School of Influencer: Menjadi Influencer Positif

Akhir bulan Oktober hingga bulan November lalu saya mengikuti rangkaian kegiatan School of Influencer (SoI) yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi. Kegiatan ini terselenggara sebagai bagian dari Gerakan Nasional Literasi Digital “Siberkreasi”. Pada tanggal 29 Oktober lalu, bertempat di Balai Sidang Muktamar Universitas Muhammadiyah (Unismuh) jalan Sultan Alauddin berlangsung kegiatan pertama.


Dihadiri sekira 1500 orang, kegiatan bertajuk Road to Siberkreasi Netizen Fair 2018 – Make Social Media Fun Again ini berlangsung meriah. Sebagian besar yang hadir merupakan mahasiswa, kebanyakan dari Universitas Muhammadiyah. Dan sebagian besar berasal dari jurusan Komunikasi.

Saya dan sejumlah teman blogger yang tergabung dalam Kumpulan Emak-Emak Blogger (KEB) berbaur di antara lautan anak muda ini. Ngng, bukan berbaur sih karena biar bagaimana pun wajah kami tak bisa berdusta. Kalau ada yang berbaik hati mengatakan kami mahasiswa mungkin terlihatnya seperti mahasiswa S3 kali, yah.

Jadi, mulanya saya datang karena ada Mak Mira Sahid – founder KEB yang hadir menjadi salah satu pembicara. Pengen sekali bertemu beliau, terakhir ketemu dua tahun lalu waktu beliau datang ke Makassar dan kami ketemuan dengan warga KEB lainnya dalam acara Arisan Ilmu KEB.

Gerakan Nasional Literasi Digital

Selain itu, soal KEB bergabung dengan gerakan Siberkreasi, saya sudah tahu sebelumnya karena saya mendapat informasi itu ketika bergabung dengan Mafindo – Masyarakat Anti Fitnah Indonesia yang juga menjadi bagian dari Siberkreasi. Mengetahui hal ini lebih jelas, menarik buat saya.

Selain Mak Mira Sahid hadir pula beberapa nara sumber dari Jakarta dan Makassar yang saya yakin sejak awal penyampaiannya bermanfaat buat saya yang sesekali jadi influencer/buzzer. Mereka adalah Yosi Mokalu (salah satu personil Project Pop) dan Martin Anugrah (Yosi dan Martin juga merupakan personil Cameo Project yang tengah hits di YouTube), Gery Paulandhika (Art Director Tirto.id), Pak Ari (dari Parfi 56) dan Mamak Ramlah alias Husen (influencer hits dari Makassar yang ngetop dengan stiker Mamak Ramlah-nya di aplikasi Line).

Setelah mendengar sambutan dari Pak Lukmanuddin dari Dinas Kominfo Provinsi Sulawesi Selatan dan Dr. Muh. Tahir – Wakil Rektor 3 Unismuh, acara yang dipandu oeh Benny Wahyu (penyiar iRadio Makassar) pun dimulai.


Memanfaatkan Instagram Sebagai Peluang Rezeki


Mamak Ramlah, influencer yang ngetop di Instagram berbagi kisah. Dia senang membuat konten yang lucu yang idenya berasal dari keseharian di sekitar rumahnya. Keuntungan lain selain bisa mendapatkan rezeki sebagai influencer dan stiker Line, Mamak Ramlah bisa menjual kaos jargon dan ikut main film buatan anak Makassar seperti Silariang, Baco Becce, dan Anak Muda Palsu.

Pesannya kepada hadirin, “Gunakan media sosial sebaik mungkin untuk  menjalin relasi atau pekerjaan. Jangan share yang belum jelas sumbernya.”

Infografik Asyik yang Mencerdaskan


Gery Paulandhika memaparkan hal-hal sehubungan menyampaikan jurnalisme melalui infografis. “Dalam bentuk apapun, berita, data, informasi, bisa disampaikan melalui infografik. Point penting dalam pembuatan infografik ada tiga: mudah dipahami, fokus pada hal-hal penting, dan membuat data visual berbicara,” ujar Gery.



Mamak Ramlah, Gery, dan Benny.

Dalam membuat infografis, Tirto berusaha agar pembacanya berpikir dan kritis dalam membaca, termasuk mempertanyakan dari mana datanya diambil. Karena Tirto menjalankan jurnalisme berbasis data maka infografis merupakan salah satu kunci dalam menampilkan data.

Gery menjelaskan bahwa infografik Tirto di website meliputi beberapa jenis, yaitu:
  • Infografik Mild.
  • Infografik Tunggal.
  • Infografik Current Issue.
  • Infografik Periksa Data.
  • Infografik Ads.

Selain di website, di media sosial Tirto, khususnya di Instagram ada infografik juga dengan perbandingan 1:1. Menarik buat saya mengetahui hal ini karena blogger juga bisa berperan sebagai jurnalis warga dan menjalankan prinsip atau metode jurnalistik di dalam blognya. Meskipun kalau saya sendiri …. ya …. masih payah banget untuk urusan infografis. Setidaknya saya bisa membaginya ke sini yah, dengan harapan semoga bermanfaat bagi teman-teman blogger yang juga memiliki kemampuan grafis.

