School of Infuencer: Sinematografi Smartphone

School of Infuencer: Sinematografi Smartphone – Beruntung sekali saya menjadi salah satu peserta dalam rangkaian School of Influencer. Pada tanggal 7 November lalu di Hotel Lariz, saya beserta lebih 50 orang lainnya mengikut tahap kedua dari rangkaian kegiatan yang di-support oleh Siberkreasi dalam Gerakan Nasional Literasi Digital.


Tulisan ini merupakan tulisan kelima, berisi materi Sinematografi Smartphone yang disampaikan oleh Abi – pemilik akun YouTube (dan Instagram) @inimasabi pada Training of Trainer School of InfluencerDi awal presentasinya, lelaki berpembawaan ceria ini mengajukan beberapa pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan ini memang sebaiknya dijawab jika kita ingin membuat video atau film:
  • Kenapa harus lewat film/video
  • Siapa yang akan nonton?
  • Untuk apa dibuat?
  • Pesan apa yang ingin disampaikan?
  • Bagaimana cara menyampaikan pesan itu agar menarik penonton?
  • Apakah pesan itu bisa sampai di film ini?

Nah, kalau sudah selesai dengan konsep pemikiran yang mendasar itu, mari kita beralih ke teknisnya.

Komposisi sinematografi

  • Shoot type, tipe pengambilang gambar.
  • Camera angle, sudut pengambilan gambar.
  • The rules of framing, aturan pengambilan gambar. 
Kenapa ini semua harus dipelajari? Tentunya jawabannya untuk menghasilkan gambar yang baik, dong ya.



Shoot type:

  • Extreme Long Shot (ELS) ,
  • Long Soht (LS).
  • Full Shot (FS).
  • Knee Shot (KS).
  • Wide Shot/Medium Shot (MS).
  • Medium Close up (MCU).
  • Close up (CU).
  • Big Close up (BCU).
  • Extreme Close up (ECU).

Kenapa di film gambarnya tidak dibuat wide shot saja? Kenapa harus berbeda-beda? Karena gambar yang bergerak bisa mengarahkan persepsi penonton walaupun tanpa narasi. Itulah yang membuat film hidup. Setiap ukuran gambar ada maknanya tersendiri. Agar penonton bisa merasakan feel yang ingin kita sampaikan.

Ada cara shoot agar obyek tampak kerdil atau tampak berkuasa. Untuk mengekspos seseorang yang menangis, biasanya disyuting bagian matanya (BCU) karena mata bisa berbicara banyak.



Tahapan pembuatan film, sebagai berikut:

1. Pra Produksi.   
Tahapan ini merupakan tahapan yang paling penting. Lebih baik banyak revisi di tahap ini ketimbang banyak revisi di tahap selanjutnya karena akan menghasilkan banyak budget. Matangkan segala sesuatunya di tahap ini yang menyangkut ide, konsep, skenario, brain storming.
2. Produksi/Shooting.
3. Post produksi.

Budget

Dalam penganggaran ada hal-hal yang harus diperhatikan, seperti: makan, operasional, lokasi, make up, fee, dan sebagainya. Perlu juga diperhatikan apakah harus membeli atau menyewa peralatan.

How to fund?

Untuk membiayai film/video ada beberapa cara: patungan, donatur, investor, sponsor, pre sale tiket.

The team

Siapa saja? Bisa produser, sutradara, penulis, sinematografi, publicist, dan lain-lain.

Menjual film/video di mana?

Bisa di festival film, YouTube, atau menjual sendiri kepingan DVD-nya.

Yang paling masuk akal buat kita? YouTube dooong.



Menariknya, YouTube di jaman now bukan lagi views yang dicari tapi watch time.

  • WATCH TIME: Lamanya menonton suatu video tanpa di-skip. Ini akan memengaruhi algoritma YouTube, apakah video kita bisa masuk di daftar trending-nya atau tidak.
  • More watch time means more adsense. Algoritma YouTube mengatur siapa yang konsisten dia yang menang. Syarat dapat adsense sekarang ini adalah 1000 subscribers dan 4000 jam watch times.

Banyak ya? Bagaimana mendapatkan subscribers dan watch times sebanyak itu? “Selalu pikirkan ini dalam hati teman-teman: buat konten yang bermanfaat bagi banyak orang dan searchable,” ujar Abi.

Video kehidupan kita, apakah menarik buat orang lain? Ya kaliiii kalau kita ini se-level artis atau Atta Halilintar. Lha, kita ini siapa?

“Buatlah video yang membantu orang lain
atau bermanfaat dan mudah dicari meskipun
follower kita tak banyak, dan kemungkinan
di-share lagi mudah. Contohnya: tutorial,
how to, review, music cover,” imbuh Abi.

