Berharganya Ruang, Waktu, dan Kesempatan Bagi Anak Difabel

Baru kali ini saya menghadiri peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI). Acara yang dilangsungkan oleh Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Negeri Makassar (UNM) ini diselenggarakan di Auditorium Ammanagappa UNM pada tanggal 9 Desember 2018 lalu.


Registrasi dilangsungkan di tempat. Setiap sekolah yang diundang menyiapkan wakilnya, sesuai dengan persyaratan yang diminta. Eh ada juga yang mengirim wakil yang bukan dari kategori yang diminta.

Perasaan saya bahagia melihat kesibukan selama persiapan lomba, selama lomba berlangsung, hingga usai lomba. Bahagia melihat anak-anak difabel (berkemampuan berbeda) diberi ruang untuk mengasah dan unjuk kreativitas dan kemampuan mereka di sini.

Saya lebih suka menggunakan istilah DIFABEL (dari kata difable different ability) atau berkemampuan berbeda ketimbang istilah DISABILITAS (dari kata DISABLE yang berarti tidak mampu). Namun saya masih harus terus melatih diri saya menggunakannya karena di mana-mana memang lazim digunakan kata DISABILITAS, menggantikan kata CACAT dan TUNA.




Kata CACAT dan TUNA sebenarnya tidak berperikemanusiaan digelarkan kepada sesama manusia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kedua kata ini didefinisikan sebagai berikut:
  • CACAT berarti kekurangan yang menyebabkan nilai atau mutunya kurang baik atau kurang sempurna (yang terdapat pada badan, benda, batin, atau akhlak);  lecet (kerusakan, noda) yang menyebabkan keadaannya menjadi kurang baik (kurang sempurna); cela; aib; tidak (kurang) sempurna.
  • TUNA berarti  ➊ luka; rusak; ❷ kurang; tidak memiliki;
Lomba Foto Keluarga

Mengapa tak berperikemanusiaan? Sebab semua manusia, pasti punya kekurangan dan kelebihan. Percaya, kan bahwa Tuhan itu Maha Adil? Nah, di balik kekurangan yang tampak dari mereka yang difabel, ketahuilah ada selaksa kelebihan yang mereka miliki. Seperti juga di balik sedikit kelebihan kita, ada banyak kekurangan yang berserakan dan selalu berusaha kita sembunyikan dari orang lain!

Anda tak akan tahu maknanya
jikalau tak mempunyai orang dekat
(semisal anak atau saudara) yang
dijuluki dengan kata CACAT atau TUNA ini.
Kalau Anda menerima keadaan anak atau
saudara yang difabel, Anda pasti akan melihat
bahwa dia NORMAL-NORMAL SAJA HANYA SAJA
DIA BERKEMAMPUAN BERBEDA!

Hanya saja caranya bersikap atau bereaksi atau unjuk kemampuan para difabel berbeda dari manusia pada umumnya (yaitu mereka yang menggelari dirinya MANUSIA NORMAL). Dan hanya yang memiliki orang dekat berkeadaan difabel merasakan perih di hatinya kalau ada yang mengatai anaknya atau saudaranya itu TAK NORMAL.


Well, kembali ke Auditorium Ammanagappa pada tanggal 9 Desember lalu. Sekira 20 sekolah dasar (negeri dan swasta) dan Sekolah Luar Biasa (negeri dan swasta) pada hari itu berkompetisi pada 4 macam lomba, yaitu lomba mewarnai, lomba foto keluarga, lomba menyanyi, dan lomba fashion show.

Berkali-kali rasa bahagia dan bangga saya rasakan melihat ekspresi dan kepercayaan diri anak-anak itu ketika unjuk kemampuan. Beberapa bahkan enggan turun dari panggung ketika diberi kesempatan bernyanyi.

Saya takjub dengan kemampuan anak-anak
yang ikut lomba menyanyi, mereka tahu nada
dan tahu kapan suaranya masuk ke nada tertentu
untuk mulai bernyanyi. Ketika ada jeda, hanya
instrumen yang tedengar, mereka piawai mendengar
nada dan menentukan pada nada yang bagaimana
mereka harus bernyanyi kembali. Anak-anak itu
punya kecerdasan musikal!


Sekilas pelaksanaan Peringatan Hari Disabilitas Internasional, 
9 Desember 2018. Serunya lomba nyanyi dan lomba peragaan busana
bisa dilihat di sini

Lebih dari itu, semua anak yang mengikuti lomba adalah anak-anak yang luar biasa. Mereka mampu berkompetisi dan kelihatannya sudah pada tahu ada risiko kalah dalam berlomba. Penyelenggaranya pun luar biasa. Panitia HDI terdiri atas para mahasiswa PLB UNM sementara yang menjadi juri adalah para dosennya. Ketika menunggu proses penjurian, baik dosen, mahasiswa, dan para peserta menghabiskan waktu dengan bernyanyi dan joget bersama.