Nah, salah satu alasan Tirto dalam memperhatikan respon pembaca adalah karena ada informasi sensitif yang bagusnya dikemas dalam infografis sehingga respon pembaca dapat diarahkan kepada pemikiran positif. Hm, seorang pembuat infografis memang HARUS CERDAS, ya. Bukan sekadar memiliki kemampuan grafis saja.

Para Emak Blogger duduk paling depan.

Selanjutnya Gery menambahkan bahwa tambahan ikon pada infografik menjadi medium berdialog dengan pembaca yang berguna untuk melihat berbagai respon yang datang dari pembacanya.

Selain cerdas, pembuat infografik juga harus bijak dalam membuat judul dan caption. Hindari clickbait yang membohongi pembaca. Pertimbangan judul atau caption harus sesuai dengan kaidah jurnalistik.

YouTube Asyik dan Menginspirasi


Sesi berikutnya, giliran Yosi dan Martin bercerita tentang Cameo Project dan proses kreatif mereka di dalam dunia YouTube yang tengah digandrungi kaum milenial.

Martin, Yosi, dan Benny.

Cameo Project bukan hanya berisi video lucu. Ada juga yang terkesan serius. Nama Cameo berasal dari istilah di dalam dunia perfilman. Di dalam film, pemeran cameo menjadi pemanis meskipun munculnya hanya sebentar tetapi selalu diingat. Harapannya, Cameo Project – meskipun tidak banyak dalam segi kuantitas tetapi akan selalu diingat oleh yang menontonnya.

Tahun lalu, Cameo Project terpilih menjadi salah satu (dari sekian banyak di seluruh dunia) duta YouTube untuk menjadi channel yang diharapkan mampu mengimbangi konten negatif yang bermunculan.

Di channel Cameo Project ada bermacam-macam jenis video. Ada sketsa, musical, film pendek, talk show, challenge quiz, dan sebagainya. Setiap bentuk video ada orang kreatif yang berbeda-beda. Yosi selama ini menangani yang sifatnya musical dan tematik (misalnya yang khusus dibuat untuk isu tertentu) sementara Martin menangani yang berbentuk sketsa tetapi pernah juga menangani video musikal.

Booth foto.

Apa yang sedang dipikirkan biasanya menjadi sumber inspirasi kreator yang bertanggung jawab di balik video yang diproduksi oleh Cameo Project. Yang jelas, yang dijadikan sumber inspirasi adalah hal-hal positif makanya yang diproduksi adalah hal-hal yang positif pula, diawali dengan niat baik.

Banyak hal yang terjadi natural. Cameo Project melihat keberagaman sebagai suatu kekayaan dan tahu diri kalau tidak bisa berjalan sendirian. Cameo Project memanfaatkan networking yang ada pada para member-nya.

Kolaborasi menjadi catatan penting dalam sesi ini. Sebab di kalangan YouTubers, kolaborasi menjadi ciri juga. Tetapi kolaborasi dengan yang track record-nya bagus adalah hal yang dinanti-nanti. Tetapi tidak semua juga lantas dimonetisasi oleh Cameo Project. Ada beberapa video inspirasi yang dibuat dengan banyak artis dengan tujuan mulia, yaitu ingin memberikan hal yang positif bagi bangsa – misalnya dalam menghargai keberagaman. Salah satunya adalah video Persatuan Indonesia berikut ini:


Video Persatuan Indonesia dari Cameo Project

Video ini dibuat untuk mempersatukan kembali karena pada masa 2014 itu banyak yang terfokus memenangkan jagoannya tetapi lupa untuk menjaga persatuan. “Siapapun yang menang bangsa kita bisa kalah, lho. Makanya kita mengumpulkan kedua kubu ini,” ujar Martin menjelaskan bahwa semua pendukung video adalah pemilih dari dua calon presiden yang berkompetisi waktu itu. Kalian mau share video itu sekarang? Masih relevan karena calon yang bertarung juga kedua orang yang sama – Pak Jokowi dan Pak Prabowo.

“Teriakkanlah kebersamaan. Ada yang lebih penting daripada sekadar menang, yaitu pertemanan, kebersamaan. Juga kehidupan setelah permilihan umum, yaitu hidup bersama,” pesan Yosi kepada hadirin.

“Orang kreatif itu bukan yang hanya mengusulkan tetapi tidak menjadikannya kenyataan. Kreator itu menghasilkan sesuatu. Tetapi sebelum menjadi kreator, pastikan dulu bahwa kita adalah orang yang positif. Mengapa demikian? Karena menjadi orang yang positif itu tidak gampang. Apapun yang kita baca meskipun positif, jika pikiran kita negatif maka hasilnya negatif,” pungkas Yosi.

