu membujuk adiknya. Akhirnya rayuan kami pun meluluhkan hatinya. Pada sore hari, Sabtu kemarin, kami bertiga berjalan kaki menuju Pangkas Rambut Rahmat Suramadu yang letaknya kira-kira 300 meter dari rumah.

Pangkas Rambut Madura

Dengan wajah cerianya yang khas, Afyad duduk dengan gagahnya di kursi khusus milik Pangkas Rambut Rahmat Suramadu. Pak Jamal terus mengajaknya ngobrol selama merapikan rambut Afyad. Di tangan Afyad ada HP Athifah jadi dia bisa lebih tenang selama Pak Jamal bekerja. Tadi Athifah menjanjikan Afyad boleh main game asalkan mau rambutnya dicukur.

Alhamdulillah, happy ending! Ide baru muncul. Besok-besok, supaya durasi berkunjung ke tukang pangkas rambut bisa sesingkat ini, si kakak saja yang disuruh eksekusi rambut adiknya terlebih dulu. 😉

Makassar, 4 Maret 2019
NB: Foto anak-anak sengaja saya blur-kan.

Simak tulisan-tulisan sebelumnya tentang cukur rambut:




Share :

38 Komentar di "Drama Pangkas Rambut dengan 2 Pemeran Utama"

  1. deh, gemes sekali mi kayaknya si sulung jadi dia potong sendiri rambutnya si adek.. ndak diejek ji di sekolah itu kak? pasti tokka-tokka rambutnya si adek :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ndak tahu mi juga, ndak saya dengar cerita dia diejek. Cuma tahu gurunya iba sekali sama kepalanya hahaha.

      Delete
  2. hahaha tapi adiknya mau aja yaa di cukur sama kakaknya walaupun jadi kelinci percobaan. kalau anakku paling semangat cukur rambut krn itu artinya ke mall n dia bisa bujukin bapaknya main game sesudah itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Herannya dia mau saja hehehe padahal seringnya dia ndak mau diapa-apai sama si sulung.

      Delete
  3. Akhirnya setelah melewati proses yang panjang selesai juga prosesi gunting rambutnya. Menghadapi hal pelik semacam ini butuh kesabaran extra dari ayah dan bunda. Syukurlah semua bisa terlewati

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Daeng. Urusan cukur saja panjang dan berdrama. 😄

      Delete
  4. keren tawwa kakaknya, punya inisiatif untuk mengguntingkan rambut adek. hehe. Meskipun adek harus mengalami gatal2 pasca potong rambut di awal sebelum ke salon. :D

    ReplyDelete
  5. Kalau saya dari kecil sampe SD sukanya cukur gaya rambut botak. Karena lebih adem rasanya, meskipun banyak yang bilang kalo botak keliatan aneh, dak cocok haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Simple ki juga dibotaki.Lama pi lagi baru tumbuh toh hehehe.

      Delete
  6. Aha! Bagaimana kalau kakaknya diajar gunting rambut saja? Kayaknya si bungsu lebih nyaman toh kalau dicukur sama kakaknya? Hihi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hm, boleh juga kalo dia mau.dih wkwkwk. Soalnya biasanya datang-datangan si kakak ini. Semoga yang berikutnya dia mau ji 😄

      Delete
  7. Wadeeeh drama betul, tapi senang tahu bagaimana hubungan kaka beradik ini, paling tidak kakanya ada perhatian meski cukurnya tidak bagus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Si sulung ini punya perhatian dengan caranya yang unik 😍

      Delete
  8. Ya ampyun, kreatifnya kakak cukur rambut adeknya. Hahaha...
    Kenapa Afyad gak mau sekali ke tukang cukur, kak? Pernah ada trauma?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anu, Mam .. dia ndak suka karena gelian ki orangnya. Heboh kalau dicukur. Oiya dia ndak suka benda bergetar itu hahaha. Tapi sekarang dia sudah mulai akrab dengan alat cukur yang bergetar, sih. Mau makin dibiasakan saja.

      Delete
  9. Wah ternyata dramanya lebih lama dari proses cukurnya.

    Tapi pinter ya die, maunya ke mini market, tanpa cukur, hmmmm rupanya bakat bernegosiasi nih si bungsu.

    Kirain hasil cukurannya mau keren di tangan abangnya, eh malah sebaliknya. Berarti si abang gak berbakat jadi tukang cukur nih. Tukang cukur memang sepenuhnya milik warga Garut, hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya memang, Mas Hendra. Lebih lama dramanya kalau dengan si bungsu ini. Si abang kayaknya perlu ditatar sama pemangkas rambut lihai dari Garut atau dari Madura, hehe.

      Delete
  10. Kok fotonya ada yang ngeblur Bun. Potong rambut itu memang penting ya

    ReplyDelete
  11. Memotong rambut itu memang penting banget ya, karena berpengaruh pada sekolah juga

    ReplyDelete
  12. Hmm kalau anak kecil emang gitu ya, kalau mau dipotong rambutnya ada aja yang dia mau

    ReplyDelete
  13. Itu ada yang dipotong di rumah ya? Enggak mau dipotong ditukang potong rambut?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dipotong di rumah karena kakaknya yang tiba-tiba mau ngerjain, Mbak hehe.

      Delete
  14. Wah ternyata yang mencukur abangnya sendiri. Nggak jado mencukur nih :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Abangnya dulu trus finishing-nya di tukang pangkas rambut karena ndak rapi hehe.

      Delete
  15. Haha jadi inget dulu waktu kecil rambut saya dipotongin kakak saya. Trus failed jadi kayak astroboy.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, sekarang kalau diingat-ingat malah lucu, ya.

      Delete
  16. Hahaha jadi ingat drama rambut masa kecil. Ternyata hal beginian berulang tong ji di? Hahaha saya juga pernah drama rambut terhadap kakakku, tapi kali ini pelakunya terbalik hihi.. saya yang gunting :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya, berulang. Ketiga anak saya pernah melakukan drama-dramanya sendiri :D

      Delete
  17. Wkwkwkk...kemarin pas lihat di instastory saya sempat berpikir "tawwa, pintarnyami Afyad, ndak drama lagi kalau mau pergi cukur". Ternyata yaa masih saja. Afyad...afyad...gemessss

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha Tutut lihat finishing yang manis. Ternyata sebelum itu, dramanya 3 hari :D

      Delete
  18. Baca postingan ini jadi ngakak kak. Lucu banget drama antara kakak dan adek ini. Sampe segitu gemasnya, rambut si adek dicukur malem-malem gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ini, rasa gemasnya mengalahkan rasa kantuknya hahaha.

      Delete
  19. saluut, mba bisa tenang ngebiarin si sulung motong rambut adeknyaa hahahah.. jd inget pas aku smp dulu. aku coba motong rambut adek. ketauan mama, dan dia histeriiiiis, seolah2 aku baru pertama kali megang gunting aja -_-. ttp dibawa ke salon sih setelahnya. :D. itu aku smp padahal, udh ngerti lah megang gunting. tp mama ttp ngomel :p

    ReplyDelete
  20. Ada kelucuan saat anak saya anty potong rambut. Karena dia baru pertama kalinya ke salon nggak tahu kalau udah selesai pasti kapster salonnya membersihkan sisa potongan rambut di badannya. Eh tapi ini anak udah keburu berdiri aja. Akhirnya saya suruh duduk lagi baru dibersihkan sisa2 rambut dia.

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^