Femme 2018 & CBFW: Gowa Jadi Host, Kabupaten Lain Siapkah?

Baru pada tahun ini, penyelenggaraan Femme & CBFW (Celebes Beauty Fashion Week) menggandeng pemerintah kabupaten. Kali ini yang menjadi host adalah Kabupaten Gowa, melalui Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah). Saat dua kali menghadiri press conference dan pembukaan Femme 2018, saya menyaksikan Wakil Ketua Dekranasda, Ketua Dekranasda, dan Bupati Gowa menyampaikan persiapan, rencana, dan harapan terkait digandengnya Kabupaten Gowa di ajang bergengsi ini.


Saat press conference pada tanggal 10 April kemarin di ruang Toraja G Hotel Four Points by Sheraton, Priska Paramita – Ketua Dekranasda Gowa yang juga istri bupati Adnan Purichta menyampaikan ada dua slot yang didapatkan Gowa. Slot pertama pada pukul 1 siang dihari pertama Femme – pemilihan Putri Bunga. Peserta pemilihan adalah warga Gowa (wajib ber-KTP Gowa). Lalu slot berikutnya di hari Kamis pagi, yaitu penyelenggaraan tutorial make up dan hijab. 

“Mudah-mudahan kerja sama Femme dengan Dekranasda Kabupaten Gowa bukan hanya tahun ini saja tetapi juga di tahun-tahun ke depannya,” ucap Priska dalam siaran persnya. Harapannya itu disampaikan kepada jurnalis dari berbagai media dan bloggers yang hadir saat itu. Priska juga mengatakan bahwa Femme pada tahun ini sekaligus menjadi wadah bagi Kabupaten Gowa dalam mempromosikan potensi pariwisata di Kabupaten Gowa. Di ajang ini Dekranasda Gowa menampilkan produk unggulan batik tulis Gowa, kerajinan songko’ guru, dan bosara’.

Saat ini Gowa memiliki event Beautiful Malino yang akan diselenggarakan sampai menjadi kalender event nasional. Sementara itu untuk mencapai kalender event nasional harus ada penyelenggaraan event yang diselenggarakan selama tiga tahun berturut-turut.

Rusmayani Majid, Icha A. Z. Lili, dan Priska Paramita (kiri-kanan)

Secara bergurau, Priska berseloroh mengenai “keluhan” sang suami. “Katanya kalau Femme ada dua hal: yang pertama, macet. Yang kedua: kalau istri mulai merayu suaminya.” 😆

Seloroh Priska nyambung dengan gurauan Adnan keesokan harinya saat pembukaan Femme pada tanggal 11 April di ball room hotel yang sama. Pada kata sambutannya, terselip seloroh mengenai “tanda-tanda” terlaksananya Femme & CBFW ala Adnan. “Tanda-tandanya ada dua: pertama, jalan sekitar sini macet. Yang kedua: para istri merayu suaminya,” kata Adnan.

Harapan Adnan sama dengan yang disampaikan istrinya, yaitu agar melalui ajang Femme & CBFW 2018, Dekranasda Kabupaten Gowa juga bisa mempromosikan potensi pariwisata di Kabupaten Gowa. Adnan menyampaikan dirinya telah menggagas Malino bisa dijadikan sebagai destinasi pariwisata nasional dengan melakukan MoU dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama dengan LIPI. Rencananya akan dibangun Kebun Raya Malino, seperti halnya Kebun Raya Bogor yang sudah termasyhur itu. Untuk itu, pemerintah Kabupaten Gowa sudah mulai berbenah dengan mengadakan perbaikan jalan agar waktu tempuh ke Malino dari Sungguminasa bisa menjadi lebih singkat.


“Kita berharap Femme menjadi wadah motivasi bagi desainer-desainer muda Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Gowa untuk mengembangkan usahanya. Saya berharap Femme menjadi wadah tempat berkumpulnya industri-industri kreatif, baik itu fashion, kuliner, dan pariwisata. Dan Femme seharusnya menjadi tempat mempromosikan seluruh UMKM unggulan yang ada di Sulawesi Selatan,” Bupati Gowa menyampaikan harapannya.

Selain itu Adnan juga berharap agar Femme ke depannya tidak hanya diselenggarakan di dalam gedung saja melainkan juga di luar gedung, sembari menikmati keindahan panorama alam, “Semoga Femme bisa dilaksanakan di Malino di masa yang akan datang.”


Mengenai dampak penyelenggaraan Femme bagi Kabupaten Gowa, menjawab pertanyaan saya melalui pesan pribadi, Priska berharap selain bisa mempromosikan hasil dari UMKM Gowa, juga bisa menjadi wadah mempromosikan pariwisata Gowa karena yang datang ke Femme kebanyakan datang dari luar daerah yang selain datang untuk berbelanja juga berwisata.

Oya, Pemilihan Putri Bunga yang digelar Dekranasda Gowa diikuti oleh 21 peserta dari Kabupaten Gowa. Empat orang desainer kenamaan bertindak sebagai jurinya. Mereka adalah Rudy Chandra, Defrico Audy, Hengky Kawilarang dan Sikie Purnomo. Dari website Makassar Terkini saya mendapatkan informasi pemenangnya adalah: juara 1 RSUD Syekh Yusuf, juara 2 BRI Kanca Sungguminasa, juara 3 Kecamatan Bajeng, juara Harapan 1 Kecamatan Tompobulu, dan juara Favorit Kecamatan Barombong.

Putri Bunga (foto: terkini.id)
Bisa konsisten selama ini pelaksanaan Femme, wajar saja kalau ada harapan-harapan yang menyertainya. Simbiosis mutualisme, tentunya. Saya pun hendak menitip harap karena tersirat ke depannya kemungkinan Femme bekerja sama dengan kabupaten-kabupaten lainnya di Sulawesi Selatan. Semoga saja semua kabupaten di provinsi ini bisa menjadi host dan mempromosikan produk unggulan UMKM di daerahnya sekaligus mempromosikan potensi pariwisatanya. Sulawesi Selatan indah, banyak kreativitas yang belum dieksplorasi dan dipublikasikan. Banyak potensi yang seharusnya bisa dikembangkan terus dan diangkat ke permukaan agar lebih dikenal dalam skala nasional. Sekarang pertanyaannya adalah, siapkah kabupaten-kabupaten lain menjajaki kerja sama dengan 3Pro yang dikomandani Icha A. Z. Lili – chairwoman of Femme 2018?

Makassar, 13 April 2018

Simak tulisan-tulisan saya yang lainnya mengenai Femme 2018:


Share :

3 Komentar di "Femme 2018 & CBFW: Gowa Jadi Host, Kabupaten Lain Siapkah?"

  1. Wah keren banget ini acaranya, bisa men-trigger anak-anak muda berbakat yang punya passion di dunia desain.

    ReplyDelete
  2. Semoga daerah lain juga ikutan siap, ya :)

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^