Tiba juga di penghujung acara. Satu per satu nama pemenang untuk tiap jenis lomba dan kategori diumumkan. Betapa berbinar bola mata mereka yang pulang membawa piala kemenangan. Rona bahagia menyemburat dari wajah-wajah mereka. Tetapi tak kurang bahagianya pula mereka yang pulang tanpa membawa piala. Di tangan mereka ada properti penyemangat berupa umbul-umbul mini dan pulpen yang diberikan oleh kakak-kakak panitia sebagai kenang-kenangan.

Motivasi dari PLB UNM

Hari ini mereka sudah belajar mengekspresikan diri dan berbahagia bersama Program Studi PLB UNM. Mereka belajar proses sebagai bagian kehidupan dan tahu bahwa ada orang-orang yang mau menerima mereka apa adanya selain orang tua mereka.

Makassar, 12 Januari 2018

PLB UNM, terima kasih sudah memberikan anak-anak itu ruang, waktu, dan kesempatan. Semoga Bapak/Ibu dosen dan kakak-kakak mahasiswi/mahasiwa senantiasa dalam lindungan Allah subhanahu wata’ala.
***

Baca juga tulisan-tulisan tentang pendidikan inklusi dan difabel berikut ini:




Share :

32 Komentar di "Berharganya Ruang, Waktu, dan Kesempatan Bagi Anak Difabel"

  1. "Percaya, kan bahwa Tuhan itu Maha Adil?"
    Saya percaya kak, namun kadang kita yang tidak percaya kalau keadilan itu tengah berlangsung dan sedang kita jalani dalam kehidupan kita karena kurangnya mengerti arti syukur.
    Btw, tahun kemaren saya juga menjerumuskan diri dalam kehidupan teman-teman difabel dan saya tidak sangka mereka juga ternyata punya kemampuan yang sama dengan kita walau memiliki keterbatasan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, Ung, harus ada rasa syukur itu. Sebab kekurangan dan kelebihan itu berpasangan.

      Delete
  2. Seketika ku mewek ๐Ÿ˜ญ

    Jangan berkecil hati ya sayang untuk semua yg memiliki keterbatasan , tuhan maha adil . Oh ya kak sedikit cerita sekarang orang2 istimewa ini lebih diperhatikan loh oleh pemerintah, terbukti dengan adanya asian para games dan mereka juga diberika ruanh untuk kerja di instansi2 speerti dikantor bpjs yg ada dikota makassar, ada seorang pegawai istimewa yg bekerja disana.

    Saya lihat dia tidak down sama sekali dengan pekerja yg lain yg punha badan bagus, kaki oke. Dan sy bersyukur pekerja yg biasa nya juga bgtu syang sama dia, tanpa mau ilfil atau appun. Dan banyak memberikan ruang untuk pekeeja yg istimewa itu

    Ah betapa indah nya dunia ketika kita bisa merangkul satu sama lain :"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyye, sekarang, kalo ndak salah 5 persen dari jumlah ASN yang diterima adalah orang-orang difabel. Sekolah pun sebenarnya harus menerima (sistem inklusif).

      Kalo Asian Para Games memang sudah bertahun-tahun, di tingkat ASEAN, embrionya tahun 1975 (dimulainya pertandingan olahraga bagi atlet difabel), bukan baru tahun lalu.

      Delete
  3. Cocok itu kak. Pernah beberapa waktu ngajar di sekolah inklusi. "Keajaiban" nya banyak. Hehe. Semua anak adalah amanah. Dan bagi orang tua, ada-ada saja ujian yang Tuhan titipkan lewat situ. Salah satunya lewat disabilitas tadi. Yang penting bagi orang tua bersyukur. Mendidik anaknya apapun kondisinya, normal ataupun tidak normal, dengan kesabaran penuh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tabe, saya di atas membahas tentang kata normal dengan huruf besar-besar di atas. Bagi perspektif Saya sekarang, tidak ada yang tidak normal karena Allah menciptakan makhluk-Nya dengan kelebihan dan kekurangan.

      Delete
    2. Tabe. Iyye kak, perspektif yang sama, kami pun begitu. Redaksi tadi benar-benar untuk sudut pandang yang sama bagi istilah anak-anak dengan disabilitas, bukan sapaan apalagi gelar. Spontan menghindari pengulangan istilah. Akhirnya diksinya jadi luput, karena tergesa tanpa baca lagi. Terima kasih sudah dikoreksi kak.

      Delete
    3. Siap, terima kasih banyak atas ralatnya.๐Ÿ˜Š

      Delete
  4. Terima kasih sudah mengingatkan kak. Kadang kita lupa bahwa semua ciptaan Tuhan pastilah memiliki kemampuan di balik keterbatasan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Oppa. Saya juga selalu harus mengingatkan diri saya sendiri.