Kita perlu berusaha mendapatkan TREND. Trend itu, jika ditonton banyak orang secara bersamaan. Bukan viral, ya. Kalau viral itu sampai apa yang kita buat mempengaruhi sampai di-copy oleh orang lain.



Mau trend atau viral, bisa dengan meng-upload video yang bertopik: harta, tahta, wanita, kontroversi, aneh, atau pionir. Tapi itu semua tak menjamin kita bisa bertahan. “Konsistensi akan hal inspiratif – ini yang harus diincar,” ujar lelaki yang memiliki nama asli Ahmad Takbir ini.

Menurut Abi, semua video di YouTube
punya pasarnya masing-masing. Bahkan
yang kita anggap aneh bisa punya pasar sendiri.
Maka yang paling bagus adalah
jangan mengikuti pasar tetapi
buatlah pasar sendiri.
Kita bisa membuat ekosistem baik di YouTube.

Kelola Channel YouTube-mu!

Sudah pada bikin akun YouTube? Bikinlah, buatlah nama channel (akun YouTube) yang namanya sama dengan semua naman akun media sosialmu. Ini untuk membangun brand awareness terhadap self personal branding kita. Abi mencontohkan, channel YouTube dan akun media sosialnya semua pakai nama INIMASABI karena lebih unik. Oya, nama channel tak harus nama asli, boleh nama panggung eh nama alias.

Channel setting-nya all set private saja supaya tidak tersebar ke khalayak apa-apa saja video yang sudah kita like karena jika tak sengaja bertindak konyol, bisa menjatuhkan kredibilitas kita.

Jika sudah buat akun YouTube, bisa mulai bikin vlog. Harus percaya diri bicara depan kamera. Yang dilihat kamera. Tatap kamera, ya, jangan menatap layar.  Hei hei tapi tidak perlu kamera mahal, lhoo. Bisa pakai smartphone saja, minimal RAM 2 GB sudah bisa.



Lalu apa yang penting diperhatikan dalam membuat video?

  • Kesesuaian judul dengan video.
  • Thumb nail-nya tepat, sesuai dengan isi video, menggunakan gambar terbaik.
  • Deskripsi tepat agar searchable.
  • Tidak missleading, judulnya tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek. Click byte boleh asal tidak miss leading dan tak berlebihan.
  • Tuliskan hashtag. Hashtag pengaruh di YouTube sekarang, cukup 3 saja.
  • Sertakan ajakan untuk subscribe dan like.
  • Durasi video tidak lebih dari 30 menit. Rata-rata 5 menit. Kalau untuk mencari adsense minimal 10 menit.

TIPS membuat video:

  • Orientasi landscape 16:9.
  • Tidak goyang. Kalau tak punya stabilizer, pegang smartphone dengan kedua tangan. Eye level dengan apa yang di-shoot, ambil rata-rata dengan orang lain, yaitu sejajar pundak kita. Kalau sambil berjalan, jangan jalan dengan cara jalan seperti biasa akan mudah shaking. Sebaiknya pakai teknik Ninja Walk, mengambil gambar sembari berjinjit.
  • Kalau punya uang lebih, belilah gimbal atau stabilizer, dan tripod.

Video terbaru dari @inimasabi

Tips depan kamera:

  • Percaya diri is a must.
  • Melihat kamera, bukan layar.
  • Tidak perlu merasa gugup atau malu karena everybody had their first time. Anggap saja sedang berbicara seperti biasa dengan orang lain.
  • Gunakan script jika dianggap perlu. Kalau ngevlog, biasakan tanpa script karena bakal sering mendapati hal-hal tak terduga yang tidak perlu script. Tetapi kalau home made, apalagi kalau belum lancar ya gunakan script. Kalau hendak menyampaikan pesan yang menggunakan data, gunakan script. Bisa gunakan matador untuk membantu.

Ingat, ya jangan sampai menggunakan hak cipta orang lain.

Apabila menggunakan hak cipta orang lain (bisa video atau lagu) maka video kita:
  • Tidak bisa dimonetisasi.
  • Video kita bisa di-take down oleh YouTube.
  • Kalau sudah dimonetisasi, monetisasinya akan lari ke pemilik hak cipta.
  • Channel kita mendapatkan penilaian buruk dari YouTube.
  • Maka dari itu, gunakan latar musik/lagu dari channel Audio Library-nya YouTube. Subscribe saja, ya.
Pesan lelaki yang terpilih menjadi YouTube Creator for Change Fellow 2018 ini, “Apapun konten kalian, kalau dibuat dari hati, meskipun itu aneh, pelan-pelan akan menjadi ekosistem baru. Jangan gunakan click byte yang miss leading atau berbohong. Gunakan click byte positif kalau mau pakai judul click byte.”