Video Hey Anjing dari Cameo Project

Martin menambahkan bahwa apa yang kita tonton dan dengan siapa kita bergaul berpengaruh dengan kreasi yang kita buat. Misalnya, nih ngumpul sama 10 orang nyinyir, lama-kelamaan akan membuat kita menjadi nyinyir juga. Maka bergaullah dengan orang positif. Masalahnya, ada orang nyinyir yang ndak merasa dirinya nyinyir ya malah merasa dirinya positif, ini yang membingungkan, gimana dong.

Menjawab pertanyaan bagaimana menjadi YouTuber yang baik, Yosi menjawabnya, “Mulailah dari apa yang ada di tangan kita.” “Video viral itu tidak ada rumusnya,” kata Yosi lagi. Sering terjadi video yang viral itu tak terduga kenapa bisa viral. Seperti “Om Telolet Om”, “Masuk Pak Eko”, dan video Norman Kamaru.

Persamaan dari yang viral-viral itu disimpulkan Yosi sebagai “keberanian, ekspresi, tampil original” sebagai modal awal. Kalau konsisten mmebuat sesuatu yang kreatif dan unik maka lama-kelamaan orang lain akan tertarik dengan apa yang kita lakukan.


Martin kembali menekankan pentingnya berkolaborasi dalam mewujudkan ide. Untuk membuat video sendiri bisa juga, yakni dengan ngevlog tapi jangan asal juga. Konsepkan vlog yang dibuat. Harus suka dengan apa yang dilakukan. Tak ada yang instan, perlu proses dalam menjalaninya.

Media sosial itu fungsinya dua: kita bisa dipengaruhi oleh media sosial bisa juga kita yang memengaruhi media sosial. “Jadilah orang yang memengaruhi media sosial,” pesan Yosi.

Pentingnya Menulis Konten yang Baik


Hubungan kita berkembang melalui media digital. Kita hidup di perkembangan yang signifikan. Setiap saat kita mengalami perubahan. Era digital berubah sangat deras. Berbagai tawaran smart phone datang.

Ki - ka: Mamak Ramlah, Gery, Yosi, Martin, Mira,
Ari, Benny, dan peserta kuis.

Mak Mira (www.mirasahid.com) mengajak untuk fokus membuat konten berupa tulisan karena media sosial apapun membutuhkan tulisan, entah itu berupa caption atau status. Mak Mira memperkenalkan blog kepada hadirin. Peserta yang hadir sudah ada sekira 25% memiliki blog, berarti masih ada yang belum mengenal blog.

Blog adalah catatan-catatan yang tersusun yang di-update secara berkala oleh penggunanya. Blog itu sifatnya personal tetapi menjadi publik ketika di-share. Blog menjadi versi diri kita/branding di dunia maya. Sama pentingnya kita punya blog dan Instagram. Menjadi lebih penting ketika isinya bisa bermanfaat bagi orang lain.

Yang harus digarisbawahi adalah bahwa blog menjadi rekam jejak kita, sama seperti YouTube dan Instagram. Kunci memperbanyak kosa kata adalah banyak membaca. Boleh gunakan judul yang empiris atau modelnya tanya-jawab. Jangan menggunakan judul yang menyudutkan pihak lain.

Mak Mira dan para bloger Makassar
Foto: Raya.

Perbaiki tulisan di caption Instagram, Facebook, dan lain-lain. Lakukan menulis itu dengan senang hati. Mak Mira juga berharap kelak blognya bisa menjadi warisan buat anak-anaknya. Menggunakan nama sendiri sebagai domain blog (berbayar) membantu menguatkan posisi kita di dunia maya.

Mak Mira mengingat kan untuk THINK BEFORE POSTING. THINK juga ada artinya: sebelum menulis pertanyakan:
T – is it TRUE?
               Benarkah beritanya?
H – is it HURTFUL?
               Adakah orang yang disakiti?
I – is it ILLEGAL?
Bukan barang copas? Milik orang lain atau bukan? Credit title-nya bagaimana? Hati-hati, UU ITE bisa berlaku.
N – is it NECESSARY?
               Penting atau tidak, sih tulisan dibuat?
K – is it KIND?
               Santun atau tidakkah bahasanya? Gunakan etika berbahasa seperti di dunia nyata.

Mak Mira bersama para emak bloger Makassar.
Foto: Nanie

Semua yang disampaikan pada hari itu mengajak para peserta untuk membuat konten positif. Kegiatannya tidak berhenti di hari itu saja karena ternyata setelah itu ada ToT (Training of Trainer) 1, Tot 2, dan Coaching Clinic. Tak sekadar pertemuan biasa, juga berupa kompetisi. Pemenangnya menjadi wakil Makassar di ajang Netizen Fair 2018 di Jakarta pada tanggal 24 – 25 November 2018 lalu. Alhamdulillah, saya dan beberapa teman blogger lolos dari 1500, disaring terus hingga masuk 20 besar. Dua pemenang dari 3 besar merupakan teman-teman blogger Makassar yang juga emak-emak seperti saya. Bersambung di tulisan berikutnya, yaa.

Makassar, 19 Desember 2018




Share :

0 Response to "School of Influencer: Menjadi Influencer Positif"

Post a Comment

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^