      Delete
  5. Bener kak, Tuhan itu maha adil. Manusia diciptakan pasti ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Semuanya harus disyukuri, ya kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mam Er, tidak mungkin ada orang yang isinya kekurangan semua. Pun sebaliknya, tak mungkin ada yang full kelebihan.

      Hanya saja yang difabel tidak menutup-nutupi keterbatasan yang tampak jelas di mata kita. Sementara kita bisa menyembunyikan dengan sadar kekurangan Kita.

      Delete
  6. Kebetulan anakku juga ikut lomba ini. Waktu itu mamanya yang antar.
    Sebagai orang tua yang memiliki anak yang spesial memang butuh kesabaran dan keihlasan. Tuhan Maha Adil. Setiap anak memiliki keistimewaannya masing-masing

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama Daeng. Anakku ikut lomba foto keluarga jadi kami datang berempat. Si sulung saja yang tak ikut. Sayangnya Saya belum kenal istri ta' dih, jadi ndak tahu yang mana orangnya.

      Delete
  7. Kalau berhubungan dengan anak-anak berkebutuhan khusus suka sedih dan baca artikel kakak tambah sedih, sedih karena malu dengan saya pribadi yang bisa di bilang dikasih tubuh yang normal tapi selalu mengeluh. Semoga dengan artikel kakak ini, kita tidak memandang sebelah mata orang-orang yang berkebutuhan khusus tersebut dan mensyukuri hidup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga kita jadi pribadi-pribadi yang memperbaiki diri dengan selalu belajar, ya.

      Delete
  8. Untungnya karena sekarang sudah jarang media atau public figure yang menggunakan kata "cacat". Setidaknya ada harapan kalau edukasi tentang kesetaraan pada saudara2 difabel mulai menunjukkan hasil. Walaupun jalan masih sangat panjang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, masih sangat panjang, Daeng. Alhamdulillah ada kemajuan sedikit demi sedikit.

      Delete
  9. Kadang saya terenyuh dengan anak-anak difabel ini. Sejak lahir yang dipandang adalah kekurangannya, padahal sebenarnya mereka punya kelebihan masing-masing juga, sama seperti kita yang punya kekurangan juga seperti mereka. Jadi, kita juga tidak berbeda, terutama di mata Sang Pencipta itu sendiri. Semoga kita selalu bersyukur dan senantiasa berbagi kebahagian dengan saudara2 kita ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar. Mereka terlihat kurang bagi banyak orang karena memang merasa tidak perlu menyembunyikan apa-apa. Berbeda dengan kita, kita mampu menyembunyikan kekurangan kita sehingga bisa tampil baik di mata orang lain.

      Delete
  10. Betul sekali. Tuhan maha adil. Kesempurnaan hanya milikNya. Dan manusoa sebahai ciptaan Tuhan, tidak ada yang sempurna. Yang tidak sempurna, saling melengkapi satu sama lain. Tetap semangat untuk teman-teman difabel.

    ReplyDelete
  11. Turut terharu baca artikelnya kak niar. Kadang yang berkebutuhan khusus memiliki semangat hidup dan kreativitas melebihi dari yang normal. Bless kak niar dan semua panitia acara ini, juga untuk para peserta. Semoga kita semua selalu bersyukur dan bahagia๐Ÿ˜‡๐Ÿ’œ

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah sudah banyak yang memedulikan anak difabel yah, bahkan sudah merambah ke dunia teknologi juga, semakin memudahkan anak difabel.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak perkembangan yang menyenangkan akhir-akhir ini memang, Aini :)

      Delete
  13. Bersentuhan dengan dunia difabel melatih kepekaan kak dih, juga meningkatkan empati. Bagus memang anak-anak diajak terlibat supaya mereka tau dan belajar sejak awal, tidak membeda-bedakan dan pilih-pilih teman yang biasanya berujung bully

    ReplyDelete
    Replies
    1. Supaya terlatih melihat bahwa tiap orang memiliki kemampuan dan cara yang berbeda. Tidak harus sama.

      Delete
  14. Kita harus banyak bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah pada kita๐Ÿ˜Š. Btw, sangat senang melihat penyandang disabilitas mulai semakin diperhatikan di Indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, semakin banyak komponen masyarakat yang memperhatikannya. Masih dibutuhkan keseriusan pemerintah, sih, misalnya dalam mendorong pendidikan inklusi di sekolah-sekolah.

      Delete
  15. Terima kasih informasinya, sangat membantu :)

    ReplyDelete
  16. Masyallah keren sakali ya mereka kak ๐Ÿ˜Š. Tapi pernah ka dengar kalau orang bisu dak suka dipanggil tuna rungu atau disabilitas atau difabel, mereka lebih suka dipanggil bisu. Katanya dak perlu diperhalus, toh mereka memang bisu dan bangga atas kebisuannya itu.

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^