Behind the Scene Tugas Membuat Video


Usai materi Sinematografi Smartphone ini kami diberikan tugas mengerjakan video berkelompok. Saya mengambil inisiatif mengumpulkan nama dan nomor HP teman-teman sekelompok yang ditentukan oleh Abi – yaitu berdasarkan nomor urut. Saat itu ada 3 orang yang berkenan mendekati saya dan memberikan nomor WA-nya.Masih di Hotel Lariz saya sudah membuat kelompok kerja di WA group.

Sayang sekali, berkali-kali bertanya di grup mengenai tema apa yang akan dibikinkan video, saya hanya mendapatkan dua respon sekadarnya. Bukan tanda yang menyenangkan saya kira. Di hari ketiga, karena tak kunjung ada respon positif mengenai kemauan dari anggota grup mengerjakan PR yang diberikan mentor Sinematografi Smartphone, saya pun memutuskan meminta maaf kepada para aggota karena sudah mengganggu mereka dan keluar dari grup yang sudah saya buat. Saya lalu mencari teman-teman baru dan bergabung dengan mereka dalam mengerjakan tugas.

Saya berhasil menghubungi Aini, teman blogger. Pengalaman Aini ternyata tak jauh beda dengan saya. Untungnya masih ada Syahrul yang bergabung dengan Aini. Jadilah kami segrup dan janjian membuat video di Fort Rotterdam dan Pantai Losari.

Bukan hal mudah untuk menentukan waktu ketemuan karena Aini kerja dan ada kesibukan lain juga. Akhirnya kami menentukan waktu di hari Ahad pagi. Malamnya Aini mengirimkan pesan suara yang sayangnya tak bisa saya dengarkan. Saya pikir hanya terpencet saja. Di hari Ahad pagi, ketika sudah memesan ojek online dan siap berangkat dengan kedua anak terkecil baru saya hubungi Aini.



Video, hasil kerja kelompok kami, disimpan di channel milik Syahrul

“Maaf, Kak, saya sakit,” Aini mengabarkan dirinya kena diare dan muntah-muntah makanya malam sebelumnya dia mengirimkan pesan suara. Qadarullah, karena sudah telanjur janji pada anak-anak saya hendak ke Fort Rotterdam, jadinya saya berangkat saja ketika dijemput ojol.

Di luar rencana, saya tak bisa bertemu dengan Syahrul karena dia berangkat agak siang dan baru tiba di Pantai Losari ketika saya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Di hari itu saya punya beberapa agenda yang harus saya penuhi dan tubuh saya pun sedang tidak fit jadi kami tak bisa bertemu. Maka diputuskanlah bahwa hasil dari video saya dan video Syahrul digabung oleh saya. Lalu Aini memberikan sentuhan terakhir dengan tambahan suaranya dan musik.

Walaupun hasilnya tak sempurna, alhamdulillah saya cukup puas dan senang dengan kerja kelompok kami karena benar-benar dikerjakan berkelompok setelah melampaui rintangan yang tak mudah. Dari pengalaman membuat video ini, saya, Aini, dan Syahrul sudah belajar bekerja sama dalam sebuah tim dan bisa mengenali sedikit karakter satu sama lain.

Makassar, 1 Januari 2019

Bersambung

Baca tulisan sebelumnya:
Baca juga:



Share :

7 Komentar di "School of Infuencer: Sinematografi Smartphone"

  1. Pengen punya akun youtube yang bagus, kayaknya aku mesti PD depan kamera dulu deh

    ReplyDelete
  2. Waaaa, makasiiiyy banget ilmu daging yg di-share di sini ya Kak
    Kindly visit my blog: bukanbocahbiasa(dot)com

    ReplyDelete
  3. Aku paling males ngurus youtune karena harus buat vidio, tapi tadi baca penghasilan youtuber yang punya banyak subs..jadi pengen rajin ngurua youtube

    ReplyDelete
  4. Abis baca ini aku jd bertekad buat bikin konten2 video yang menaik dan bisa membantu org lain. Aku tu suka lemes kalau liat syarat 1000 subs hehe. Moga2 2019 bisa tembuh, masih kurang 700an lagi ya ampun banyak ya kurangnya hahaha :P

    ReplyDelete
  5. Aku pun lagi rajin buat konten Youtube semoga di tahun 2019 makin rajin makin semangat dan makin konsisten buat konten until channel YouTube

    ReplyDelete
  6. iya ya konten YouTube itu kalau mendidik ya sangat mendidik dan mudah diakses. Kalau negatif ya lumayan juga efeknya karena segala usia bisa menonton. Kudu kencengin sensor mandiri.

    ReplyDelete
  7. Mantap Mbk ilmunya, mengelola akun youtube emang bikin seru ya, apalagi kalau untuk menyebarkan konten positif

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^